
Faat menunggu Mai yang sedang di poles oleh tim perias di salon kecantikan ternama di kota Solo. Ayah jaya dan Oma pun telah bersiap dengan pakaian Formal disana.
Faat memandang cermin yang memperlihatkan bayangan tubuh nya dengan stelan jas yang tampak rapih dan gagah sempurna.
"Saya sudah siap."
Ucap lembut Mai pada Faat, Ayah dan juga Oma.
"Kau cantik sekali sayang."
Ujar Oma sambil mendekat meraih tangan Maimunah.
Faat terpana melihat istri nya yang terbalut make up dengan pakaian adat dan baju toga di luar nya
Ya hari ini Mai wisuda.
Setelah berusaha selama hampir 4 tahun akhirnya hari yang ditunggu pun tiba.
Jika bukan karena nyonya, hari ini tidak akan terjadi. Gadis desa dengan ekonomi keluarga dibawah rata rata. Tidak akan mungkin bisa sampai seperti ini. Terimakasih nyonya, berkat anda pula aku sekarang menjadi istri mas Faat, orang yang sangat saya cintai sejak lama.
Di dalam gedung.
Acara wisuda yang dihadiri ratusan mahasiswa.
Rona bahagia terpancar dari wajah para mahasiswa yang datang bersama orang tua masing masing.
Ada yang keluar dari gedung menitikkan air mata kebahagiaan orang tua untuk anak nya yang lulus cumlaude.
Ada juga yang sibuk berfoto mengunggah moment itu di social media.
"Selamat ya."
Faat memberikan buket bunga mawar pada Mai.
"Terimakasih."
Mai mengusap pipi Faat tersenyum dengan mata yang berkaca kaca.
"Terimakasih untuk semua nya."
Faat meraih tangan Mai dan mengecup nya.
Membawa nya keluar dari gedung dengan tangan yang saling bertaut.
"Selamat ya sayang."
Ujar Oma mencium pipi kanan dan kiri.
"Terimakasih Oma."
Mai memeluk Oma disana.
"Selamat ya Mai."
Ujar Ayah jaya.
"Terimakasih ayah."
" Boleh saya meminta sesuatu?."
Berkata menoleh pada Faat.
"Katakan Mai. Apa yang kau inginkan."
Menyentuh kepala Maimunah yang tertutup hijab.
Mas Faat memang selalu begitu, Pria baik yang selalu berkata lembut membuat Mai selalu merasa beruntung berada disamping Faat.
"Aku ingin berkunjung ke makam nyonya, maksud ku Ibu."
"Hanya itu?Kita kesana sekarang."
Mai, Faat ,Oma dan juga Ayah berjalan dibawah pepohonan. Melewati pusara hingga sampai di depan nisan bertuliskan nama wanita yang selalu harum nama nya di hati.
Mai merendahkan tubuh nya. Diikuti Faat, Ayah dan juga Oma.
__ADS_1
Melantunkan ayat-ayat suci untuk mendo'akan Nyonya Prana Jaya didepan pusara.
"Nyonya, Terimakasih. Untuk pendidikan ku hingga aku sampai di titik ini."
Menyentuh mendali yang masih melingkar di leher.
"Terimakasih untuk restu Nyonya yang mengizinkan aku bersanding dengan putra anda, Pria yang aku sukai yang bahkan aku akan melakukan apapun asalkan Ia tersenyum dan bahagia setiap hari nya."
Suara Mai terdengar parau, air mata sudah menggenang di pelupuk mata.
Mai mengusap air mata yang akhirnya menetes di pipi.
"Nyonya, izinkan aku memanggil mu Ibu."
Mai semakin terisak.
"Ibu, seperti yang anda impikan. Anda akan menjadi Oma."
Mai semakin sesenggukan.
Menjadi Oma?Ibu.
Mai hamil?
Yang mendengar itu terperangah apa lagi Faat.
Reaksi nya lebih dari Oma juga Ayah.
"Aku mengandung Ibu, Aku mengandung anak dari putra anda."
Mai tidak tahan lagi, Ia menumpahkan air mata nya didepan pusara ibu mertua nya.
Faat meraih Mai masuk dalam dekapan nya.
Mencium bahu nya, dan mempererat pelukannya.
"Aku terkejut, Aku Senang, dan Aku juga sangat bersyukur. Terimakasih Mai."
Faat mengusap pipi Mai, mendaratkan kecupan di dahi.
"Sejak kapan kau hamil?."
"Mengapa tidak memberitahu sebelum nya."
Oma mengusap mata nya yang juga basah.
"Lihat Nak, Faat sudah bahagia. Ada malaikat berwujud manusia yang Tuhan kirimkan untuk kami.
Kami hidup dengan sangat baik karena dari ketulusan Maimunah kami melewati hari hari dan masa masa sulit karena kehilangan mu."
Oma bangkit berdiri diikuti Mai dan juga Faat.
Namun Ayah belum juga beranjak.
Tubuh nya bergetar karena menahan tangis.
Terlihat kerinduan mendalam pada sang istri.
"Terimakasih kau yang telah menjadi istri ku.
Terimakasih karena kau melahirkan anak yang baik. Terimakasih karena cinta mu aku bertahan hingga hari ini."
Mereka keluar dari pemakaman dengan wajah yang sendu. Begitu terlihat rasa cinta dan kerinduan di hati mereka pada wanita yang sekarang tenang di alam sana.
Faat menggenggam tangan Mai keluar dari pemakaman. Masuk kedalam mobil, dan keheningan terus menyelimuti hingga mobil melaju menjauh dari pemakaman.
Melewati jalanan desa yang rusak dan sedikit bergelombang.
Sore telah berlalu hingga menjelang malam.
Sebelum nya beristirahat untuk melaksanakan kewajiban nya terhadap Sang Pencipta.
Faat menyentuh perut Mai saat melewati jalanan terjal disana.
"Apa kau tidak apa apa?"
__ADS_1
Mengusap perut Mai yang memang tidak serata sebelum nya.
"Tidak, Mas Faat tidak usah khawatir."
Tersenyum manis disana.
"Maaf jika aku tidak begitu peka. Seharusnya aku faham ada yang berubah dari tubuh mu."
Mengalihkan tangan nya pada kemudi.
"Maafkan ayah Nak.,"
Mengusap perut lagi.
"Tidak apa apa mas. Tidak perlu merasa bersalah begitu."
Mai menepuk bahu Faat.
"Sudah berapa bulan?."
Menoleh Mai kemudian menatap jalanan lagi.
"9 Minggu. jadi dua bulan lebih."
"Kita ke Dokter untuk pemeriksaan besok."
Menyentuh pipi Mai kemudian fokus lagi mengemudi.
Mai mengangguk, memperhatikan Faat disampingnya.
Aku mencintaimu Faat Prana Djaya!
Yang dibelakang kemudi hanya bungkam menyaksikan pasangan yang sedang berbahagia. Hanya saling menoleh dan mengherdik kan bahu.
Ayah membiarkan Faat dan tidak mengganggu pembicaraan mereka. Malah terhanyut dalam lamunan nya sendiri ketika dulu istrinya mengandung Faat.
Bertingkah manja minta ini dan itu membuat Ayah terkadang kesal. Kali ini malah Ia mengingat moment itu dan ingin mengulangnya kembali.
Sejak kau pergi dari sisi ku, Semakin aku tau begitu besar aku jatuh cinta pada mu.
Berbeda dengan Oma, Ia enggan mendengar Faat dan Mai. memilih terlelap hingga mobil menepi di halaman rumah nya.
"Oma, Bangun kita sudah sampai."
Oma sama sekali tidak bergerak meski berkali kali dibangunkan.
Digoyang goyang tubuh nya tetap saja tidak merespon.
Faat menghela nafas.
membuka pintu belakang meraih dan menggendong Oma membawa nya masuk ke kamar.
Membaringkan tubuhnya di atas ranjang.Oma tetap saja tidak terbangun.
"Berat sekali.Oma terlalu gendut dan Lemaknya menumpuk."
Berbicara sambil menutup pintu perlahan.
"Enak saja mengatai ku gendut."
Oma bangkit dari tidurnya.
"Rasakan! Memang enak menggendong ku,?!."
Hahaha.
Oma cekikikan puas mengerjai Faat.
"Memang nya aku tidak jengah apa, mendengar kalian mesra mesraan.
Kalau mau mesra mesraan itu tempat nya di kamar. Dasar !"
Oma menarik selimut dan kembali berbaring.
"Selamat tidur."
__ADS_1
Oma mengusap usap bantal di sebelah nya membayangkan mendiang Opa yang terlelap disampingnya.
Next