
Desi mondar mandir di ruang tunggu masih dalam bandara. Berkali kali melihat arloji Menunggu Abah yang akan transit siang ini di sana.
Kristian hanya menghela melihat tingkah istri nya, memilih fokus dengan ponsel nya memeriksa Email yang baru saja asisten nya kirimkan.
"Tenanglah sayang, Abah akan sampai sebentar lagi."
Menoleh pada Desi kemudian fokus lagi dengan ponsel nya.
"Tapi berapa lama lagi?."
Kristian menggelengkan kepala tidak ingin lagi menanggapi.
Tidak lama terlihat Abah datang menghampiri mereka, Pria paruh baya dengan senyum teduh di wajah nya. Juga Gurat di dahi Abah menandakan telah lama nya merasakan asam garam nya kehidupan dengan usia yang sudah tidak lagi muda.
"Assalamualaikum."
Sapa Abah.
"Wa'alaikumsalam Abah"
Desi meraih tangan Abah Kemudian mencium nya, diikuti Kristian bangkit dari duduk pun melakukan hal yang sama.
Abah hanya tersenyum dan menarik nafas lega melihat Desi dengan perut besar nya. Abah menoleh pada Kristian tanpa bicara apapun hanya bibir Abah yang melebarkan senyum nya kemudian berbalik pergi.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam.".
Jawab Kristian.
Sedikit tidak mengerti mengapa Abah bersikap demikian.
" Abah, Tunggu. Katakan yang ingin Abah katakan pada kami. Kenapa hanya Dian dan pergi begitu saja."
Abah berhenti kemudian melirik ke samping tanpa menoleh. " Tingkat kan ibadah mu dan jadilah Istri dan Ibu yang baik. Aku merasa lega, menitipkan mu pada orang yang tepat."
Abah melajukan melangkah nya pergi begitu saja.
Desi malah menangis.
"Abah.... Semoga Abah memperoleh haji yang mabrur."
Desi berkata sambil mengusap air mata nya.
"Abah, hati hati."
Desi meninggikan suara berharap Abah mendengar yang telah pergi menjauh.
"Ayo pulang, Sikap Abah sangat aneh aku tidak mengerti. Padahal aku cemas menunggu Abah sejak tadi."
Desi berjalan menuju pintu keluar, Kristian pun pasrah mengikuti. Ia juga sedikit merasa heran mengapa Abah bersikap demikian.
"Desi, aku ke kantor setelah mengantar mu. Banyak pekerjaan yang tertunda saat ini."
Kristian melihat arloji sambil melajukan mobil nya.
"Sore nanti aku akan mengantar mu memeriksa kan kandungan. Sore ini jadwal nya bukan?."
" Tanggal berapa sekarang? Kau ingat?. Aku saja lupa."
Membuka ponsel melihat catatan memo.
"Benar, sore ini jadwal aku kedokter."
"Mana mungkin aku melupakan nya."
Mengusap kepala Desi.
"Benar juga, jadwal aku meminum vitamin hingga minum susu sampai jadwal senam saja kau tidak pernah lupa."
Desi menyandarkan kepalanya pada bahu Kristian.
"Aku mulai mengerti mengapa Abah selalu mengingatkan aku untuk menjadi istri yang baik untuk mu, Itu karena kau istimewa."
Kristian menepikan mobil nya untuk berhenti.
"Ada Apa? Mengapa berhenti."
Desi menoleh pada Kristian.
__ADS_1
"Aku ingin memelukmu, seperti nya kau sedang membutuhkan dadaku untuk bersandar."
melepaskan seat belt nya, menggeser tubuh meraih tubuh Desi mendekapnya kemudian.
"Sayang..."
"Menangis lah jika kau ingin menangis."
Mendekap erat mengusap usap kepala nya yang tertutup hijab.
Desi benar benar menangis, meski tidak faham apa yang membuat nya sedih. "Seharusnya aku bahagia Abah mampu ke tanah suci. Tapi mengapa dada ku sesak ketika Abah tidak berkata apapun ketika hendak pergi. Tidak kah itu aneh? "
"Ssstttt..... Jangan berfikir yang tidak tidak, berdoa lah yang baik baik."
Desi mengangguk.
" Kau benar,"
Kristian melepaskan pelukannya ketika Desi merasa lebih tenang, Mulai melajukan mobil nya lagi hingga memasuki Kediaman tuan Ramadhian.
"Cepat pulang jika pekerjaan mu Sudah selesai."
Muach,!!.
Mencium pipi Kristian melesat keluar dari mobil.
"HM, Aku segera kembali "
Mood wanita hamil selalu berubah ubah.
Gumam Kristian
sambil melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Sedangkan Desi masuk kedalam rumah utama kediaman tuan Ramadhian.
Menoleh ke kiri dan ke kanan rumah tampak sangat sepi.
"Mungkin mommy sedang pergi."
Ujar Desi sambil melangkah menaiki anak tangga.
tok..tok..
Seseorang mengetuk pintu hingga beberapa kali, Desi belum menyahut sebab Ia tertidur.
"Sayang, Apa mommy boleh masuk?."
"Iya mom."
Balas Desi dari dalam. Bangkit dari tidurnya menuju ke arah pintu kemudian membuka nya.
Pintu kamar terbuka, mommy membawa beberapa paper bag memberikan pada Desi.
"Apa mom mengganggu mu?."
"Tidak mom, silahkan masuk "
Desi meraih paper bag pemberian dari Nyon Ramadhian.
"Ini untuk cucu mommy."
Meletakkan paper bag di atas meja kemudian duduk di sofa.
"Cucu?."
Desi berkerut dahi.
Meraih paper bag dan membuka nya.
Beberapa helai pakaian bayi laki laki, bagaimana bisa mommy memperhatikan aku sampai sejauh ini.
Gumam Desi
"Tadi mommy melihat model baju baby edisi terbatas, Mom teringat diri mu. Jadi mommy membelinya untuk calon cucu mommy.
Mudah mudahan kau suka."
"Terimakasih mom,"
__ADS_1
Desi memeluk nyonya Ramadhian.
"Tapi bagaimana mommy tahu anak ku laki laki? Usia kandungan ku bahkan baru mencapai 4 bulan dan Dokter belum mengatakan mengenai apa jenis kelamin nya."
Desi melepas pelukannya.
"Benar juga ya, bagaimana jika baby nya perempuan?. Mengapa tidak terfikir kan tadi?."
Desi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa, tapi feeling mommy baby nya laki laki."
Mommy mengusap usap perut Desi.
" Gembira sekali, bahkan kau tidak menyadari aku datang."
Merangkul Desi dari belakang mengecup kepala nya.
"Hai mom"
Sapa Kristian meraih tangan mommy mengecup nya kemudian.
"Kau cepat sekali pulang."
"Sore ini Desi ada jadwal untuk ke dokter, aku cepat pulang untuk mengantar nya."
Kristian mengecup pipi Desi.
" kau sudah makan?."
Kristian berbisik di telinga istri nya.
"Baiklah, Baiklah. Mommy faham kau merindukan istri mu."
Nyonya Ramadhian mengangkat tangannya kemudian bangun dari duduknya berlalu Keluar dari kamar.
"Mommy tunggu."
Pintu kamar kembali tertutup Nyonya Ramadhian telah keluar.
"Sayang, kau mengusir Mommy?!."
Melepaskan pelukan Kristian.
"Memang siapa yang menyuruh Mommy pergi, Apa kau melakukan nya,?."
Kristian memeluk lagi.
"Aku tidak. Aaa.. Sayang kau susah sekali diajak bicara."
"Mommy Keluar dari kamar, sebab mengerti aku merindukan mu."
berbisik di telinga.
Hei, Apa yang kau lakukan?!
Desi memekik dalam hati ketika bibir Kristian mulai menjelajahi setiap lekuk nya.
Tangan Kristian mulai menyentuh area paling sensitif dan bergerilya kemana mana.
"Sayang kita bisa terlambat untuk pemeriksaan."
Merinding saat Kristian berbisik di telinga dan ada gigitan kecil disana.
"Aku bisa membuat mereka menunggu mu."
Kristian berbisik.
"Sayang, Jangan menyusahkan mereka dengan menyuruh menunggu satu pasien."
Suara Desi tidak lagi beraturan ketika tangan Kristian telah memainkan bukit indah di dada nya.
" Aku bisa memecat mereka jika keberatan menunggu mu."
A...
Dan sial nya, tubuh Desi menikmati. Maka terjadilah di atas sofa, di dalam kamar mereka.
Suara suara yang Desi telah berusaha menahan nya pun mengudara di dalam ruangan dengan pintu tertutup namun tidak terkunci hingga waktu yang hampir satu jam barulah Kristian menyudahi aktifitas panas nya.
__ADS_1
Dan benar saja, Dokter dan perawat lain nya dibuat menunggu satu pasien yaitu Desi Kumala Marwan, istri dari pemilik rumah sakit tersebut.