Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
cemburu


__ADS_3

Kristian menggandeng tangan sang istri menaiki pesawat pribadi miliknya, Sebenarnya sedikit Desi bingung mengapa pesawat ini masih ada, bukan kah telah di bawa untuk mengantarkan Mommy dan Daddy ke Mesir?


Mana mungkin Mommy dan Daddy naik pesawat umum.


"Ada apa?."


Menyandarkan diri di sofa.


"Tidak ada, "


Desi menggeleng kan kepala.


Sementara pesawat mulai mengudara Meninggi menjauh dari Ibu kota Jakarta


"Kau memikirkan sesuatu?."


Kristian berkerut dahi menoleh pada Desi kemudian mengajak nya duduk di atas sofa di dalam pesawat.


"Aku hanya berfikir mengapa tidak naik fasilitas umum saja."


"Kau akan kelelahan jika harus mengikuti prosedur mengantre saat check in masih harus menunggu dan menunggu prosedur ini dan itu belum lagi barang yang kau bawa cukup banyak."


"Lagi pula aku jadi tidak bisa memeluk mu sesuka hati bukan?."


Merebahkan tubuh nya di sofa menjadikan paha Desi sebagai bantal.


"Lalu Daddy dan Mommy?!."


Menunduk menatap Kristian.


"Kau mencemaskan mereka?. Tenang lah, Daddy dan Mommy menggunakan pesawat pribadi dengan fasilitas jauh lebih dari yang kita naiki. Daddy memberikan ini untuk kado pernikahan kita. Jadi ini juga milik mu."


Memiring kan tubuh nya menghadap Desi sambil terus menciumi perus istri nya.


,"Daddy juga memberikan yang sama untuk Farel."


Kristian menarik nafas nya panjang kemudian menghembuskan nya.


"Aku jadi teringat Farel adik ku yang selalu ku panggil tuan saat di kantor."


Kristian dan Desi saling diam ketika seorang pramugari meletak kan susu juga beberapa cemilan di atas meja.


" Sudah waktunya Nona meminum susu nya.'


Ujar nya ramah.


"Terimakasih" Balas Desi sambil tersenyum manis disana.


Pramugari pun membungkuk ramah sambil tersenyum meninggalkan mereka.


Desi pun menghabiskan segelas susu yang dibuat khusus untuk ibu hamil.


Memakan cemilan yang ia pramugari bawakan untuk nya.


***


Armada besi baru saja mendarat sempurna, Dua bodyguard telah mengunggu Desi dan Kristian sambil menurunkan barang bawaan Desi menuju ke dalam mobil


Bodyguard itu saling pandang mengapa Tuan dan nona nya tidak kunjung keluar dari pesawat.


"Apa yang terjadi dengan tuan dan nona? "


Salah satu bodyguard bertanya pada rekan nya.


"Aku khawatir terjadi sesuatu."


Balas nya.


"Ayo kita Lihat"


Salah satu dari mereka bergegas menaiki tangga masuk kedalam pesawat.


Bodyguard ternganga seketika berbalik dengan wajah yang sulit di artikan.


"Apa yang terjadi?."


Rekan nya lebih cemas bergegas memasuki pesawat itu juga.

__ADS_1


Sial!!


Seketika bodyguard berbalik melihat pemandangan live Desi sedang berada di atas tubuh Kristian menautkan bibir mereka dengan lidah menyeruak kedalam.


Mata keduanya memejam namun tangan Kekar Kristian berada di dalam pakaian yang Desi kenakan. Menyentuh area faforite yang kenyal dan sensitif.


WOI ..!! Bisa bisa nya tidak menyadari jika pesawat telah mendarat.


Umpat bodyguard kesal.


Pada akhirnya mereka pasrah menunggu hingga 10 menit kedelapan.


Desi melepaskan bibirnya, turun dari atas tubuh Kristian kemudian perapian pakaian juga hijab pashmina nya.


Kristian pun bangun dari tidurnya merapikan jas yang melekat di tubuh nya.


"Sayang, ayo turun."


Desi menyentuh lengan Kristian sambil keluar dari pesawat kemudian menuju ke mobil yang telah di siapkan dengan dua Bodyguard. Salah satu berperan sebagai Sopir.


"Silahkan tuan, nona."


Bodyguard membukakan pintu mobil untuk Kristian dan Desi masuk kedalam.


"Semoga perjalanan anda menyenangkan tuan."


"Terimakasih."


Balas Desi namun Kristian hanya diam tidak bergeming.


Mobil pun melaju dibawah mentari yang mulai terik. Desi menatap kesamping kaca mobil tidak henti henti nya senyum itu mengembang di bibir.


"Aku harus meninjau salah satu hotel disini, hanya 15 menit, jika kau bosan kau bisa ikut dengan ku."


Menyentuh dagu Desi.


"Aku menunggu di mobil saja."


"Baik lah Desi, aku tidak akan lama."


Mengusap pipi Desi kemudian mengecup bibirnya.


Kristian keluar dari dalam mobil setelah mobil itu menepi di area parkir hotel berbintang dan bodyguard membukakan pintu.


Kristian mesasuki hotel dengan Desi melihat di punggung Kristian.


Desi memainkan ponsel nya. Hanya sekedar basa basi mengetik nama Tuan Ramadhian.


Desi membelalak kemudian menutup mulut nya."Ternyata aku menikah dengan keluarga yang hampir nomer satu terkaya di negara ini."


Desi menelan Silva.


Glek..


Desi mulai bosan, Kristian belum juga selesai padahal Sudah lebih dari lima belas menit Ia berada di dalam.


"Aku keluar sebentar."


Desi mbuka pintu mobil


Desi di tertegun tidak percaya, saat ia melihat pria yang sejak lama tidak Ia lihat datang mendekat.


" Assalamualaikum Desi apa kabar mu."


"wa'alaikumsalam salam mas Faat. Alhamdulillah sehat, mas sendiri?"


Balas Desi dengan senyuman.


"Seperti yang kau lihat. Kau disini?" Faat berkerut dahi.


"Iya, suami ku ada di dalam.,"


Menunjuk ke dalam hotel.


"Oh, ya aku hampir lupa. hotel ini juga milik keluarga Ramadhian."


Melihat kearah hotel.

__ADS_1


"Mas, apa kabar Mai? Apa dia sehat?."


"Alhamdulillah sehat, nanti malam syukuran atas usia kandungan Mai yang menginjak 7 bulan."


Faat menjelaskan tanpa di tanya. Mungkin berniat memberi tahu secara tidak langsung agar Desi tahu jika Faat telah sembuh.


"Hamil, 7bulan?."


Selamat ya....


"Maaf apa yang sedang Kalian bicarakan seru sekali?! "


Entah sejak kapan Kristian berdiri di belakang Desi


Faat jadi merasa sungkan apa lagi Desi merasa tidak enak hati.


Faat beramah tamah kemudian sedikit membungkuk pergi dari hadapan Kristian.


Sedangkan Kristian masuk kedalam mobil tanpa sepatah kata pun.


Desi mengikuti Kristian masuk ke mobil nya mendekatkan tubuh nya menyandar pada lengan Kristian yang diam tanpa ekspresi.


Mobil pun perlahan melaju. Kristian hanya diam


sibuk dengan gaway nya tidak meng idahkan Desi yang memperlihatkan rasa tidak enak terus menempel di lengan.


"Sayang,?."


Desi memecah keheningan.


Tidak ada respon dari kubu sebelah.


"kau marah?


Menoleh pada Kristian sedikit mendongak.


Masih tidak ada jawaban.


"Huh..."


Desi menghela nafas.


"Maafkan aku."


Desi pun kemudian menunduk.


"Aku tidak berkata apapun mengapa kau merasa bersalah."


Kristian bergedik.


"Sayang maafkan aku ku mohon."


Desi menatap Kristian yang tidak menoleh dia sedikit pun.


"Pertemuan tadi hanya Lah kebetulan."


"Apa kau kira aku perduli."


Menghela nafas nya panjang.


"Sayang kau cemburu? Katakan jika kau cemburu."


Desi malah jadi antusias.


Menggoyang goyangkan tubuh Kristian terus mengoceh agar Kristian mengakui rasa cemburu nya.


Bangkit mencium pipi kanan dan Kiri Kristian yang masih tidak bergeming.


"Kita lihat saja sampai dimana pertahanan mu."


Desi tidak menghiraukan ada bodyguard di cabin depan. Ia menaiki Kristian duduk di pangkuan nya menghujani Kristian dengan ciuman di seluruh wajah nya.


Desi ******* bibir indah itu dengan lembut dan sial nya Kristian pun membalas nya membuat seringai kemenangan di bibir Desi.


-


-

__ADS_1


-Next


__ADS_2