Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Duka Keluarga Prana jaya.


__ADS_3

Rutinitas pagi hari seperti biasa Mai melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim. Baru setelah itu menuju dapur untuk memasak.


"Mengapa lampu dapur menyala?Apa sudah ada yang bangun mendahului ku?"


Gumam Mai dalam hati.


Mata Mai membelalak ketika melihat Ibu nya Faat tidak sadarkan diri di samping meja makan.


"Astaghfirullahal'adzim. Nyonya?!."


Merendahkan tubuh nya menggoyang goyang kan tubuh Ibu Faat yang tidak sadarkan diri.


"MAS FAAT..?!"


Pekik Mai munah memanggil Faat disana.


"TUAN...?!"


"OMA....?!"


Berteriak memanggil orang seisi rumah yang tidak kunjung datang.


"Nyonya, apa yang terjadi."


Mai berlinang air mata meraih kepala Ibu Faat meletak kan di pankuan nya.


Mai tidak kuat mengangkat Ibu Faat sebab badan Ibu Faat begitu besar.


"Mas Faat.. kemarilah sekarang."


Hik...hik...


"Nyonya, anda kenapa?."


Terus menangis hingga Faat datang menghampiri.


"Ada apa Mai?."


"Nyonya, mas."


Berbicara sambil menangis.


"Astaghfirullah.?!"


Faat terkesiap melihat Ibu nya berbaring di pangkuan Maimunah.


"Ada apa Mai?."


Oma dan Ayah Faat datang begitu terkejut nya melihat Ibu Faat yang telah lemas dengan nafas yang pendek.


"Kita bawa ke Rumah Sakit."


Faat mengangkat Ibu nya menggendong mbawanya kedalam mobil.


Mai turut serta bersama Ayah Faat mengantar ke Rumah sakit.


"Ibu, Apa yang terjadi?."


Menoleh pada Ibu nya yang berbaring di jok belakang nya sambil mengemudi.


"Nyonya, bangun lah Nyonya."


Menggenggam tangan Ibu Faat mencium nya berkali kali.


Faat melihat itu. air mata Mai yang tidak di buat buat begitu bersedih untuk Ibu nya.


Faat dalam hati nya menghangat.


Faat terus melajukan mobil nya hingga sampai di depan Rumah Sakit di kota Solo.


Ibu Faat di periksa di ruang IGD. Tidak ada yang di perkenan kan masuk sebelum Dokter memanggil.


Ayah Faat di panggil perawat untuk masuk ke dalam. Ternyata Ibu Faat telah siuman.


"Ayah."


Ibu Faat menggenggam tangan suami nya.


"Syukurlah kau sudah sadar."


Mengusap dahi istri nya mencium nya disana.


Nafas Ibu Faat terdengar sangat pendek.


"Ibu istirahat lah."


Mencium tangan istri nya.


"Ayah maafkan Ibu."


Lirih Ibu Faat dengan air mata yang mengalir.


"Ibu itu bicara apa, Ibu tidak melakukan kesalahan apapun."

__ADS_1


Ayah Faat mengusap air mata yang tiba tiba menetes.


"Maaf jika belum mampu untuk jadi istri yang baik untuk mu. Maaf jika nanti tidak mampu menemani mu hingga akhir."


Berkata dengan air mata yang terus mengalir.


"Tidak bu, Ibu wanita terbaik untuk Ayah. Jangan bicara yang tidak tidak. Lebih baik istirahat lah."


Ayah Faat mengusap air mata istri nya yang tak kunjung bwrhenti.


"Panggil kan Faat dan Maimunah."


"Baik bu, tunggu sebentar."


Ayah Faat pun keluar memanggil Faat dan Maimunah seperti yang istri nya ingin kan.


Faat dam Mai masuk ke ruangan. Telah dipasang alat alat medis di sana.


Faat menatap Ibu nya Kelu.


"Nak.."


Lirih Ibu Faat.


"Ya bu, Ini Faat. Istighfar lah bu, Insya Allah ibu akan segera sembuh."


Faat menggenggam tangan ibu nya mengecup nya disana.


"Sayang Ibu minta maaf."


Ibu Faat kembali menangis.


"Ibu ini bicara apa, Faat lah yang harus nya minta maaf pada Ibu."


"Maukah kau mengabulkan permintaan Ibu?"


Menatap Faat dan Maimunah dwngan serius.


Ayah Faat hanya diam bersandar pada dinding.


Ibu Faat meraih tangan Mai.


"Nyonya..."


Mai kembali menangis.


"Faat, Maukah kau mengabul kan permintaan Ibu yang terahir?. Kali ini saja, Ibu memohon pada mu."


"Insya Allah."


"Jika Ibu tidak ada, Nikahi lah Maimunah."


Menggenggam erat tangan Faat.


"Apa?!."


Mai terkesiap.


"Ada apa dengan mu Nyonya?."


Batin Maimunah.


Raut wajah Faat seketika berubah.


Ayah Faat hanya diam sambil mengusap mata nya yang basah.


"Ibu Mohon pada mu le.."


Berbicara dengan nafas pendek yang ter engah engah.


"Nyonya, jangan bicara begitu."


Mai merasa sangat tidak enak.


Mai memang sangat mencintai Faat. Tulus dan sejak sekian lama. Namun bukan berarti Mai menginginkan pernikahan ini.


Mai tidak ingin melukai Faat dengan menjadikan Faat suami nya.


"Nyonya, Saya tidak menginginkan pernikahan ini."


Tegas Mai membuat semua orang terkesiap menoleh pada nya.


"Anggap aku sedang menohon pada Mu Mai."


Lirih Ibu Faat dengan nafas yang semakin pendek.


"Kau mencintai anak ku kan?."


Mai hanya menunduk tidak lagi menjawab.


Faat menatap Mai kemudian beralih pada Ibu nya.


Sebuah kepurusan besar harus dia ambil kali ini.

__ADS_1


Faat menarik nafas nya panjang.


"Baik lah Bu, Aku akan menikah dengan Maimunah. Namun bagaimana jika aku tidak mampu memberi nafkah pada nya?."


"Sershkan semua pada Allah nak."


Ibu Faat menggenggam erat tangan Faat dengan Faat menoleh pada Ayah nya.


Ayah nya mengangguk menyetujui keputusan Faat.


Namun tidak dengan Mai.


Mai menarik lengan Faat mengajak nya keluar.


"Apa yang Mas Faat lakukan?."


Mai mendorong tubuh Faat disana.


"Mai, lihatlah keadaan ibu ku."


"Mas, Kau akan melukai dirimu sendiri jika menikah dengan ku. Apa kata orang jika kau menikah dengan pelayan."


Faat hanya diam memijat pelipis nya.


"Kita akan tetap menikah. Lupakan tentang perasaan ku."


"Ini tidak adil untuk mu mas."


Mai mengusap air mata nya.


"Lalu apa mau mu."


Faat meninggikan suara.


"Aku memang mencintai mu sepenuh hati mas, Namun tidak untuk memiliki mu."


Lirih Mai.


"Apa?!."


Faat terkesiap dengan ucapan Maimunah.


"Faat.. Mai..?!"


Pekik Ayah Faat dari dalam sana.


Faat dan Maimunah pun masuk kedalam.


Nafas Ibu Faat telah berhenti.


Alat medis yang telah dipasang tidak lagi menunjukan detak jantung.


Terasa lemas ketika Faat melihat ibu nya telah menutup mata.


"Dokter..?!"


" Dokter..?! "


Pekik Faat.


Tim medis pun ahir nya memeriksa keadaan ibu Faat disana.


Alat pacu jantung pun di letak kan di dada.


Namun segala usaha telah dilakukan dan hasil nya nihil.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un."


Ibu Faat telah meninggal dunia.


***


Sirine ambulance memasuki rumah duka.


Mai tidak henti henti nya menitik kan air mata. Dada Faat pun rasa nya begitu sesak.


Dengan air mata yang sesekali menetes Faat terus melantunkan ayat ayat suci untuk melepas kepergian Ibunda tercinta.


Seluruh anggota keluarga Prana jaya berduka.


Apalagi Oma yang limpungvtidak sadarkan diri.


"Bagitu cepat kau pergi nyonya, Aku begitu menyayangi mu.Kau seperti sisok Ibu untuk ku Nyonya. Maafkan atas semua kesalahan ku. Tuhan begitu sayang pada mu hingga memanggil mu lebih cepat."


Orang orang datang untuk berbela sungkawa.


Tidak terkecuali abah ayah dari Desi.


Sebelum nya Abah telah menghubungi Desi memberi kabar pada nya.


Munfkin sekitar 3jam lagi Desi sampai disini.


-

__ADS_1


-Vote...Vote..


__ADS_2