
Teriknya matahari telah berganti dengan tamaran. Siang telah berganti sore.
Kristian masih duduk di sofa ruang perawatan VIP suatu rumah sakit menunggu seorang wanita yang berbaring di tempat itu.
Sebuah Rumah sakit yang jarak nya tidak jauh dari kantor Kristian.
Memijat pelipisnya bersandar di sofa tampak berfikir sesuatu.
Memandang Klara yang masih memejamkan mata dan bernafas dengan tenang.
Dokter terpaksa menyuntik kan obat penenang agar Klara tidak mengamuk seperti tadi.
Sebelum di pindahkan ke ruang perawatan, Klara mengamuk, menarik selang infus, memaki dan berteriak histeris.
Seperti nya kejiwaan nya terganggu.
"Periksa CCTV dan apapun yang berhubungan dengan Klara. Segera Kabari keluarga nya dan jemput mereka kemari."
Kristian menghubungi seseorang dengan ponsel nya.
Ia belum menghubungi Desi sejak pagi. Desi pun sebaliknya.
"Aku jadi merindukan mu kan."
Menghela sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
Kabar mengenai sakitnya Klara, seorang sekertaris di perusahaan itu menyebar dengan cepat.
Satupun dari para karyawan tidak ada yang berani membicarakan tentang bos nya yang mengantar Klara ke rumah sakit
Suasana tegang disana ketika banyak orang orang suruhan Kristian yang ber stelan jas keluar dari mobil hitam menuju gedung perusahaan.
Memanggil tim keamanan yang bertugas malam itu dan memeriksanya satu persatu.
Di sebuah ruangan..
Brraakk..!!
Bodyguard menggebrak meja membuat para security dan tim keamanan lainnya tersentak kaget.
Suasana tegang tidak terelakkan lagi. Security terus berfikir jika setelah ini pasti di pecat.
"Apa kalian sudahah tidak bisa bekerja?!!"
Mencengkram kerah leher security.
"Ampun tuan. Kami benar benar tidak tahu apa apa."
Berkata sambil gemetaran.
Mati lah aku!.
"Nona Klara masuk ke kantor malam malam kata nya mau mengambil sesuatu yang tertinggal."
Salah satu security mencoba mengingat ingat.
"Apa Dia datang sendiri?."
Berkata datar dengan tatapan membun*h.
Security berfikir sejenak.
"Nona Klara berada di sebelah kiri. Itu berarti ada seseorang yang mengantar nya."
"Bersama siapa dia malam itu?."
"Sa..saya tidak tahu, tuan."
Berkata dengan gagap.
Ampun!
Bodyguard mendekat kan wajah nya menelisik ada gerak gerik kebohongan atau tidak.
Apa sih manusia satu ini?Memang nya aku berani berbohong?!
Dan nampaknya security itu memang berkata jujur.
Huh.. Security bernafas lega.
Beberapa diantara orang suruhan Kristian memeriksa CCTV.
__ADS_1
Diantaranya ada menemui orang orang yang memungkinkan ditemui Klara sebelum kejadian. Memeriksa teman satu kantor hingga teman dekat Klara.
Dan Salah satu Bodyguard menjemput keluarga Klara di rumah nya.
***
Seharian ini Desi habis kan dengan bercengkrama dan beramah tamah dengan penghuni rumah ini. Berkenalan dengan para pelayan dan bercerita dengan mereka tanpa ragu. Kehangatan keluarga ini yang menyambut Desi dengan tangan terbuka membuat nya sangat bahagia.
Desi juga mengobrol hingga tertawa dengan nyonya Ramadhian yang sekarang telah menjadi Ibu nya.
Desi mendengarkan cerita tentang masa kecil Kristian. Hal hal yang lucu tentang nya. hingga sering bersikap dingin dengan orang orang yang tidak mengenal nya lebih dekat. Sikap nya yang santun, tapi terkadang sangat manja.
"Dia itu anak ku, walaupun tidak tumbuh di dalam rahim ku. Tapi Kris tetap lah anak ku. Sampai kapan pun. Selamanya."
Nyonya Ramadhian mengulas senyum walaupun hati nya mengharu.
"Aku ingin melihat anak anak kalian kelak tumbuh di sini. Di rumah ini.,"
Nyo, Nyonya Ramadhian diam sejenak.
" karena itu, Mommy berharap kalian tinggal di rumah ini bersama mommy dan Daddy."
Nyonya Ramadhian mengusap bahu Desi.
Desi pun terharu kemudian memeluk nyonya Ramadhian.
Tamaran senja lenyam terganti oleh gelap nya malam.
Desi nampak gelisah, Sudah Seharian ini Kristian tidak menghubungi nya sama sekali.
Ingin rasa nya Desi mengetik di layar ponsel untuk sekedar mengirim pesan.
Sudah berkali kali Desi mengetik dan menghapus nya.
Mengetik lagi dan menghapus nya lagi.
"Aku tidak perlu cemas. Kristian memang sangat sibuk di kantor. Aku tidak harus mengganggu nya."
Gumam nya berusaha menenangkan diri.
Waktu isya telah tiba. Desi menghamparkan sajadah dan beribadah menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Mendo'akan suami dan keluarga nya.
Mengucapkan salam dan mencium punggung tangan mommy dan Daddy nya.
"Kau tampak lelah Kris. Masuk lah ke kamar mu. Istri mu sudah gelisah menunggu mu."
Tuan Ramadhian melirik mommy yang juga menggerutu jikafia pulang terlambat.
"Apa lah Daddy ini."
Mommy bergumam tampak kesal.
Kristian mengulas senyum kemudian duduk di sofa.
Kedua orang tua nya selalu mengenang kan hati nya. Ketika dirinya sedang kacau.
"Ada apa Kris,? Ada masalah?."
Tuan Ramadhian meninggika alis nya.
Kristian menghela. kemudian menyandarkan kepalanya di bahu mommy nya.
"Klara hamil."
lirih nya.
"WHAT???"
Tuan dan nyonya Ramadhian terperanjat.
Yang lebih kaget adalah wanita yang berdiri di atas anak tangga.
Ya, Desi mendengarkan pembicaraan Kristian dan keluarga nya.
Menutup mulut dan berlalu memasuki kamar.
Air mata nya berlinang. Terduduk di belakang pintu yang telah tertutup.
Kristian, mommy dan Daddy menoleh pada Desi yang berlari memasuki kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
"Ya Tuhan.."
Kristian mengusap wajah nya kasar.
"Selesaikan masalah mu Kris."
Tuan Ramadhian mengangkat kedua tangan nya. Sambil melirik ke arah istri nya.
"Apa sih Daddy?!."
Mommy menggerutu lagi.
"Desi mirip dengan mu, Cemburuan,,!."
Tuan Ramadhian tergelak pun Ahir nya tidak mampu lagi menahan tawa melihat reaksi istri nya.
"Eh tunggu! Jangan bilang Klara hamil anak mu."
Nyonya Ramadhian berdiri berkacak pinggang.
"APA?."
Kristian menoleh pada mommy yang telah berdiri
"Aku tidak akan segan untuk memotong burung camar mu Kristian! Lihat saja nanti!."
mommy melotot ke arah Kristian.
"APA?!."
Kristian bergedik ngeri membayangkan masuk ke ruang penjagalan mommy nya dan di khitan untuk kedua kali nya.
"Hahaha."
Daddy pun tidak mampu lagi menahan tawa.
"Apa yang kau fikirkan Kris?! Masuk ke kamar mu dan selesai kan masalah mu sekarang."
Tuan Ramadhian memberi perintah.
"Baik lah."
Kristian menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Meraih handle pintu dan membuka nya.
Tidak bisa. Pintu terkunci dari dalam.
"Desi, buka pintunya."
Kristian mengetuk pintu.
Desi pun membuka nya
Menetralkan diri sebelum membuka pintu.
Desi mencium punggung tangan Kristian walaupun sedang marah.
" Aku akan jelas kan, bisa kita duduk sebentar,?."
Kristian Menyentuh dagu Desi sambil berkata dengan lembut.
Ucapan Kristian sukses mencairkan hati nya yang beku.
Padahal sejak tadi Ia tidak ingin membuka pintu dan berencana membiarkan Kristian tidur di luar.
Dan sial nya aku tidak akan tega.
Bergumam sambil mengikuti langkah Kristian yang duduk di tepi ranjang.
"Kau cemburu?Aku sedih jika bahkan kau berencana membiarkan ku tidur di luar!."
Menyandarkan kepala nya di bahu.
Eh! Kenapa jadi begini sih, Harus nya aku yang marah kan? Kenapa jadi aku yang merasa bersalah begini sih,?!.
"Maaf."
Desi meraih tubuh Kristian dan membiarkan nya bersandar di dada nya.
Apa yang aku lakukan, bodoh sekali!
__ADS_1
Kristian mengulas senyum samar, "Pada Ahir nya aku selalu tahu kelemahan mu."
Tergelak dalam hati.