
Security membuka gerbang pesantren saat mobil Kristian masuk yang sebelumnya menurunkan kaca memberikan paper bag oleh oleh yang Desi bawa dari Tokyo kemarin
"Terimakasih tuan, nona."
Membungkuk disana, tidak berani menatap Desi sebab ada Kristian disampingnya.
Mobil memasuki area pesantren memarkirkan di sisi kiri area parkir para guru di sana.
Kristian mengeluarkan beberapa paper bag yang sengaja Desi akan bagi bagikan untuk Ustadzah di kantor.
Tok..tok .
Desi diikuti Kristian memasuki ruangan Ustadzah Mariska.
"Assalamualaikum."
Ujar Desi.
"Wa'alaikumsalam, Silahkan masuk."
Jawab Ustadzah Mariska dari dalam.
"Yang habis berbulan madu, Mana oleh oleh nya" Tersenyum berbasa basi sambil bangkit dari duduknya memeluk Desi
"Eh?."
Desi menoleh pada Kristian, Dengan Kristian hanya mengherdik kan bahu.
"Selamat anda sebentar lagi jadi seorang Ibu."
Ustadzah Mariska mengusap perut Desi yang masih rata.
"Terimakasih Ustadzah, tapi mengapa anda bisa tahu? Apa.."
Belum selesai Desi bertanya Ustadzah Mariska telah menjawab.
"Kristian keluarga ku, wajar jika berbagi kebahagiaan bukan.?"
Ustadzah Mariska melepas pelukannya.
"Silahkan duduk."
Ustadzah Mariska mempersilahkan duduk kemudian kembali ke tempatnya.
"Ini untuk anda Ustadzah, mudah mudahan anda suka."
Mengulurkan paper bag pada Ustadzah Mariska.
Ustadzah Mariska meraih itu dan membuka nya.
"Wow, ini manis sekali. Terimakasih Ustadzah Desi "
Mengembangkan senyum manis nya.
"Sama sama."
"Oh ya Ustadzah, ada yang ingin saya sampaikan."
Desi berkata ragu.
" Berikan surat pengunduran diri yang kau bicarakan Kris, aku akan menerima nya dan mengirimkan gaji terahir beserta pesangon ke rekening Ustadzah Desi di Ahir bulan sesuai prosedur."
"Eh? Anda sudah tahu Ustadzah?."
Desi memastikan.
Ustadzah Mariska mengangguk, " Saya sudah seperti Ibu kedua untuk suami anda. Bagaimana dia mencintai anda pun aku sangat faham."
Begitu ya
"Saya menerima pesangon dan juga gaji terahir saya, namun saya berniat untuk menyumbangkan nya ke pesantren ini. Juga ini, mohon diterima. Semoga bisa bermanfaat."
Desi mengeluarkan amplop coklat berisi gaji nya selama mengajar di pesantren itu untuk Ia sumbangkan saja, karena pemberian Kristian jauh lebih dari yang sudah Ia miliki.
Meski Desi hampir tidak pernah menggunakan uang Kristian karena semua yang Ia butuhkan telah Kristian siapkan.
__ADS_1
Bahkan pakaian dalam pun Kristian yang membelikan nya untuk ku.
Pada awal pernikahan dibuat bingung karena Kristian mendatangkan sikat gigi yang dirancang khusus untuk Desi yang harga fantastis setara dengan gaji Desi sebulan.
Kalau difikir Fikir menggunakan sikat gigi murah atau mahal kan sama saja, tidak akan mungkin menjadikan gigiku sebening emas dan berlian kan?!
Ustadzah Mariska menerima pemberian dari Desi mewakili pesantren.
Kemudian Desi bersama Ustadzah Mariska juga Kristian menemui Ustadzah yang lain untuk berpamitan dan memohon maaf.
Juga memberikan kenang kenangan yang Ia bawa dari negeri sakura kemarin.
Desi juga berpamitan dengan para santri yang menghambur memeluk nya sambil menangis.
"Sering sering lah berkunjung kemari Ustadzah."
Ucap salah satu santri.
"Insya Allah."
Selalu ada Drama menangis dan mengharu biru
antara wanita ketika berpisah.
Drama itu pun terjadi di sana antara Desi dan para Ustadzah juga para santri.
Melambai pada Desi yang juga melambai pada mereka dari dalam mobil.
"Ustadzah, kami akan merindukan mu."
Salah satu santri berteriak ketika mobil Kristian perlahan menjauh.
"Kami akan merindukan mu Ustadzah,?!."
Santri itu berteriak sambil berlari kearah mobil yang telah menjauh.
Santri itu terduduk sambil mengusap pipi nya yang basah.
Di dalam mobil Desi terus sesenggukan, menggigit bibir bawah nya menunduk dengan air mata yang menetes di paha membasahi gamis yang Desi kenakan.
Desi tidak meng idahkan ucapan Kristian, terus menangis dan menggigit bibirnya.
Kristian hanya Diam menatap nya Iba, menepikan mobil nya untuk berhenti.
Mengulurkan tisu untuk Desi mengusap air mata nya.
"Pakai ini, lihat pakaian mu jadi basah."
Kristian mengulas senyum ketika Desi meraih tisu dari tangan nya mengusap mata yang terus menerus mengeluarkan air mata.
Kristian meraih Desi masuk kedalam dekapannya" Aku tidak tahan jika kau terus menerus menangis."
Mengecup pucuk kepala Desi.
"Maaf membuatmu berpisah dengan orang orang yang kau sayangi, tapi ada kau dan juga dia yang harus aku jaga dan Aku lindungi."
Kristian mengusap perut Desi.
Kristian benar, Ada dia di rahimku yang juga harus Ia jaga. Kristian sangat mencintai ku juga
anak nya, Aku tidak boleh cengeng atau terlalu manja. Walau bagaimanapun Aku sudah banyak menyusahkan nya.
"Sayang maafkan aku. Terlalu terbawa perasaan hingga menangis begini."
Mengusap usap dada Kristian tempat nya menyandar.
"Tidak apa, Sudahkah."
"Kau lihat Nak, Daddy mu selalu yang terbaik."
Mengusap usap perut nya.
"Tentu saja."
Kristian melepaskan pelukan. Mulai melajukan mobil nya lagi.
__ADS_1
"Aku akan ke kantor, ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani. Kau bisa ikut dan beristirahat di sana ada kamar tempat ku beristirahat kau bisa tidur disana."
Mengusap kepala Desi Kemudian Fokus mengemudi.
Desi mengangguk mengiya kan.
"Apa kau mual?."
Tanya Kristian menoleh ke arah Desi kemudian menatap jalanan lagi.
"Tidak, tidak semua wanita hamil merasa mual bukan?! Dokter Laure telah menjelaskan sebelum nya "
Kristian mengangguk "Minta lah apapun yang kau inginkan, Akan aku berikan apapun itu selama masih dalam taraf masuk akal dan tidak membahayakan mu."
"Apapun?."
Desi sumringah.
"Apapun asalkan bukan menyuruh ku menaiki roket terbang ke bulan untuk mengambil kerikil disana untuk kau koleksi."
Berkata tanpa ekspresi masih terus menatap jalanan.
"Hahaha."
Desi tertawa kemudian menutup mulut nya.
"Yang benar saja, Jika aku menyuruh mu ke bulan mungkin kau belum kembali saat aku melahirkan. Atau tertarik dengan Alien dan menikahi nya disana. Lalu bagaimana dengan ku?."
Menggerutu memajukan bibir nya.
Kristian tergelak, tertawa di dalam mobil yang telah sampai di area parkir sebuah gedung perusahaan milik Keluarga Ramadhian.
Kebahagiaan macam apa ini. Aku sangat beruntung bisa di samping mu, dicintai oleh mu
bahkan ada dia di rahim ku buah cinta dari mu.
I love you Kristian...
"kau bilang aku boleh minta amapun?."
Kristian mengangguk.
"Ya, apapun."
"Sejak masih di Tokyo aku membayangkan memakan itu hingga air liur ku menetes."
Menatap Kristian sambil tersenyum memperlihatkan gigi giginya.
"Sampai seperti itu? Kenapa tidak bilang."
Melepas seat belt hendak turun dari sana.
"Rujak tumbuk dan kau yang menumbuk nya. Jangan lupa di kasih mengkudu gula dan cabai nya yang banyak agar lebih pedas."
"What???!!!"
"Kau tidak mau?."
"Yang benar saja, Dari mana aku cari mengkudu dan penumbuk nya di jam segini."
Kristian mendengkus.
"Lagi pula apa kata dunia jika CEO menunbuk rujak di dalam kantor."
" Katakan jika kau keberatan."
Membanting pintu keluar meninggalkan Kristian.
"Astaga?!! sayang.. Tunggu, Baik lah aku akan buat kan untuk mu!."
Kristian memekik berlari menyusul istri nya.
-
-
__ADS_1
Next