
Di dalam rumah Abah.
Tetangga sekitar dan kerabat mulai bekerja bertarung dengan alat alat dapur.
Terdengar begitu ramai suara khas emak emak yang memasak sambil terus bicara.
Hengki dan Harli bersama beberapa kerabat laki laki memindai kursi sofa dan meja kemudian menghamparkan tikar tikar disana.
Butuh waktu beberapa jam hingga aneka buah dan kudapan tersusun rapih di atas tikar.
Ratusan kotak nasi hasil kerja keras emak emak di dapur tersusun rapih di meja.
Tamu undangan mulai hadir
Hengki dan Harli telah siap menyambut para tamu. Di tubuh mereka melekat baju Koko lengkap dengan sarung melilit di pinggang dan kopyah di kepala.
Faat dan Ayah nya juga hadir disana, disambut senyum ramah dan saling bersalaman.
"Semoga Abah memperoleh haji yang mabrur"
"Terimakasih Nak."
Tepuk Abah di bahu Faat.
Seluruh tamu duduk melantai di atas tikar begitu juga dengan Hengki dan Harli juga Abah.
Melantunkan Do'a do'a yang dipimpin oleh Ustadz di desa itu untuk melepas kepergian Abah melaksanakan rukun Islam yang terahir esok.
Sambutan singkat di tutup dengan bacaan Do'a kemudian Ustadz itu memeluk Abah penuh haru.
"Semoga Abah memperoleh haji yang mabrur."
"Aamiin Ustadz."
Suara Abah terdengar parau, Abah menitik kan air mata dan seketika itu mengusap nya kembali.
Ustadz melepaskan pelukannya meraih microphone memberikan kepada Abah.
"Utarakan apa yang ingin Abah sampai kan.'
Abah meraih microphone itu sedikit ragu, menarik nafas panjang kemudian mulai berbicara.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Terimakasih untuk para hadirin yang berkenan untuk datang malam hari ini.
Puji syukur sedalam dalam nya saya panjatkan kehadirat Allah SWT."
"Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah
rasa syukur saya dari hati terdalam, mewakili diri saya sebagaimana orang seperti saya bisa menginjak kan kaki di baitullah itu semua tidak lain karena Rahmat, Pertolongan Mu."
Abah menunduk tubuh nya bergetar, air mata nya jatuh membasahi tikar.
Tamu yang hadir menjadi hening menyaksikan suasana yang jadi mengharu.
Abah mengangkat microphone lagi.
"Saya mohon maaf lahir dan batin pada kalian semua yang hadir malam hari ini. Apabila saya, baik yang disengaja atau tidak di sengaja pernah menyakiti kalian,"
Abah menarik nafas nya berat.
"Tolong sampaikan pada sanak saudara yang tidak bisa hadir malam hari ini, Saya Marwan memohon maaf yang sebesar besar nya."
Abah tidak mampu lagi bicara, Abah semakin sesenggukan.
Tidak sedikit para tamu yang hadir ikut menitik kan air mata.
Hingga acara berahir dengan Do'a dan saling memeluk memaafkan kecuali lawan jenis memang tidak di perkenankan bersentuhan.
***
Tamu undangan telah pulang kerumah merek masing-masing.
Tersisa Hengki dan Harli yang duduk di tikar meluruskan kaki mereka.
"Melelahkan juga ya Mas."
Harli bicara pada kakak nya.
__ADS_1
"Iya,"
Hengki menghela nafas.
"Le, Abah mau bicara."
Abah bicara dari lantai dua, menatap Hengki kemudian menuju ke kamar nya.
"Abah mau apa ya?"
Tatap Hengki pada Harli.
"Mana ku tahu?! Kau buat kesalahan, mungkin!."
Harli mengherdikan bahu.
Hengki bangkit dari duduknya melangkah menaiki tangga, mengetuk pintu saat sampai di depan kamar Abah. Abah pun membuka pintu kanan dan Hengki pun masuk kedalam.
Harli yang merasa lelah tidak perduli lagi apa yang Hengki dan Abah bicarakan, memilih merebah di lantai masih di atas tikar kemudian memejam.
***
Di kediaman keluarga Prana Jaya
Timbul kepanikan di dalam rumah itu, Ketika perut Mai mengalami nyeri yang hebat pada perut dan pinggul nya.
Hanya ada Oma yang histeris di kursi roda sambil menghubungi Faat cucu nya.
Sedangkan asisten rumah tangga itu berusaha menenangkan bahwa Mai akan baik baik saja.
"Seperti nya Nak Mai mau melahirkan. Berdo'a lah Nak, Semua akan baik baik saja."
Ujar Asisten rumah tangga itu menenangkan.
"Terimakasih mba Mira,"
Lirih Mai sambil menahan rasa nyeri yang semakin menjalar di area pinggul hingga perut nya.
Terus beristighfar dan melafazkan Do'a Do,'a
memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
"Benar juga, Faat bersama Jaya kerumah Abah.
oh Ya Tuhan.. Bagaimana ini?!."
Oma sangat panik.
Tidak lama mobil Faat terparkir di depan pintu utama.
Mba Mira asisten rumah tangga Faat berlari menghampiri.
"Mas Faat, seperti nya Nak Mai mau melahirkan."
" Apa, Mai?!"
Faat kaged begitupun Ayah jaya yang baru saja keluar dari mobil.
seketika Faat berlari masuk kedalam rumah,
Sedangkan Mba Mira bergegas memasukkan tas berisi perlengkapan bersalin hingga pakaian bayi yang telah Ia siapkan kemudian meletak kan nya kedalam bagasi.
"Mai?!."
Faat mendekati istri nya yang berbaring diatas ranjang.
"Sakit mas.."
Ucapan tanpa suara terlihat dari tatapan Mai pada Faat.
Tanpa banyak bicara Faat meraih Mai menggendongnya nya keluar dari kamar berlari melewati ruang tamu hingga bergegas memasuk kan Mai kedalam mobil di kabin belakang.
"Sakit.."
Lirih Mai.
"Kuat sayang, maaf kan aku kau jadi begini."
Mengecup dahi Mai menenangkan, meraih bantal agar Mai nyaman berbaring.
__ADS_1
"Aku mencintaimu mas"
Bisa bisa nya menyatakan cinta di saat begini.
Ujar Ayah jaya dalam hati.
"Mas juga sayang."
Mengecup tangan Mai berkali-kali.
"Biar Ayah yang membawa mobil nya. Kau jaga Mai dibelakang."
Ayah Jaya duduk di belakang kemudi, sedangkan Faat duduk di belakang bersama Mai yang tengah berbaring kemudian meletakkan kaki Mai di paha Faat.
"Mas .."
Mai merintih mencengkram tangan Faat menahan rasa sakit.
"Kuat sayang.."
Faat memijati kaki Mai berusaha terus menenangkan.
Ayah Jaya melesatkan mobil nya dengan kecepatan tinggi menembus jalanan Desa.
"Sabar sayang, Kuat..Kuat..."
Mengecup kepala Mai berkali kali
"Hek ...."
Meski telah berusaha menahan, tapi Mai refleks mengejan.
"Oh ya Tuhan... Jangan kau lahir disini sayang. Tahan sebentar lagi."
Faat sungguh gusar, Wajah nya pucat mendekat pada Mai dan berjongkok di samping nya sela sela jok mobil.
"Mas... Aku sudah tidak sanggup menahan lagi."
Mai menggenggam erat tangan Faat, memejamkan mata menahan rasa sakit.
"He...kkk"
Mai refleks mengejan lagi.
"Sayang tahan lah sebentar lagi."
Mencium tangan Mai lagi dan lagi.
"Ayah Cepat Sedikit!!"
"Iya..iya Ayah ini sudah ngebut."
Ayah Jaya mengemudi dengan gemetar, dada nya sungguh berdebar.
"Oh, cucuku tahan lah sebentar lagi."
air mata ayah mengalir begitu saja
Sambil terus menginjak pedal gas sekuat tenaga, melesat menembus jalanan Desa.
Tiba tiba ..
Tiiiinnn.....
"Aaa....!!"
Saking panik nya Ayah jaya hampir saja menabrak sepeda motor yang baru melintas.
Beruntung sempat mengerem mendadak dan tubuh Mai bergoyang seketika.
Dannn tiba tiba.....
OOEE...!!
ooeee.......!!
tubuh mungil bayi keluar dari sela sela paha masih di dalam gamis panjang Mai, Faat menaikkan gamis itu dengan mulut menganga tidak percaya.
"Astaga?! Cucuku lahir di mobil..."
__ADS_1