
Hari telah berganti, waktu pun cepat sekali berputar. Di dalam pesantren Al-ikhsan Desi secepat mungkin merapikan meja kerja nya, girang sekali ketika sebelumnya Kristian mengirim pesan singkat pada nya.
"Aku menunggu mu di depan gerbang."
Desi pun membalas secepat kilat.
"Tunggu sebentar lagi. 5 menit lagi aku datang."
"Pengantin baru, senyum senyum sendiri."
Goda Ustadzah Mariska sambil meletakkan buku buku di meja kerja Desi.
"Ah, itu Ustadzah."
Kaget Ustadzah Mariska tiba tiba telah berada di depan meja kerja nya.
"Suami saya telah menunggu di luar."
Desi menjawab dengan tersipu.
Jadi salah tingkah sendiri kan.
Mengulurkan tangannya menyalami ustadzah Mariska, dan mencium punggung tangan Ustadzah disana.
"Ini untuk materi pembelajaran Minggu depan. Ustadzah Desi bisa membagi kan nya pada santri esok."
"Terimakasih Ustadzah."
Desi bangun dari duduknya, sedikit membungkuk disana.
Eh?
Desi terkesiap saat ustadzah Mariska Menyentuh bahu nya.
"Setiap pasangan pasti memiliki cobaan.
Hanya saja memiliki masing masing cara menyelesaikan nya. Bijak lah dalam bersikap, dan fikirkan dulu sebelum berkata."
Senyum tulus terpancar dari raut wajahnya.
Maksudnya?
Desi bingung mencerna ucapan Ustadzah Mariska.
"Saya permisi Ustadzah Desi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Desi masih bingung tidak mengerti ucapan Ustadzah Mariska tadi. Mengingat ingat yang apa yang Ia lakukan tempo hari sambil keluar dari area pesantren menuju gerbang.
"Mungkin karena ucapan ku pada Kristian tempo hari. Kristian membicarakan pada Ustadzah Mariska hingga beliau mengingatkan aku."
" Tapi mengapa mereka begitu dekat hingga Kristian membicarakan hal pribadi pada nya."
Desi mengingat ketika Ustadzah Mariska datang ke pernikahan nya di solo. Sebelum Ia tau Kristian akan datang melamar saja, Kristian telah membicarakan pada Ustadzah Mariska hingga beliau bersiap untuk menghadiri pernikahan kami.
"Desi."
"Ah, iya."
Ucapan Kristian membuyar kan lamunan.
"Maaf lama menunggu."
"Apa yang kau fikirkan? Ayo masuk."
Kristian membuka kan pintu mobilnya.
"iya"
Desi bergegas menuju mobil.
Mobil melaju dibawah tamaram sore, menjauh meninggalkan gerbang pesantren yang sudah tidak lagi terlihat.
"Sayang, Maafkan aku"
"Kau kenapa?"
Menoleh pada Desi kemudian menatap jalanan lagi.
"Aku hanya merasa bodoh dan seperti anak kecil. Maafkan aku."
__ADS_1
Menyinggung kejadian tempo hari tanpa berkata. Kristian bisa menangkap itu dari cara Desi bicara. Dia menyuruh Kristian melakukan sesuatu yang bahkan tidak Kristian dan dirinya sendiri ingin kan.
"Sudahlah, Aku sudah melupakannya."
Berbicara dengan menatap jalanan.
"Boleh aku bertanya?."
"Katakan."
Desi berfikir sejenak, mencari kata yang tepat , untuk bertanya. Takut menyinggung atau salah bicara.
Desi enatap jalanan yang telah diterangi lampu lampu yang mulai menyala. tamaran tergantii dengan malam.
"Ustadzah Mariska."
Kristian pun menjawab tanpa ditanya.
Bagaimana dia tau, itu yang ingin aku tanya kan sejak tadi.
Desi bergumam kemudian mengangguk.
"Dia keluarga ku."
Menjawab dengan pandangan tidak beralih kedepan.
"Eh?."
Desi tersentak menoleh pada Kristian.
Keluarga.
Apa maksudnya?
"Dia keluargaku saat di panti. Kakak perempuan paling besar di antara yang lain nya sebelum keluarga Ramadhian menjemput ku keluar dari yayasan."
Menjelaskan.
Desi mulai mengerti. Ustadzah Mariska memang lah mu'alaf. Tapi tidak menyangka jika beliau anak panti seperti Kristian yang dinikahi oleh kepala yayasan.
"Kita mau kemana?"
Melihat sekeliling jalanan bukan lah arah pulang kerumah atau ke apartement.
Berbicara sambil terus mengemudi.
Apa si, bikin penasaran saja.
Mobil terparkir di area strategis tidak jauh dari anak perusahaan milik keluarga Ramadhian.
Kristian turun dari mobil diikuti Desi yang masih tidak mengerti apa maksudnya.
Apa maksudnya ini
Menatap bangunan baru dengan interior yang indah hampir seperti restoran di Kairo tempat nya bekerja dulu.
"Kau pernah mengatakan impian mu memiliki restoran bukan?. Aku hanya berusaha mengabulkan keinginan mu."
"Keinginan ku?."
Desi menoleh pada Kristian.
Kristian mengangguk sambil mengusap kepala Desi yang tertutup hijab.
Ingatan nya kembali terngiang saat dirinya di Kairo. Mengatakan pada Kristian tentang impiannya.
"Aku harus bekerja keras mengumpulkan uang yang banyak. Agar jika nanti kembali ke Indonesia, Aku ingin memiliki usaha kuliner seperti mba Aisyah."
Berbicara dengan semangat ber api api kala itu.
"Mana semangat mu yang pernah kau tunjukkan pada ku."
Desi memeluk Kristian. Tubuh nya bergetar sesenggukan saat keharuan telah berada di pelupuk mata.
Impian yang telah Ia kubur dalam bahkan sudah tidak lagi mengingat nya.
Tapi ternyata Kristian memberikan apa yang lama Ia harapkan. Yang jika dihitung hitung gaji nya selama sepuluh tahun pun tidak akan mampu membeli tempat ini.
"Sebenarnya terbuat dari apa hati mu itu. Mengapa kau begitu baik pada ku, Yang sudah melukai mu berkali kali."
Kristian mengusap punggung Desi.
__ADS_1
"Karena aku menyukai mu, kenapa masih bertanya."
"A..."
Tangisan nya semakin mengeras.
"Sudahlah jangan terus menangis. Lihat orang yang lalu lalang menatap disekeliling mu."
Masih terus mengusap usap disana.
"Biarkan saja mereka."
Semakin mendekap erat tubuh Kristian.
"Kau yang menyuruh ku menikah lagi kan, Mengapa kau bertingkah seperti ini. Bagaimana jika aku melakukan nya."
Tersenyum sambil menggoda Desi disana.
"Apa!."
Desi melepas pelukannya.
"Enak saja, aku menarik kata kata ku tempo hari Aku juga tidak akan mengizinkan. Siapa juga yang mau berbagi suami seorang pria baik seperti mu!"
Suami idaman para wanita! Lebih tepat nya begitu.
Kristian tergelak meninggalkan Desi masuk kedalam. Menyisakan tawa kemudian berlalu begitu saja.
"Kau menyuruh ku menikahi wanita hamil kan?."
Hahaha
Tertawa mengejek sesuka hati.
Desi memajukan bibirnya mengikuti langkah Kristian. Komat Kamit kesal dibelakang punggung tegap itu
"Kau sedang mengucapkan mantra ya."
Apa kau memiliki mata di punggung mu!
"Mantra untuk mengikat mu!."
Desi semakin kesal karena terus saja diejek sesuka hati.
Namun kali nya terus masuk kedalam mengikuti Kristian.
Desi memandang sekeliling ruangan.
Rona cerah terpancar di wajahnya.
Aku akan memiliki restoran? Ya Tuhan, Apa ini mimpi.
"Kau bisa menata ulang tempat ini sesuai keinginan mu. Aku akan mengirimkan beberapa orang untuk membantu mu."
Aku tidak bermimpi.
"Terimakasih sayang."
Memeluk Kristian lagi, mengalungkan tangan di leher. Menyuruh Kristian sedikit membungkuk dan menghujani ciuman di pipi kanan dan kiri.
Muach.. Muach... Muach...
"Kau mulai berani menggoda ku ya."
Kristian mengangkat tubuh Desi duduk di atas meja.
"Bukan begitu cara berciuman."
menyentuh dagu Desi.
"ya?."
"Jika masih belum faham, biar aku ajari."
Kristian menutup bibir Desi dengan mata yang masih membelalak.
Ya, akhirnya terbawa suasana juga. Tautan yang dalam pun terjadi di dalam ruangan itu.
Ya Tuhan, Terimakasih.
Terimakasih karena telah memberiku anugrah yang bahkan aku saja tidak mampu membayangkan ini semua sebelumnya.
__ADS_1
Desi bergumam sambil menoleh pada pria yang fokus mengemudi menatap jalanan pulang menuju kerumah.
Next