
Waktu ashar terlah terlewat. Desi keluar dari masjid setelah selesai melaksanakan kewajiban nya, menuju pintu gerbang utama yang telah menunggu sopir suruhan Kristian.
Sebelumnya Kristian berpesan jika akan ada kunjungan keluar kota. Mungkin tengah malam nanti baru kembali.
"Silahkan Nona."
Sopir dengan sigap membukakan pintu.
"Terimakasih pak."
Berkata dengan ramah sambil tersenyum disana.
"Apa kita langsung pulang saja nona,?."
berkata sambil terus melajukan mobil.
"Tidak, kita ke restoran saja. Aku sudah meminta izin pada Suamiku sebelumnya."
"Baik nona, saya akan mengantar anda."
Mobil melaju menembus tamaran yang mulai berganti gelap. lampu lampu sekitar jalanan mulai menyala hingga sampailah di depan restoran yang tutup ketika waktu Maghrib. Dan akan segera buka setengah jam kemudian.
"Nona Desi, "
Sapa para karyawan dengan ramah.
Desi membalas senyum mereka.
Para karyawan tampak sibuk karena restoran akan ramai di jam makan malam.
Desi menaiki tangga menuju lantai dua.
Melaksanakan ibadah Maghrib kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menyalakan televisi.
Sopir masih duduk di dalam kemudi menunggu perintah selanjutnya. Setelah sebelumnya Ia melaporkan bahwa telah berhasil mengantarkan nona Desi dengan selamat.
Ponsel sopir bergetar. Sebuah pesan singkat dari Kristian.
"Kau boleh pulang."
Sopir melajukan mobil setelah mendapatkan perintah.
Dan berpapasan dengan dua mobil yang memasuki restoran.
"Ah, mungkin itu mobil pengunjung restoran."
Gumam sopir sambil terus melajukan mobilnya.
Seorang wanita keluar dari mobil membanting pintu kemudian memasuki restoran yang masih sepi karena baru saja buka.
"Ada yang bisa saya bantu nona."
Sapa pelayan dengan ramah.
Namun yang disapa mengacuhkan nya, melangkah masuk kedalam dengan tergesa menuju lantai dua.
Jutek sekali wanita itu.
Gumam pelayan dalam hati sambil terus memperhatikan langkah wanita itu menuju lantai dua.
"Desi Kumala Marwan!."
Moza meninggikan suara nya memenuhi ruangan. Sambil bertepuk tangan seolah sedang menertawakan.
Desi terkesiap menoleh pada sumber suara.
"Moza, Suatu kehormatan anda datang kemari. Silahkan."
Berkata dengan ramah.
"Aku tidak ingin berbasa basi dengan mu."
Moza duduk dihadapan Desi menyilang kan kaki disana.
"Lihat. Betapa rendah nya diri mu."
"Apa tampang memelas mu itu yang kau gunakan untuk memikat Kristian?."
Moza menyungging kan bibir nya.
"Apa maksud anda?."
"Janda miskin mantan pelayan restoran di Kairo."
"Upik abu yang mengemis cinta pangeran seperti Kristian. Cih Menjijikkan,!."
"Itu bukan urusanmu!."
__ADS_1
Desi berhenti menggunakan bahasa formal memilih bangkit dari duduknya meninggalkan Moza.
Untuk apa meladeni wanita seperti dia
"Tunggu Sialan?! Aku belum selesai dengan mu."
Moza menarik tangan Desi.
Mau apa lagi sih orang ini,!
"Apa mau mu? Kau sudah mencari tahu semua tentangku kan? Apa kau jadi merasa lebih hina dari janda seperti ku? Mengejar pangeran dan mengemis cinta pada nya tapi Dia malah memilih Upik abu seperti ku. Aku luar biasa bukan,?!"
Berkata sambil menghempaskan tangan nya berlalu meninggalkan Moza menuruni tangga.
"Brengs*k kau Desi!!."
Moza mengejar Desi mendorong nya hingga terhempas disana.
Aaaa
Bugh..,?!
Moza terperangah menutup mulutnya.
Saat tubuh Desi jatuh mengenai tubuh Kristian.
"Apa yang kau lakukan pada istri ku?!."
Berkata sambil mendekap tubuh Desi.
Wajah Kristian berubah. rahang nya mengeras.
Ia benar benar marah kali ini.
Moza mundur beberapa langkah, menaiki anak tangga hingga tubuhnya membentur dinding.
Dua bodyguard bergegas menaiki tangga melewati Kristian yang belum beranjak dari tempat nya semula.
Plak..!!
Plak..!!
Aauu..
Bodyguard menamp*r Moza hingga mengeluarkan darah di ujung bibir nya.
"Kau tidak apa apa? Apa ada yang sakit,?. Katakan mana yang sakit?."
Kristian meraih pergelangan tangan Desi dan mencium nya berkali kali.
"Aku baik baik saja."
"Jangan berlebihan begini. Aku kira kau akan pulang larut malam."
" Aku sudah disini setelah wanita itu masuk."
Kristian sampai enggan untuk menyebut nama,
Dia pasti sangat marah.
Au, Seperti nya kaki ku terkilir.
"Ada apa,?. Kaki mu sakit',?"
"Tidak, aku baik baik saja."
Desi menggeleng kan kepala dan tersenyum manis sambil mengusap pipi Kristian.
Kristian menarik Desi masuk kedalam dekapannya.
"Tidak bisa kau bayang kan apa yang bisa aku lakukan pada nya jika terjadi sesuatu pada mu."
"Sudahlah Maafkan saya Moza. Lupakan kejadian malam ini. aku sungguh tidak apa apa."
Mempererat pelukannya.
"Kau bilang maafkan,? Wanita itu berusaha mencelakai istri ku. Menantu di keluarga Ramadhian."
"Tapi."
"Jangan membahas nya lagi, sebelum aku hilang kendali dan mematahkan kaki dan tangan nya dengan tangan ku sendiri.
"Ba.. Baik."
Apa harus seperti itu? Kejam sekali.
Bagaimana jika kau tahu kalau kaki ku terkilir?!
__ADS_1
Apa kau juga akan mematahkan kaki nya.
Desi bergumam dalam hati. Bergedik ngeri meski hanya membayangkan saja.
"Desi."
"Hm?"
"Ahir pekan ini aku akan ke Tokyo."
"Tokyo?."
Desi melepaskan pelukannya.
"Kunjungan kerja mewakili Daddy. Kau bisa ikut dengan ku jika kau mau."
"Aku?."
Desi menunjuk dirinya.
"Kita bisa sekalian berbulan madu kan?."
Menyentuh dagu Desi dan mengecup bibir nya kemudian.
Muach..!
"Sayang, tentu saja aku mau ikut."
Memangnya siapa yang sanggup menolak coba?!. Hehehe
***
"Ampun!."
Moza berlutut seketika setelah baru saja Kristian menutup pintu kamar dan masuk ke dalam bersama Desi.
Kristian tidak menatap nya sama sekali. Begitu terlihat rasa khawatir untuk istri nya jauh melebihi apa saja.
Semakin menciut nyali Moza ketika bodyguard menarik Krah leher nya dan mengangkat tinggi tinggi.
"A-Ampun tuan."
Plak..!!
tampar*n keras mendarat untuk ke tiga kali nya.
Sakit
Rasa nya sungguh sangat menyakitkan.
Apa lagi ketika tangan kekar bodyguard itu menyentuh pergelangan tangan Moza, Menariknya kasar menyeret Menuruni tangga. Terus menyeret Moza melewati restoran yang telah ramai pengunjung.
Para pengunjung menatap Moza yang menangis memohon ampun dengan tangan yang terus di tarik keluar dari dalam restoran.
Urat malu Moza pun seakan telah putus. Itu Moza tidak perduli. Ia lebih takut jika dimasukkan kedalam jeruji besi.
Namun sepertinya ketakutan nya benar terjadi. Ketika Ia dimasukan kedalam mobil bersama dengan dua Bodyguard.
Mobil terus melaju hingga sampai di gedung yang Moza hafal diluar kepala tempat apa ini.
KANTOR POLISI..???
Sialan..!!!!
Awas kau Upik Abuuuu...!!!
Pekik Moza dalam hati.
Keluar dari mobil sambil menghentak hentak kan kaki Menuju kedalam sana.
Dan lebih sial nya lagi, Tuduhan yang mengancam nya adalah percobaan pembunu*an.
Moza menangis meraung Raung ketika orang tua nya datang.
Bukan mendapatkan pembelaan seperti yang Ia inginkan justru malah sebalik nya.
Daddy nya memaki habis habisan pada anak gadis nya itu.
Daddy Moza mengusap wajahnya kasar.
Karena jika Kristian memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan milik nya, Akan berdampak sangat besar.
"Mengapa aku memiliki anak bodoh seperti mu!!."
-
-
__ADS_1
Next