Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Perasaan


__ADS_3

"Maaf menunggu lama."


Mai menghampiri Faat yang telah menunggu di dalam mobil.


Faat melajukan mobil nya menuju klinik tempat Dokter praktek.


Faat masuk ketika nama nya di panggil. kemudian menjelaskan keluhan nya pada Dokter hingga tahap pengobatan yang telah dijalani.


Serangkaian pemeriksaan dilakukan disana.


Dokter kemudian menuliskan resep obat untuk Faat ambil di apotek.


"Bersabarlah tuan Faat. Tuhan akan menyembuh kan anda."


ujar Dokter sambil mengulurkan tangan disana.


Faat menyambut tangan itu disana.


Faat keluar dari dalam klinik. Mai yang melihat itu seketika bangkit dari duduk nya.


"Sudah?."


"Mari kita pulang."


***


Ibu nya Faat baru pulang berbelanja membawa dua kantong barang belanjaan masuk kedalam rumah.


"Nyonya, mengapa tidak memanggil ku."


Mai keluar dari mobil berlari menghampiri ibu Faat meraih kantong besar membawa nya ke dapur.


"Kau dari mana saja Mai?"


"Saya menemani mas Faat konsultasi ke Dokter, Nyonya."


Membuka lemari pendingin meletakkan yang Ibu Faat beli.


"Mai, Bagaimana kuliah mu?."


Berkata sambil membantu Mai menyusun buah memasukan nya di kulkas.


"Semua baik Nyonya, Selangkah lagi selesai.."


Tersenyum disana.


"Mai, Apa setelah ini kau lulus kau masih mau tinggal disini?"


Ibu Faat menoleh pada Maimunah.


"Saya akan tetap bekerja disini Nyonya, namun izin kan saya sambil membuka usaha agar bisa bermanfaat ilmu yang telah saya dapat. Berbicara dengan nada yang sopan.


" Jika saja anak ku tidak sakit. Kau adalah wanita yang tepat untuk nya."


Mengusap kepala Mai yang tertutup hijab.


"Apa?"


Mai terkesiap.


"Kau menyukai anak ku bukan?."


Degh...


"Nyonya, saya hanya sangat menghormati mas Faat. Mana mungkin saya berani menyukai beliau." Kembali mengulas senyum disana.


"Bohong nyonya. Aku menyukai nya sejak lama. Lebih tepat nya begitu sangat menyukai nya hingga rela terluka asalkan anak anda bahagia."


Gumam Mai dalam hati.


"Mai...."


Ibu Faat menarik kursi kemudian duduk di sana.


"Ya?"


Mai mendekati ibu Faat duduk melantai di bawah nya dengan kepala menyandar pada pangkuan Ibu Faat.


"Bantu dia, dukung dia dan do'akan lah dia agar bisa sembuh dari penyakit nya." Usap Ibu Faat pada kepala Maimunah yang tertutup hijab.


"Nyonya..."


"Mai, aku sudah tua. Bahkan asma ku sering sekali kambuh. Jika nanti aku meninggal dunia. Tetaplah di sisi Faat dan jagalah seluruh keluarga ku sepenuh hati. Rawat lah oma dan suami ku seperti kau merawat orang tua mu sendiri. Cintai anak ku sepenuh hati mu. Aku akan berdo'a pada Tuhan ku agar membuka hati anak ku untuk melihat ketulusan mu dan cinta yang indah dari mu."


Ibu Faat mengusap kepala Maimunah lagi.


"Nyonya...?"

__ADS_1


Mai mengusap air mata yang lolos begitu saja.


"Apa yang anda bicarakan Nyonya?." Gumam Mai.


"Kau memiliki perasaan pada nya bukan?Kau mencintai anak ku kan?."


Ibu Faat mengulang pertanyaan nya.


"Pertanyaan macam apa ini?."


batin nya.


"Maaf Nyonya."


Mai mencari alasan agar bisa menjauh dari dapur menghindari Ibu Faat.


Ibu Faat menghela pun ahir nya bangkit dari duduk menuju Oma yang berada di depan layar televisi.


***************


Di tempat lain.


Desi kembali menuju Apartement yang kemarin Ia datangi. Sebelum nya Ia mendapatkan pesan singkat dari Kristian di dalam ponsel nya.


"Datang lah ke rumahku pukul 3 sore. Aku akan jelaskan dimana kau akan mengajar dan siapa yang kau ajari."


"Kenapa tidak langsung saja kau jelaskan sekarang. Bisa kan kau menghubungi ku lewat telephone?." Gumam gumam sambil menuju taxi online yang mengantar nya kemari.


Klik..


Pintu terbuka setelah Desi menekan tombol.


"Kau sudah datang?"


"Aroma tubuh mu tidak pernah berubah."


Batin Desi.


"Astaghfirullah. Apa yang kau fikirkan Desi?!."


Menampar wajah nya dalam lamunan.


"Iya tuan. Saya tidak suka terlambat."


"Dimana saya akan mengajar hari ini. Anda sudah memberikan alamat nya bukan? Seharus nya saya bisa datang sendiri."


Berkata sambil berlalu begitu saja.


"Mengajar saja seumit ini."


Gumam gumam.


"Tuan tunggu?!."


Desi mengejar Kristian yang berhenti tanpa menoleh kebelakang.


"Ini Jas anda tuan, terimakasih sudah meminjamkan nya untuk ku."


Menyodorkan paper bag pada Kris.


"Untuk ku?"


Kristian berkerut dahi.


"Maaf tuan, maksud saya #Untuk Saya#"


Menekan kalimat terahir.


"Jas itu untuk mu. Kau menyukai nya kan?."


Melirik Desi di samping nya.


"Bagaimana anda tau?."


Gumam gumam.


"Tidak tuan, ini milik anda."


Menyodorkan lagi.


"Apa yang akan kau peluk setiap malam jika kau mengembalikannya pada ku."


Mempercepat langkah nya menarik ujung bibir nya samar.


"Bagaimana anda tau?."


Batin Desi.

__ADS_1


"Siapa bilang aku memeluk Jas anda. Apa saya terlihat kurang kerjaan?!."


Menyusul langkah Kristian lagi memasuki lift yang sama.


"Apa kau ingin tidur dengan memeluk pemilik nya?"


Menunjuk dirinya sendiri sambil mendekatkan wajah pada Desi.


"TIDAK..!!"


Desi berpaling.


"Hahaha. Lihat wajah mu memerah Ustadzah?!."


Menunjuk dinding lift yang memantulkan wajah nya.


"Aaaa Sialan kau Kristian?!."


Geram Desi dalam hati.


"Apa perasaa mu masih sama terhadapku?."


Lirih Kristian menetralkan dirinya.


"Perasaan apa maksud anda? Aku sudah lama melupakan anda tuan. Apa anda lupa? Aku sudah menikah. Mungkin aku sedang hamil. Kapan anda menyusul saya mengenalkan calon istri anda?."


Tersenyum disana.


"Berhenti berbohong! Kau tidak pandai melakukan nya. Apa lagi berbohong di depan ku. Bukan kah agama mu melarang mu untuk berbohong apalagi menyakiti diri sendiri?. Dasar bodoh!."


Berbicara kemudian melangkah keluar setelah pintu lift terbuka.


"Maaf.." lirih Desi.


Entah pria di depan nya itu dengar atau tidak.


Desi menatap punggung tegap yang berlalu di depan nya dan berkata.


"Kris, Perasaan ku terhadapmu tidak pernah berubah hingga hari ini pun tetap sama. Seperti liontin ini yang tidak pernah aku lepaskan hingga kau menikah dan menemukan wanita yang pantas untuk mu.".Gumam gumam.


"Jika hanya mematung disitu kita akan terlambat."


Kristian berhenti kemudian menoleh ke belakang.


"he.. dia menoleh ke arah ku?. Dia dengar tidak ya yang ku katakan tadi." Batin Desi sambil mengejar Kristian di depan sana.


"Baik, Maafkan aku tuan."


"Masuk lah."


Kristian membukakan pintu.


"Seharusnya biar aku buka sendiri."


"Cepat masuk dan berhenti mengoceh!."


"Anda galak sekali?!."


Desi menggerutu masuk kedalam mobil.


Kristian pun menuju tempat nya menginjak pedal gas melajukan mobil nya.


"Maaf"


Kristian menghela.


"Untuk?."


Desi berkerut dahi.


"Aku membentak mu. sehingga membuatmu kesal."


Menatap kedepan.


"Tuan.., Mengapa kau terus saja baik pada ku?"


Menoleh pada pria yang sedang mengemudi.


"Kau bertanya apa karena tidak tau? Atau memang tidak pernah ingin tau?.


Desi diam memilih memalingkan wajah nya menatap ke samping kaca melihat orang orang di luar sana.


Tempat kumuh yang sepertinya di huni oleh anak anak jalanan dan segelintir orang yang yang kurang beruntung disana.


Berfikir dalam hati mungkin Kristian akan mengajak Desi mengajar untuk anak anak kurang beruntung itu. Sifat Dermawan yang melekat pada Kristian itu membuat nya terlihat begitu istimewa di hati Desi.


Next

__ADS_1


__ADS_2