
Malam telah berganti pagi. Dentingan alat dapur di rumah belakang menandakan kesibukan para pelayan dipagi hari.
Petugas kebersihan hingga para pelayan bekerja dengan sepenuh hati di dalam kediaman tuan Ramadhian.
Desi merasa tidak nyaman jika terus berada di dalam kamar. Setelah selesai dengan ibadah nya Ia memilih keluar kamar menuruni tangga.
"Dimana dapur nya."
Mengedarkan pandangan menatap sekeliling.
"Ada yang bisa saya bantu nona?."
Pelayan berkata dengan ramah.
"Saya hanya bosan, bisakah antar saya ke dapur?."
Berbicara dengan ramah.
"Mari ikuti saya nona."
Pelayan tersenyum sambil membungkuk menghormati.
Desi melangkah mengikuti pelayan menuju dapur.
Para pelayan melihat Desi menyapa dan membungkuk menghormati.
"Saya ingin membantu kalian memasak."
"Apa,?!."
Para pelayan saling pandang.
"Saya hanya ingin memasak untuk suami. Apa ada yang keberatan,?."
Desi tampak ragu.
"Silahkan nona, Nona Aisyah pun sering melakukan nya jika sedang berkunjung kemari."
Pelayan tersenyum ramah disana.
Desi tampak langsung bisa beradaptasi.Sifat nya yang ceria dan mudah sekali bergaul, sedikitpun tidak merasa risih bercengkrama dengan para pelayan.
Memasak dan mengobrol hingga sesekali tertawa.
"Ini enak sekali nona. Eh, Maaf saya lancang karena mencicipi. Maaf."
Berkali kali meminta maaf karena merasa tidak enak hati.
"Tidak apa apa."
Desi tersenyum manis disana.Kemudian membawa hidangan menuju meja makan rumah depan.
"Apa yang kau lakukan sayang?"
Tanya Mommy menghampiri Desi.
"Hanya membuat sarapan mommy."
tutur Desi dengan lembut.
"Oh ya,? Boleh mommy coba?."
Antusias nyonya Ramadhian.
Desi mengangguk senang.
"Tentu saja mommy."
"Wow, ini enak sekali. Luar biasa kau dan Aisyah membuat mommy sangat bangga."
Nyonya Ramadhian mengacungkan ibu jari nya.
Desi sangat bahagia, diterima dengan sangat baik di keluarga ini.
"Ehm!"
Terdengar suara berdehem.
"Sayang, biar pelayan saja yang melakukan nya, Kristian dari tadi mencari mu."
Berbisik di telinga Desi.
"Seperti nya dia sudah merindukan mu. Jika Kristian marah Mommy tidak bertanggung jawab ya."
"Apa yang kau lakukan disini?."
meraih pinggang Desi menenggelamkan kepalanya di punggung.
"Melaksanakan tugas istri, apa lagi?."
Desi bergedik karena Kristian memeluk nya dari belakang.
"Tugas mu melayani ku, bukan didapur."
Semakin mempererat pelukannya.
Apa sih orang ini. Mengapa sikap nya jadi berubah menggemaskan sekali.
__ADS_1
"Bisakah tidak memeluk saya di tempat umum?."
"Peluk saya sesuka hati anda di dalam kamar."
"Akan aku lepaskan jika kau tidak nyaman."
Kristian melepas Desi dan berbalik.
"Eh?. Kenapa marah?."
Desi berbalik terkesiap karena Kristian telah mengenakan stelan Jas dan bersiap untuk pergi.
"Maaf."
Menyusul Kristian menggenggam tangan nya.
"Anda akan pergi? Jika ya, setidaknya sarapan dulu. Aku memasak khusus untuk anda."
"Benarkah?."
Kristian menoleh pada Desi yang lebih pendek dari nya.
"HM"
Desi mengangguk.
"Maaf saya tidak menyiapkan pakaian untuk anda."
"Tidak perlu minta maaf, bersikap lah seperti biasa,jangan terlalu formal begitu.,"
Mengusap pucuk kepala Desi.
"Selamat pagi."
Tuan Ramadhian menyapa Desi dan Kristian.
"Selamat pagi Daddy."
Desi membungkuk menghormati.
"Harum sekali seperti nya enak."
Menarik kursi kemudian duduk di meja makan.
Farel merangkul Aisyah sambil menuruni tangga.
"Kita sarapan dulu sebelum berangkat."
"Berangkat?."
Aisyah meninggikan alisnya.
Mencium pipi Aisyah.
"Mendadak?Mengapa tidak memberi tahu sebelumnya?."
"Banyak pekerjaan yang sempat tertunda sayang."
Farel mencubit hidung Aisyah.
Baby Fasya bersama pelayan senior di taman belakang. Sedangkan Bu Inah sudah pulang kerumah Felisya.
Abah Hengki dan Harli keluar dari kamar tamu dipersilahkan oleh pelayan menuju meja makan.
Semua menikmati sarapan bersama.
Sesekali mengobrol dan tertawa disana.
"Keluarga kaya raya dan sangat harmonis. Sungguh beruntung kau mba Desi. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu."
Gumam Harli dalam hati.
Tiba saat nya berpisah.
Di dalam bandara.
Sudah menjadi tradisi wanita jika berpisah pasti menangis.
Begitu pun Desi yang harus berpisah dengan Aisyah dan Abah nya.
Juga mommy yang sedih ditinggal cucu kembali ke Kairo.
"Jaga dirimu. Jadilah istri yang baik. Berbahagialah.Semoga Allah selalu meridhoi rumah tangga kalian."
Tutur lembut Aisyah pada Desi yang sekarang mengharu di dalam pelukan nya.
"Terimakasih mba.,"
"Titip Mommy ya,"
Aisyah mengusap kepala Desi yang tertutup hijab.
"Jaga Mommy dan Daddy brother."
Farel dan Kristian saling berpelukan.
"Hati hati Boy."
__ADS_1
Tuan Ramadhian memeluk putra nya
"Daddy juga jaga kesehatan ya."
Farel melepas pelukan nya.
Desi mencium punggung tangan Abah.
"Hati hati Abah."
Abah hanya mengangguk dan mengusap kepala Desi. Dari tarikan nafas nya terdengar sangat lega melihat putri nya bahagia.
Desi melambai pada mereka yang telah berlalu pergi. Desi bersama mommy dan bodyguard membawa nya kembali ke kediaman tuan Ramadhian.
Sedangkan Kristian pergi ke kantor sendiri tanpa sopir.
Kristian melajukan mobilnya melewati ramainya hilir mudik mobil mobil di jalanan kota ini.
Menuju area perkantoran milik nya hingga memasuki parkiran khusus disana.
Biasanya Kristian tidak pernah memarkirkan mobil sendiri. Hanya dengan menyerahkan kunci pada Security, Langsung faham memanggil petugas khusus yang ditugaskan untuk memarkirkan mobil Kristian.
"Siapa Dia?."Mata Kristian membelalak ketika melihat wanita tidak sadarkan diri di dekat tempat mobil nya terparkir.
Kristian keluar membanting pintu menuju wanita yang ambruk tidak sadarkan diri.
"Klara?!."
Kristian langsung memekik memanggil petugas keamanan untuk membantu nya.
"Ada apa tuan?."
Dua petugas keamanan membantu mengangkat Klara membawa nya kedalam mobil Kristian.
Kristian melesatkan mobil nya menuju rumah sakit."Ah, Bodoh nya aku!. Kenapa tidak kusuruh saja keamanan yang mengantar nya kesini."
Kristian mengutuki diri nya sambil berlari menuju perawat.
Sepersekian detik para perawat mengeluarkan Klara dari dalam mobil menuju Bed rumah sakit dan mendorong nya ke IGD.
"Silahkan tunggu diluar tuan, Pasien akan segera di tangani dokter."
Ujar perawat sambil menutup pintu.
"Lakukan yang terbaik."
Perintah Kristian.
Kristian mengusap wajah nya kasar.
"Apa tadi malam Klara menghubungi nya karena ingin minta tolong?."
"Astaga!Apa yang aku lakukan?."
Kristian berfikir buruk mengingat Klara yang pakaian nya robek di bagian depan dan ada bekas cakaran di dada.
"Klara di le..ceh..kan tadi malam!."
Itu yang terus mengiang di kepala.
Kristian gelisah mondar mandir di depan pintu IGD.
Berharap tidak terjadi hal buruk dengan Klara.
Bukan karena cinta tentunya. Hanya karena Kristian iba pada nya.
"Keluarga nyonya Klara."
Kristian masuk setelah perawat memanggil.
Kristian masuk ke ruang Dokter.
"Apa anda suami nyonya Klara?."
tanya dokter melihat ada cincin pernikahan di jari Kristian.
"Tidak, bukan. Saya hanya sahabat nya. Kerabat, bisa dibilang begitu"
Berusaha menjelaskan pada Dokter.
"Ini kriminal, Nyonya Klara di le..ceh..kan tadi malam."
Degh..
"Apa?."
Kristian menyandar pada Sandaran kursi.
"Dimana suami nya?."
tanya dokter lagi.
"Suami?."
Kristian bingung seperti orang bodoh yang sama sekali tidak bisa menjawab.
"Nyonya Klara sedang mengandung. usia kandungan nya mencapai empat Minggu."
__ADS_1
Astaga!