
Hari pertama masuk kerja berangkat pagi pagi dengan berjalan kaki tentu saja karena rumah dinas letak nya dekat dengan pesantren.
"Assalamu'alaikum ya ustadzah Desi."
Sapa ustadzah Mariska yang menghampirinya.
"Wa'alaikumsalam ustadzah."
Desi sedikit membungkuk tanda menghormati pada senior nya.
"Pagi ini ada rapat di kantor juga akan kedatangan
tamu penting, anda sudah diberi tahu?"
Ustadzah Mariska menoleh pada Desi yang berjalan disamping nya.
"Sudah ustadzah."
Desi mengangguk meng iya kan.
"Bersiap lah, Semoga anda bisa cepat beradaptasi." Ustadzah Mariska menepuk bahu Desi tersenyum pada nya
"Sekali lagi mohon bimbingan nya ustadzah."
Desi kembali membungkuk.
Desi dan ustadzah Mariska sudah memasuki pesantren. Para santri datang berkerumun menyalami ustadzah Mariska juga menyalami Desi menyapa dan mengucapkan salam.
"Ini Ustadzah yang baru datang dari Solo, Akan mengajar disini sebagai guru kalian. Nama nya Ustadzah Desi kumala marwan. Panggil saja Ustadzah Desi."
Ustadzah mariska mengenalkan Desi pada santri yang berkumpul disana.
Desi sedikit membungkuk mengulas senyum kemudian menyapa para santri disana.
"Mari ikut saya langsung ke ruang rapat Ustadzah, Sepertinya kita datang lebih awal."
"Baik Ustadzah."
Desi dan ustadzah Mariska menunggu di ruang rapat dengan ustadz dan ustadzah yang lain mulai memasuki ruangan.
Ustadzah mariska berdiri memperkenal kan Desi "Perkenalkan beliau ini adalah ustadzah Desi yang
baru tiba dari solo."
"Nama saya Desi kumala marwan. Mohon bimbingan nya ustad dan ustadzah." Tutur lembut Desi sambil sedikit membungkuk disana.
Rapat pun dimulai dengan rencana akan dibangun nya gedung untuk kelas baru dan beberapa renovasi pada kamar kamar santri, Juga menambah jam belajar dan kegiatan lain nya
Para ustadz dan ustadzah mengemukakan pendapat masing masing hingga datang lah tamu yang memang sedang mereka tunggu tunggu sejak tadi. Yaitu pengusaha muda donatur di pesantren itu.
Pintu terbuka oleh kepala yayasan yang bersama seseorang mempersilahkan masuk dengan ramah nya.
"Assalamu'alaikum"
Desi tersentak.
"Suara itu" gumam nya.
"Wa'alaikumsalam."
Para ustadz dan ustadzah serempak menjawab salam berdiri menghormati siapa yang datang.
Lamunan Desi buyar dengan suara orang orang yang hadir kemudian ikut berdiri menghormati tamu yang datang. Dada nya bedetub kencang dan rasa nya ingin sekali menangis.
"Kristian...."
__ADS_1
batin nya menatap pria yang berada di depan pintu ruang rapat yang melangkah masuk.
Seketika Desi berpaling berharap Kristian tidak melihat nya berada disana.
Namun salah, ketika tiba tiba Desi melihat Dia sudah berdiri dihadapan nya dan tatapan keduanya bertemu.
Jantung Desi semakin bertalu talu, Ia kemudian menunduk seolah teringat kembali luka masa lalu
Rasa nya ingin menangis dan kabur dari tempat itu sekarang juga.
Kristian orang yang sangat profesional selalu bisa menetralkan dirinya sehingga tidak satu orang pun disana yang tau atau curiga jika mereka saling mengenal.
Kristian dipersilahkan untuk duduk. Rapat pun diahiri dengan Kristian menandatangani selembar kertas yang artinya seluruh biaya pembangunan dan renovasi Ia lah yang akan menanggung nya.
Kristian keluar dari ruang rapat beramah tamah pada para ustadz disana kemudian berlalu bersama ketua yayasan sambil berbincang entah apa yang mereka bicarakan.
Desi hanya menatap punggung tegap yang berlalu menjauh disana, tanpa berani menyapa apa lagi bertanya kabar.
"Mengapa setelah sekian lama kau muncul kembali." Gumam Desi.
"Apa kau sudah menikah?"
"Apa kau memiliki kekasih? atau bahkan sudah melupakan aku yang telah menyakiti mu?"
Pertanyaan dalam hati Desi berkecamuk didalam lamunan menatap kosong pada halaman pesantren tempat Kristian berjalan tadi.
Desi kembali ke ruangan mengajar para santri putri hingga jam pelajaran berahir.
***
Desi kembali ke rumah dinas setelah selesai mengajar di pesantren dan melaksanakan shalat ashar berjamaah.
Berjalan sendiri dengan buku buku ditangan nya yang baru Ia ambil dari pesantren.
"Sepertinya kau hidup dengan baik."
Batin Desi.
Pertanyaan dari Kristian seperti menyindir bak majas ironi yang seperti mengungkapkan betapa sakit nya hati Kristian
ketika itu hingga begitu lama nya.
Seketika Desi berbalik.
"Tuan?".
Jantung Desi berdetub kencang, Desi tertegun Mata nya berkaca kaca. Perasaan rindu dan juga rasa bersalah menggerogoti jiwa nya.
Rasa bersalah membuat Desi terdiam memalingkan wajah agar tatapan kedua nya tidak bertemu.
" Bagaimana kabar anda tuan?"
Pertanyaan formal untuk menetralkan hati nya.
"Kabar? Sungguh kau ingin tau?"
ucapan dingin keluar dari bibir Kristian membuat Desi semakin merasa sangat bersalah.
"Maaf..."
"Kau baru merasa kan itu?"
Desi benar benar tersulut.
"Anda membenci ku, Tuan?"
__ADS_1
"Kau masih bertanya?"
Kristian berbalik berlalu begitu saja, Desi terus memperhatikan pria itu menjauh hingga tidak lagi terlihat.
"Tuan, maafkan aku."
Tidak ada jawaban apapun dari pria didepan nya yang terus berlalu tanpa menoleh kebelakang.
"Maaf untuk semuanya."Lirih Desi sambil mengusap bulir bening yang lolos dari mata nya.
" Benci lah aku, jika itu membuatmu lebih baik tuan. Beribu maaf tidak cukup untuk mengobati luka mu.
"Ya Tuhan, mengapa hati ku sakit sekali."
Desi kemudian menghela.
" Aku seperti merasakan luka dihati mu selama ini tuan. Terus lah menjauh dan hidup lah dengan bahagia. Maafkan aku."
Desi berbalik menuju rumah nya, menyandar kan diri di sofa memijat pelipis nya.
"Lupakan Dia... Aku sangat tidak pantas untuk nya. Aku ini seorang janda. Ingat itu Desi. Dia pria baik dan terhormat tidak akan pantas jika kau bersanding dengan nya. Tatap masa depan dan lupakan masa lalu. Biar kan dia dengan kehidupan nya dan berbahagia dengan wanita baik yang pantas untuk nya.
"
Desi berbicara sendiri menyemangati hidup nya berusaha menyadarkan diri sendiri.
Di tempat lain
Kristian yang berlalu meninggalkan Desi tanpa menoleh kebelakang terus menjauh dari sana.
Tatapan sendu yang selalu menghantui nya tiba tiba muncul disana.
Mata nya yang berkaca kaca tidak pernah berubah sejak dulu.
"Dia milik orang lain Kris.. ayolah lupakan dia."
Gumam nya dalam hati.
Melangkah terus menjauh menuju parkiran.
Menginjak pedal gas melesatkan mobil nya disana.
"Tuan anda sudah kembali?"
tanya asisten Kristian yang sedikit membungkuk menghormati bos nya yang datang sambil membukakan pintu.
Kristian hanya mengangguk keluar dari dalam mobil.
"Anda bertemu dengan nya tuan?"
Kristian hanya menoleh menatap tajam Asisten nya seperti tidak suka dengan Pertanyaan itu kemudian melangkah memasuki Gedung perusahaan.
"Suka atau tidak, tapi nona Desi telah bercerai."
Perkataan Asisten nya sontak membuat Kristian tiba tiba berhenti.
"Nona Desi sudah bercerai." lirih Asisten nya yang berada dibelakang Kristian.
"Bukan urusan ku."
Kemudian Kristian terus melangkah menuju lift khusus disana.
"Aku hanya berharap tuan Kristian kembali seperti
yang dulu lagi."
__ADS_1
Gumam Asisten nya.