
Pintu kamar terbuka. Kristian menoleh pada Desi yang telah rapih siap untuk pergi.
"Mau kemana?."
"Anda bilang mau kerumah Dady. Aku mau ikut."
Sumringah dengan wajah secerah mentari.
Walaupun sebenar nya nyali nya menciut ketika
menyebut Daddy pada tuan Ramadhian.
Desi masih tidak percaya jika sekarang menjadi menantu di keluarga terpandang di Negeri ini.
"Kau terlihat tidak nyaman saat berjalan. Maaf kan aku menyakiti mu."
Mendekati Desi dan memeluk nya.
"Apa sih,?. Itu wajar, semua wanita mengalami nya."
Desi melepaskan pelukannya dengan wajah yang memerah.
"Ayo bergegas, Abah kembali ke solo hari ini."
"Baik lah."
Kedua pengantin baru melangkah dengan tangan saling bertaut. Pintu lift terbuka sesaat setelah menunggu disana.
"Istri ku."
Kristian meraih bahu Desi untuk mendekat pada nya.
"Istri?"
Benar, aku sekarang jadi istri nya
Desi melihat Kristian yang tersenyum samar sambil menatap dinding lift yang memantulkan dirinya.
Desi menyandarkan kepala nya di dada Kristian.
"Terimakasih anda telah memilih saya untuk menjadi istri anda. Saya akan berusaha membuat anda bahagia."
"Benar kah? Maka tetaplah disisi ku dan jangan ada lagi air mata kesedihan dari mata mu."
Kristian menyentuh dagu Desi.
Muach..
Mencium bibir Desi tanpa aba aba.
"Dengan begitu aku akan bahagia."
Mengusap bibir Desi yang basah dengan ibu jari nya.
Desi hanya diam mematung dengan dada yang masih berdebar.
Kristian tergelak menahan tawa.
"Aku selalu tau dimana titik kelemahan mu."
Pada akhirnya aku bisa dengan bangga berkata pada Dunia.
Aku adalah istri dari Kristian.
Desi menarik nafas lega ketika melihat Kristian yang tertawa.
Ya Tuhan, itu manis sekali.
"Tidak perlu memakai bahasa formal. Biasa saja seperti dulu kita saling mengenal."
"Eh?."
Desi bingung.
"Kau"
Kristian menunjuk Desi
"Aku."
__ADS_1
Kemudian menunjuk dirinya sendiri.
Pintu lift terbuka.
Kristian melangkah bersama Desi di samping nya dengan tangan terus saling menggenggam.
Menuju mobil yang terparkir disana.
Mobil melewati ramai nya hilir mudik kendaraan di kota yang menjadi pusat perekonomian di negara ini. Siang ini tidak seperti biasanya. udara lebih sejuk karena langit mulai mendung dan seperti nya segera turun hujan.
Mobil berhenti di depan gerbang tinggi kediaman Ramadian.
Security membuka pintu gerbang, sedikit membungkuk menghormati mobil yang baru saja masuk kedalam.
"Assalamualaikum."
Pintu utama tidak tertutup,Desi dan Kristian masuk mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam sayang."
Nyonya Ramadhian mendekati Desi dan Kristian yang baru saja datang.
Desi dan Kristian menyalami dan mencium punggung tangan Nyonya Ramadhian disana.
"Mommy senang kalian datang."
Berbicara kemudian memeluk Desi.
Mommy bahkan tidak sedikit pun mempermasalahkan status aku yang telah janda sebelumnya. Apa lagi tentang status sosial. Mommy benar benar menerima ku sepenuh hati.
"Dimana Daddy?."
Kristian memandang sekeliling tidak ada siapapun di rumah utama.
"Di taman belakang, Mari kesana."
Ujar Nyonya Ramadhian sambil melepas pelukannya.
Desi mengikuti Kristian dan Mommy menuju taman belakang tempat biasa Kristian menghabiskan waktu di rumah ini.
Taman belakang berada di samping rumah belakang tempat tinggal para pelayan dan sopir
" Kemarilah, Kami baru saja membicarakan kalian."
"Oh ya,?."
Kristian berkerut dahi. Menghampiri Tuan Ramadhian dan duduk di sana.
"Abah pulang hari ini?."
Desi bertanya pada Abah.
"Besok saja, cuaca hari ini tidak mendukung."
Melihat langit yang mendung seperti nya akan segera turun hujan.
"Berusaha lah jadi Istri yang baik. Kau lihat, Nak Kristian dan keluarga nya menerima mu dengan hati yang tulus."
Lirih Abah pada Desi yang berada di sampingnya.
"Desi akan berusaha Abah."
Desi mengangguk mengerti.
Pada Ahir nya keluarga Ramadhian sudah tahu penyebab perceraian Desi dan suami nya. Kemarin ketika Desi dan Kristian pergi menuju apartement, Bu Inah bertanya langsung pada Abah.
"Maaf jika saya lancang, mengapa Desi berpisah dengan suami nya. Saya tahu Desi itu anak yang baik dan Faat pun juga Demikian."
Tanya Bu Inah.
"Ibu.."
Aisyah keberatan Bu Inah bertanya tentang itu pada Abah, Ayah dari Desi.
"Tidak, apa apa Nak Aisyah."
Abah pun menceritakan semua nya. Tentang tulus nya Faat melepaskan Desi karena ketidak mampuan nya memberikan kewajiban sebagai seorang suami pada Desi kala itu.
***
__ADS_1
Hujan turun dan semakin deras. Petir menggema di langit yang tampak gelap di malam yang telah larut.
"Kau bisa menginap disini. Sudah ku pasang peredam suara di kamar mu."
Farel berkata sambil berlalu begitu saja menuju kamar nya.
"Kau mengerti juga yang aku inginkan."
Mengerling kan sebelah mata nya pada Desi.
"Apa sih.,"
Desi melengos memalingkan wajahnya.
Kristian membawa Desi menuju kamar nya.
"Sudah malam, Kita menginap saja."
Desi dan Kristian yang awal nya ingin pulang ke apartement, mengurung kan niat nya.
"Ini kamar anda?."
Desi mengedarkan pandangan.
Kamar mu bahkan lebih besar dari rumah ku yang di solo.
Aroma maskulin khas Kristian semerbak disana.
"Ya."
Kristian merebahkan diri merentangkan tangannya.
"Disini nyaman sekali."
Desi duduk di tepi ranjang.
"Tidak nyaman jika selalu tidur sendiri."
Menarik tangan Desi. Membuat nya jatuh dalam dekapan Nya.
"Aku ingin mandi bersama mu."
Berbisik pada Desi.
"Hujan nya deras sekali, lebih baik tidur saja. Lagi pula saya tidak membawa baju ganti."
Mengusap usap dada Kristian.
"Terlalu banyak alasan."
Kristian mengambil tangan Desi dan menggigit nya gemas.
"Aww"
"Ini KDRT Nama nya."
Desi mencubit pipi Kristian.
"Kau manis sekali."
Kristian mengecup Desi dan menautkan bibir nya.
Sambil menggeser tubuh Desi kemudian me nin..dih nya.
"Kita mandi bersama."
Berbisik pada Desi kemudian meraih Desi manggendong nya.
"Turun kan aku."
Berbisik di telinga Kristian dan menggigit nya membuat Kristian bergedik.
"Kau yang memancing, Jangan salahkan aku jika kau tidak tidur semalaman."
Senyum kemenangan mengembang.
"Tidak. Turun kan aku sekarang."
Kristian tidak mengindahkan. Ia membawa Desi masuk kedalam kamar mandi kemudian menjalani ritual mandi bersama....
__ADS_1
Adegan mandi nya lanjut besok...wkwkwk
Terimakasih telah membaca..