
Malam yang panjang berbeda dengan malam malam sebelum nya. Duduk dengan bergetar sambil menjawab setiap pertanyaan dari tim penyidik.
Dahi berkeringat dengan Tangan mengepal menahan rasa takut.
Pertanyaan demi pertanyaan telah dijawab.
Namun sepertinya hukum akan tetap menjerat nya.
Hanya berlutut dan memohon ampun pada Kristian yang bisa orang tua ku lakukan. Jika itu tetap tidak meluluhkan hati nya. Tamat lah riwayat ku.
Ini semua Upik Abu itu penyebab nya.
Dasar Sialan!!
Lebih sial nya lagi Daddy Moza hingga detik ini belum mengirimkan pengacara untuk membantu Moza.
Moza dibawa oleh petugas melewati lorong lorong sempit nan dingin. Dengan Seragam tahanan melekat di tubuh nya. Rambut berantakan telah Ia ikat ala kadar nya dengan tangan lembut itu terborgol sempurna.
Tempat ini tidak lain adalah kamar tahanan khusus wanita.
Moza merinding saat mulai melewati sel
para tahanan yang berpagar jeruji besi.
Ada yang sedang tidur meringkuk di lantai ada pula yang hanya beralaskan sarung.
Ada pula yang menatap Moza dengan tatapan mata sinis dan tidak suka.
Glek..
Moza menelan Silva saat petugas berhenti di depan kamar tahanan yang didalam nya di huni satu orang wanita penuh tato dengan tubuh big size bahkan bisa dibilang over size seperti pemain sumo.
Astaga!
Berat tubuh nya pasti diatas 1 kwintal,
Lihat tatapan mata nya. Dia siap memangsa ku.
Maaaammmaaaaaaa.....!!!
Pekik Moza dalam hati, Saat petugas membuka jeruji besi dan membentak menyuruh Moza masuk.
Benar yang Moza takut kan Ia satu sel dengan nya
Duduk melantai di ujung sana, menjaga jarak aman dari wanita mengerikan itu. Tatapan sinis nya membuat dirinya menelan Silva.
Malam ini akan menjadi malam terpanjang sepanjang masa.
Glek
***
Di dalam kediaman tuan Ramadhian.
Orang tua Moza lengkap memasuki Kediaman tuan Ramadhian. Melapor pada security meminta izin pada nya untuk dapat melewati gerbang.
"Apa anda terlebih dahulu telah membuat janji,?."
Tanya security.
"Tidak, Eh maksud saya belum."
__ADS_1
Kedua orang tua saling pandang.
"Kalau begitu pergi lah, anda tidak akan diterima disini."
"Apa?!. Tolong, hubungi tuan Ramadhian atau putra nya terlebih dahulu. Jika benar kami tidak diizinkan masuk, kami akan pergi."
Ujar Ibu nya Moza dengan lembut, sambil menarik nafas nya panjang.
Memang benar, titik lemah lelaki berada pada wanita.
Security menyetujui ucapan Ibu nya Moza seketika.
"Baik lah."
Security meraih ponselnya, mengetik pesan disana.
Setelah lama menunggu, Security Ahir nya mempersilahkan kedua orang tua Moza untuk masuk kedalam. Namun sebelum nya, Security memeriksa barang yang dibawa orang tua Moza.
Hingga ponsel mereka pun harus diletak kan di pos Security.
Pintu gerbang terbuka, Mobil yang membawa orang tua Moza dipersilahkan untuk masuk.
Daddy Moza menggenggam tangan istri memasuki pintu utama.
Telah menunggu pria yang duduk menyandar di sofa menyilang kan kaki
"Tuan Kristian.,"
Ibu Moza sedikit membungkuk sambil menarik suami nya untuk melakukan hal yang sama.
"Saya Ibu nya Moza. Datang kemari untuk memohon maaf atas apa yang putri saya lakukan pada istri Anda."
Berkata sambil ngos ngosan seperti baru berlari maraton.
Kristian berkerut dahi.
"Kami mohon tuan. Bebaskan putri kami dari segala tuduhan. Putribkami hanya sedang khilaf."
Daddy Moza menimpali.
"Khilaf?"
Raut wajah Kristian berubah.
Membuat tengkuk merinding yang melihat nya.
Orang tua Moza saling pandang.
Semakin merinding saat Kristian bangkit dari duduknya.
"Jika hanya itu yang ingin kalian katakan, Aku telah membuang waktu ku."
"Ampunilah putri kami tuan, kami mohon."
Ibu nya Moza mulai menitikkan air mata.
Kristian bangkit dari duduknya, berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Tangan nya mengepal sejenak meski tidak terlalu terlihat.
Orang tua Moza saling pandang. Saling menggenggam tangan yang berkeringat sejak tadi.
__ADS_1
"Kita pulang saja Dad, Kita datang lagi ke restoran esok hari."
ujar Ibu Moza menenangkan.
"Baih lah."
Kedua orang itu keluar dari kediaman tuan Ramadhian dengan perasaan hampa.
Mereka hanya fokus agar Kristian memaafkan putra nya tanpa mereka pernah sadari kesalahan Moza. Tanpa berkata menyesal dan tidak akan mengulangi lagi.
Kristian menaiki tangga mendekati tuan dan nyonya Ramadhian yang sedang menikmati secangkir teh hangat.
"Bagaimana Kris?."
Tanya mommy pada Kristian.
"Mereka hanya membuang buang waktu ku."
Berkata sambil duduk di sofa.
"Bagaimana dengan Desi?."
"Desi baik baik saja mom."
"Dia tidak baik Kris, pasti terjadi sesuatu pada nya, itu sebab nya Desi tidak keluar dari kamar."
Mommy berbicara sambil menyesap secangkir teh hangat.
" Kau bisa mengantar nya kedokter sebelum keberangkatan kalian ke Tokyo." Daddy menimpali.
"Daddy benar. Untuk urusan Moza, biar kan dia menyesalinya."
"Baik Mom."
***
"Brengs*k! Angkuh sekali Kristian itu, bisa bisa nya dia sedikit pun enggan mendengar apapun yang kita katakan.'
Umpat Daddy Moza sambil memukul kemudi.
"Sudah lah Dad, kita coba dekati istrinya. Mudah mudahan hati nya luluh dan mencabut Moza dari segala tuntutan.,"
Ibu Moza mengusap usap lengan suaminya.
Daddy Moza menarik nafas nya panjang, kemudian menghela.
Ponsel Daddy Moza berdering, sebuah rekaman video masuk disana.
Daddy Moza menepi kan mobil nya membuka ponsel nya. Melihat apa yang Kristian kirim kan.
Sebuah rekaman video yang memperlihatkan pertengkaran antara Moza dan Desi.
Ibu Moza terkesiap menutup mulut nya, melihat apa yang sudah putri nya lakukan pada istri Kristian.
Terlebih Daddy Moza.
Ia benar benar murka dan merasa sangat malu.
Putri nya sungguh telah berbuat kesalahan yang besar.
-
__ADS_1
,-Next