Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Susu ibu hamil


__ADS_3

Di kediaman tuan Ramadhian.


Kristian berkali kali membujuk Desi yang merajuk, berkali kali pula Desi melengos membalikkan badan enggan untuk bicara.


Sejak kejadian di dalam pesawat tadi Desi terus saja memajukan bibir nya.


" Desi kau boleh saja marah namun minum lah susunya dulu selagi masih hangat."


Memberikan segelas susu ibu hamil berwarna coklat buatan pelayan.


"Suruh saja Jin Ifrit mu itu meminum nya!."


Melengos kesal.


" Dia laki laki, tidak hamil seperti mu."


Tergelak menahan tawa.


"Apa kau sudah memeriksa Alat ke..la...mi .n nya?!!"


Mendengkus kesal.


Kristian pun akhirnya terbahak bahak semakin membuat Desi kesal.


Bangun dari duduk nya melangkah keluar kamar meninggalkan Kristian.


Kristian menutup mulut nya.


"Oh Astaga apa yang aku lakukan, Desi jadi semakin marah kan."


Kristian keluar mengikuti Desi yang menuruni anak tangga.


"Pergi, Jangan mengikuti ku."


masih dengan nada kesal.


"Desi minumlah susu nya nanti dingin."


Kristian menggunakan nada selembut mungkin.


"Minum saja sendiri."


Masih enggan menoleh kebelakang terus melangkah menuju ke kolam renang.


"Kau mau kemana? Menjauh dari sana, disitu licin kau bisa terjatuh,!."


Desi tidak mengidahkan terus melangkah dengan tergesa melewati tepian kolam renang.


"Desi berhenti,?!."


"Awas licin!!."


tiba tiba...


"Aaaaaa...."


Desi terpeleset


Sepersekian detik Kristian melempar gelas nya


"Prrrraaaaaang .!!"


Kristian berlari menangkap sang istri.


Menarik kedalam dekapan nya dengan wajah Desi yang pucat pasi.


"Sudah ku peringatkan, namun kau sangat keras kepala."


"Kau boleh marah tapi tidak seperti ini caranya."


Desi gemetar, kalau tidak sedang mengandung bagi Desi terjatuh pun tidak masalah.


"Maaf..."


"Kau tidak apa apa"


Melepas Dekapan nya.


"Tidak"


Desi menunduk. Wajah nya masih pucat karena takut, Lebih takut karena Kristian pasti marah.


"terimakasih."


lirih Desi.


Kristian menghela, "Jangan seperti itu lagi, kau akan melukai dirimu juga dia."

__ADS_1


Kristian berbalik meninggalkan Desi setelah memastikan tidak tidak terjadi apapun.


"Kau marah?"


Tatap Desi pada wajah Kristian.


Kristian tidak tega pun memutar tubuh kembali lagi.


"Pelayan bersihkan tempat ini."


Ujar Kristian sambil menarik tangan Desi masuk kedalam.


Kristian membawa Desi menuju meja makan menarik kursi.


"Duduk"


menyuruh Desi duduk kemudian pergi ke dapur membuatkan susu untuk Desi meminum nya.


Terdapat puluhan dus susu hamil dari berbagai merk tersusun rapih di lemari kaca.


Pelayan yang melihat itu saling pandang."Tuan, biar saya yang buatkan susu untuk nona lagi."


"Tidak perlu, jika kau yang membuat nya Desi tidak akan minum.'


Kristian kotak meraih susu membuka nya dan menakar sesuai yang tertera mengaduk dengan air hangat.


Kristian membawa susu itu dengan nampan menuju Meja makan tempat Desi duduk dan meletakan nya tepat di hadapan Desi.


"Ayo minum susu mu."


" kau marah?."


Menoleh pada Kristian sedikit mendongak karena Kristian masih berdiri di sampingnya.


Kristian menghela."Jika aku bisa marah pada mu sudah aku lakukan sejak dulu."


Kristian berbalik meninggalkan Desi yang memandang punggung nya menjauh.


Desi menarik nafas nya panjang, berusaha memahami Kristian yang sedang menahan diri, Menetralisir diri yang selalu di uji kesabaran nya.


"Maaf"


"Tapi bisakah kau pergi setelah aku meminum nya?"


Desi meraih gelas berisi susu itu dan meminum nya hingga habis. Bangkit dari duduknya mencari dimana Kristian berada.


"Nona,"


Pelayan itu menyapa sambil tersenyum.


Desi membalas senyumnya lalu bertanya.


"Kau lihat dimana suamiku?."


Bertanya dengan ramah.


"Tuan Kristian berada di ruang kerjanya nona"


"Bisa tolong tunjukkan?."


Desi mengulas senyum.


Meski telah beberapa bulan tinggal di sini, Desi belum sempat berkeliling. Ia disibukkan dengan pekerjaan juga restoran kala itu.


"Baik, ikuti saya nona."


Sedikit membungkuk kemudian berbalik berjalan melewati lorong di depan sana.


Desi mengikuti langkah pelayan itu sambil bergumam.


"Rumah ini terlalu besar, belum berkeliling saja sudah membuatku ku lelah."


"Ini ruang kerja tuan Kristian, nona. Saya permisi,"


Sedikit membungkuk lalu pergi.


"Tunggu, Bisa kah kau menemaniku masuk ke dalam? Mungkin suami ku tidak di sana."


Mencari alasan tidak sendiri, Namun mustahil jika pelayan itu mau menuruti perintah Desi.


Pelayan itu berbalik.


"Nona, saya tidak di perkenankan memasuki ruangan yang hanya pelayan dengan level tertinggi yang bisa memasuki nya, termasuk ruang kerja tuan Kristian dan Tuan besar."


Apa maksudnya? memang ada peraturan model begitu?!


Membungkuk lagi.

__ADS_1


"Saya permisi nona."


Berlalu pergi meninggalkan Desi.


Desi sendirian menghadap pintu, ragu ragu ketika ingin mengetuk pintu.


Namun akhirnya Desy benar benar melakunnya.


Tok..tok..


"Sayang apa aku boleh masuk?."


Desi menunggu Kristian menjawab nya, Ia yakin Kristian ada di dalam.


"Masuklah."


Desi membuka pintu perlahan, Desi masuk ke dalam lalu menutup nya kembali.


Ruangan ini adalah ruang kerja Kristian. Tidak sembarang orang bisa masuk kemari, pelayan pun hanya dua orang yang mendapat kan izin untuk membersihkan tempat ini yang telah mengabdi hingga lebih 10 tahun pada Keluarga Ramadhian.


Satu ruangan ini luas nya seperti rumah dinas Desi ketika di pesantren.


Terdapat puluhan lemari kaca berisi buku buku disusun rapih seperti perpustakaan negara.


Satu lemari yang bentuk nya berbeda dengan yang lain nya, mungkin berisi rahasia perusahaan yang Kristian kelola saat ini.


Batin Desi dalam hati.


"Ada Apa?"


Kristian menoleh pada Desi kemudian menutup layar lipat nya.


"Lanjutkan saja pekerjaan mu, aku tidak akan mengganggu."


Mendekati sofa yang ada di ujung sana jauh di seberang meja kerja Kristian kemudian duduk di sana.


"Kau Sudah mengganggu ku dengan datang kemari."


Kristian mendorongnya kursi ke belakang kemudian bangun dari duduk nya di lalu melangkah mendekati Desi.


"Baik lah, Aku pergi sekarang?!"


Desi mendengkus kesal.


" Merajuk lagi?."


Kristian berkerut dahi.


" Tidak tidak, Maafkan aku.


Duduk lah."


Desi menepuk sofa di sebelah nya.


Kristian mengikuti perintah Desi duduk di sebelah nya.


"Ada apa"


"Aku sudah menghabiskan susu nya, Apa kau masih marah?."


Menoleh pada Kristian..


"Aku tidak bisa marah pada mu."


"Eh?."


Desi merinding saat tangan kekar itu menyingkap hijab nya kemudian berbisik di telinga.


"Harus berapa kali ku katakan, kau tidak mengerti juga ya."


"Sayang kau mau apa?!"


Bergedik saat Bibir itu mulai menjelajah kemana mana.


"Sayang hentikan, kau mau apa di di dini.


ini ruang kerja mu kan?!."


Meringsut mendorong tubuh Kristian menjarak kan tubuh nya.


"Aku hanya suka dengan aroma mu, Aku tidak akan melakukan hal gila di ruang kerja ku sendiri."


Meraih Desi masuk ke dalam pelukannya.


Kalau begitu kondisi kan tangan dan bibir mu Tuan Kristhoper...!!!!


Pekik Desi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2