
Pagi ini Desi dan Fa'at telah bersiap untuk pergi. Fa'at meraih travel bag memasukkan nya pada bagasi mobil yang terparkir didepan rumah.
"Kau yakin?"
Desi mengangguk meng iya kan.
"Aku sudah mengambil cuti, Kita akan berusaha bersama." Senyum tulus Desi pada suami nya.
"Maaf..."ujar Fa'at sambil menutup mata nya yang tampak merasa bersalah.
Desi menghampiri sang suami menggenggam kedua tangan nya." Kita akan mengobati nya."
Fa'at semakin kelu melihat senyum dari istri nya.
Fa'at menggenggam erat tangan Desi menuju mobil mereka.
"Bismillah" Fa'at menginjak pedal gas melesat menuju Airport. Telah menunggu Ibu mertua juga Oma disana.
Desi tertegun melihat Oma dan Ibu mertua nya jauh jauh dari desa menuju Airport hanya untuk mengantar kepergian mereka.Seketika Desi menghangat.
Keluarga Fa'at menerima nya lebih dari yang Desi fikirkan."Terimakasih ya Allah." Desi sangat bersyukur dengan apa yang Ia dapat.Memiliki suami yang sangat baik dan keluarga yang menyayangi nya.
"Hati hati sayang." ujar Oma memeluk Desi.
"Segeralah berikan cucu untuk kami." tutur Ibu mertua pada Desi sambil tersenyum disana.
"Do'a kan saja bu.." Fa'at menimpali tampat tidak senang dengan ucapan ibu nya.
Desi berpamitan mencium punggung tangan Oma juga Ibu mertua nya sambil memeluk mereka disana. Oma juga Ibu mertua memberi petuah panjang lebar pada mereka berdua.Jangan ini.. jangan itu.. begini..bla..bla..bla...
"Hanya dua minggu,berlebihan sekali."
Fa'at menghela tampak berfikir dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Desi melampaikan tangan pada Oma juga Ibu mertua nya."Sampai jumpa?!"
antusias Desi.
***
Armada besi menerbangkan Desi dan Fa'at menuju Jakarta untuk transit disana.
"Mas ketoilet sebentar"
Fa'at bangun dari duduk meninggalkan desi duduk menunggu penerbangan menuju Singapura.
Desi mengangguk meng iya kan. Desi Meraih ponsel pemberian suami nya membuka social media disana. Tersenyum membuka chat dari kawan lama nya.
"Suruh saja mereka menunggu!. Dua jam lagi aku sampai disana."
__ADS_1
Deg... "Suara itu?!" gumam nya.
Desi terkesiap mendengar suara yang sangat tidak asing ditelinga.Benar.. Nertra nya menangkap sosok pria tinggi tegap yang sedang melakukan panggilan dengan ponsel nya.Desi menatap punggung pria berstelan jas itu yang sedang melihat arloji melingkar pada lengan kiri nya disana.
Sepersekian detik pria itu berbalik,dan benar saja "itu KRISTIAN" lirih Desi.
Jantung Desi bertalu talu.Entah perasaan senang atau sedih saat ini.Terngiang kembali kenangan saat Kris menyusulnya dari Kairo ke jakarta.
Menginap di hotel yang sama hingga berbaring diranjang pria itu.Kenangan yang begitu singkat saat itu seolah berputar putar dikepala nya.
"Aku sangat merindukan mu!"perasaan Desi seolah mengatakan itu.
" Berdosa kah jika aku merasa demikian?"
Desi menunduk,tidak ingin terlihat oleh Kristian.
"Apa kau sudah melupakan ku?Kau sudah memiliki kekasih?Menikahlah segera....." lirih Desi.
Mengusap air mata nya.
Desi terkesiap melihat tangan seseorang memberikan tisu pada nya.Kemudian Desi meraih tisu itu mengusap pada mata nya yang basah.
"Terimakasih." ucap Desi sambil menatap orang yang memberinya tisu barusan.
Desi terperangah melihat pria didepan nya.
Desi reflek langsung bangun dari duduk seketika, melihat Kristian dihadapan nya. Mereka saling bertatapan. Rasa rindu yang terpendam dihati Desi membuat mata nya berkaca kaca. Perasaan yang tidak bisa dibohongi jika Desi benar benar sangat merinduka pria itu.
"Kau benar sudah melupakan aku?"
"Mengapa kau menangis?"
"Kau tidak pernah membuka atau membalas pesan dari ku!"
Desi terdiam mendengar pertanyaan Kris bertubi tubi.Desi menunduk tidak menjawab apapun.
"Tidak apa karena kau sudah menikah?!"
"Kau tau?!Aku yang bahkan hampir gila karena wajah sendu yang terus berputar dikepala?! Berhentilah menangis!"
Kris melihat arloji berlalu meninggalkan Desi yang Diam tidak menjawab semua ucapan Kristian. Adalah ungkapan kekecewaan dan rasa sakit dari ucapan dari Kristian itu secara tidak langsung semakin menusuk dihati Desi yang selalu merasa bersalah hingga saat ini.
Desi mengusap air mata yang tumpah."Mengapa harus bertemu dengan mu disini?"
Perasaan bersalah melukai dua pria baik yang begitu tulus mencintai nya.Dua pria baik yang sedikitpun tidak memandang setatus sosial nya sebagai anak dari keluarga sederhana dan bahkan pernah menjadi keluarga termiskin di desanya.
Desi yang tadinya menunduk mulai mengangkat wajah nya,menatap punggung Kristian yang pergi menjauh disana.
Kris yang melangkah menjauhi Desi diikuti asisten nya, Netra nya menutup sebentar kemudian Ia menghela. Ingatan masa lalu berputar putar dikepalanya saat ini. Senyum nya,tawa nya tatapan sendu yang dengan mudah mengelearkan air mata seolah membuka luka lama yang hampir mengering.
__ADS_1
Fa'at melihat Desi dari kejauhan sejak tadi. Sebenarnya Ia tidak benar benar ke toilet, Fa'at yang telah melihat Kristian sebelum Desi melihat nya memilih dengan sengaja meninggalkan Desi dengan alasan ke toilet. Tidak lain hanya agar bisa mempertemukan istrinya dengan cinta yang nya sesungguh nya.
"Maaf lama menunggu." ujar Fa'at mendatangi Desi seperti tidak terjadi apapun.
"Tidak apa apa mas." senyum Desi pada suami nya.
"Ayo..?!" Fa'at menggenggam erat tangan Desi menuju pesawat.
"Mas..."
"Hm?Apa sayang?"Fa'at meninggikan alis nya.
" Aku barusaja bertemu Kristian. "ucap Desi jujur.
" Tidak apa."Senyum Fa'at pada istri nya.
"Kau tidak marah?"Desi memicingkan mata nya.
"Mengapa tidak marah?harus nya kau marah atau cemburu?!" gumam Desi.
"Aku tidak marah sayang" cubit Fa'at pada hidung Desi,namun tidak sakit.
Desi mengulas senyum"Terimakasih "lirih nya.
" Jangan kau lepaskan liontin itu."Bisik Fa'at pada Desi kemudian mencium pipi Desi disana.
Fa'at sebenarnya tidak yakin jika Ia akan sembuh, Sebagai seorang suami yang tidak mampu memberikan nafkah batin dalam arti (hubungan S*x) Fa'at merasa sangat bersalah.Karena itu Ia tidak ingin egois dengan membelenggu Desi dalam ikatan pernikahan.Dalam hati nya masih sangat mencintai istri nya, namun rasa sayang yang begitu dalam pada Desi hingga Fa'at berniat untuk melepaskan desi di waktu yang tepat.
Berpisah dengan baik tanpa melukai siapapun.
***
Armada besi mengudara melesat menuju Negara Singapura.
Fa'at menarik travel bag keluar dari Airport bersama Desi istri nya menuju taxi online yang telah dipesan sebelum nya.
Sampailah mereka di hotel tidak jauh dari salah satu Rumah sakit ternama di Singapura.
Fa'at menggenggam sang istri menuju hotel tempat nya menginap."Mungkin ini akan menjadi saat saat terahir kita bersama."Gumam Fa'at dalam hati.
-
-
Mohon maaf lama ga Up..
Mohon dukungan nya kawan..
buat aku semangat..hehehe..
__ADS_1