Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Dijodohkan lagi?.


__ADS_3

Pagi yang cerah secarah hati Desi pagi ini.


Desi tertidur pulas semalam mungkin karena efek obat yang Ia dapatkan dari Rumah sakit kemarin.


Desi membawa setumpuk hasil ulangan yang akan dibagi kan pada para santri nya.


Setelah hari ini, pesantren akan libur selama dua pekan.


"Assalamu'alaikum Ustadzah."


Ustadzah mariska menyapa.


"Wa'alaikum salam Ustadzah Mariska."


Desi sedikit membungkuk menghormati.


"Ngomong ngomong, Liburan esok Ustadzah mau kemana?."


"Saya akan pulang ke Solo, Ustadzah sendiri?."


"Ke Solo juga, menghadiri pernikahan seseorang."


Tersenyum manis disana.


"Benarkah? Ustadzah mampir ya, kerumah saya."


"Kalau itu memang tujuan saya."


Ustadzah menyentuh pipi Desi mengulas senyum kemudian mengucapkan salam dan berlalu dari sana.


"Eh...Ustadzah mariska."


Desi seketika menghangat.


Kemudian Desi berlalu dan masuk kedalam kelas.


***


Para santri bersiap untuk pulang ke kampung halaman masing masing. Dengan dijemput para orang tua mereka.


Suasana mengharu biru disana ketika orang tua baik Ibu Ibu atau Ayah nya menjemput anak anak mereka.


Saling memeluk dengan sang anak dan memgeluarkan air mata.


Perasaan rindu beserta rasa bangga pada sang putra/putri yang di titipkan di pesantren ini.


"Terimakasih Ustdzah. Kami mohon pamit.


Assalamu'alaikum."


ucap salah satu Ibu dari santri murid nya.


"Sama sama. Wa'alaikumsalam."


Desi kembali ke rumah dinas nya setelah semua pekerjaan nya selesai.


Berpamitan pada Ustadzah yang lain. Juga tidak lupa untuk minta izin hari ini harus keluar untuk membeli oleh oleh.


Beberapa jam pun telah berlalu.


Taxi Online telah menunggu.


Desi keluar dengan penampilan yang cantik elegant dengan wajah cerah bersemangat.


Taxi Online mengantarkan Desi menuju pusat perbelanjaan di kota ini.


Desi mulai memasuki Outlet dari satu ke Outlet


Lain nya membeli barang yang Desi ingin kan.


Netra Desi menangkap sosok wanita paruh baya namun sangat lah cantik dan elegant.


Sepertinya bukan lah orang sembarangan terlihat dari penampilan nya dan bahasa tubuh.


Wanita itu membawa barang belanjaan sangat banyak dan seperti mencari cari seseorang dengan cara nya mengedarkan pandangan.


"Maaf, biar saya bantu Nyonya."


Desi tersenyum tulus sambil meraih paper bag yang ada di tangan wanita itu.


"Terimakasih Nak."


Wanita itu membalas senyuman Desi.


"Mobil saya terparkir disana."

__ADS_1


Menunjuk arah mobil nya.


"Biar saya antarkan ini ke sana."


Desi bergegas membawakan barang barang milik wanita tadi kedalam mobil.


"Maaf, Nyonya saya baru saja ke toilet."


Seorang berstelan jas membungkuk disana.


"Sepertinya dia seorang bodyguard. tapi, seperti tidak asing. pernah bertemu dimana ya?."


Desi sibuk dengan fikiran nya hingga wanita itu berpamitan Desi tidak menanggapi.


'Eh, iya Nyonya. Hati hati."


Desi melambai pada mobil yang baru saja berlalu.


Desi kembali ke dalam pusat perbelanjaan.


"Hai Janda..!!!"


Pekik seorang wanita dibelakang Desi.


Suara itu tidak asing. Desi kemudian menoleh.


"Kau janda tidak tahu malu menggoda calon suami orang."


Menunjuk ke arah Desi membuat semua mata menyorot pada nya.


"Klara."


"Kau fikir siapa dirimu, Janda?!. Beraninya menggoda calon suami ku!. Sungguh Murahan!."


Klara melangkah mendekati Deisi yang hanya diam dan mematung. Mendengarkan setiap hinaan dari bibir Klara.


"Tampang sok polos. Cih Pelakor menjijikan."


Mendorong tubuh Desi. Namun Desi menguatkan dirinya tidak roboh atau jatuh.


"Haha..."


Desi tergelak disana. Membuat raut kesal Klara semakin menjadi.


Klara hendak meraih Desi namun dengan keras Desi menepis nya.


Menunjuk pada Klara.


"Kenapa?."


"Sekarang siapa yang lebih tidak tahu malu?."


"Anda ingin menjatuhkan harga diri saya disini?


Desi menyeringai.


"Kenapa calon suami anda lebih tertarik pada aku yang Janda? Itu karena anda tidak lebih baik dari seorang Janda!."


Desi mengherdik kan bahu kemudian berlalu meninggalkan Klara yang jadi pusat sorotan dari beberapa pasang mata yang memandang.


"Wanita SIALAN..!!"


Klara menghentak kan kaki.


"Berani juga diri mu."


Walaupun telah menjadi seorang Ustadzah, Namun Desi tetap lah Desi.


Karakter sesungguh nya akan muncul saat dirinya terdesak


***


Desi berkemas. Besok pagi akan pulang ke kampung halaman.


Ponsel Desi berdering.


Tersemat nama disana. "Abah"


"Assalamu'alaikum Abah."


Menjawab panggilan seramah mungkin.


"Wa'alaikumsalam nduk."


Suara abah terdengar disana.

__ADS_1


"Besok Desi pulang, Abah. Pesantren libur selama dua pekan."


"Alhamdulillah. Abah ngin bicara nduk.


Ada seorang Pria datang kerumah Abah. Memiliki niat yang baik.Dia hendak menghitbah mu."


Deg...


Dada Desi mulai berdebar.


"Lalu Abah jawab apa?."


Pertanyaan spontan keluar dari bibir Desi.


Sangat takut kalau kalau Abah menerima khitbah dari Pria yang abah maksud.


"Dia pria yang baik, memiliki niat yang baik. Abah menerima khitbah dari pemuda yang baik yang Insya Allah akan baik untuk mu."


Deg..


Tubuh Desi lemas terduduk di lantai.


Mematikan panggilan sepihak karena sudah entah lagi harus berkata apa.


Abah disana mungkin faham jika Desi kecewa. Dulu saat cinta pertama nya harus terkubur dalam akibat perjodohan nya dengan Faat.


Sekarang saat dirinya mulai kembali dekat dengan pria di masa lalu. Harus berahir padahal semua belum juga dimulai.


"Astaghfirullahal'adzim."


Desi menyadarkan diri nya.


"Mungkin ini sudah takdir. Kristian memang bukan di takdirkan untuk ku.


Abah pernah menikahkan ku dengan mas Faat.


Pria yang sangat baik, bahkan terlalu baik untuk ku. Rela melukai diri sendiri untuk aku bisa bahagia. Abah tidak sepenuh nya salah. Abah pasti menginginkan aku bahagia."


Desi memejam setelah menumpahkan air mata nya. Desi berusaha menyadarkan diri jika Dia tidak lah pantas untuk Kristian. Putra pengusaha dari salah satu orang ternama di negara ini. Tidak lah mungkin menikahi janda dari kampung terpencil seperti Dia.


Desi meremas liontin kenangan terahir dari Kristian.


"Goodbye Kristian. Maafkan aku."


***


Di tempat lain.


Seorang bodyguard yang mengabadikan moment saat di pusat perbelanjaan tadi mengirimkan rekaman video itu pada bos nya.


Kristian membuka ponsel nya. mengulas senyum disana.


"Kau masih saja berani ya?."


Melihat rekaman video pertengkaran antara Desi dan Klara.


"Kenapa tidak kau tam-par saya Klara tadi."


Berbicara sendiri sambil melihat layar ponsel.


Bodyguard juga mengetik pesan lagi.


"Oh ya, tuan. Nona Desi juga bertemu dengan Nyonya."


Bodyguard mengirimkan foto foto desi menolong Nyonya Ramadhian disana.


"Apa Desi tau jika itu Mommy?."


Bodyguard membalas.


"Sepertinya tidak tuan."


"Awasi terus Desi. Jangan samai hal buruk terjadi pada nya."


Teringat ketika Desi pingsan tempo hari. Rasa khawatir dan depresi sambil menatap wanita yang sangat penting dalam hidup nya tidak sadarkan diri.


Liontin yang melingkar di leher. Itu lah yang menjadi keyakinan Kristian jika Desi pun masih sayang pada nya.


"Baik Tuan."


Itu lah pesan terahir dari Bodyguard.


Kristian mengulas senyum sambil memutar video itu berkali kali.


-

__ADS_1


Like... komen... vote... ya kawan...


__ADS_2