
Beberapa bulan kemudian...
Kepanikan terjadi di dalam sebuah rumah sakit milik keluarga Ramadhian. Ruang bersalin dengan fasilitas VVIP berbaring seorang wanita terpasang selang infus di tangan kiri nya. Menahan rasa sakit yang menjalan dari pinggang hingga perut nya.
"Ternyata begini rasa nya." Batin Desi sambil memejamkan mata menahan sakit nya.
Kristian sedang memaki para perawat, Sudah empat kali Kristian mengganti perawat hingga dokter pun kehabisan akal untuk menenangkan Kristian.
"Tuan mohon tenang lah, Nona Desi baik baik saja. Bayi anda juga dalam keadaan baik baik saja. Sebentar lagi akan lahir."
"Aku sudah mendengar ucapan itu lebih dari empat kali!!." Kristian meninggikan suara.
Kemudian mendekati istri nya duduk di atas ranjang di samping Desi sambil berkali kali menciumi tangan istrinya meminta maaf.
"Untuk apa meminta maaf, semua wanita mengalami ini. Jangan panik begitu, Aku mohon bekerja sama lah dengan Dokter. Kau sejak tadi memarahi mereka, Aku tidak suka."
" Kau bicara panjang sekali! Mana yang sakit? Aku pijat ya?." Memijat pinggang istri nya.
Desi tidak lagi menjawab, bibirnya terus berucap istighfar menahan rasa sakit itu.
" Lihat tingkah anak mu Mom, Kepala ku sakit di buat nya." Tuan dan Nyonya Ramadhian yang berada di luar ruangan mendengar beberapa kali Kristian berteriak.
"Daddy mau kemana?." Nyonya Ramadhian heran melihat Tuan Ramadhian yang malah pergi.
"Mommy urus lah anak bodoh itu, Dia mengganggu kinerja Dokter jika terus memaki perawat mengintimidasi."
Tuan Ramadhian menggelengkan kepala tidak habis Fikir dengan kebodohan Kristian. " Aku hanya pergi sebentar." Berkata kemudian berlalu pergi.
"Kau juga begitu kan, waktu Aku melahirkan Farel?!. DASAR Ayah dan Anak sama saja BODOH!." Ujar Nyonya Ramadhian.
"Eh,? tapi mengapa jadi Kristian yang lebih mirip dengan mu?." Nyonya Ramadhian mengulas senyum. "Terimakasih karena kau mendidik nya dengan baik."
Sementara di dalam kamar bersalin.
"Sayang, maafkan aku. Operasi aja ya, biar tidak sakit sakit lagi."
"Tidak mau!. Aku bisa melahirkan normal, untuk apa operasi?." Desi membuka mata kemudian menutup lagi.
"Operasi saja ya, Aku tidak sanggup melihat mu begini." Membujuk... Membujuk... Membujuk.
"Nona baik baik saja tuan, tidak perlu melakukan operasi. Nona juga ingin melahirkan dengan normal. Iya kan Nona?." Ujar salah satu perawat dengan lembut.
"Aku tidak bertanya pada mu?!."
Sialan! Bodoh sekali orang ini sih?!
"Ma- Maaf tuan." Perawat itu mundur ke belakang bergetar takut.
"Keluarkan perawat yang tidak berguna itu sekarang."
Ba- Baik tuan."
"Tunggu?!." Nyonya Ramadhian masuk ke dalam ruang bersalin. "Kerjakan saja yang seharusnya kalian kerjaka." Berkata pada perawat.
"Keluar kau dari sini Kris?! "
"Tapi Mom?!."
"Kau ingin melihat anak mu lahir bukan? Maka diam dan Jangan Membuat masalah!!"
Kristian terdiam.
" Bekerja sama lah dengan Dokter!!"Ujar Nyonya Ramadhian kemudian keluar dari sana.
Kristian lebih tenang saat ini, berkali kali menciumi dahi istri nya dan menggenggam tangan nya erat.
Di luar Nyonya Ramadhian mondar mandir gelisah. Sedangkan tuan Ramadhian duduk di kursi dengan perasaan tegang.
__ADS_1
Oe...Oe ..
Bayi laki laki terlahir dengan berat 4kg dan tinggi 49cm.
Kristian berkali kali berucap syukur sambil mendekap tubuh Desi erat. Tetesan air mata bahagia dari netra kedua nya mengiringi tangisan bayi yang sedang di bawa perawat untuk di timbang dan di pakaikan baju pertama nya.
Nyonya Ramadhian menerobos masuk, tidak tahan lagi mendengar bayi yang menangis Ia pun ikut sesenggukan.
"Selamat sayang." Ujar Nyonya Ramadhian sbil menghambur memeluk Desi.
"Selamat juga untuk mu Anak bodoh?!." Berkata pada Kristian.
"Mom..." Daddy menyahut di belakang nya.
"Memang Kris bodoh kan? Aku tidak salah."
Nyonya Ramadhian membela diri.
"Ini cucuku. Besar sekali, pantas saja memerlukan tenaga ekstra untuk mengeluarkan mu!"
Nyonya Ramadhian mendekati box bayi.
"Mom...?!." lirik Daddy.
" Apa sih Daddy ini, kau cemburu karena aku lebih memikirkan cucuku yang tampan ini ya?."
"Tapi bayi nya besar, Kau memang luar biasa sayang. Terimakasih memberikan cucu tampan untuk kami. Mommy Sudah tidak sabar membawa nya pulang kerumah.
*****
Solo
Hengki bersama Harli baru saja keluar dari sebuah gedung. Para wanita seketika mendekati Hengki mengucapkan selamat dan mengajak foto bersama. Semakin populer saja Hengki di kalangan para wanita. Tidak hanya wajah tampan, Tapi juga prestasi nya di kampus itu.
Kawan pria pun juga berdatangan untuk mengucapkan selamat.
" Selamat ya mas."
"Terimakasih." Hengki menepuk bahu adik nya.
" Kau pasti sedih hanya aku yang menemani mu hari ini." Menoleh pada Hengki.
"Tidak, Aku malah bahagia. mba Desi sudah melahirkan. Kita langsung ke Jakarta sekarang." Mengusap rambut adik nya.
"Benarkah?." Harli antusias.
" Mba Desi mengirim pesan juga foto bayi nya. Kau tunggu di bandara, aku ada urusan sebentar."
"Apa itu?."
" Mengambil amanah dari Abah, kau akan tahu jika sampai di Jakarta."
***
Armada besi menerbangkan Hengki dan Harli menuju kota Jakarta. Keluar bersama menarik travel bag dengan pakaian casual melekat di tubuhnya.
Masuk kedalam taxi online yang mengantarkan mereka ke sebuah rumah sakit ternama milik keluarga Ramadhian.
Dua orang penjaga berdiri di depan pintu kamar perawatan Desi.
"Tuan, Kami berdua adik nya Nona Desi. Mohon izinkan kami menjenguk kakak Kami."
Ujar Harli dengan sopan.
Dua penjaga itu berkerut dahi.
Saling pandang kemudian penjaga yang satu mengetuk pintu
__ADS_1
Tok.. Tok..
"Tuan, ada dua pria mengaku adik nona ingin bertemu."
"Hengki? Harli? Mereka datang?."
menoleh pada Kristian.
" Biarkan mereka masuk."
"Baik tuan." Membungkuk kemudian berbalik keluar.
" Silahkan masuk tuan tuan."
Penjaga itu membuka kan pintu.
"Terimakasih." Balas Harli.
"Ketat sekali penjagaan nya, seperti anak Presiden saja." Celetuk Harli dalam hati.
Hengki dan Harli masuk kedalam setelah dipersilahkan. Melangkah mendekati Desi yang sedang menimang bayi nya.
"Selamat ya mba." Ujar Harli kemudian menyalami mencium punggung tangan nya seperti biasa.
Sedangkan Hengki mendekati Kristian menyalami mencium punggung tangan nya seperti biasa jika bertemu.
Kristian menepuk bahu Hengki. Hanya tepukan di bahu saja sudah membuat Hengki terharu bahagia.
" Kau telah berusaha keras, Kau bisa mencoba magang di perusahaan Daddy sambil mengikuti ujian untuk beasiswa Megister mu."
"Mohon bimbingannya Mas." Hengki membungkuk.
"Tapi kau harus berusaha sendiri, aku tidak akan membantu mu lolos ujian dengan mudah."
"Baik mas, aku akan berusaha."
"Seperti nya Kau mengidolakan mas mu ya?."
Ujar Desi.
"Mas Kristian sangat hebat. Aku memang ingin seperti beliau." Hengki memalingkan wajah nya.
He, apa kau sedang malu?
Batin Harli.
"Selamat." Ujar Hengki dengan tersenyum sambil mengusap usap tangan bayi mungil di gendongan Desi.
Harli membuka koper nya, mengeluarkan sesuatu.
"Ini amanah dari Abah. Abah menyuruh ku menyimpan dan memberikan untuk cucunya jika telah lahir. Abah kata, jika ini pemberian dari mas Kristian. Tapi Abah tidak bisa menerima itu."
Hengki mengusap mata nya yang basah.
"Aku cengeng sekali. Maaf..."
Desi pun menitik kan air mata. Ketika meraih figura dengan cek di dalam nya. Ia peluk figura itu di dada nya. "Terimakasih Abah..."
Kristian meraih Desi mendekap nya. Mencium dahi kemudian mengusap air mata di pipi nya.
Kristian kemudian berlutut membuat Hengki dan Harli terperanjat begitu juga dengan Desi. "Aku sudah berjanji untuk menghapus air mata mu. Mengobati perih nya luka di hatimu dan membuat mu hidup bahagia. Janji seorang Kristian pantang untuk di langgar. Maka tetaplah di sisiku dan bahagia. Menangis lah jika itu air mata yang membuatmu senang."
Kristian meraih tangan Desi mengecup nya, bangkit mencium putra nya kemudian.
"Daddy mencintai mu, mencintai kalian semua."
I love you Kristian...
__ADS_1