
Di kediaman Ramadhian, Mommy dan Daddy baru saja menerima tamu seorang wanita yang berlutut memohon ampun untuk anak dan suami nya.
"Saya mohon maafkan anak dan suami saya tuan, Lepaskan Mereka dan kami berjanji tidak akan pernah mengganggu bahkan tidak akan pernah muncul lagi di hadapan keluarga anda."
Hik...hik...
Ibu Moza berlutut dihadapan tuan Ramadhian menundukkan kepala.
"Anak dan suami anda masuk kedalam penjara pasti ada alasan nya. Berusaha mencelakai orang lain dan itu adalah orang yang putra ku cintai. Anda datang kemari hanya membuang waktu anda, biarkan hukum berjalan sebagaimana seharusnya.,"
Ibu Moza pun keluar dengan perasaan hampa.
Melangkah keluar dari pintu utama memegang dada menahan rasa sakit yang menyeruak disana. hingga setetes pun coffee di atas meja tidak tersentuh sedikit pun.
"Daddy, makan malam sudah di siapkan. Bisa kah kita turun sekarang."
Ujar Nyonya Ramadhian mengajak suami nya keluar kamar.
"Lima menit lagi,"
Ujar tuan Ramadhian yang sedang sibuk dengan layar lipat nya sedang memeriksa sesuatu.
Nyonya Ramadhian menunggu duduk di tepi ranjang.
Lima menit pun berlalu.
"Ayo mom, Apa anak nakal mu telah datang?"
Tuan Ramadhian bertanya sambil membuka pintu kamar kemudian keluar menuruni anak tangga sambil menggandeng istri nya.
Meski sudah bisa di bilang usia mereka lebih separuh abad, namun kemesraan tuan dan Nyonya Ramadhian seperti pengantin baru.
Sungguh? Tentu saja, sifat tuan Ramadhian tidak jauh seperti Farel.
"Malam Dad."
Suara Kristian menggema memenuhi ruangan membuat tuan dan Nyonya Ramadhian menoleh kearah nya yang sedang duduk bersama Desi di depan meja makan.
"Anak nakal! Kau sudah kembali? Keras sekali suara mu, Apa yang kau makan di Tokyo."
Mommy menarik kursi untuk tuan Ramadhian kemudian untuk nya sendiri.
"Bukan Kodok hidup di kuliti disiram air cuka kan?."
Berkata sambil duduk di kursi Kemudian meraih piring meletakkan nasi sayur dan potongan daging Ia berikan untuk suami nya.
Desi ingin tertawa seketika menutup mulut nya.
Namun hatinya menghangat melihat Nyonya Ramadhian yang begitu memperhatikan suami nya. Jadi merasa malu sendiri karena kebalikan nya, Kristian lah yang sering melayani diri nya.
"Bagaimana kabar kalian selama di Tokyo?."
tanya Daddy.
"Sangat menyenangkan. Ini oleh oleh dari kami untuk mommy."
Desi menyerahkan paper bag pada mommy yang sumringah secepat kilat menyambar dari tangan Desi.
"Wow, amazing. Mommy sangat menyukai nya. Terimakasih sayang."
Mommy terlihat gembira mengeluarkan apa yang Desi bawa.
"Ini kau yang memilih nya sayang? Ini cantik sekali mommy menyukai nya. Terimakasih."
"Mana untuk Daddy? Kalian melupakan nya?."
Desi dan Kristian saling tatap, Kemudahan Kristian mengangguk memberi kode agar Desi menyerahkan yang Ia pegang di tangan nya sejak tadi.
__ADS_1
"Hanya ini Dad, mudah mudahan Daddy suka."
Menyerahkan sebuah amplop pada tuan Ramadhian.
Daddy berkerut dahi diikuti mommy melirik pada amplop itu segera Ia menyambar ingin Ia buka penasaran.
"Tidak mom, ini milikku."
menggeser tubuh nya memunggungi Nyonya Ramadhian.
"Daddy kau pelit sekali, Buka cepat apa isi nya."
Balas mommy sudah sangat penasaran.
Daddy membuka amplop itu perlahan. Kemudian mengambil isi nya.
Sebuah foto cetak USG terdapat nama Ibu hamil pemilik foto tersebut.
Juga keterangan keterangan lain di dalam kertas yang terdapat logo klinik Obgyn yang Tuan Ramadhian sangat hafal Dokter disana.
"Ini Klinik Laure."
"Laure? Kalian kesana? Apa yang terjadi? Apa itu Daddy berikan pada ku."
"Desi kau?."
Tatap Tuan Ramadhian sambil berkaca kaca.
Seketika Nyonya Ramadhian menyambar yang Daddy pegang.
Desi mengangguk.
"Alhamdulillah..."
Nyonya Ramadhian melihat itu menyahut.
"Selamat sayang."
Ucap Mommy sambil mengusap pipi Desi yang basah.
Mengharu karena bahagia disana.
***
Malam hampir larut namun Kristian belum juga beranjak dari layar lipat nya. Setelah baru saja
seseorang berstelan jas rapi mengantarkan dokumen untuk Ia tanda tangani hingga dua jam berlalu Kristian belum juga beranjak dari tempat nya.
Desi menunggu sambil berbaring memainkan ponsel nya, membuka social media mengirim beberapa foto saat di negeri sakura.
"Desi kau belum tidur?."
Kristian mendekat naik ke atas ranjang.
Desi pun mengembalikan ponsel nya ke atas nakas.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kau menungguku?."
Kristian menin..dih Desi dengan tangan menyangga menjarakkan perut nya.
"Tidak juga,"
Desi mengusap usap pipi Kristian kemudian meraih tengkuk nya menyatukan bibir mereka.
Kristian tergelak.,"Kau mau aku mengunjungi baby kita lagi?"
__ADS_1
Kristian meninggikan alis nya menggoda.
Alih alih menjawab Desi malah mencubit pinggang nya.
"Aww"
"Kita lakukan, aku akan perlahan "
Mengecup bibir Desi lagi dan lagi.
Menautkan bibir lama mendalami setiap sesapan dengan lidah yang juga bermain di sana.
Suara De..sa..Han memenuhi ruangan dengan Kristian terus mendominasi setiap pergulatan disana.
Pakaian telah berserak di lantai menjadi saksi bisu kedua manusia yang dengan aksi nya bergulat di atas ranjang. Terdengar suara suara lirih di sana membuat malam yang dingin namun tidak untuk kedua nya.
Ledakan nikmat menyeruak di dalam sana pun di akhiri dengan Kristian mengecup dahi Desi.
"Aku mencintaimu Daddy."
Ujar Desi kemudian memejam.
Kristian menarik selimut menutupi tubuh polos mereka hingga terlelap dalam keheningan.
***
" Bersiaplah kita akan ke pesantren berpamitan sambil menyerahkan surat pengunduran diri untuk mu."
Kristian keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian yang telah Desi siapkan.
"What?! Pengunduran diri? Siapa yang ingin mengundurkan diri?."
Menoleh pada Kristian kemudian melatakkan kitab suci yang baru saja Ia baca dan melepas kan mukena.
"Kau masih ingin tetap bekerja?."
Kristian berkerut dahi.
Desi mengangguk."Tentu saja."
"Kau Fikir aku akan biarkan kau kelelahan dan mengganggu perkembangan nya?."
Kristian bertanya dengan serius.
"Atau jika terjadi sesuatu pada kalian diluar perkiraan kau Fikir aku bisa memaafkan diriku sendiri,?."
Desi diam, Mengingat kejadian tempo hari bagaimana benci nya Moza dan ayah nya pada Desi hingga melakukan kejahatan sampai sejauh itu. Dia tidak sendiri sekarang, ada dia yang tumbuh yang harus dilindungi.
Desi mengusap perut nya, ,"Baik lah, Aku akan berhenti bekerja. Tapi bolehkah aku sesekali ke restoran? Aku akan bosan di dalam rumah yang hanya ada pelayan dan bodyguard mu disini."
"Baik lah, akan aku Carikan pengawal wanita yang bisa mengantar mu kemana pun dan menjaga kalian dengan baik."
Kristian merendahkan tubuh nya mencium perut Desi yang masih rata.
"I Love you."
Sikap lembut Kristian selalu saja meruntuhkan hati nya, Pria sabar yang menghadapi tingkah Desi yang masih kekanak kanakan.
Desi mengusap rambut Kristian perlahan.
Menunduk mengecup rambut yang masih sedikit basah.
-
-
-
__ADS_1
Next