
Sepertiga malam terakhir Desi seperti biasa melaksanakan ibadah bersama Kristian, menunggu waktu subuh sambil melantunkan ayat suci.
Melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim setelah adzan subuh berkumandang.
"Ahir pekan ini aku mau dikamar saja bersama mu"
Kristian meluruskan otot otot nya merebahkan diri di ranjang.
Dikamar saja? Memang nya apa yang akan kau lakukan seharian dikamar ini?.
"Tapi.. Kita akan melewatkan sarapan bersama Mommy dan Daddy."
Berfikir mencari alasan agar bisa keluar kamar.
"Kau mau cari cari alasan untuk kabur, Hm,?"
Bangun dari tidurnya menuju Desi yang sedang
duduk di depan meja rias memoles wajah nya.
"Aku akan menyuruh pelayan mengantar sarapan mu ke kamar."
Mengangkat tubuh Desi membawa nya ke atas ranjang. Dengan tubuh Kristian menind*h diatas nya.
Ha..Kau mau apa sih
Kristian menyimpulkan rambut Desi dan menyelipkannya di telinga.
"Sayang kau mau apa?"
"Aku mau dirimu."
Berbisik di telinga.
"Apa sih"
Desi melengos memalingkan wajahnya.
Seringai kemenangan muncul di bibir Kristian.
"Semalam kan Sudah"
Desi bergedik merinding ketika tangan Kristian mulai masuk kedalam piyama nya.
"Weekend ini kau milikku"
Berbisik lagi di telinga, dengan lidah mulai menggelitik disana.
Biasa nya kan memang selalu begitu. Bukan hanya weekend aku milik mu. Hari hari biasa pun juga milikmu. Dasar Kristian!
"Au!"
Desi menjerit kecil ketika tangan kekar itu merem*as bukit lembut milik nya.
Desi memukul bahu Kristen namun tidak sakit.
"Sayang!."
"Pakaian mu menyusahkan sekali. Membuatku harus bekerja keras."
Bekerja keras apa nya?! Ini kan hanya piyama
Eh?! Tunggu! Mau apa Dia pagi pagi begini.
Menatap curiga pada Kristian suami nya.
"Mengapa melihatku begitu."
Mengusap lagi rambut lurus Desi menyisir rambut lembut itu dengan tangan.
"Pakailah yang sudah aku siapkan untuk mu saat kita berada Di kamar."
Kristian menciumi leher Desi saat kancing piyama mulai terbuka satu persatu.
__ADS_1
Lingerie? Oh No..
"Ini peringatan resmi dari ku ya. Sebaik nya kau jangan membangkang."
Berbisik di telinga dengan lidah mulai bekerja.
Aaa Memang ada perintah begitu an!
Desi merem*as rambut Kristian saat lidah nya mulai menyesap bukit ke*nyal milik nya. Dengan tangan kiri Kristian me..re..mas bukit Ken"yal di sebelah nya.
Terdengar De..sa..Han kecil di telinga Kristian saat tangan kanan itu masuk kedalam celana da lam. Terus me..re..mas hingga muncul suara suara laknat memenuhi ruangan.
"Sayang..MMM"
Secepat kilat Kristian meringsut membungkam Desi dengan bibir Kristian menutup bibir nya.
Ciuman pun terjadi di sana. Dengan tangan Kristian me..re..mas bukit ken*Al itu yang tertutup Cup ungu senada dengan ce..la..na da*lam nya.
Tautan Keduanya semakin mendalam hingga lidah bermain berbelit disana. Tangan kekar itu terus meremas bukit ken*yal dan melepas cup penutup yang mengganggu nya Melempar sembarang arah.
"Sayang.."
Desi berkali kali memanggil Kristian dengan de..sa..Han yang mendayu memenuhi ruangan
saat lidah itu menelusuri leher menyesap menciptakan tanda tanda hingga ke dada.
"Agh..."
Lidah Kristian bermain di atas bukit Ken*yal, mere*mas dan me..nye..sap memainkan lidah nya di sana.Sesapan di bukit Ken*yal itu semakin membuat de..sa..Han mendayu memenuhi ruangan.
Tangan Kristian mulai me..Ra..ba kebawah sana, melepas segi tiga yang menutupi inti dari Desi. Hingga tubuh mulus terekspose sempurna.
Kristian menanggalkan pakaiannya satu persatu. Menyisakan tubuh kekar atletis yang siap mengukung dan menind*ih Desi dengan tangan menahan.
"Aku mencintaimu."
Kristian mengusap pipi Desi dengan tangan nya. Menyatukan bibir mereka meresapi rasa cinta yang dalam.
Rasa hangat dan nikmat memenuhi inti dan menjalar ke seluruh tubuh.
Milik Kristian telah terbenam sempurna.
Kristian mulai menggoyangkan memompa dengan ritme lambat sambil tangan terus mere*mas bukit kenyal menantang itu.
Des..ahan demi desa..Han mendayu di telinga Kristian, yang seolah memicu adrenalin memompa dengan ritme yang lebih cepat.
Tetesan peluh membasahi dahi dan pelipisnya.
'Aagh.."
Kristian semakin mempercepat ritme nya. Saat Desa..han kedua nya menggema memenuhi ruangan. Rasa nikmat tidak lagi terelakkan pun menjalar di seluruh tubuh nya.
Hingga Kristian dan Des Ahir nyai meledak bersama.
Kristian menautkan bibir nya dengan bibir milik Desi.
"Terimakasih sayang."
Kristian mencium mata kanan dan kiri Desi Kemudian menarik selimut menutupi tubuh polos nya dan Desi yang kemudian merebah di atas ranjang.
***
Tuan dan nyonya Ramadhian telah menunggu di meja makan. Pelayan telah menyiapkan hidangan berjajar rapi di meja.
"Mana anak kesayangan mu mom? Jam segini belum juga keluar dari kamar."
ujar tuan Ramadhian.
"Tuan Kris ingin sarapan di kamar saja. katanya begitu."
Ujar pelayan sambil sedikit membungkuk disana.
"Apa?. "
__ADS_1
Tuan Ramadhian menoleh ke arah sang istri.
Nyonya Ramadhian hanya mengherdik kan bahu.
"Biasa Dad, pengantin baru. Dulu saja kau seperti itu."
"Aku? Memang nya iya?. Ah, bahkan aku sudah lupa. ,"
"Sudah lah Dad, Biar kan saja Kris dan Desi.
Habiskan saja sarapan mu."
Berkata kemudian meminum air putih.
"Ah, baiklah mom."
Tuan Ramadhian manggut-manggut meng iya kan.
"Pelayan, bawakan ini ke kamar Kris dan Desi."
Menunjuk makanan yang ada di meja.
"Baik tuan."
Pelayan itu meraih apa yang tadi di tunjuk tuan Ramadhian.
Pelayan menaiki tangga menuju lantai dua,, tempat Kristian dan Desi berada.
tok..tok .
"Tuan, apa saya boleh masuk,?."
"Masuklah. Pintu tidak di kunci"
Kristian menyahut dari dalam kamar.
pelayan membuka pintu perlahan.
Masuk kedalam kamar dan meletak kan sarapan di atas meja.
Mata pelayan itu membelalak sempurna ketika mata nya tanpa sengaja menangkap dua sosok pasangan suami istri yang polos tanpa sehelai pun yang berbaring di bawah selimut.
Pelayan langsung tertunduk menutupi wajah nya yang merah padam hingga membawa nya keluar dari kamar itu.
"Kalian mengotori otak suci gadis jomblo seperti ku, tuan."
Mengumpat dalam hati sambil melangkah menuruni tangga.
"Apa yang kau lihat? Pucat pasi seperti melihat hantu."
Ujar tuan Ramadhian tergelak menahan tawa.
Pelayan hanya menggeleng dan berlalu menuju ke dapur.
"Daddy ingat, Kristian benar mirip dengan mu ketika pengantin baru dulu."
"Daddy bahkan terus merayu ku berkali kali."
Nyonya Ramadhian menutup mulut nya.
Terkekeh menahan tawa.
"Kenapa? Mommy ingin seperti Kristian? Maka kita lakukan juga sekarang!."
"Apa! Tidak tidak. Mommy ingin arisan sayang."
Berlalu kabur sebelum suami nya melakukan hal yang tidak tidak.
"Astaga! Ayah dan anak sama saja!"
Nyonya Ramadhian berlalu sambil memijat pelipisnya.
next
__ADS_1