Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Tulus nya Kristian


__ADS_3

Masih di dalam kamar. Baru malam ini kamar Kristian ditempati oleh wanita. Untuk pertama kali juga Kristian tidur mendekap wanita.


Kristian merebahkan diri membenam pada dada Desi. Seperti anak kecil yang nyaman di dada Ibu nya.


Desi mengusap usap rambut Kristian yang mulai mengering.


Desi sangat bahagia, ternyata se manja ini Kristian pada nya.


"Bagaimana bisa kau menikah selama 8 bulan. namun suamimu tidak menyentuh mu?"


Mengulang pertanyaan lagi.


" Apa itu penting untuk dibahas? Saya tidak yakin anda tidak tahu."


"Aku hanya berusaha menjaga mu. Aku tidak mungkin bertindak sejauh itu, mencampuri pernikahan mu."


"Dia mantan suami saya. dan Anda lah suami saya yang sekarang."


Mengusap usap rambut Kristian yang menempel di dada.


"Jangan lupa kan itu ya."


Menjewer telinga Kristian.


"Kau mulai berani, Hm?."


Kristian mendongakkan kepalanya menatap Desi.


"Apa?"


Desi memalingkan wajah nya


"Kau menggemaskan sekali. "


Kristian beranjak naik me..nin..dih Desi dengan kedua tangan Kristian menopang tubuh nya agar tidak ambruk.


"Anda mau apa"


Menatap Kristian dengan jarak pandang yang dekat.


"Aku hanya ingin menggigit mu."


Berbisik di telinga Desi dan benar menggigit nya.


"No, sayang."


Desi bergedik.


"Aku lelah."


"Kalau begitu tidur lah, Kau terlihat sangat lelah. Kita bisa lanjutkan besok"


Melirik jam dinding pukul 2 dini hari.


"Apa?."


"Bukan apa apa, tidur lah."


Terlentang kemudian meraih Desi masuk dalam dekapan nya.


"Aaa...Aku sangat malu."


Membenamkan wajahnya di dada Kristian. Sadar akan tubuh polos nya yang menempel pada Kristian di bawah selimut.


***


Dan pagi nya..


"Bangun Desi, kau akan melewatkan ibadah mu."


Mengusap pipi Desi menepuk nepuk di sana.


Desi membuka mata, Terkesiap melihat Kristian mengenakan baju Koko beserta sarung seperti nya baru saja beribadah.


"Maaf sayang, tapi bisa kah anda ambil kan bathrobe untuk ku."


Berkata malu malu karena Desi tidak berpakaian.


Tanpa berbicara Kristian meraih bathrobe memberikan untuk Desi.

__ADS_1


"Pakai lah."


Sepersekian detik Desi melesat menuju kamar mandi.


Kristian tergelak melihat tingkah istri nya.


Menarik Sprey yang semalam Ia gunakan, terdapat bercak darah disana dan melempar kan pada keranjang.


"Apa aku terlalu keras malam tadi ya?."


Tergelak sendiri mengingat kejadian semalam.


Membuka lemari meraih bed cover. Sambil tergelak disana kemudian memasang nya.


"Aku bahkan masih hafal diluar kepala raut wajah mu semalam"


Kristian melepas baju Koko nya dan mengganti nya dengan pakaian santai, kaos polos yang melekat di tubuh Kristian.


Kristian keluar dari kamar nya menuju sofa menyalakan televisi sambil menunggu Desi menyelesaikan aktivitasnya.


Di dalam kamar mandi. Desi kaget menatap dirinya di cermin.


Tanda tanda ulah Kristian semalam memenuhi leher dan dadanya.


"Dasar Kristian kurang kerjaan."


Desi terus memperhatikan dirinya di depan cermin.


Dasar mesum, Ia terus saja mengingat kejadian semalam. De..sa..han Desi yang memenuhi kamar. Beruntung dipasang alat peredam suara oleh Farel. Apa lagi saat berada di kamar mandi, detak jantung yang menggema seperti dentuman musik DJ masih tercatat indah di memori kepala.


"Apa yang sudah ku lakukan semalam."


Tersenyum senyum sendiri didalam kamar mandi.


"Aw! Perih."


Terasa saat tubuh nya terguyur air dari shower.


Desi memulai mandi wajibnya.


"Sudah lelesai."


Desi Keluar dari kamar mandi terpana saat membuka lemari pakaian.


Pakaian dari berbagai merk ternama mulai dari lingerie,dalaman hingga hijab tersusun rapih di sana.


"Wow, gaji ku selama beberapa tahun dikumpul kan pun tidak akan sanggup membeli ini."


Desi meraih mukena untuk nya melaksanakan ibadah. Namun sebelum itu Ia meraih piyama dan mengenakan nya lebih dahulu.


Desi keluar dari kamar berjalan hati hati.


Masih terasa perih dan tidak nyaman dibawah sana.


Melangkah menuju dapur mendekati lemari pendingin dan membuka nya.


Kosong. Tidak ada apa apa selain beberapa buah dan minuman


"Kau mencari sesuatu?."


Desi terkesiap mendengar suara Kristian yang tiba tiba memeluk dari belakang.


"Saya ingin memasak. tapi tidak menemukan apa pun disini selain ini."


Menunjukkan buah apel pada Kristian.


"Aku bisa memesannya untuk mu. Kau tidak perlu memasak."


Mengecup bahu Desi meraih apel di tangan nya kemudian menggigit nya sambil berlalu menuju sofa.


"Kristian kau manis sekali."


Desi mengikuti Kristian menuju sofa.


Berjalan perlahan. Kristian menyadari sesuatu, kembali berbalik kembali menuju Desi.


"Maaf kan aku, Kau pasti sangat tidak nyaman kan?."


Menggendong Desi menuju sofa.

__ADS_1


"Saya bisa jalan sendiri.,"


Mengalungkan tangannya pada leher Kristian.


Kristian tetap membawa Desi menuju sofa.


Hati Desi berbunga bunga dan bergumam dalam hati.


Dicintai dan di perlakukan istimewa seperti ini. Bahkan aku merasa jadi wanita paling beruntung dicintai dengan tulus sepenuh hati. Jika aku boleh serakah, Aku ingin seperti ini selama nya.


Kristian merebahkan tubuh Desi di sofa.


Kristian duduk di sebelah Desi dan menepuk nepuk paha nya.


"Berbaring lah."


Desi pun meringsut meletakkan kan kepalanya di paha Kristian sambil menonton layar Televisi.


"Tidak kah sebaiknya Kita pergi ke rumah Tuan Ramadhian,?"


"Bukan tuan tapi Daddy."


Kristian menimpali sambil menatap Desi kemudian beralih lagi pada layar Televisi.


"Oh, iya maaf. Daddy."


Menggantungkan kata terakhir karena masih asing di telinga.


Masih seperti mimpi jadi bagian dari keluarga Ramadhian.


"Tidak, kau disini saja."


Kristian meletakkan tangan nya di dahi Desi.


Eh..


Rasanya begitu hangat nyaman membuat Desi ingin memejam. Sentuhan tangan yang membuat Desi merasa terlindungi.


"Mengapa?."


Berkata sambil memejamkan mata.


"Kau tidak akan nyaman saat berjalan, biar aku saja yang kesana. Kau disini saja, akan ada tim ahli Spa yang membantu mu mengurangi rasa lelah."


Menunjuk gitar lelah di dahi Desi.


"Anda baik sekali, bahkan terlalu baik untuk wanita seperti aku."


Menyandar pada Bahu Kristian.


Memang kau seperti apa?Dasar bodoh!


"Saya berpisah dengan Mas Faat karena ketulusan beliau. Pria yang melepas istri nya hanya karena tidak ingin membelenggu dalam pernikahan yang bahkan beliau sangat khawatir aku tidak bahagia."


Bla bla bla Ahir nya bercerita tanpa ditanya.


Raut wajah Kristian sedikit berubah. Mungkin karena cemburu atau semacam nya.


Suasana menjadi hening dan sedikit canggung.


Desi merasa tidak enak karena Kristian yang menjadi pendiam. Entah apa yang Dia fikirkan saat ini.


Jam di dinding terus berputar, Kristian belum juga berbicara.


"Sayang apa anda marah?."


Desi memberanikan diri untuk menyentuh pipi Kristian dan mengusap usap nya.


"Tidak, hanya saja "


Diam sejenak.


"Dia berhasil mengambil hati mu dari ku."


"Bukan, anda salah faham."


Desi menggeleng kan kepala.


Kristian menyentuh kepala Desi.

__ADS_1


"Aku yang menyedihkan tidak bisa melupakan mu kala itu. Tapi sudahlah. Aku bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita lagi. Tuhan Maha Baik, itu yang aku sedang fikirkan sejak tadi."


next


__ADS_2