Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Menjalani hidup baru


__ADS_3

Pagi ini Faat duduk di sofa menyilangkan kaki sambil membaca koran dengan menikmati secangkir kopi buatan Maimunah.


"Aku pamit dulu mas, tolong katakan pada nyonya."


Faat menutup koran menoleh pada sumber suara menurunkan kaki kemudian.


"Kau mau kemana Mai, Pagi pagi sekali?"


Melihat mai sudah rapih dengan tas ransel dan buku buku ditangan nya.


"Mas lupa?Ini kan hari sabtu, tentu akan ke kampus. Memang kemana lagi?"


"Kampus?"


Faat mengerutkan dahi.


"Iya, Jangan bilang mas Faat juga lupa, Kalau nyonya yang biyayai kuliah saya."


Melihat Faat kemudian mengulas senyum disana.


Faat hanya mengangguk. "Maaf aku Benar benar lupa."


"Aku antar, Mau?"


"Apa?"


Mai tersentak tidak percaya.


"Antar?" Batin nya.


"Aku juga ada urusan di kantor, Kita searah kan?"


"I-Iya Mas, Tapi..." Belum selesai Mai berbicara.


"Tunggu sebentar mai, Aku bersiap dulu."


Berbicara sambil beranjak dari duduk nya menuju kamar hendak membersihkan diri.


Mai tidak ada alasan lagi untuk menolak. Ia menunggu dengan gelisah disofa, Gugup?


Tentu saja!.


Faat keluar dari kamar dengan stelan jas melekat di tubuh nya sambil mengenakan arloji disana.


"Ya Tuhan.. Mas Faat tampan sekali."


Seketika Mai menunduk menelan silva.


Glek..


Tidak berani menatap Faat disana.


"Ayo Mai, Maaf membuatmu lama menunggu."


Faat melangkah keluar dari rumah dengan Mai dibelakang nya menatap punggung Faat disana.


"Beruntung nya Mba Desi, Dicintai dua pria baik, tulus dan tampan tentu nya."


Gumam Mai dalam hati sambil mengingat Kristian yang dulu pernah datang kerumah ini.


"Ada Apa Mai? Kau melamun?"


Tanya Faat dengan lembut.


"Ti...Tidak mas, Hanya saja.. Mmmm.. "


Bingung mencari alasan yang tepat," Tidak mungkin kan kalau bicara jujur mengagumi mu mas Faat."Batin nya lagi.


"Naik lah." Faat masuk kedalam mobil lebih dahulu kemudian Mai menyusul disamping nya.


"Demi apa, Jantungku benar benar berdebar."


Gumam Mai dalam hati, Kemudian memasang seatbelt disana.


Faat melihat Mai yang kesulitan memasang seatbelt disana mengulas senyum kemudian.


"Biar aku bantu."

__ADS_1


Faat membantu Mai memasang seatbelt membuat Mai semakin berdebar.


"Jangan terlalu baik pada ku mas, Aku bisa gila karena tidak pernah mampu melupakan mu."


Batin nya.


Mai, Memang menaruh hati pada Faat,. Tidak! Lebih tepat nya Mai mencintai Faat sejak lama. Namun Mai menyadari jika dia hanyalah seorang pelayan dirumah itu. Mai pernah menangis hampir seharian ketika Faat menikah dengan Desi. Namun Mai menyadari, Tidak mungkin untuk nya bersama Faat. Mengikhlaskan Faat adalah keputusan yang tepat.


Karena Faat tidak akan mungkin membalas perasaan nya. Namun bukan berarti Mai senang dengan berpisah nya Desi dan Faat. Mai justru jadi orang yang lebih terluka dari seluruh penghuni di rumah itu.


Sekian lama Mai menyembunyikan perasaan nya, hati nya dan cinta nya sejak sangat lama pun hingga hari ini.


"Terimakasih mas. Maaf saya terlihat begitu memalukan. Memasang seatbelt saja tidak bisa." Mai menertawakan diri sendiri kemudian menunduk tidak ingin tatapan mereka bertemu.


"Kau ini bicara apa? Kau sama sekali tidak memalukan."


Faat kembali tersenyum ramah pada Mai yang membuat dada Mai berdetak tidak terkendali.


Faat melajukan mobil nya melewati jalanan Desa yang tidak begitu halus membuat mobil itu sedikit bergoyang goyang.


"Akses jalan ke Desa cukup buruk, Kau tidak nyaman Mai?"


Faat berbicara sambil fokus menatap kedepan dengan mengendalikan kemudi.


"Saya terbiasa naik Ojek mas, Jadi walau begini masih terasa nyaman."


Senyum Mai pada Faat disamping nya.


Faat menggelengkan kepala.


"Mai?"


"Iya, mas?"


"Masa Iddah Desi sudah selesai, Apa kabar nya dijakarta ya?"


"Saya tidak tau karena tidak juga Mba Desi menghubungi saya"


"Mudah mudahan Desi bisa menjalani hidup yang baru." pungkas nya.


"Mas."


"Mmmmm"


"Katakan lah mai?ada apa?"


"Mas Faat begitu menyayangi mba Desi, mengapa melepaskan nya?."


"Panjang jika harus dijelaskan Mai."


Ujar Faat kelu.


"Saya bisa membantu mas untuk berobat."


"Maksud mu?"


Faat reflek menoleh menatap penuh selidik.


"Mmmmm itu, saya pernah mendengar perihal masalah anda, Maaf mas kalau saya lancang tapi saya hanya ingin membantu menyembukan nya."


Ciiii....tttttt...?!


Faat yang terkesiap dan hilang konsentrasinya akibat ucapan Mai hampir menyerempet pejalan kaki kemudian seketika membanting stir hingga mobil berputar 90derajat.


Faat yang tidak mengenakan seatbelt tubuh nya ambruk pada Mai yang terkesiap disana.


Tatapan kedua nya bertemu dengan tubuh Mai sedikit terhimpit Faat disana.


Seketika Faat menyadarkan dirinya dan berucap


" Maaf."


Seketika Faat bangkit dan kembali duduk didepan kemudi, kemudian memasang seatbelt disana.


Mai yang merasa semakin berdetub hanya diam mematung.


"Saya yang seharus nya minta maaf."

__ADS_1


ujar Mai pada Faat kemudian.


Mai kemudiam menggigit bibir bawah nya mengutuki ucapannya yang sudah terjadi.


Faat tidak membalas memilih mengembalikan posisi mobil seperti semula. Faat kembali melajukan mobil nya dan terus diam sejak tadi.


Mai semakin merasa bersalah, Keheningan menyelimuti dalam mobil hingga tiba didepan kampus salah satu universitas di kota Solo.


Mai melepaskan seatbelt disana melirik pria disamping nya yang tetap saja diam sejak tadi.


"Terimakasih mas, Maaf untuk ucapan saya tadi."


Mai menunggu Faat menjawab, namun sia sia. Pria yang diajak bicara sama sekali tidak merespon apapun.


"Maaf" Lirih Mai sambil menutup pinyu keluar dari mobil itu.


Seketika Faat melajukan mobil nya meninggalkan kampus disana.


Mobil terus melaju menuju gedung perkantoran tempat Faat bekerja.


Faat keluar dari parkiran melangkah menuju gedung dengan dua security berjaga dan menyapa disana.


"Pak Faat selamat pagi."


Sapa security sambil sedikit membungkuk tanda menghormati.


"Pagi."


Balas Faat sambil tersenyum ramah.


"Hari sabtu begini mas masuk kantor?"


tanya security yang memang tidak seperti biasanya Faat datang ke kantor dihari sabtu.


"Ada sedikit pekerjaan, Saya tidak akan lama."


Menyentuh bahu security sambil berlalu dari sana.


"Pak Faat memang orang paling ramah di kantor ini." ujar security.


"Iya benar, meski sama bawahan atau bahkan orang seperti kita pak Faat bersikap sama."


Security memperhatikan punggung Faat yang menjauh disana.


***


"Mai...?!"


Panggil teman kampus Mai sambil menepuk bahu nya disana.


"Kau mengagetkan ku."


Kedua nya berjalan beriringan memasuki area kampus.


"Siapa dia Mai?"


"Siapa?"


"Yang mengantar mu."


"O...Itu majikan ku. Mengajak berangkat bersama karena kebetulan searah."


"Q kira kekasih mu."


Reflek menutup mulut.


"Kau tau kan? aku bahkan tidak pernah dekat dengan pria."


Senyum Mai disana.


"Kau itu cantik Mai, Baik lagi. Banyak yang ingin dekat dengan mu."


"Mana mungkin ada yang mau jika tau aku itu hanya pembantu."


"Hemh.." Menghela membuang nafas nya.


"Ayo Mai kita masuk, Hampir telat lho."

__ADS_1


Tarik nya pada lengan Maimunah disana.


__ADS_2