
Hari sabtu pukul 3 sore Desi bersiap untuk mengajar diluar Al-ikhsan. Berbekal alamat yang Ustadzah Mariska berikan.
"Mengapa di hari sabtu dan minggu tempat ku mengajar alamat nya berbeda?"
Gumam Desi sambil memasuki gedung apartement mewah menaiki lift hingga sampai di lantai gedung yang dituju.
"Mungkin aku akan mengajar untuk anak dari pemilik tempat ini." gumam Desi di depan pintu salah satu pintu disana.
Desi menekan tombol disana.
Klik..
Pintu terbuka.
Desi membelalak melihat siapa yang membuka pintu.Desi tidak berfikir tentang ini sebelum nya.
"Kenapa kaget begitu? Masuk lah."
"Tuan?!."
Desi terkesiap seperti enggan masuk kedalam sana.
"Aku serius untuk belajar. bukan untuk mendekati mu." Kristian masuk kedalam terlebih dahulu.
"Aku tidak pernah berkata anda berusaha mendekati ku,tuan." Gumam Desi.
"Tuan, Mengapa harus saya?"
Masih mematung di tempat semula.
"Kau sudah menandatangani nya kan?.Jika masih berdiri disitu kapan mulai mengajar nya Ustadzah."
Ahir nya Desi pasrah dan masuk kedalam sana.
Telah disiapkan ruangan untuk Desi mengajar disana.
"Baik lah kita mulai tuan."
Desi menunjukan sikap profesional nya.
Desi mengajarkan tentang ilmu tajwid di sana. Yaitu tata cara atau hukum hukum bacaan dan cara membaca Al- Qur'An yang benar.
Kristian sudah bisa membaca kitab suci itu namun belum menguasai dasar dasar dan tata cara membaca hingga makhotijul huruf yang benar.
Desi menjelaskan dengan cara yang menyenangkan membuat kedua nya sesekali tertawa. Kristian pria cerdas yang tentu saja cepat menangkap apa yang Desi ajarkan.
"Pertemuan kali ini cukup tuan, kita sambung lagi pada pertemuan berikut nya."
Ujar Desi sedikit membungkuk disana.
"Silahkan Ustadzah." Kristian membalas Desi.
Desi keluar melewati ruang tamu.
"Tunggu."
"Ya?"
Desi menoleh.
"Aku belum sempat makan siang."
Ujar Kristian.
"lalu apa hunbungan nya dengan ku."
Gumam gumam.
"belum makan siang?."
Desi meninggikan alis nya melihat jam dinding menunjukan pukul 6 sore.
"Kau bisa memasak sesuatu untuk ku?."
__ADS_1
"Um... "
Desi tampak ragu.
"Jika kau keberatan lebih baik tidak usah."
Meraih kunci mobil di atas meja.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Menyentuh handle pintu.
"Eh..Kenapa malah merajuk."
Batin Desi.
"Tuan."
Kristian menghentikan langkah nya kemudian berbalik.
"Dimana dapur nya?."
Desi meletak kan tas dan buku yang Ia bawa diatas sofa.
Desi mengikuti Kristian menuju dapur. mengeluarkan beberapa potongan daging, ikan dan sayuran dari dalam lemari pendingin.
Meracik bumbu bumbu .
Dentingan alat alat dapur terdengar disana.
Kristian terus memperhatikan Desi tanpa Desi sadari.
"Mengapa kau muncul kembali? Kau datang disaat perlahan ingin menghapus nama mu. Jangan salahkan aku jika ingin mengikat mu dan enggan untuk melepaskan nya."
Dan Sial nya Kristian malah ingin memeluk Desi dari belakang dan berkata "tetaplah disini dan jangan pernah menjauh lagi dari ku."
"Sudah selesai tuan. Silahkan."
"Ah iya." Ucapan Desi membuyarkan lamunan Kristian.
"Temani aku makan."
Menarik kursi kemudian duduk di sana.
"Temani?"
Desi berkerut dahi.
"Temani berarti tetap disini dan makan bersama mu." Gumam Desi.
"Ya. Duduk lah."
Kristian meletak kan piring kosong di depan Desi.
Desi pun ahir nya pasrah dan menikmati masakan nya sendiri bersama Kristian.
"Ternyata kau tidak lupa makanan faforite ku. Aroma nya masih sama seperti saat di Kairo."
Kristian sedikit menarik ujung bibir nya samar.
"Tuan." Desi menunduk. Rasa bersalah muncul lagi di sana.
"Tuan. untuk yang tempo hari, Terimakasih."
Mulai berani menatap Kristian.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Paper bag berisi barang barang yang saya suka."
Tersenyum pada Kristian.
"Jas anda, Esok saya akan kembalikan."
__ADS_1
"Kau bisa mengembalikan nya kemari."
Kristian mulai menyuapkan makanan ke mulut nya.
"Tempo hari apa anda mengikuti saya?."
Menatap Kristian penuh selidik.
ehm."Apa aku terlihat kurang kerjaan mengikuti mu?."
"Masih saja tidak mau mengaku."
Gerutu Desi.
"Makan lah, aku tidak akan mampu menghabiskan semua ini."
Menyuapkan potongan daging pada mulut Desi.
"Eh.. Jaga sikap anda tuan.Jika seperti ini aku semakin tidak bisa melupakan mu.." Batin Desi.
"Saya sudah berkali kali menyakiti anda. Mengapa anda masih saja bersikap begitu baik."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?apa aku harus menyakiti mu?"
Kristian menghentikan makan nya.
"Aku tidak akan sanggup melakukan nya."
Degh...
Desi terkesiap dengan ucapan Kristian.
"Terimakasih makan malam nya. Masakan mu enak sekali."
Kristian bangun dari duduk berlalu dari sana.
***
"Tuan, Saya permisi. Biarkan saya pulang naik taxi."
"Aku akan mengantar mu."
"Tapi Tuan?!."
"Sudahlah jangan membantah."
Pasrah adalah jalan terbaik.
Desi mengikuti Kristian memasuki lift khusus disana.
"Apa ada yang keberatan jika aku mengantar mu?."Kristian memecah keheningan.
Desi menggeleng kan kepala.
" Syukur lah."
"Apa? " Desi terkesiap.
"Kenapa anda berkata begitu?."
"Kau tau?. Kau adalah wanita pertama yang datang ke rumahku selain Nyonya Ramadhian."
"Aku?" Desi menunjuk dirinya.
"Apa aku terlihat istimewa dihadapan mu?"gumam Desi lagi.
Ting...
Lift terbuka.
Desi belum mendapat jawaban dari pertanyaan nya memilih mengejar pria di depan nya itu.
"Tuan tunggu?!.
__ADS_1
Mobil melesat meninggalkan apartement melaju menembus indah nya kota jakarta menjelang malam. Lampu lampu bertaburan kelap kelip menghiasi kota itu.