Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Abah...


__ADS_3

Dibawah tamaran senja, Kristian dan Desi masih berada di dalam mobil melewati jalanan Desa dengan pemandangan di sekitar sangat berbeda dengan ibu kota, deretan pepohonan dan hamparan sawah menghiasi pandangan mata. Sesekali melewati rumah warga namun jarak nya tidak terlalu berdekatan dengan rumah yang lain.


"Kita hampir sampai."


Begitu sumringah dan cerah nya wajah Desi hendak bertemu dengan Abah dan adik adik nya. Sejak setelah menikah Desi belum memiliki waktu untuk nya berkunjung sebab kesibukan nya bekerja dan Kristian juga.


Mobil masih melaju perlahan melewati jalanan desa yang sudah tidak lagi terjal bergoyang goyang saat berada di dalam mobil.


Semua mulus seperti jalanan di kota.


"Seperti nya pemerintah telah memperbaiki akses jalan untuk ke desa."


Ujar Desi sambil melihat ke sisi samping mobil dari kaca.


"Mungkin."


Kristian hanya merespon sekena nya enggan untuk membahas itu.


Mobil tiba di halaman rumah yang sangat asing Dimata Desi.


Desi Keluar sebelum bodyguard membukakan pintu. Terkesiap melihat rumah mewah dua lantai tanpa pintu gerbang itu.


"Ini benar rumah ku kan?."


Menatap sekeliling, rumah para tetangga masih sama tapi kenapa Rumah Desi berubah begitu besar, bahkan lebih besar dari kediaman ayah Jaya orang terkaya di desa ini mertua Desi dulu.


"Ada apa kau tidak ingin masuk?."


Desi menoleh Kristian yang tiba tiba Sudah berada di samping nya.


"Apa Abah merenovasi rumah ini? Tidak tunggu! Abah bukan merenovasi tapi menghancurkan nya dan membangun nya yang baru."


Masih terus berfikir.


"Tapi dari mana Abah dapat uang sebanyak itu?


Atau jangan jangan..."


"Apa yang kau fikirkan ayo masuk."


Kristian menarik tangan Desi masuk ke teras mengetuk pintu yang tertutup.


"Tunggu, Sayang jangan bilang Ini kau yang membuat nya."


Menoleh Kristian sedikit mendongak karena Kristian lebih tinggi.


"Kau itu bicara apa,?"


Kristian tidak mengidahkan Desi, Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Ini pasti kau yang membuat nya, tidak mungkin Abah memiliki uang sebanyak itu untuk membuat rumah sebesar ini.


Desi terus bergumam dalam hati menerka neraka.


"Wa'alaikumsalam"


Terdengar suara parau khas pria paruh baya yang selalu berkata lembut.


Abah membukakan pintu.


"Nak Kris, Desi."


Kristian menyalami Abah mencium punggung tangan nya. Diikuti Desi yang melakukan hal yang sama.


Mata Abah berkaca kaca, begitupun dengan Desi meneteskan Air mata seketika Ia menghapus nya.


"Desi merindukan Abah."


Abah tersenyum."Abah senang kalian datang, Mari masuk nak."


Tatapan teduh Abah yang selalu Desi rindukan dan ingin menangis jika mengingat nya.


Abah, Desi dan juga Kristian memasuki rumah itu.

__ADS_1


Desi terpana begitu mewah rumah itu dengan design elegant dan segala furniture bernuansa gold disana membuat takjub pandangan mata.


Meski tidak se mewah kediaman tuan Ramadhian yang seperti istana namun jauh berbanding terbalik dengan tempat tinggal nya dulu.


"Silahkan duduk nak Kris."


Ujar Abah dengan nada lembut nan ramah khas Abah.


Mereka pun duduk di sofa, Ingin rasa nya bertanya langsung dengan Abah, namun Ia mengurungkan niat nya. Menunggu waktu yang tepat.


"Nduk, tolong buatkan minum untuk suami mu. Hengki dan Harli masih di kampus."


"Baik Abah."


Desi bangkit dari duduknya.


Kristian Menyentuh tangan Desi sambil menggelengkan kepala menandakan Kristian melarang.


"Tidak perlu Abah, Saya tidak haus."


Abah mengerti, Ia langsung bangun dari duduk nya hendak menuju dapur.


"Tunggu sebentar Nak Kris Abah mau kebelakang."


"Iya Abah."


Kristian terkesiap melihat Abah membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa cemilan yang Ia masuk kan kedalam toples.


Kristian secepatnya menghampiri Abah meraih nampan yang Abah bawa.


"Abah, Apa yang Abah lakukan. Abah tidak perlu


melakukan ini. Saya sungguh tidak haus."


Abah hanya tersenyum, namun tidak membiarkan Kristian meraih nampan itu.


"Nak Kristian duduk saja, pasti lelah Sudah melewati perjalanan jauh."


Kristian pun pasrah mengikuti yang Abah ucapkan.


"Abah bagaimana kabar nya, selama Desi tidak pulang apa Abah pernah sakit."


Tanya Desi sambil menyesap teh hangat buatan Abah.


Kristian pun mengikuti Desi menyesap secangkir teh itu.


"Alhamdulillah Abah sehat nak, seperti biasa."


jawab Abah.


"Abah, Desi ingin melihat lihat. Rumah ini tampak baru."


Ujar Desi dengan sopan sambil bangun dari duduk nya.


"Tuan, anda ingin meletakkan dimana barang barang ini."


Ujar bodyguard sambil membawa masuk travel bag itu.


"Letak kan saja di situ."


Balas Kristian.


"Abah, Saya keluar sebentar ada yang ingin saya bicarakan dengan mereka."


"Silahkan."


Kristian pun bangkit dari duduk nya berlalu keluar bersama dua Bodyguard.


Sementara di dalam ruang tamu Desi hanya berdua dengan Abah. Ini kesempatan nya untuk menanyakan langsung pada Abah, Desi pun ahirnya duduk kembali.


"Dari mana Abah memiliki uang sebanyak itu untuk membuat rumah jadi seperti ini.


"Abah memilih furniture yang sangat tepat untuk design rumah seperti ini."

__ADS_1


"Apa Hengki dan Harli yang membantu Abah?."


Sengaja memancing tanpa mengurangi rasa hormatnya.


"Ini semua nak Kristian lah yang melakukan nya, Awal nya Abah menolak namun nak Kristian memaksa agar Kau nyaman saat pulang kerumah. Juga Abah bisa menikmati masa tua Abah dengan aman dan nyaman.


Kata nak Kris begitu."


Jawab Abah.


"Sudah kuduga."


Desi menghela nafas panjang.


"Ini belum apa apa,"


Ujar Abah.


"Maksud Abah?!."


Desi berkerut dahi.


"Kau lihat jalanan Desa tadi?."


Desi mengangguk." Apa hubungannya dengan jalanan Desa?."


"Ada hubungannya, karena nak Kristian yang memperbaiki nya."


"APA???."


Desi terkesiap.


"Orang orang suruhan Nak Kristian selain membuatkan rumah ini juga memperbaiki jalanan Desa, merenovasi sekolah sekolah yang bangunan nya sudah rusak dan membuat nya menjadi baru. Juga masjid yang di ujung sana, Kalau itu tuan Ramadhian langsung yang membuat nya menjadi megah berlantai dua."


Abah pun menghela nafas ketika Desi menganga menutup mulut nya seketika.


"Itu pun belum apa apa."


ujar Abah.


"Lalu?."


Desi semakin penasaran.


"Nak Kristian juga membeli perkebunan milik juragan Jaya, Mantan mertua mu dulu. Kata Nak Kristian agar Abah tidak perlu susah payah untuk menjadi buruh mencangkul di sawah tetangga. Hanya perlu mengawasi para pekerja juga menikmati masa tua yang indah."


"Ada lagi.,"


Kata Abah.


"Apa lagi?."


Desi berkerut dahi.


"Kau ingat ketika Nak Kristian menghitbah mu?,


Selain memberikan cincin dan perhiasan juga uang dalam bentuk KES untuk mu, Nak Kristian juga memberikan Cek untuk Abah. Jumlah nya diluar kepala Abah karena angka NOL nya banyak sekali. Abah tidak sanggup membaca nya, karena kau tahu Abah hanya lulusan Sekolah Dasar."


"Abah tidak bertanya pada Hengki dan Harli berapa jumlah uang dalam Cek itu. Mereka pun Abah larang untuk bertanya."


"Sampai hari ini Abah masih menyimpan nya di kamar. Abah letak kan di dalam figura untuk Abah kenang setiap hari. Akan Abah kembalikan diwaktu yang tepat, Setidaknya untuk anak mu kelak."


"Abah...."


Desi mengusap air mata nya ketika keharuan telah menggenang di dada dan air mata yang sudah tidak mampu lagi tertahan.


"Entah terbuat dari apa Tuhan menciptakan hati keluarga Ramadhian.Mereka sungguh istimewa."


Ujar Abah kemudian.


-


-

__ADS_1


-


Next


__ADS_2