
Wajah berseri mengalahkan sinar mentari kala ini. Senyum mengembang saat Desi memasuki area perbelanjaan di kota ini, memilih apapun yang Ia suka untuk dibawa pulang ke Jakarta.
Dengan terus menggandeng tangan Kristian sambil terus bertanya ini dan itu.
Memasuki sebuah outlet ternama disana.
"Sayang, menurut mu apa yang Daddy dan Mommy suka?. Aku ingin membeli kan sesuatu tapi entahlah, Mereka memiliki segala nya.
Kristian tidak menjawab hanya mengherdikan bahu.
"Sayang, jawab aku."
Menatap Kristian di samping nya sambil memilih blazer dengan merk ternama itu.
Kristian memandang sekeliling, menunjuk Blazer berbulu warna putih di dalam lemari kaca khusus yang hanya ada satu disana.
Desi Melangkah mendekat, "Itu mengapa aku sangat senang berbelanja dengan mu, karena kau memiliki selera sangat tinggi."
Jika tidak dengan mu aku tidak akan mampu membeli nya, satu Blazer harga nya melebihi harga rumah ku di solo.
Kristian tidak merespon hanya mengusap kepala Desi yang terus memilih ini dan itu.
"Kau bilang aku boleh membeli apapun yang aku suka?."
Menatap Kristian dengan berbinar.
"Apapun."
"A... Terimakasih sayang."
Memegang lengan Kristian kemudian memeluk disana.
"Aku juga akan membawakan oleh oleh untuk Abah, Hengki dan Harli."
"Ini juga seperti nya cocok untuk Ustadzah Mariska dan Ustadzah yang lain."
Meraih dress yang tergantung di sana.
"Ini untuk para pelayan di rumah, juga untuk sopir yang setia mengantar ku."
Desi terus berbelanja dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh.
Kristian mengeluarkan kartu kredit nya menyerahkan nya di kasir, membayar semua yang Desi ambil.
"Tolong bawakan ya, Aku ingin kesana."
"Kenapa kau jadi begitu banyak bicara?!."
Ucap Kristian yang mengikuti di belakang Desi sambil membawa beberapa paper bag.
"Seharusnya aku bawa bodyguard untuk membawakan belanjaan mu."
"Jika keberatan, biar aku bawa sendiri."
Menggerutu memajukan bibir nya.
Kenapa marah?
Desi terus keluar masuk outlet memilih ini dan itu, Hingga Kristian menggaruk kepalanya yang tidak gatal berfikir bagaimana cara nya membawa itu semua ke dalam mobil.
Kristian mengeluarkan ponsel nya, mengetik pesan menghubungi Asisten Mr Tsaichi menyuruh nya mengirimkan orang untuk datang ke sana.
"Baik tuan."
Pesan singkat masuk di ponsel Kristian.
Asisten Mr Tsaichi mengerahkan beberapa bodyguard bergegas menuju tempat Kristian berada, dengan revolver terselip di pinggangnya bergegas memasuki mobil diikuti beberapa bodyguard pun melesatkan mobil nya.
Seperti nya terjadi kesalahpahaman disana, Asisten Mr Tsaichi Fikir Kristian sedang dalam bahaya.
Mobil terparkir sempurna di depan area perbelanjaan itu berlari diikuti para bodyguard menuju Kristian.
"Apa yang terjadi tuan?!."
__ADS_1
Asisten Mr Tsaichi menghadap Kristian dengan nafas terengah engah.
Menghadap Kristian yang di sebelah tempat nya berdiri terdapat puluhan paper bag.
"Aku menyuruh mengirimkan orang untuk membawa ini semua ke hotel. Bukan menyuruh mu untuk bertarung."
Ujar Kristian sambil melirik asisten Mr Tsaichi yang membawa 7 bodyguard dan revolver di tangan nya.
"Hah?! Apa?!"
Asisten Mr Tsaichi menganga mengedarkan pandangannya, melihat puluhan paper bag yang ada di samping Kristian.
Menggaruk kepala yang tidak gatal, meski di hati nya dongkol sudah terburu buru tadi berfikir terjadi sesuatu dengan Kristian dan Desi.
Aku bukanlah jasa tukang angkutan atau kuli panggul tuan.
Pasrah, itu lah yang dilakukan para bodyguard mengangkat paper bag membawanya memasukan kedalam mobil.
"Maaf menyusahkan kalian."
Desi melambai pada para bodyguard beserta asisten Mr Tsaichi.
"Percuma saja mengatakan itu, mereka tidak akan mengerti."
Ujar Kristian memutar tubuh nya melangkah mendahului Desi.
"Sayang tunggu."
Desi menyusul Kristian yang berhenti kemudian mengulur kan tangan menggenggam tangan Desi membawa nya berjalan di sampingnya.
"Kau masih ingin sesuatu?."
Berkata tanpa menoleh kearah Desi.
"Lapar"
Menatap Kristian.
"Lagi?."
"Baiklah, kita cari restoran terdekat."
"Aku tidak suka daging yang mentah. Membayangkan saja sudah mual."
Desi menutup mulut nya.
"Sayang."
"HM?."
"Aku belum membelikan apapun untuk Daddy, Aku bingung apa yang harus aku beli. Daddy memiliki segalanya."
"Apa kau sudah membelikan sesuatu untuk ku?."
Menoleh pada Desi kemudian menatap kedepan lagi.
"Tidak kan?."
Kristian membuang nafas kesal.
"Kau mengingat semua orang, hingga para pelayan juga sopir juga kau ingat mereka. Tapi kau tidak mengingat aku yang disampingmu."
Aaa... Maaf..
"Aku juga membelikan sesuatu untuk mu."
Menoleh pada Kristian.
"Oh ya? Apa itu?."
Kristian terlihat senang.
"Akan aku beritahu jika sampai di Jakarta."
__ADS_1
Desi tersenyum manis pada suami nya kemudian memasuki restoran yang masih satu gedung dengan pusat perbelanjaan.
Masih dengan tangan yang saling bertaut memasuki ruangan VIP melewati para pengunjung yang tampak ramai di malam yang belum begitu larut.
Seorang wanita menggunakan bahasa yang Desi tidak mengerti artinya begitu juga dengan Kristian kemudian sedikit membungkuk lalu pergi.
Desi dan Kristian duduk berhadapan.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi. Aku tidak tahu yang Daddy suka, Apa yang harus aku belikan untuk nya."
"Hasil cetak USG."
"Ya? Apa maksudnya?!."
Desi bingung tidak mengerti.
"Baby"
Desi semakin tidak mengerti.
"Daddy menginginkan baby yang bisa meramaikan rumah nya. Kau bisa memberikan cucu untuk nya nanti."
Desi menunduk. kemudian menghela nafas.
Seorang wanita tadi memasuki ruangan itu meletak kan pesanan Kristian.
Entah mengapa ucapan Kristian tadi membuat nya tidak lapar. Malah ingin menangis dan pergi dari tempat itu.
"Kau sudah lama tidak datang bulan, Aku akan mengantar mu kedokter."
"Aku tidak mau!."
Ketus Desi melempar sendok ke piring memalingkan wajah sambil mengusap air mata nya.
Kristian tersentak, tidak pernah Desi tidak berbicara lembut pada nya namun Ahir Ahir ini Desi sering kesal dan kali ini membentak Kristian.
Kristian bangkit dari duduknya menuju Desi, Merendahkan tubuh nya memeluk sang istri.
"Maafkan aku."
Kristian mengecup pucuk kepala Desi sambil bertanya dalam hati yang mencurigai sesuatu.
"Aku sudah sering terlambat datang bulan. Aku sudah sering melakukan test kehamilan. Namun hasil nya tetap sama, NEGATIF!!."
Desi semakin tersendu hingga Kristian pun mempererat pelukannya.
"Maafkan aku."
"Aku yang salah, hingga hari ini pun aku belum bisa mengandung anak mu dan membuatmu dan keluarga mu bahagia."
Desi mengepalkan tangan memukul paha nya.
"Kau selalu benar, Aku memang bodoh!."
"Sssstttt"
"Hentikan, apa yang kau lakukan?! Jangan menyakiti dirimu sendiri."
Kristian meraih tangan Desi, menggenggam nya kemudian merendahkan tubuh nya hingga terjongkok.
"Maafkan aku."
Kristian mencium tangan Desi.
"Aku sakit jika kau terluka, Semakin sakit apalagi kau melukai dirimu sendiri."
Kristian...
Kristian meletakkan kan kepala nya di pangkuan Desi, dengan posisi yang masih berjongkok menekuk lututnya.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan membahas nya."
-
__ADS_1
-
-Next