Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Karunia luar biasa


__ADS_3

Langit cerah di sekitar rumah sakit tempat Klara dirawat. Kristian memasuki rumah sakit menggandeng tangan Desi yang berwajah cerah pula melebihi dosis biasanya.


Dengan tangan kiri Kristian menenteng parsel berisi buah buahan, dan baket bungga berada di tangan kanan Desi.


"Kau girang sekali hari ini."


"Ini karena aku sedang senang."


Menggerakkan tubuh nya menyenggol Kristian.


"Kau menggoda ku rupanya. Apa karena semalam? Kita bisa melakukan nya lagi jika kau masih kurang."


Seringai menggoda muncul disana.


"Idih! Bukan. Dasar mesum. Kau membuatku kurang tidur malam tadi."


Melengos membuang muka yang merona.


Kurang? itu sudah melebihi dosis dari cukup. Memang kau mau membuat ku tidak tidur semalaman!


Kristian tergelak. "Kau sanggat menggemaskan."


Muach..


Mencium bibir Desi di sana.


"Aa.. Hentikan."


" Malam nanti launching perdana di restoran.


karena itu Aku sangat senang."


"Oh ya?."


Masih menyisakan tawa menggoda hingga Pintu lift terbuka. Kristian dan Desi melangkah keluar dengan tangan yang masih saling bertaut.


"Sayang, Terimakasih."


Menoleh sedikit mendongak menatap wajah Kristian. Kristian tidak bergeming terus melangkah membawa Desi hingga


tidak terasa telah sampai di depan pintu ruangan tempat Klara dirawat.


Kristian membungkuk Menyentuh kan kepala nya pada kepala Desi.


"Eh?."


"Terus lah tersenyum bahagia untuk ku."


Ucapan lembut meluncur dari bibir nya.


Kristian...


Kau selalu membuatku tersentuh.


Aku jadi semakin jatuh cinta pada mu kan.


Pintu ruangan terbuka.


Ibu dan Klara menoleh pada Desi dan Kristian Saat mereka memasuki ruangan.


"Mari nak Desi,Kami sebentar lagi akan pulang."


Ujar Ibunya Klara.


Selang infus telah terlepas dari tangan Klara. Beberapa helai pakaian pun telah tertata rapih didalam ransel.


"Klara, kau sudah membaik?."


Desi melihat mereka telah berkemas, mendekat pada Klara dan memeluk nya.


"Maafkan aku."


Klara mempererat pelukannya.


"Klara kau,?."


Desi melepas pelukan nya.


Klara mengangguk."Aku sudah mengingat mu. Aku ingat semua nya."


Mencengkram perut nya yang mulai tampak membesar.


"Bahkan Aku sendiri pun tidak tau aku hamil dengan siapa."


"Siapa ayah dari bayi ini pun aku sangsi untuk mengucapkan nya."


Klara memunduk sambil mengusap mata nya yang basah.

__ADS_1


"Aku menjijikkan bukan?."


Hik..ha..ha..


Menangis kemudian tertawa. Menertawakan dirinya. Menertawakan kebodohan nya. Menertawakan diri yang melihat saja terasa menjijikkan.


Sssttt...


"Jangan bicara begitu."


Desi merendahkan tubuh nya duduk di bed dan menyentuh kedua pipi Klara.


"Kau Ibu yang hebat, Tunjukan itu pada anak mu."


Klara tersenyum." Terimakasih."


"Klara.."


lirih Desi


"Maaf..."


Air mata Klara menetes lagi.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Aku sudah melupakan semua nya. "


Tersenyum sambil mengusap pipi Klara.


"Terimakasih."


Klara kembali mengusap mata nya yang terus berair.


"Sssttt.. Sudah cukup"


Desi menempel kan telunjuk nya di bibir Klara kemudian memeluk nya lagi.


"Pantas saja Kristian begitu mencintai mu. Kau memang pantas untuk dicintai." Ibu nya Klara bergumam dalam hati.


Kristian menarik nafas lega melihat pemandangan di depannya. Ia berharap Klara bisa belajar dari kesalahannya dan memulai hidup yang baru.


"Desi, Kristian. Terimakasih untuk semua nya. Untuk semua hal yang kalian lakukan pada ku."


Klara menghela nafas nya panjang.


"Tapi, aku minta maaf karena aku tidak bisa memberikan anak ku pada kalian. Aku akan merawat nya sendiri. Aku akan mendidik nya agar dia tidak tumbuh seperti diriku."


"Tumbuh lah dengan sehat nak, Ibu janji akan menjadi orang tua yang baik untukmu."


Klara berbicara sambil mengusap perut nya.


"Aku akan memperbaiki hidup ku bersama nya. Memohon ampun pada Tuhanku atas dosa dosa yang telah aku lakukan."


Klara menatap langit langit kamar dengan mata yang terus berair.


"Aku malu dengan Tuhan. Malu dengan perbuatan ku yang menyedihkan."


"Hidup lah dengan baik setelah ini."


Ujar Kristian yang sedari tadi hanya bungkam.


Klara mengangguk.


"Aku akan berusaha."


Ibu Klara mengusap bulir bening yang lolos dari ujung mata nya.


"Terimakasih nak Desi juga nak Kristian. Kami akan pulang hari ini."


"Biar kami yang mengantar."


Ujar Desi menoleh pada Kristian.


Kristian hanya diam tidak bergeming.


Desi mengerutkan dahi nya tidak mengerti.


Jangan katakan kau tidak mau.


Tok..tok..


Terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Masuk."


Ujar Kristian.


Dua orang pria dengan stelan jas rapih membuka pintu, sedikit membungkuk menghadap Kristian.

__ADS_1


"Antar kan mereka. Dan pastikan pulang dengan selamat."


"Baik tuan."


Pria itu membungkuk terlebih dahulu sebelum meraih tas dan yang satu lagi memapah Klara turun dari bed rumah sakit menuju kursi roda.


"Orang orang ku akan mengantar kalian."


Ujar Kristian.


"Terimakasih banyak Nak,"


Balas Ibu Klara.


"Terimakasih Desi, Kristian. Eh maksud ku tuan Kristian."


Klara sedikit membungkuk kemudian berlalu keluar dari ruangan saat ibu Klara mendorong kursi roda yang Klara duduki.


Memang apa yang kau harapkan dari Kristian Klara, dasar bodoh!. Kau fikir Kristian mau mengantar mu? Itu tidak akan pernah terjadi.


Klara bergumam sebelum keluar dari dalam ruangan meninggalkan Desi dan Kristian di sana.


"Sayang kenapa kau tidak mau mengantar nya.


Seperti nya Klara dan Ibu nya berharap sekali."


Menatap Kristian menunggu jawaban.


Jawaban sudah jelas dari cara Kristian membuang nafas


Tapi karena Desi menunggu nya, Kristian pun Ahir nya bicara.


"Aku tidak suka ada bau wanita lain di dalam mobil ku."


Kristian berlalu keluar dari ruangan meninggalkan Desi.


"Apa?!"


Bau wanita? tidak suka ada bau wanita lain?


Oh, Ya Tuhan..


Desi termenung sambil menatap punggung tegap di depan nya.


Bahkan sampai sejauh itu aku mencintaimu Desi Kumala Marwan.


Kristian terus melangkah di depan Desi.


Apa kau tidak merasakan nya.


"Sayang tunggu."


Desi mengejar Kristian hingga tepat berada di sebelah nya.


Meraih tangan Kristian menggenggam nya erat. Hingga Kristian merubah posisi tangan nya dan saling bertaut.


Semakin hari semakin pula aku bisa memahami mu. Kau mencintaiku dengan cara yang bahkan bisa dikatakan sempurna.


Kau hanya melihat satu wanita dalam hidup selain mommy, Ibu mu.


Kau tahu? Kau anugrah yang Allah berikan untuk ku. Karunia luar biasa aku bisa dicintai pria seperti mu.


"Terimakasih."


Lirih Desi.


"Kau mulai faham ya."


"Maka jangan berfikir yang tidak tidak lagi mulai dari sekarang."


"Em"


Desi mengangguk mantap.


"Eh?."


Terkesiap saat tangan kekar itu menyentuh pinggang nya.


Kau mau apa? Ini di dalam lift rumah sakit Kriissstiiaaaannnn!!!


Menjerit di dalam hati saat bibir itu menyentuh bibir nya. Memanggut lembut disana hingga waktu yang cukup lama sampai pintu lift terbuka.


Seseorang penjaga membelalak sempurna mengucek mata nya dan reflek terbangun dari tempat nya duduk. ketika melihat layar monitor memperlihatkan gambar dari CCTV di dalam lift.


"Dasar gila! Bisa bisa nya berciuman di dalam lift rumah sakit."


Penjaga memijat pelipisnya pening sendiri memikirkan kebodohan putra pengusaha ternama dan istrinya.

__ADS_1


Next


__ADS_2