Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Prioritas utama


__ADS_3

Tidak terasa dua bulan telah berlalu, perut Desi pun sudah nampak terlihat.


Pakaian hamil buah tangan dari mommy ketika pulang dari Mesir, Sudah mulai Ia kenakan.


Desi berjalan jalan di taman belakang tanpa alas kaki, merasakan rumput hijau yang menusuk di kaki nya.


"Kau sedang apa sayang?"


Mommy datang menghampiri Desi di taman belakang.


"Hanya jalan jalan saja mom,"


Desi merentangkan tangan nya sambil menghirup udara segar.


"Perutnya sudah mulai membesar, Apa kau tidak pernah mual?."


Mommy merendahkan tubuh nya mengusap perut Desi dengan Senyum kebahagiaan mengembang di bibir Nyonya Ramadhian.


Desi menggelengkan kepala, "Tidak pernah, hanya terkadang lebih suka bermalas malasan di dalam kamar."


Ujar Desi sambil tersenyum melihat mommy yang Mengusap usap perut nya.


"Tumbuhlah dengan sehat, Oma sudah tidak sabar dengan suasana rumah yang ramai oleh suara tawa anak kecil."


Mengusap usap lagi.


"Mommy..."


Desi berkaca kaca penuh haru, Bersyukur memiliki mertua seperti Nyonya Ramadhian yang begitu baik dan perhatian, dan Juga bersyukur Ia dikelilingi orang orang yang tulus mencintai nya.


"Jangan bersedih, Sudah sepantasnya kau bahagia."


Mommy pipi Desi yang basah.


"Terimakasih mom"


Desi memeluk Nyonya Ramadhian.


"Sudahlah Sayang, Kau beruntung karena tidak mengalami yang nama nya morning sickness"


Mommy melepas pelukan nya.


"Jika mommy dulu, mual nya sampai masuk rumah


sakit. "


"Nyidam yang aneh aneh dan begitu suka menyusahkan Daddy ."


Mommy kemudian duduk di kursi berwarna putih yang berada di taman itu, mengingat moment saat mengandung putra nya Farel Ramadhian sambil meraih secangkir teh hangat buatan pelayan tadi.


"Oh ya?."


Desi berkerut dahi, kemudian duduk di samping Nyonya Ramadhian tertarik dengan cerita nya tadi.


"Mommy pernah terbangun tengah malam dan meminta serabi, kau tau kan itu serabi? kue yang digoreng tanpa menggunakan minyak?."


Desi mengangguk."Lalu apa yang Daddy lakukan?."


Tanya Desi penasaran.


"Tentu saja Daddy membangunkan semua koki dan menyuruh mereka membuat makanan yang mommy maksud, Tapi setelah pelayan mengantarkan hasil kerja keras mereka ke kamar, bukan nya bersemangat dan memakan nya malah rasanya menginginkan yang nenek nenek buat saat pagi hari di pinggir jalan."


"Lalu?."


Desi penasaran.


"Lalu Daddy Keluar membawa mobil dan saat kembali Deddy membawa nenek nenek itu beserta alat masak nya dan membuat itu disini."


"Disini??Di tengah malam?!."


Desi terperangah tidak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja iya."


Berkata sambil senyum senyum sendiri.


Tidak heran sih, Daddy melakukan semua itu. Daddy terlihat begitu mencintai mommy hingga hari ini.


"Ada apa mom?."


"Kau tahu, waktu itu Mommy hanya ingin menyusahkan Daddy mu. Mommy Sedikit pun tidak menyentuh serabi yang nenek itu buat dan malah menyuruh Daddy memakan nya."


Berucap dengan bangga.


"Hehe.. Mommy jahat ya.. Tapi Daddy sama sekali tidak pernah marah. Meski berkali kali Mommy menyusahkan nya.


Daddy mirip sekali dengan Kristian, tidak bisa marah dengan istrinya."


Mommy benar, Kristian tidak pernah bisa marah pada ku.


"Morning"


Kristian datang menghampiri, mengecup pucuk kepala Desi Kemudian merendahkan tubuh nya.


"Morning baby,"


Mengecup perut Desi kemudian.


Desi mulai terbiasa dengan sikap Kristian yang suka mengumbar kemesraan meski di depan mommy dan Daddy nya, Nyonya Ramadhian pun sepertinya sedikit pun tidak terganggu karena suami nya pun selalu melakukan hal yang sama.


"Morning mom."


Kristian menghampiri Nyonya Ramadhian, Duduk di samping nya kemudian mencium pipi nya.


"Anak nakal, Kau tidak ke kantor?."


Melirik Kristian yang masih dengan piyama tidur nya.


"1 Jam lagi, Aku berniat membawa istri ku ke kamar."


Mommy mengangkat tangan.


"Mommy tidak akan mengganggu, Selamat bersenang-senang."


Nyonya Ramadhian bangun dari duduk nya berlalu pergi meninggalkan Desi dan Kristian.


"Sayang, apa yang kau lakukan?."


Mencubit pinggang Kristian.


"Aww!!"


"Mommy jadi pergi kan?!."


menoleh Nyonya Ramadhian yang pergi menjauh.


"Ayo kekamar, "


Kristian bangkit.


"Kau mau apa?! Ini masih pagi."


Desi melengos melirik ke kiri dan ke kanan.


Dasar mesum, mau apa dia pagi pagi!


"Hahaha apa yang kau fikirkan?!"


Kristian tergelak sambil mencubit hidung Desi


"Kau yang mesum, Aku hanya ingin mengingatkan kau lupa menyiapkan pakaian kerja untuk ku."


Kristian mengulurkan tangan Desi pun meraih nya.

__ADS_1


"Kau yang bilang ingin melakukan sesuatu untuk orang orang yang mencintai mu kan? Maka siapkan pakaian untuk ku jika aku selesai mandi."


Berjalan beriringan dengan Desi dan tangan pun saling bertaut.


"Baik, aku akan melakukan nya dengan senang hati."


Terus melangkah menaiki tangga bersama Kristian menuju kamar nya.


"Oh ya, tadi Abah menelepon. Besok Abah berangkat ke tanah suci, kita bisa menemui nya saat pesawat transit di Jakarta."


"Kau tidak sibuk? Apa kau bisa mengantar ku,?."


Menoleh pada Kristian.


"Tentu saja aku akan mengantar mu, aku bisa menunda semua nya, kau lebih penting dan selalu jadi prioritas utama."


Menyentuh dagu Desi kemudian


Muach.!!


mencium bibir nya.


Tergelak karena Desi terkejut kemudian meraih handuk membawa nya ke kamar mandi.


***


Solo


"Aku tidak menyangka Abah menyuruh kita berbelanja di pasar"


kesal Hengki sambil menenteng kantong kresek besar berwarna hitam.


Di tangan kiri nya kantong kresek besar berisi daging dan ikan. jangan ditanya bau nya saat masuk ke dalam pasar tradisional berbagai jenis ikan segar dan ikan asin beserta ayam yang diatas meja meja lapak bertengger.


Lebih sial nya lagi saat Hengki bertemu dengan emak emak yang kendaraan nya dia ambil karena menunggak cicilan.


Sontak saja emak emak dengan suara cempreng itu memaki maki di depan para pedagang ikan asin dan emak emak lain yang sedang berbelanja.


Emak emak dengan daya ingin tahu yang tinggi berbisik bisik sambil sesekali melirik Hengki


" Dasar tidak tahu malu?! Kau mengambil mobil ku dan berani muncul lagi di depan ku??."


Berkacak pinggang dan menunjuk Hengki.


"Kau Manusia tidak punya perasaan!! Tidak memiliki belas kasih dan merampas milik ku begitu saja!! Kau Fikir kau hebat tuan?!!"


Hengki enggan meladeni menarik tangan Harli pergi menjauh melewati orang orang yang menatap mereka.


"Hei..!!! Tunggu..!!"


------


Harli menghela.


"Sudah kukatakan Mas, carilah pekerjaan lain."


"Jika terus begini mas mungkin cocok dipanggil rentenir."


"Kau itu bicara apa? Akan aku lakukan tapi nanti."


"Cari pekerjaan lain? Kalau begitu Kapan?"


Menoleh pada Hengki kemudian meraih karung beras dan meletakkan nya di bahu.


"Ini berat sekali mas. Untuk apa Abah berbelanja sebanyak ini."


Harli lupa dengan pembahasan yang tadi.


"Abah mau berangkat ke tanah suci besok. Malam ini ada acara Do'a bersama di rumah. Cepat lah, kita sudah di tunggu tetangga yang datang untuk memasak "


"Sebanyak ini tidak akan muat di motor, mas pesan taxi saja."

__ADS_1


Hengki mengangguk mengikuti ucapan adik nya.


__ADS_2