
"Masuk lah."
Kristian membuka kan pintu mobil.
"Tapi tuan?"
Menoleh pada Kristian disamping nya yang berada di bawah guyuran air hujan dengan pelindung payung yang sama.
"Aku akan mengantar mu."
Tidak ada alasan untuk
Desi masuk kedalam mobil dengan Kristian menutupnya kemudian.
Kris membuka bagasi meletak kan beberapa paper bag milik Desi di sana kemudian beralih menuju kemudi.
Kristian melajukan mobil nya dibawah guyuran air hujan yang begitu sangat deras.
"Maaf menyusahkan anda."
Ujar Desi memecah keheningan.
"Tidak apa."
Berkata sambil mematikan AC disana.
Desi memperhatikan Kristian yang hanya menggunakan kemeja merasa tidak enak pada nya.
"Ada apa?"
Kristian menoleh pada Desi disamping nya merasa diperhatikan sejak tadi.
"Apa anda kedinginan?"
Bertanya sambil menyentuh Jas milik Kristian yang Desi kenakan.
"Tidak. Kau pakai saja."
Kembali menatap kedepan dan terus melajukan mobil nya dengan hati hati.
"Tuan?"
Kristian menoleh tanpa bicara.
"Maafkan aku."
Desi menunduk teringat masa lalu.
Kristian menghela.
"Apa suami mu keberatan aku mengantar mu?"
Berpura pura tidak tahu Desi telah bercerai.
Desi hanya menggelengkan kepala.
"Tidak, Sebaik nya turunkan aku disini saja tuan."
"Apa kau sudah gila? Hujan sangat lebat. Bagai mana jika nanti kau sakit?."
"Desi mengulas senyum samar." Sudah aku sakiti mengapa kau tetap saja baik dan memperhatikan ku?"Batin nya.
"Jangan cemaskan aku."
Kristian tidak mengidahkan ucapan Desi, Ia terus melajukan mobil nya dibawah guyuran air hujan hingga sampai di area pesantren.
Kristian menoleh kearah Desi yang sudah terlelap di samping. Hanya nafas nya saja yang terdengar.
"Kau tidur?"
Tidak ada jawaban. Desi benar benar tertidur.
Kristian membuka kaca mobil ketika sampai di depan pintu gerbang Pesantren Al- Ikhsan.
Security membawa payung menghampiri nya. Terkesiap melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Ya! Tentu saja security mengenal Kristian, Donatur dengan penyumbang dana terbesar di pesantren itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?." sedikit membungkuk menghormati.
"Tolong bukakan pintu nya. Saya mau mengantar ustadzah Desi ke rumah dinas nya."
"Tolong sampaikan izin saya pada pengurus."
Security memperhatikan Desi yang terlelap di sana.
"Mohon maaf tuan, bagaimana anda bisa bersama ustadzah Desi?."
"Saya menemukan nya di pusat perbelanjaan."
"Baik tuan, saya akan sampaikan."
Kristian menunggu Security yang sedang bergegas melapor kedalam.
Kristian menyentuh air hujan dengan tangan nya.
"Bahkan hingga hari ini pun aku belum bisa melupakan wanita yang ada disampingku."
Gumam Kristian dalam hati.
"Tuan, anda di izinkan masuk."
"Terimakasih."
Security membuka gerbang sedangkan Kristian melajukan mobil nya masuk kedalam area pesantren. Mobil terus melaju hingga sampai di depan rumah dinas milik Desi.
Kristian tidak membangunkan Desi, melainkan memilih membuka pintu mengeluarkan payung kemudian memakai nya.
Kristian meraih semua paper bag yang ada di dalam bagasi membawa nya meletak kan di depan pintu rumah Desi.
"Sudah sampai."
Kristian membangunkan Desi.
Desi tidur lelap sekali hingga berkali kali Kristian bangunkan.
Desi perlahan membuka mata nya."Sudah sampai?"
"Maaf."
Suara serak khas bangun tidur.
"Terimakasih tuan."
Desi membuka seatbelt disana.
"Turun lah. Aku tidak nyaman berada terlalu lama ditempat ini."
"Baik."
Desi pun keluar dari mobil secepatnya Kristian langsung berlalu dari sana.
Desi memperhatikan mobil yang berlalu disana hingga tidak lagi terlihat.
"Hati hati Kristian."
Desi berbalik menuju ke teras rumah.
Desi mengeluarkan kunci rumah dari dalam tasnya.
Desi membuka pintu kemudian meraih paper bag yang tergeletak di depan pintu.
"Kenapa banyak sekali?"
Terkesiap dengan jumlah barang belanjaan Desi.
"Apa ini sebagian milik nya? "
Desi membawa seluruh paper bag masuk kedalam kamar tidak ingin paper bag itu basah terkena air hujan.
Mata nya membelalak ketika membuka paper bag yang berisi tas cantik yang Ia ingat harga nya fantastis.
__ADS_1
"Ini milik siapa?"
Desi kembali memeriksa seluruh paper bag disana.
"Semua ini kenapa bisa ada disini?."
"Ini kan barang barang yang aku sukai."
"Jangan jangan dia?!..."
Desi menyentuh Jas milik Kristian.
"Mengikuti ku?."
"Sejak kapan?."
"Jangan jangan pertemuan di dalam gedung bioskop juga bukan kebetulan?."
Desi mengingat ingat kejadian tadi sambil merebahkan tubuh nya di ranjang.
"Ternyata kau tidak pernah berubah."
Desi memeluk Jas Kristian membawa nya tidur mencium aroma khas nya disana.
"Jas mu sangat harum. Akan ku kembalikan setelah aku mencuci nya."
***
Kristian melajukan mobil nya keluar dari area pesantren melesat menembus deras nya hujan hingga sampai di apartement.
Mobil terparkir sempurna namun Kristian masih enggan untuk keluar.
Entah apa yang merasuki fikiran nya, Ia membenturkan kepala pada Kemudi.
"H...hhh"
Kristian menghela keluar dari mobil.
"Bip... Bip."
Kristian keluar dari area parkir memasuki lift khusus Kemudian naik menuju tempat nya.
"Tit."
Kristian masuk kedalam apartement nya merebahkan diri di sofa.
"Apa aku harus mengejarmu untuk yang kedua kali nya?"
"Atau beralih membuka hati pada wanita lain?"
"Aahhhh..."
Kristian mengusap wajah nya kasar kemudian bangkit dari tidur nya berjalan menuju ke kamar.
Kristian melepaskan dasi nya, arloji nya, Pakaian nya pun terlepas satu per satu kemudian membenamkan tubuh atletis nya pada bathtub yang telah terisi air hangat..
Kristian menikmati setiap sentuhan air hangat dan aroma teraphi menetralkan suasana hati nya saat ini.
Bell berbunyi. Kristian keluar dengan piyama melekar pada tubuh nya.
"Masuk."
Kristian duduk di sofa mempersilahkan orang itu duduk di hadapan nya.
"Hanya ini informasi yang saya dapatkan, tuan."
Kristian meraih map melihat foto foto Fa'at dan Desi bahkan ketika Ia disingapura.
"Sakit apa Dia hingga berulang kali ke Dokter?"
"Itu kami tidak mampu memberikan informasi karena pihak Rumah Sakit, bahkan Dokter pun tidak bisa memberikan keterangan."
"Baik lah, kau boleh pergi."
Meletak kan map itu di meja.
__ADS_1
Menyandar pada sofa, memijat pelipis nya memejam untuk berfikir di sana.
"Apakah aku boleh serakah mengikat mu untuk yang kedua kali nya?"