
Hujan deras terus mengguyur dari langit. Desi sibuk didapur. Menyiapkan sarapan yang baru saja di antar oleh jasa pengiriman online.
Rambut lurus nya Ia ikat tinggi agar tidak menggangu. Menanggalkan hijab hanya di depan Kristian suami nya.
"Sayang, sarapan nya sudah siap."
Desi menuju kamar tapi yang dicari tidak ada.
"Kemana Kristian."
Dikamar mandi tidak ada, di ruang tamu pun tidak ada.
Desi mengintip di jendela. Mobil Kristian juga tidak ada.
"Mengapa dia pergi tidak pamit."
Bergumam sambil menuju dapur.
"Ini yang anda inginkan tuan. Hanya itu yang saya dapatkan."
Seseorang memberikan map pada Kristian yang duduk di dalam mobil.
"Pergilah, tunggu perintah ku selanjutnya."
"Baik tuan."
Pria itu membuka pintu mobil Kristian berlalu dengan mobil milik nya yang terparkir di belakang.
Kristian membuka map hasil penyelidikan tentang Klara.
Banyak foto foto dengan berbagai pria di club' malam. hingga hasil copy dari hotel hotel yang pernah Klara kunjungi bersama beberapa lelaki.
Juga hasil penyelidikan dari teman dekat nya
"Oh Tuhan. Apa yang kau lakukan Klara,!."
Kristian menyandarkan kepalanya di sandaran jok. Sedikit membenturkan kepala merasa tidak habis pikir.
Kristian kembali mengecek dua bulan kebelakang dia berhubungan dengan siapa.
Bukan urusan Kristian sebenarnya, tapi anggap saja dirinya sedang berbaik hati karena kinerja yang baik pula Klara di kantor.
FLAS BACK
"Sialan, Kalian semua brengs*k!."
Mengumpat memukul kemudi sambil melesatkan mobil nya keluar dari kediaman tuan Ramadhian.
Wajahnya masih terasa nyeri sisa tamparan dari Geo, Pria yang menurutnya gila karena tidak segan memukul nya seperti ja-lang ketika berbuat keributan di acara pernikahan Kristian.
Klara memakirkan mobil nya sembarangan saat di depan rumah.
Masuk kedalam dengan perasaan kesal.
Ibu nya Klara memperhatikan putri nya.
"Ada apa dengan mu. Kau berantakan sekali."
"Kristian Bu, Dia sudah menikah!. Ibu tahu, Aku dicampakan untuk yang kedua kali nya.
Harapan Ibu untuk aku jadi bagian dari keluarga Ramadhian sirna."
"Ini salah mu! Kau yang terlalu liar dan selalu berganti kekasih. Itu sebab nya Ibu ingin kau berubah dan segera menikah. Hidup normal seperti layaknya wanita."
Adu mulut hingga Klara kesal dan malas menanggapi.
"Huh!."
Klara menghentakkan kaki menuju kamar nya.
Ibu nya Klara duduk menyandar di sofa.
Sedangkan Klara mengganti pakaian yang memperlihatkan setiap lekuk disana.
memoles ulang wajah nya hingga terlihat sempurna.
"Astaga! Aku hampir lupa. Sudah dua bulan aku tidak datang bulan."
Melihat kalender bulanan nya diatas meja. Tidak ada tanda silang merah sejak bulan lalu.
__ADS_1
Menatap cermin memperhatikan tubuh nya yang sedikit berbeda walaupun tidak begitu kentara.
"Jangan jangan aku.."
Klara menggantung kalimat nya. Tubuh nya merinding dan Dadanya berdebar.
Melepas pakaian nya lagi mengganti dengan yang sedikit lebih longgar.
"Kau mau kemana lagi!."
Hardik ibu nya melihat Klara keluar dari kamar bersiap untuk pergi.
"Hanya sebentar Bu. Aku bukan anak kecil yang selalu meminta izin kemanapun aku pergi."
"Klara!."
Klara berlalu melajukan mobil nya menuju apotek yang tidak jauh dari rumah nya.
Keluar dari mobil kemudian masuk kesana.
Klara memandang sekeliling, Berbagai macam obat obatan berjajar rapih di lemari lemari kaca.
Seorang apoteker datang menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu?."
"Ambilkan untuk saya test pack."
Klara berkata sedikit ragu.
Apoteker mengambilkan test kehamilan yang Klara maksud.
"Dua"
Klara berkata lagi.
Apoteker menyerahkan yang Klara beli dan menerima sejumlah uang dari tangan Klara.
"Terimakasih."
Dengan berdebar dia memasukkan kedalam tas. membawa nya melesat dengan mobil nya menuju kedalam rumah dengan tergesa.
Klara menuju kamar mandi. tidak sabar lagi menunggu hingga esok pagi.
Menunggu dengan berdebar memperhatikan alat test itu dengan seksama.
Mata Klara membelalak, tubuh nya lemas saat melihat dua garis yang menandakan positif.
Klara terduduk di lantai kamar mandi. Menangis tapi entah apa yang dia sesali. memukul mukul perut nya berharap yang didalam sana keluar sekarang juga.
"Aku bahkan tidak tahu aku hamil dengan siapa."
hik..hik..hik..
Klara mengingat ingat siapa yang menemaninya malam itu. Klara membenturkan kepala nya di dinding.
Ada lebih dari tiga pria yang berkencan dengan nya dalam tiga bulan terakhir.
Bahkan ada pula yang hanya one night stand dengan nya ketika pulang dari Club' karena mabuk dan akhirnya menikmati malam panjang di hotel.
Klara berkali kali membentur kan kepala nya di dinding. Frustasi memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Mungkin alat test ini salah. Akan aku coba besok pagi."
Bergumam menghibur diri nya sebelum beranjak tidur.
***
Dan pagi nya.
Klara kembali menangis saat mencoba untuk yang kedua kali nya
"Jadi aku benar benar hamil. Astaga,!."
Mulai hari itu Klara terlihat pendiam di rumah dan di kantor.
Pulang berkerja menghabiskan waktu di Club' untuk minum dan pulang dalam keadaan Hangover.
Ibu nya hanya bisa pasrah melihat putrinya yang sangat keras kepala, sedikitpun Kara tidak mengindahkan ucapan Ibu nya. Hingga suatu malam...
__ADS_1
Klara keluar dari kantor setelah mengirimkan file file yang Kristian minta.
Seperti biasa menuju Club' tempat biasa Ia menghabiskan waktu.
"Hi baby apa kabarmu?."
Memeluk pinggang Klara mengecup pipinya disana.
Pria yang tidak asing untuk Klara.
Dia pernah beberapa kali berkencan dengan nya.
"Sedang buruk!."
Kesal Klara pada pria itu karena sedang tidak ingin diganggu.
"Baby aku Merindukan mu."
Mengecup bibir Klara disana.
"Hentikan Roby, Aku sedang tidak berminat."
Klara membuka pesan di ponsel nya.
"Astaga aku lupa.,"
Klara teringat ada file yang belum Ia kirim kan.
"Maaf Roby aku ada urusan."
Bergegas keluar dari Club' menuju parkiran.
"Klara biar aku mengantar mu."
Roby membawa Klara masuk kedalam mobil.
Mobil melesat menembus malam.
Hingga sampai di depan gedung perkantoran tempat nya bekerja.
Klara meminta izin pada Security untuk masuk kedalam. Security sedikit membungkuk disana.
Awalnya sedikit pun tidak ada curiga pada Roby yang bersikap seperti biasa.
Mobil terparkir sempurna di area parkir khusus itu.
"Baby."
Roby menyatukan bibir nya dengan bibir Klara dengan menggebu membuat Klara mendorong tubuh nya.
"Ada apa dengan mu?."
"Sudah aku katakan. Aku sedang tidak berminat."
Menjawab dengan ketus.
Roby kembali memanggil Klara hingga Klara memundurkan tubuh nya menyandar di sandaran
Robi mulai menjelajahi dengan tangan nya.
Merem*as bukit itu dengan menggebu.
Klara menikmati itu namun seketika Klara tersadar akan kehamilan nya.
Plak!
Klara refleks menamp*Ar wajah Roby
"Apa yang kau lakukan?!."
Roby mulai emosi.
"Sudah ku katakan aku sedang tidak ingin!."
Klara mendorong tubuh Roby, membuat Roby tersentak.
"Jangan memaksaku berlaku kasar pada mu."
Roby merobek pakaian Kara dibagian dada.
__ADS_1
-
Bersambung