Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
lele


__ADS_3

Kristian keluar dari dalam rumah Abah diikuti Bodyguard. Setelah jarak mereka aman baru Kristian memberi perintah.


"Tinggalkan tempat ini, Awasi saja dari jauh tunggu perintah dari ku selanjutnya."


"Baik tuan."


Dua Bodyguard segera pergi membawa mobil yang tadi mereka naiki.


Kristian berbalik bersamaan dengan mobil yang melaju berlalu dari sana. Sedangkan Kristian menuju teras rumah Desi kemudian duduk di kursi kayu sambil mengeluarkan ponsel nya


memeriksa beberapa file yang asisten nya kirim kan siang tadi.


Kristian tampak fokus disana, sedangkan Desi masih di dalam berbincang dengan Abah.


***


Di dalam rumah.


"Abah, boleh kah Desi melihat figura itu?"


Desi sedikit memohon.


Abah berkerut dahi."cek pemberian nak Kristian maksud mu?."


Desi mengangguk."Desi hanya ingin sekedar melihat, Abah bilang tidak tau nominal nya kan."


Berkata dengan sopan.


"Baiklah, Abah tunjukan."


Abah bangun dari duduknya di ikuti Desi dari belakang.


Melangkah menaiki anak tangga.


"Abah hanya menunjukkan pada mu, namun akan Abah kembalikan jika kelak kau memiliki buah hati."


"Abah tidak mau menerima itu, pemberian dari Nak Kristian sudah jauh lebih dari kata cukup."


Ujar Abah sambil menaiki anak tangga.


"Hengki dan Harli masih bekerja?."


Tanya Desi sambil terus mengikuti Abah nya menuju kamar.


"Masih, Abah masih tetap meminta adik adik mu untuk berusaha mandiri. Meski nak Kristian berusaha membayar biaya kuliah adik adik mu, Abah tetap tidak setuju bahkan melarang nya. Biarkan Adik adik mu berusaha. Seperti saat kau mulai sekolah menengah, kau juga bekerja di rumah Nak Aisyah."


Abah berbicara panjang lebar sambil melangkah hingga berhenti di depan pintu.


Abah mengeluarkan kunci kamar, memasukan kunci itu dan memutar nya. Pintu pun Ahir nya terbuka.


Desi mengulas senyum melihat Abah nya yang begitu berhati hati melarang siapapun masuk kedalam kamarnya tanpa izin dan pengawalan Abah sendiri.


Desi memasuki kamar Abah, dengan furniture bernuansa klasik terbuat dari kayu jati yang di ukir.


"Mengapa Abah tidak tidur di kamar utama?."


"Nduk, Abah lebih suka disini. Kamar utama itu milik mu dan Nak Kristian. "


Ujar Abah sambil naik ke atas ranjang berdiri menjinjit meraih figura yang di dalam nya terdapat Cek dari Kristian.


Abah benar benar menyimpan nya dengan baik dan menganggap sangat berharga.

__ADS_1


"ini nduk, bacakan untuk Abah."


Desi menyentuh figura itu, mengusap pipi yang lagi lagi basah.


"Berapa itu nduk, kenapa kau jadi menangis."


" 10 Milyar Abah, Kristian memberi uang 10 Milyar untuk Abah."


Jawab Desi sambil mengusap pipi lagi dan lagi.


"Apa?Subhanallah....Abah tidak bisa memakai nya. Tidak akan pernah Abah pakai."


Tegas Abah.


"Berikan pada Abah, ini akan Abah simpan untuk cucu Abah, Jika kau memiliki anak dengan Kristian kelak."


Meraih figura secepat nya memasuk kan kedalam lemari mengunci lemari itu kemudian kunci nya langsung di cabut di letak kan di bawah bantal.


Desi tergelak melihat tingkah Abah.


"Abah berjaga jaga untuk menghindari maling!."


tegas Abah.


"Oh ya nak, Jika suatu saat nanti kau melahirkan namun sudah tidak ada Abah di samping mu. Abah akan berwasiat pada Hengki dan Harli."


"Abah.."


Desi terenyuh kemudian menyandarkan kepala nya di bahu Abah.


"Tugas Abah sudah hampir selesai, kau sudah menikah dan bahagia atas pernikahan mu. Memiliki suami yang tulus mencintai mu seperti ibu mu tulus mencintai Abah dulu. Ini cara Abah membalas cinta Ibu mu untuk setia selamanya pada Ibu mu hingga malaikat menunaikan tugas nya mencabut nyawa Abah.


Ujar Abah sambil mengusap pipi Desi.


"Abah jangan bicara begitu."


"Jadilah istri yang baik nak. Seperti Ibu mu, Ia seorang wanita istimewa."


***


Kristian masuk ke dalam rumah ketika pekerjaan nya selesai.


Mengedarkan pandangan tidak ada Abah dan Desi disana.


Tidak lama terdengar suara motor parkir di depan teras, seseorang masuk kedalam rumah setelah berucap salam


Kristian pun menjawab salam dari Hengki dan Harli.


Adik adik Desi terkesiap melihat siapa yang menjawab salam.


"Mas Kristian?."


Hengki dan Harli menyalami Kristian mencium punggung tangan nya disana.


"Mas Kristian sudah lama? Apa kabar nya mas?."


"Alhamdulillah, seperti yang kau lihat."


Balas Kristian.


Bagi Hengki dan Harli Kristian adalah sosok pahlawan untuk mereka, tidak heran jika Hengki dan Harli begitu sangat sopan dan menghormati nya.

__ADS_1


"Kalian sudah pulang?."


Tanya Desi sambil menuruni tangga bersama Abah.


"Mba Desi."


Antusias Hengki dan Harli menyalami Desi juga mencium punggung tangan nya diikuti Harli.


"Abah hampir lupa, Sore tadi belum memberi makan mereka."


Abah melangkah menuju pintu kaca dan menggeser nya. Terdapat kolam renang di sana juga taman indah yang tidak terlalu besar di belakang.


"Mba Desi dan mas Kristian pasti akan heran jika tahu Abah memiliki anak lain yang diperlalukan sangat istimewa."


Ujar Hengki memilih naik keatas menuju kamar.


Sedangkan Harli mengikuti Abah di belakang nya.


Desi pun menarik tangan Kristian mengajak nya mengikuti Abah.


Mulut Desi menganga, begitu juga dengan Kristian memijat pelipisnya, ingin sekali tertawa tapi sungguh takut dosa saat Abah memberi makan anak anak nya yang jumlah nya 2000ekor. Meski terdapat banyak daun keladi di atas nya namun anak anak Abah seperti nya lebih suka Pur( Makanan ikan.).


Ya, Abah memelihara ikan lele di dalam kolam renang. Kolam renang itu cukup besar mampu menampung 2000 ekor ikan lele. Akan Abah panen setelah 4 sampai 5 bulan kemudian. dan selalu akan begitu seterusnya.


Desi menggeleng kan kepala."Mengapa Abah memelihara lele disini?."


"Ini kan...."


Belum sempat Desi menyelesaikan ucapannya Abah secepat kilat menyambar.


"Kolam renang, Abah tahu!. Tapi apa kalian Fikir Abah yang sudah setua ini akan berenang?


Sangat kurang kerjaan jika Abah membuka pakaian mengenakan kolor nyebur ke dalam Air,!!."


"Kalian yang tidak masuk akal membuat kolam renang untuk Abah!."


"Dari pada sia sia, ya mending di pakai buat pelihara lele."


"Kalian liat, lele ku sangat manja tidak mau makan daun keladi yang Abah bawa dari sawah. Lebih suka makanan ikan buatan pabrik. Apa mungkin ini lele terlahir dari benih luar negeri sehingga sangat pintar?!."


"Hahahaha"


Kristian dan Harli sungguh tidak mampu lagi menahan tawa. Terus terbahak bahak hingga menahan perut nya.


Desi seperti mau pingsan melihat tingkah Abah yang diluar akal kemanusiaan. Sedangkan Kristian berhenti tertawa saat Desi mencubit perut nya.


"Aww.. Sakit Desi."


"Diam! Jangan tertawa.'


Kristian terbahak bahak lagi melihat Abah berbicara dengan para lele.


"A....."


Menyuapi lele lele di dalam kolam renang.


-


-


Next

__ADS_1


__ADS_2