
Masa cuti telah habis, Sudah waktu nya kembali mengajar para santri di Al Ikhsan.
Desi menarik nafas panjang sambil duduk di depan cermin kemudian kembali memoles wajah nya.
"Kau mau kemana?."
Berbisik di telinga Desi Membuat nya bergedik.
"Masa cuti saya telah habis. Saat nya kembali bekerja."
Mengusap pipi Kristian yang memeluk nya dari belakang.
"Bekerja,?"
Kristian berkerut dahi.
"Mengajar di Al-ikhsan, Anda keberatan?."
Mengusap pipi Kristian lagi.
"Tidak, lakukan sesukamu."
Desi merinding karena bibir itu mencium lehernya.
"Terimakasih sayang."
Mengecup pipi Kristian.
"Oh ya, Maukah jika aku mengajak mu ke Rumah sakit sebelum kau pergi mengajar?."
"Rumah sakit,?."
Desi berkerut dahi. Berfikir sejenak.
Walaupun kesal, Desi tetap penasaran dengan keadaan Klara.
"Ya."
Desi mengangguk sambil tersenyum disana.
"Boleh tanya sesuatu?."
Desi berbalik menatap Kristian kemudian berdiri membantu nya memasang dasi.
Kristian tidak keberatan, Ia diam menunggu.
"Apa Klara mengandung anak anda?."
"Apa?!"
Kristian terkesiap dengan pertanyaan Desi
"Kau benar benar tidak memahami ku ya."
Kristian meraih tangan Desi dan menurunkan nya.
"Anda marah?."
Sedikit menyesal dengan ucapannya tadi.
Mengangkat tangan nya lagi untuk memasang dasi Kristian.
"Seandainya aku bisa marah pada mu, Itu sudah aku lakukan dari dulu."
Bahkan seandainya aku dulu bisa melupakan mu.
"Maaf, tapi saya ingin jawaban yang pasti."
"Aku sedang menyelidiki semuanya, tentang Klara dan siapa ayah biologis dari bayi dalam kandungan nya."
"Apa anda pernah menyentuh nya?."
Pertanyaan itu lolos juga, walaupun sedikit ragu mengatakan nya.
"Bagaimana ya? Jika kau saja tidak percaya pada ku."
Kristian meraih arloji dan keluar dari kamar sambil mengenakan nya.
Ucapan Kristian sukses menggetarkan hati. Dari bahasa nya Kristian benar benar tidak tau apa apa.
Desi menatap punggung Kristian yang baru saja berlalu. Dihati kecil nya ingin beriak jika Desi sudah keterlaluan.
Desi meraih tas nya kemudian melesat menuruni tangga mengikuti di belakang Kristian.
Bergegas menarik tangan Kristian dan menggenggam erat disana.
"Maaf kan aku.'
Ucapan tanpa suara meluncur dari dalam hati.
"Kemarilah sayang."
Antusias Nyonya Ramadhian melambai dari meja makan.
Kristian dan Desi duduk di sana. Kristian meraih sepotong roti dan bangkit dari duduknya.
"Aku sedang buru buru. Maaf mom, Dad. Aku berangkat."
Kristian mengucapkan salam kemudian pergi begitu saja.
Desi merasa bersalah dan sedih. Mengulas senyum samar, merasa tidak enak pada Tuan dan nyonya Ramadhian.
__ADS_1
Tuan dan nyonya Ramadhian saling pandang.
mungkin mereka sedang ada masalah. Apa tentang Klara?
"Desi,"
Nyonya Ramadhian kemudian menggenggam tangan Desi.
"Eh?, iya mom."
Desi bingung tidak mengerti.
"Kris sangat menyukai mu lho."
Tersenyum manis disana.
"Mommy."
lirih Desi.
"Dia itu Pria terhormat yang yang tidak pernah berinteraksi dengan wanita selain diri mu. Menghabiskan waktu nya untuk menunggu dan mengejar mu."
"Dia itu bodoh atau bagaimana ya."
Nyonya Ramadhian mengulas senyum pada Desi.
"Keluar lah, Kristian masih menunggumu di mobil."
nyonya Ramadhian mempererat genggaman nya.
"Eh?Iya."
Desi pamit kemudian berlalu dari sana.
Keluar dari dalam rumah menuju pintu utama.
Dan benar yang nyonya Ramadhian katakan.
Kristian masih menunggu di dalam mobil.
Secepat itu Desi melesat kedalam mobil.
Mengharu dan memeluk Kristian.
"Maaf."
Desi mempererat pelukannya.
"Seandainya aku bisa move on dari mu, itu sudah aku lakukan."
Kristian membalas pelukan Desi.
Desi menggeleng kan kepala.
"Jangan pernah move on dari ku. Tetaplah begini, mencintai ku dengan sepenuh hati."
Cup.
Kecupan hangat mendarat di bibir Kristian.
"Ayo kerumah sakit sekarang."
Desi melepaskan pelukannya. Kembali duduk di tempat nya semula.
Mobil mulai melaju meninggalkan kediaman tuan Ramadhian.Keluar dari gerbang disambut sedikit membungkuk dari security.
Mobil terus melaju melewati lalu lalang kendaraan di pagi hari. Setiap orang sibuk dengan aktifitas nya.
Desi memandang pinggir jalan dari balik kaca.
Terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir nya hingga mobil sampai di area parkir rumah sakit.
"Ayo."
Desi melepas seat belt keluar dari mobil.
Terkesiap karena Kristian tiba tiba menggenggam tangan nya.
"Kristian aku mencintaimu."
Ingin rasanya aku pamerkan pada dunia jika aku memiliki suami seperti mu.
"Apa yang kau fikirkan?".
"Tidak ada."
Desi dan Kristian melangkah melalui lorong rumah sakit, manaiki lift hingga sampai di ruang VIP dan Kristian mengetuk pintu kemudian menyentuh handle pintu dan membukanya.
"Kristian?, "
Wanita paruh baya datang menghampiri Desi dan Kristian.
"Klara telah menunggu mu, nak Kris."
Kristian tidak meng idahkan ucapan Ibu nya Klara.
"Ini istri ku."
Memperkenalkan Desi sambil merangkul bahunya.
Hei! Tidak harus memeluk juga kan?
__ADS_1
Desi mengulurkan tangan pada Ibu nya Klara, Ibu Klara menjabat tangan Desi dengan sedikit menepis.
Apa apan sih ibu ini, seperti nya dia tidak suka dengan ku.
"Silahkan nak Kristian."
Ibu Klara mempersilahkan.
Kristian dan Desi mendekati ranjang.
Klara yang sedang duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong.Wajahnya pucat. Rambut panjang nya berantakan.
Desi menurunkan tangan Kristian dari bahu nya. Berjalan mendekat pada Klara.
ini lah wanita yang membuatku cemburu sejak kemarin,?
Desi menoleh pada Kristian.
Maafkan aku.
Kemudian menoleh pada Klara dan memeluk nya.Mendekap erat Klara di sana.
Klara hanya diam. ibu Klara melihat itu menunduk sambil menangis disana. Terenyuh melihat putrinya yang hanya seperti mayat hidup.
"Jika anda mengizinkan, aku akan menjadi ibu dari anak yang Klara kandung."
Desi menoleh pada Ibunya Klara.
"Apa?."
Ibu Klara terkejut. Mendongakkan kepala lalu melihat Kristian.
Kristian menarik nafas lega.
"Kami akan menjadi orangtua dari anak itu."
Balas Kristian.
"Kami juga yang akan mengurus biaya perawatan Klara hingga dia sembuh."
Ujar Desi lagi.
Ibu Klara tiba tiba berlutut. Malu akan sikapnya tadi. Malu akan tingkah laku anak nya.
"Maaf kan saya nak Kristian."
Tubuh Ibu Klara bergetar karena menangis.
"Minta maaf lah pada istri ku."
Ujar Kristian sambil melihat arloji.
"Kita hampir terlambat."
Desi melepaskan pelukannya, mendekat pada Ibu nya Klara, dan merendahkan diri nya.
"Bangunlah Nyonya, Anda tidak perlu melakukan ini."
"Maafkan saya nak Desi, maafkan anak saya Klara."
Desi mengusap air mata Ibu Klara. Membantu Ibu Klara berdiri.
"Sudahlah Nyonya, Tidak ada yang salah disini. Baik anda ataupun Klara."
Tersenyum manis disana.
Lain waktu saya akan berkunjung ke mari."
ujar Desi Kemudian mengucapkan salam dan berlalu bersama Kristian.
"Kau yakin dengan ucapan mu tadi?."
Menoleh pada Desi kemudian menatap jalanan lagi.
"Iya, Kita akan adobsi dan mendidiknya agar menjadi anak yang baik. Seperti anda."
Mencubit pipi Kristian.
Cit..
Mobil menepi tidak jauh dari Gerbang Al-Ikhsan.
"Kau menggoda ku.hm?."
Mendekatkan wajah nya pada Desi.
Desi mundur mendur mendorong tubuh nya.
Mematung saat tangan Kristian telah berada di pinggang.
Muach..
Desi memejamkan mata ketika bibir mereka menyatu.
Ciuman terjadi beberapa saat hingga mobil mobil melewati mobil yang tengah menepi.
Desi melambai masuk ke dalam pesantren.
Kristian mengulas senyum sambil mengusap bibirnya dengan Ibu jari.
Next
__ADS_1