
Jam 8 malam waktu Tokyo.
Desi menghela menatap kaca mobil yang diluar nya tampak ramai lampu lampu kota di malam yang belum begitu larut.
Sesaat sebelum nya Ia keluar dari restoran tanpa menyentuh makanan sedikitpun.
Melangkah dengan kesal meski tidak mengerti apa sebab yang membuat nya kesal
Diikuti Kristian dibelakangnya menarik nafas panjang menghadapi istrinya yang Ia bahkan tidak mengerti maunya.
Desi menoleh pada Kristian yang sedang mengemudi, Kristian membawa mobil Mr Tsaichi untuk berjalan jalan bersama istri nya, sedikit merasa bersalah mengingat tingkah nya sendiri yang seperti anak kecil.
"Bisa kah kau mengantarku ke sana?."
Berkata dengan ragu sambil menoleh kearah Kristian kemudian menunduk.
"HM?."
Kristian menoleh pada Desi kemudian menatap jalanan lagi.
"Kau bilang mau mengantar ku kedokter? Di jam segini Klinik Obgyn belum tutup kan?"
Desi menunduk meremasi jari nya.
"Kau bilang tadi--"
"Aku berubah fikiran."
Desi memotong ucapan Kristian.
"Meski aku sudah perkirakan hasil nya, tapi tidak ada salah nya konsultasi dulu."
"Baik lah, Tempat nya tidak jauh dari sini sebentar lagi kita akan sampai."
Mengusap kepala Desi mengulas senyum disana. Kemudian menatap jalanan lagi dan terus melajukan mobil nya.
Sentuhan tangan yang membuat nya selalu merasa aman dan memberi kenyamanan.
Kristian menepi, memarkirkan mobil di area parkir sebuah Klinik Obgyn. Kristian belum juga turun dari mobil, terlihat sibuk dengan ponselnya mengirimkan pesan pada seseorang.
Desi menunggu, meski sebenarnya enggan untuk masuk kedalam Klinik itu.
"Ayo."
Desi Keluar dari mobil, menuju tempat Desi hendak membukakan pintu.
"Aku bisa sendiri."
Menepis dengan ucapan nya.
Melangkah melewati Kristian masuk kedalam sana.
Kristian bergedik pun hanya bisa menghela nafas panjang meluaskan kesabaran nya lagi dan lagi menghadapi sikap Desi yang berubah ubah tiba tiba.
Hingga kecurigaan nya semakin menguat.
Kristian mengikuti Desi dari belakang, Desi pun berhenti di depan pintu masuk.
"Aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka."
Menoleh pada Kristian.
"Gunakan bahasa Inggris."
Balas Kristian kemudian melangkah menuju perawat menyebut nama.
Seketika perawat itu mengajak Desi masuk ke dalam melewati orang orang yang sedang mengantre.
Kristian mengikuti Desi di belakang nya dengan santai memasuki ruangan dokter.
"Kristian???"
Dokter itu segera bangkit setelah pintu terbuka, mendekat pada Kristian dan hendak memeluk nya.
Kristian mundur beberapa langkah mencegah Laure melakukan itu
__ADS_1
"Ini istri ku."
Kristian memperkenalkan Desi Meraih tangan nya dan mengecup nya.
"Oh, Hai. Aku Laure. Sepupu Kristian."
Sedikit canggung karena sikap nya barusan, membuat nya merasa tidak nyaman.
"Sayang, ini Laure keponakan Mommy."
Desi menjabat tangan Laure tersenyum ramah pada nya.
"Hai Laure, Aku Desi."
"Senang bertemu dengan mu Laure, Tidak menyangka bertemu sepupu Kristian disini."
Berkata dengan ramah juga tersenyum disana.
Desi kemudian kembali duduk di hadapan meja dokter.
"Aku memilih menjadi dokter dan menetap disini, Waktu kecil kami sering bersama tidak terasa sudah sama sama dewasa. Bahkan kau menikah aku tidak bisa datang Kris."
"Tidak masalah Laure, bisa Kita lanjutkan?."
Balas Kristian kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah Desi.
"Oh iya, silahkan."
Dokter Laure kembali ke tempat duduk nya semula.
Kristian menjelaskan tentang terlambat nya datang bulan Desi, sikap nya yang akhir Akhir ini pun berubah ubah
"Aku biasa saja, kau yang terlalu berlebihan menanggapi."
"Kita lakukan pemeriksaan dulu ya, agar tahu hasilnya."
Dokter Laure pun memeriksa Desi mulai dari menggunakan alat test kehamilan hingga sampai USG.
Desi berbaring, sambil menatap layar saat dokter menggerakkan gerakan alat di perut nya.
Dokter Laure berkata sambil menatap layar.
Kemudian kembali ke tempat nya mengeluarkan hasil cetak USG.
"Usia kandungan nya sekarang 5 Minggu."
Mengulurkan hasil cetak USG.
"Aku Sungguh?."
Sentuh Kristian pada foto hasil USG itu dengan berkaca kaca.
Dokter Laure mengangguk.
"Sekali lagi Selamat ya Kris."
Laure ikut bahagia melihat Kristian dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Kristian memeluk istri nya yang telah mengharu biru.
Berkali kali Desi berucap syukur atas anugrah yang Ia dapat kan. Keduanya pun menangis bahagia saling sambil saling mendekap.
"Ini resep obat nya."
Dokter Laure menyerahkan resep obat itu juga menjelaskan ini dan itu yang berhubungan dengan wanita hamil. Serta taksiran melahirkan
untuk Desi beberapa bulan yang akan datang.
Peran suami serta hubungan suami istri yang aman saat usia kandungan menginjak trimester pertama.
***
Di tempat lain,
Asisten Mr Tsaichi begitu kesal keluar dari mall
__ADS_1
sambil membawa beberapa paper bag ke mobi nya.
Seperti melampiaskan emosi Asisten Mr tsaichi terus terusan mengumpat di dalam mobil.
"Sial, bahkan tuan Tsaichi saja sering aku bantah jika memerintah sesuatu yang tidak masuk akal."
Contohnya jika terus memerintah sesuatu yang membuatnya sangat lelah diluar batas kemanusiaan.
"Apa apaan ini, Tuan Kristian lebih menyusahkan dari pada bos ku!."
Terus melaju hingga sampai di parkiran hotel.
Keluar dari mobil kemudian memerintahkan bodyguard untuk mengantar kan semua paper bag kedalam kamar dan mengemas nya menjadi beberapa kardus agar lebih praktis menurut nya.
"Kerjakan tugas kalian cepat."
Bodyguard menggaruk kepala meski tidak gatal.
"Mengapa tidak kalian beli saja sama tokonya sekalian."
Bodyguard mengumpat dalam hati namun akhirnya pasrah mengikuti perintah mengantar kan paper bag menuju kamar Kristian.
***
"Selamat tuan Kristian anda akan jadi seorang Ayah."
Ucapan Laure terus berputar putar di kepala.
Rona bahagia terpancar di wajah nya juga sang istri yang melangkah di sampingnya dengan tangan saling bertaut keluar dari Klinik itu.
"Sayang terimakasih."
Lirih Kristian kemudian mengecup punggung tangan Desi.
"Sayang? kau panggil aku begitu membuat ku merinding."
'Oh ya? Merinding mana dengan ini "
Mengecup bibir Desi.
"Sayang hentikan."
Mendorong tubuh Kristian agar menjauh.
Kristian pun pasrah saat Desi menyandarkan kepala di bahu nya yang duduk di dalam mobil namun belum melajukan mobilnya.
"Kau sungguh sangat peka merasakan dia tumbuh di rahim ku."
Mengusap perut nya yang rata.
"Terimakasih kau selalu jadi suami terbaik untuk ku. Maaf selalu menyusahkan mu dalam banyak hal."
"Kau tahu, Aku sangat bahagia."
Mengecup pucuk kepala Desi cukup lama, meresapi perasaan cinta yang mengalir.
" Aku mencintaimu."
"Kau belum makan malam, Kita cari restoran disekitar sini."
"Tidak perlu, Aku ingin segera kembali ke hotel.
Makan malam bisa kau pesan jika sudah sampai."
Menyandar kan tubuh nya di sandaran nya.
"Baik lah kita pulang sekarang."
Kristian mulai melajukan mobil nya, Menembus melewati kota Tokyo yang masih tampak ramai.
Kristian menoleh Desi yang telah memejam, Mengulas senyum sambil menarik nafas nya lega.
"Daddy aku berikan kejutan istimewa untuk mu nanti."
Lirih Kristian sambil terus melajukan mobil nya
__ADS_1