
Helicopter mendarat di lapangan tidak jauh dari rumah Abah.
Desi dibantu Kristian turun dari Helicopter menuju rumah duka Dengan segera.
Para kerabat, tetangga dan sanak saudara silih berganti memasuki rumah duka untuk berbela sungkawa dan melantunkan Do'a Do'a.
Desi kembali menitik kan air mata melihat rumah nya dari kejauhan, orang orang yang berada di luar rumah menoleh ke arah Desi dan Kristian.
Desi semakin sesenggukan ketika menyalami ibu ibu yang menyambut Desi memeluknya kemudian. "Ikhlaskan Abah Nak, "
Salah seorang wanita memeluk Desi.
Desi mengangguk melepas pelukannya kemudian masuk kedalam rumah yang telah dipenuhi orang orang sedang melantunkan ayat ayat suci bersama ustadz di desa itu memimpin Do'a.
Terlihat juga ayah nya Faat sedang membaca kitab suci, namun Faat tidak terlihat di sana mungkin sudah pulang.
Batin Desi.
Desi duduk di sebelah ibu ibu mendengarkan ustadz membaca do'a. Sedangkan Kristian duduk di deretan pria juga ikut meng Amini Do'a dari Ustadz itu.
Beberapa menit berlalu hingga orang yang datang berbela sungkawa silih berganti berpamitan.
Desi Berkali kali mengucapkan terimakasih dan memohon maaf pada semua orang atas nama Abah dan keluarga. Air mata tentu tah henti henti nya menetes, Desi pun mengusap seketika.
"Mba Desi, Mas Kristian."
Hengki dan Harli menyapa melalami mencium tangan Kristian dan Desi bergantian.
Kristian menepuk bahu Hengki.
"Jaga adik mu"
Ucapan tanpa suara terlihat dari cara Kristian menatap. Hengki mengangguk mengerti meski Kristian tidak mengucapkan apapun.
"Mas Kristian sama Mba Desi beristirahat lah di kamar, Ini Sudah malam. Biar kami antar makan malam nya ke kamar sebab kami sedang tidak berselera."
" Kami naik dulu."
Kristian membawa Desi berbalik saat mau menaiki tangga, Harli memanggil.
"Mas Kristian."
Cegah Harli.
"HM?."
Kristian menoleh.
"Bolehkah Aku memeluk mu?."
Menarik nafas nya panjang.
Kristian berkerut dahi.
"Bolehkah aku memeluk mu? seperti aku memeluk Abah. Mau kah Mas Kristian Menggantikan Abah untuk membimbing Kami."
Harli menunduk.
Kristian sedikit menarik ujung bibir nya, berbalik mendekap Harli kemudian.
"Kau laki laki, maka Lakukan apa yang bisa kau lakukan. Bertanggung jawab dalam hal apapun dan teruslah berusaha meraih apa yang kau impikan."
Kristian melepaskan pelukannya. Berbalik menggenggam Desi masuk ke dalam kamar.
Harli mengangguk memantapkan hati nya, mencerna kata kata Kristian yang bagi nya sangat bermakna. "Terimakasih Mas Kristian."
Ujarnya dalam hati kemudian menaiki tangga menuju kamar nya.
__ADS_1
Hengki menarik nafas nya panjang kemudian menghembuskan nya. "Abah bercita cita untuk menghembuskan nafas terahir saat beribadah di tanah suci, impian Abah terlaksana meski kami merasa sangat kehilangan. Husnul khatimah Abah, Do'a kami menyertai kepergian mu." Batin Harli sambil menaiki anak tangga menuju kamar nya.
*****
Dan pagi nya.
Semua berkumpul di meja makan. Hangki Harli Kristian dan Desi juga dua wanita keluarga dari Abah. Menikmati sarapan bersama meski suasana Duka masih terasa.
"Maaf bibi, Hengki juga Harli mba Desi harus pulang ke Jakarta hari ini."
"Secepat itu?."
Tanya bibi nya Desi.
"Kak Kristian harus bekerja. Banyak pekerjaan tertunda gara gara aku belakangan ini."
"Minggu depan Aku usahakan hadir saat membaca do'a bersama, juga kami berniat berziarah ke makam ibu."
Kristian Bicara kemudian menyuapkan sendok ke mulut nya.
"Baik lah, hati hati di jalan.," Bibi mengusap usap perut Desi.
"Sehat ya nak. Bibi dan Hengki akan datang jika kau sudah lahir. Menggantikan mendiang Umi juga Abah."
"Terimakasih bibi."
Menoleh pada Kristian mengizinkan atau tidak.
"Kami menunggu kedatangan kalian."
Balas Kristian yang artinya dengan senang hati Kristian menerima kehadiran keluarga Desi.
Bibi melambai pada Desi ketika telah mengantar nya sampai di lapangan tempat Helicopter berada. "Hati hati Desi." ujar kedua bibi itu.
"Sampai jumpa Minggu depan."
Berbeda dengan Kristian yang berkerut dahi menatap Pilot di depan Helicopter.
"Maaf tuan, saya Pilot pengganti sebab yang tempo hari, kali ini dia sedang ada urusan."
Kristian menelisik, menatap penuh arti.
Mengeluarkan ponsel nya mengetik pesan sambil Menyeringai menaikan satu alis nya masuk kedalam Helicopter tanpa Bicara.
"Kenakan seatbelt mu sayang." Kristian memasangkan seat belt. Tidak lama baling baling Helicopter mulai berputar.
"Eh?."
Desi membeku,
Sayang?! Kristian Panggi sayang? Aku sedang tidak salah dengar kan?!
"Sampai jumpa?!." Desi melambali ketika helicopter telah mengudara, bergemuruh menciptakan angin yang begitu besar nya melambaikan pakaian longgar yang kedua bibi nya.
"Hati hati..!!"
Pekik kedua bibi itu sambil melambai pada Helicopter yang telah menjauh.
***
Sementara di dalam Helicopter.
"Apa yang Hengki dan Harli bawakan untuk mu, banyak Sekali."
Melihat ransel di belakang Desi Membuka nya kemudian.
Greg..
__ADS_1
Terjadi getaran aneh di dalam Helicopter.
Desi yang tidak begitu menyadari hanya diam saja. Namun berbeda dengan Kristian. Pria yang memiliki tingkat kewaspadaan sangat tinggi mampu membaca situasi sejak sebelum mereka menaiki Helicopter.
"Desi, tutup mata mu."
"Eh? Apa maksud nya?'
Alih alih Membuka ransel ternyata Kristian mengeluarkan revolver.
"Cklek"
Kristian menodongkan pist*l tepat di kepala sang pilot. Sebenarnya Kristian menyadari sesuatu sebelum Helicopter mengudara.
" Siapa yang berniat mencelakai ku?."
"Sayang, apa yang kau lakukan?."
Desi menarik pergelangan tangan Kristian.
"Tutup matamu, Desi."
berkata tanpa menoleh pada Desi, Dengan tangan Kristian masih menodongkan pist*l di kepala sang pilot. "Jelaskan pada ku, ada apa ini???" Desi memekik.
"Helicopter harus melakukan pendaratan darurat, jika tidak segera melakukan nya. Helicopter akan jatuh"
Kristian menjelaskan.
"APA?!."
Desi tersentak, jantung nya berdebar takut.
"Tu-tuan saya hanya menjalankan tugas mengganti kan rekan saya, Saya tidak tahu siapa yang mensabotase Helicopter ini "
Berkata dengan gemetar.
Kristian menelisik ada kebohongan atau tidak dari pilot itu. tapi sepertinya Ia berkata jujur.
"Turun lah secepatnya bersama nona, tuan,
ada parasut di dalam ransel itu. "
"Biar aku yang mengendalikan Helicopter ini, dan segera melakukan pendaratan darurat.",
Kristian menurunkan revolver nya, meraih ransel. Membuka seat belt meraih tubuh Desi, mengenakan ApD lengkap pada tubuh Desi yang terdiam gemetar.
"Aku takut.."
"Tenang lah, aku akan menjaga mu"
"Haruskah dengan cara ini?."
Desi ketakutan hingga menangis.
"Cepat Tuan, kita tidak ada waktu lagi?!."
"Kita akan turun sekarang, kau jangan takut. Aku janji tidak akan melepaskan mu."
Meraih tangan Desi mengecup dahi nya kemudian menggunakan alat pelindungnya mengikat tubuh Desi dan tubuh nya.
wuuusss..
Pintu helicopter terbuka, angin kencang bergemuruh masuk ke dalam.
Desi berkali kali berucap Do'a Do'a mengalungkan tangan di leher Kristian Kemudian Kristian membawa Desi turun dari helicopter, melayang di udara.
-
__ADS_1
Next