Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Surat tugas dan secangkir jamu.


__ADS_3

Desi sedang mengajar dan menjelaskan materi pelajaran pada santri di depan kelas.


Tok..tok..


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam."


Desi menoleh.


"Ustadzah Desi,Ustadzah mariska memanggil anda diruangannya di jam istirahat."


"Baik Ustadzah, Terimakasih pemberitahuan nya. saya akan kesana."


"Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum."


Ustadzah itu sedikit membungkuk berlalu dari sana.Desi membalas juga membungkuk menghormati.


Bunyi dering bell di jam istirahat terdengar.


Para santri keluar dari kelas menuju kantin yang merupakan gedung Aula besar tempat mereka mengantre makan siang dan makan bersama.


Tentu saja santri putra dan putri makan siang di tempat yang berbeda.


Desi merapikan buku buku membawa nya dengan berjalan sedikit tergesa melewati beberapa ruang kelas, ruang perpustakaan hingga taman kecil yang berada di depan kantor.


Desi masuk ke kantor meletak kan beberapa buku buku yang dia bawa diatas meja kerja nya.


Desi menghela kemudian memasuki ruangan Ustadzah Mariska.


"Ada apa Ustadzah Mariska memanggilku ya?."


Gumam Desi dalam hati.


"Apa aku membuat kesalahan."


Gumam Desi lagi.


Tok..tok.


"Assalamu'alaikum."


ucap Desi sambil mengetuk pintu ruangan Ustadzah Mariska.


"Wa'alaikumsalam."


"Masuk lah Ustadzah."


Jawab Ustadzah Mariska dengan lembut.


Desi pun memasuki ruangan itu berdiri di hadapan Ustadzah Mariska sambil berfikir menduga duga kesalahan apa yang Ia buat.


"Silahkan duduk."


Desi pun mengikuti apa yang Ustadzah Mariska katakan.


Krek...krek...krek


suara jam dinding terdengar disana.


"Ustadzah, Saya menawarkan untuk anda mengajar di luar Al-Ikhsan dihari sabtu dan minggu."


"Saya?"


Desi menegaskan.


"Mengapa harus aku? disini kan banyak ustadzah senior yang ilmu nya jauh diatas ku."


batin Desi.


"Hanya dua jam di setiap pertemuan. Mengajar di mulai jam 4 sore."


"Tanda tangan disini jika anda menerima tawaran itu."


Meletakkan map didepan Desi.


Desi meraih map itu kemudian membaca nya.


Berisi surat perjanjian kerja resmi dari salah satu perusahaan.


"Tidak ada salahnya menerima tawaran ini. hanya dua jam di hari sabtu dan minggu."


Gumam Desi.


"Saya bersedia Ustadzah, Terimakasih."


Desi menandatangani surat itu tanpa membuka lembar berikut nya.


"Baik lah Ustadzah, Nanti saya berikan alamat nya"


Ujar Ustadzah Mariska mengulurkan tangan disana.


Desi menyambut tangan itu mengulas senyum disana.

__ADS_1


Desi keluar dari ruangan Ustadzah Mariska dengan wajah yang cerah.


"Sepertinya anda sedang senang Ustadzah."


"Ah, Ustadzah bisa aja."


Adzan dhuhur berkumandang. Desi beserta para Ustadzah yang ada di kantor menuju masjid untuk shalat berjama'ah.


"Mari ustadzah kita kemasjid."


Desi tersenyum ramah.


"Mari."


Desi bersama para santri melaksanakan ibadah di waktu dzuhur berjamaah di masjid pesantren.


Sebuah rutinitas yang selalu Ia kerjakan kecuali sedang berhalangan.


*********


Di tempat lain.


"Mas Faat."


Mai menghampiri Faat yang duduk di kursi taman belakang dengan layar lipat diletakkan di meja.


"Ada apa Mai."


berbicara tanpa beralih pandangan dari sana.


"Maaf."


"Tidak apa. pergi lah Mai, aku ingin sendirian."


Masih tidak beranjak dari sana.


"Mas, saya bisa membantu anda.


Ini ramuan tradisional minum lah. Besok kita konsulkan lagi kepada ahli nya."Meletak kan secangkir ramuan yang biasa disebut jamu di atas meja.


"Apa maksud mu? Berhentilah mencampuri urusan ku!"Faat menepis cangkir diatas meja.


" Praak..!"


Pecah.


Mai terkesiap dan gemetar ketakutan.


Faat memperhatikan cangkir yang telah pecah kemudian melihat wajah Mai yang ketakutan.


"Maaf Mai, aku tidak bermaksud untuk ini."


Merendahkan suara nya.


"Aku tidak akan sembuh Mai. Berhentilah meyakin kan ku."


Mai mengusap pipinya yang basah.


"Mas orang beriman bukan? Maka yakin lah jika kau benar benar beriman."


Mai berlalu setelah berkata begitu meninggalkan Faat vyang mematung menatap punggung Mai yang terus menjauh disana.


"Astaghfirullohal'adzim."


Seketika Faat beristighfar mengusap kasar wajah nya.


Faat duduk di kursi memikirkan yang Mai kataksn. Bukan kah Faat adalah orang ber Iman, Mengapa Faat tidak yakin akan Kebesaran Allah Tuhan Seluruh Alam yang berkuasa atas segala sesuatu.


Faat menarik nafas nya dalam kemudian menghela, melipat layar laptop nya bangkit dari duduk kemudian.


Mai terus mengusap air mata yang tidak kunjung berhenti. Memilih membersihkan sisa sisa rebusan jamu dan mencucinya di dapur.


"Berikan aku minuman yang tadi. dan antarkan aku ke dokter yang kau maksud."


Mai terkesiap mendengar kata itu menoleh pada sumber suara.


"Mas Faat."


Faat mengulas senyum disana. "Maaf kan aku Mai."


"Tidak apa mas, Aku tidak marah."


Tersenyum kemudian menghapus air mata nya lagi.


Faat menunggu di meja makan sedangkan Mai merebus ramuan yang sebelum nya Ia dapatkan dari kampung halaman nya.


"Ini Mas."


Meletakkan secangkir jamu di atas meja.


"Ini masih panas, tunggu lah beberapa saat lagi."


"Terimakasih Mai."

__ADS_1


"Sama sama Mas."


Sedikit membungkuk kemudian berlalu dari sana.


"Mai, Tunggu."


"Eh..Iya ada apa mas."


Seketika Mai berbalik.


"Temani aku disini."


Tersenyum ramah pada nya.


"Temani?"


Gumam Mai dalam hati tidak percaya.


"Baik Mas."


Dada Mai berdebar debar seperti musik malam.


Mai duduk di hadapan Faat. "Hentikan Mas, Jangan terlalu baik pada ku. Bagaimana jika aku tidak sanggup lagi menahsn perasaan kemudian serakah berusaha memiliki mu."


Gumam Mai dalam hati.


"Sadar lah Mai, Siapa dirimu. Kau hanya pelayan dirumah ini. Jika bukan karena kebaikan dari Nyonya bahkan kau tidak tamat SMA boro boro bisa kuliah. Nyonya dan keluarga ini lah yang begitu baik hingga kau bisa duduk di bangku universitas."Gumam Mai lagi menyadarkan dirinya.


" Mai..Mai..."


Faat menggerak gerak kan tangan nya di depan Maimunah.


"Eh.. Iya Mas.. Maaf."


terkesiap disana.


"Kau melamun?."


Faat berkerut dahi.


"Maaf."


"Apa yang kau fikirkan? Sejak tadi kau tampak begitu tegang."


Mengulas senyum disana.


"Apa kau masih marah pada ku?."


Ucapan lembut itu berhasil membuat dada Mai semakin berdesir hebat. Detak jantung semakin bertalu talu. Ingin rasa nya Mai mengatakan "Aku mencintai mu."


Faat meminum ramuan tradisional dengan sebelumnya membaca shalawat nabi.


"Bismillah."


Faat pun ahirnya menghabiskan yang Mai buatkan.


"Insya Allah, Anda akan segera sembuh"


Senyum Mai pada Faat di hadapan nya.


"Sekarang kau ikut dengan ku."


Meletak kan cangkir kosong di atas meja kemudian bangkit dari duduk nya.


"Kemana mas?."


Mai mengikuti Faat yang berlalu disana.


"Kau yang mengajaku ke dokter kan?. Tunjukan tempat nya kita akan kesana."


Berbicara sambil menghentikan langkah nya.


"Kita? Kau dan aku?." Gumam Mai tidak percaya.


"Baik mas, tunggu sebentar biar aku bersiap."


Mai bergegas menuju kamar nya dengan begitu girang. Memilih pakaian semi formal terbaik di dalam lemari.


"Anggap saja mas Faat mengajak ku berkencan. hehe."


tertawa tersenyum senyum sendiri di depan cermin.


-


-


Maaf Up nya lamaaaa...


Masih menunggu review kontrak..hehehe..


Maaf.. maaf.. maaf.. terimakasih sudah mendukung hingga sejauh ini.


Aku tidak ada apa apa nya tanpa kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2