
"Huh, lelah sekali."
Sudah tengah malam namun Desi masih sibuk dengan layar lipat nya.
Mengoreksi hasil ulangan semester para murid Nya.
Kertas kertas yang menumpuk di atas meja kerja di dalam kamar nya, lembar demi lembar terselesaikan.
Krek Krek krek
Jarum jam dinding terus berputar.
Pukul 2 dini hari.
"Cukup untuk hari ini, aku lanjutkan besok saja."
Tidak butuh waktu lama, ahir nya Terlelap di atas ranjang.
Dan pagi nya.
Desi membuka mata masih dengan mukena menutupi tubuh nya.
Setelah shalat subuh tadi, Desi me mejam kembali di atas sajadah yang Ia gunakan.
Desi kembali membuka layar lipat nya menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda semalam.
"Ahirnya selesai."
***
Desi melangkah memasuki kawasan padat penduduk di pinggiran kota Jakarta.
Di tempat ini Desi mengajar di setiap minggu nya.
Gurat lelah dan wajah pucat terlihat walau telah ditaburi sedikit olesan di wajah.
Taxi online yang mengantar nya telah pergi menjauh. Sengaja Desi langsung ke tempat ini tidak menuju apartement Kristian lebih dahulu.
"Ustadzah."
Anak anak datang menghampiri Desi, Menyalami dan mengecup punggung tangan nya disana.
"Apa Tuan Kristian tidak bersama anda ustadzah?."
Tanya salah satu anak disana.
"Tuan Kristian akan datang nanti. Ayo kita masuk."
Desi mulai mengajar. Anak anak terlihat menyimak disana.
"Anda tidak apa apa, Ustadzah?. Wajah anda pucat sekali."
Tanya salah satu murid nya.
Desi menyentuh dahi nya.
Aku Demam, Pantas saja tidak nyaman sejak pagi.
"Tidak apa apa, ayo kita lanjut kan."
Desi mengulas senyum manis nya disana.
Desi kembali mengajar. Menjelaskan di depan papan tulis.
Kepala Desi semakin pusing, dan mata yang berkunang kunang disana.
Brugh...
"Ustadzah?!."
Anak anak menghambur menuju Desi yang limpung tidak sadarkan diri.
***
Di tempat lain.
Tepat nya di apartement Kristian.
"Kemana Dia, sudah jam segini belum juga datang."
Kristian melihat arloji. berkali kali melakukan panggilan namun tidak juga di jawab.
Ahir nya Kristian bergegas menuju tempat biasa dia datangi setiap hari minggu sore.
Mobil terparkir sempurna di kawasan pinghiran kota sekitar bantaran sungai.
Kristian keluar dari mobil.
"Tuan, Tuan."
Ibu Ibu datang menghampiri dengan mata sembab sepertinya habis menangis.
"Ada apa?.
Kristian berkerut dahi.
"Ustadzah Desi Tuan, tipa tiba pingsan disana."
__ADS_1
Menunjuk tempat dimana Desi mengajar.
"Apa?!."
Kristian berlari menuju tempat biasa Desi mengajar.
Anak anak dan Ibu Ibu telah berkerumun disana.
"Desi!."
Kristian terlihat sangat panik.
"Astaghfirullohal'adzim. Ada apa dengan mu?."
"Biar saya yang bawa ustadzah kerumah sakit."
Kristian berkata pada Ibu Ibu yang menolong Desi.
Kristian meraih Desi dan mengangkat nya Kemudian bergegas menuju mobil yang terarkir disana.
Secepat itu membaringkan Desi di dalam jok belakang.
Tanpa sengaja hijab Desi tersibak memperlihatkan leher nya disana.
Deg
Tatapan Kriatian mengarah pada liontin yang Ia sangat hafal bentuk nya.
Hafal diluar kepala sebab Ia lah yang memesan bentuk nya.
Perlahan Kristian meraih liontin yang masih melingkar di leher Desi.
"Kau masih memakai nya?."
Hati Kristian tersentuh. Liontin yang terdapat nama nya disana. Sebagai tanda kenangan untuk yang terahir.
Dulu Ia titipkan pada adik nya Desi untuk diberikan pada kakak nya.
"Maaf kan aku menyentuh diri mu."
Lirih Kristian sambil memperbaiki hijab Desi kemudian menutup pintu mobil.
"Hati hati Tuan."
Kristian mengangguk. Kemudian menginjak pedal gas mesatkan mobil nya.
Kristian melaju kan mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Kau kenapa Desi."
Dada Kristian berdebar sambil mengusap wajah nya kasar.
Berkali kali menekan klakson agar mobil di depan nya memberi jalan.
Sampai lah di depan Rumah Sakit.
Kristian memarkir kan mobil nya sembarangan.
Meraih tubuh Desi yang berada di jok belakang kemudian mengangkat nya masuk ke depan ruang IGD.
"Tubuh mu panas sekali.
"Tolong gadis ini?!."
Kristian membaring kan tubuh desi di atas bed Rumah Sakit kemudian bersama perawat mendorong nya masuk menuju IGD.
"Tunggu sebentar tuan, Dokter sedang memeriksa didalam."
Ujar perawat sambil menutup pintu yang terbuat dari kaca dan menarik tirai.
"Lakukan yang terbaik untuk calon istri ku."
Kristian menarik nafas nya panjang.
Calon istri?
Kristian sangat gusar. Seperti nya tidak lagi berfikir jernih. Kristian berjalan kesana kemari menunggu hasil pemeriksaan Dokter.
"Tuan, anda sudah bisa masuk."
"Baik. terimakasih."
Kristian bangun dari duduk nya dan masuk kedalam.
"Nona Desi belum siuman. Sebaik nya anda menunggu."
Perawat sedikit membungkuk kemudian berlalu dari sana.
Kristian menarik kursi duduk disana sambil menyandar pada dinding.
Desi membuka mata."Aku dimana?."
Mengedarkan pandangan menatap sekeliling.
"Rumah Sakit."
Terlihat jarum infus terpasang di tangan kanan nya.
__ADS_1
Desi mengingat kenapa dia bisa berada di sini.
Mata Desi menangkap sosok pria yang terlelap di kursi bersandar pada dinding di sana.
"Kristian."
Lirih Desi.
Terimakasih Kristian. Maaf selalu menyakiti hati mu, Melukai mu. Bahkan setelah semua yang aku lakukan pada mu kau tetap saja baik pada ku.
Jika diizin kan aku hanya ingin mengatakan
I Love you Kristian.
Bergumam sambil menatap pria yang terlelap di sana.
Kristian membuka mata.
"Kau sudah bangun?."
Ucapan Kristian terdengar lega.
"Terimakasih."
"Maaf selalu menyusahkan anda."
lirih Desi.
"Sssstttt."
Kristian menemprlkan jari telunjuk nya di bibir.
"Aku senang kau baik baik saja."
"Aku ingin pulang."
Desi berusaha bangun dan duduk di atas ranjang.
"Kau mau kemana?."
Kristian mencegah Desi untuk bangkit.
"Kau masih sakit."
"Aku sudah sembuh,tuan. Terimakasih telah menolongku."
Tersenyum khas Desi disana.
Ingin rasa nya aku memeluk mu saat ini.
"Tuan, Aku tidak apa apa. Aku ingin pulang."
"Kau selalu saja keras kepala."
Menghampiri Desi, dan duduk di ranjang pasien.
Aku selalu berdebar jika terlalu dekat dengan mu.
Desi meringsut menggeser tubuh nya menjaga jarak dengan Kristian.
"Kau kenapa terlihat takut begitu."
"Tidak, Hanya menjaga jarak saja."
"Jangan katakan kau masih berdebar jika dekat dengan ku."
Kristian memajukan wajah nya.
"Aku? Tidak, anda itu bicara apa sih?."
Ada gurat kesal disana.
Kristian terkekeh.
"Kau masih saja menggemas kan. Bagaimana mungkin Aku bisa melupakan diri mu."
Mengusap pucuk kepala Desi yang tertutup hijab.
Desi tertegun dengan apa yang baru saja Kristian lakukan.
Kristian berlalu begitu saja seperti tanpa dosa.
Desi menyentuh kepala nya sendiri.
Apa benar kau tidak melupakan aku?
***
"Kau sungguh keras kepala! Mengapa memaksa keluar dari Rumah sakit?."
Berbicara sambil mengemudi.
"Aku tidak apa apa tuan, Anda itu berlebihan."
Berkata lembut disana.
"Terserah lah. Tapi jangan lupa, minum obat mu dan segera hubungi aku jika kau merasa pusing atau semacam nya."
__ADS_1
"Terimakasih, Anda sangat baik pada ku. Maaf selalu menyakiti anda selama ini."
Desi...