
Drama penuh haru terjadi di kediaman keluarga Prana Jaya melepas kepergian menantu yang sudah tidak lagi menjadi bagian dari keluarga mereka.
Oma yang sebelum nya limpung tidak sadarkan diri masih berbaring dikamar nya hingga saat ini.
Ibu mertua masih terus menghirup oksigen karena asma yang tiba tiba kambuh dengan nafas pendek nya memberi petuah sambil menyentuh pucuk kepala Desi yang tertutup hijab disana.
"Kami menyayangi mu, Maaf kan Ibu yang pernah menyakiti mu. Semoga Tuhan menganugrahkan kebahagiaan untuk mu. Jagalah silaturahmi dengan keluarga kami."
Bla..bla..bla..Ibu mertua terus menasehati dengan nafas pendek ter engah engah sebab efek dari asma yang tiba tiba datang.
"Desi juga minta maaf bu, Terimakasih sudah menjadi sosok Ibu yang Desi rindukan." lirih nya mengingat Ibu kandung Desi yang telah lama tiada dan seperti rundu yang begitu lama terobati oleh hadir nya Ibu mertua.
Desi semakin mendekap erat Ibu mertua menenggelamkan wajah nya di dada.
Ibu mertua memeluk Desi sambil tersendu seperti enggan melepas kepergian nya."Aku sungguh menyayangi mu."
Seluruh anggota keluarga melepas kepergian Desi sampai di depan pintu utama kecuali Oma.
"Sering sering lah berkunjung kemari mba.."
Mai berkata sambil mengusap air matanya.
"Insya Allah Mai.. Jaga Ibu dan Oma." Desi yang berkata kemudian berbisik "Jaga mas Fa'at, Kau bisa menyembuh kan nya" Desi menyentuh wajah Mai dengan kedua tangan nya.
"Apa?!"
batin Mai.
"Mba Desi bicara apa?!."
Desi tersenyum melambai pada mereka mendekat pada Fa'at kemudian.
Berdiri berhadapan kedua nya saling menatap lekat.
"Maaf kan aku." lirih Desi.
Fa'at menggeleng."Maaf... Aku yang salah."
"Sssttttt..."
"Mas tidak pernah melakukan kesalahan apapun."
"Berbahagia lah."
Fa'at menyerahkan kunci yang sebelum nya telah Ia utarakan pada keluarga nya jika Fa'at akan memberikan hak hak Desi sepenuh nya.
Fa'at memberikan rumah yang mereka tempati sebelum nya. Reaksi keluarga sangat mendukung
yang membuat Desi dan Abah terkesiap juga Hengki dan Harli. ternyata memang keluarga Fa'at benar benar menyayangi Desi membuat mereka terenyuh.
Desi meraih kunci itu mengulas senyum sambil menitik kan air mata menatap Fa'at sambil mengucapkan terimakasih tanpa bersuara.
Fa'at mengangguk seolah mengerti dari tatapan Desi pada nya,apa yang akan Desi ucap kan.
Abah dan Ayah Jaya beramah tamah saling berucap kata "Maaf" yang sudah entah keberapa kali nya kata itu keluar dari bibir mereka disana.
__ADS_1
Mobil melaju dengan Desi menurunkan kaca melambai disana meninggalkan keluarga yang sangat baik menjauh.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***********
Desi melangkah masuk menuju rumah yang biasa Ia tempati bersama Fa'at mantan suami nya.
Mantan? Ya.. mantan. Fa'at telah menjatuhkan talak dan sebentar lagi mereka resmi bercerai.
Setelah beberapa hari Desi menginap di rumah Abah nya, Desi ahirnya kembali ke rumah yang terdapat sejuta kenangan bersama pria baik yang tulus mencintai nya. Desi meraih handle pintu membuka pintu menyentuh saklar menyalakan lampu.
Sepi...Hening....
Teringat biasa nya mendapat sambutan dari Fa'at yang biasanya pulang dari kantor lebih awal untuk menyambut Desi. Kali ini tidak ada lagi.
Desi menghela menarik nafas panjang menuju dapur membuka tudung saji.
Kosong...
Semua tampak rapi tidak ada yang sibuk memasak membuat menu menu yang biasa Desi buat dan coba mempraktekan nya demi tidak ingin merepotkan Desi. Tidak ada lagi pria yang selalu memperhatikan jadwal shalat atau bahkan jadwal makan yang selalu Desi abaikan.
Desi masuk kekamar menatap ranjang,menghela merebahkan diri di sana. Tidak ada lagi pria lembut yang selalu mengusap dahi hingga ramut nya ketika akan tidur sehingga Desi cepat terlelap. Atau pria yang tiba tiba meraih kaki Desi meletak kan dipangkuan nya untuk dipijat.
Desi mengusap usap tempat biasa Fa'at berbaring yang sekarang telah kosong, penghuni nya telah pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali.
"Sendiri tanpa mu..." Desi mengulas senyum.
Walaupun hingga hari ini pun belum ada perasaan yang sama ketika Ia dulu jatuh cinta.
Perasaan terhadap Fa'at sedikit berbeda, perasaan sayang namun bukan lah cinta seperti sebelum nya pada Kristian.
Desi harus memulai semua dari awal berdiri sendiri dan melangkah kan kaki kedepan.
Ponsel berdering membuyarkan lamunan.
"Assalamu'alaikum ustadzah.."
"Wa'alaikumsalam."
suara wanita terdengar disana.
"Bisakah anda ke kantor sekarang ustadzah Desi?"
"Saya? Baik lah, saya segera kesana."
"Assalamu'alaikum"
Desi bergegas bersiap menuju pesantren Al ikhsan berjalan dengan tergesa menuju kedepan pintu gerbang yang sebelum nya telah memesan ojek yang juga telah menunggu.
"Jalan pak."
Security membuka gerbang mempersilahkan Desi untuk masuk.
__ADS_1
"Silahkan ustadzah."
"Terimakasih pak."
Desi berjalan tergesa memasuki area perantren khusus tempat wanita menuju ruangan besar dengan senior yang menunggu disana.
"Silahkan kan Duduk ustadzah Desi."
Desi mengikuti duduk dihadapan ustadzah Mariska senior nya yang menjadi kepala pengurus pondok pesantren di Al Ikhsan.
"Ada apa gerangan ustadzah memanggil saya."
tutur lembut Desi pada wanita paruh baya di hadapan nya.
" Selamat ustadzah,Ini surat tugas anda untuk mengajar di Al-Ikhsan yang ada di pusat"
"Apa?"
"Maaf tidak memberitahu sebelum nya, Karena hari itu anda sedang cuti ustadzah Desi."
Artinya Desi dipindah tugaskan untuk mengajar di kota Jakarta. Desi berfikir sejenak.
"Ustadzah Desi, Ini kesempatan yang sangat baik untuk anda. Kami harap anda tidak menolak nya."
Senyum lembut dari ustadzah Mariska senior nya.
Desi masih mencerna setiap kata kata ustadzah Mariska.
"Baik lah, Jika anda bersedia. Lusa anda akan berangkat.Besok datang lah lebih awal."
Ustadzah Mariska berdiri mengulurkan tangan tersenyum manis pada Desi. Diikuti Desi melakukan hal yang sama menjabat tangan Ustadzah Mariska kemudian.
Desi keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang masih tidak percaya. Artinya Ia akan meninggalkan kota solo, meninggalkan Abah hengki dan Harli.
"Mungkin sesekali aku mengunjungi mereka."
Gumam nya menguatkan.
Desi melangkah keluar dari pesantren menatap sekeliling."Lusa aku akan meninggalkan tempat ini. Meninggal kan murid murid ku yang selalu menghibur dan menyapa menyambut kedatangan ku."
Desi menghela, pada ahir nya akan ada juga perpisahan dan pertemuan denggan hal hal baru.
Desi terus berjalan menyebrang jalan yang banyak lalu lalang kendaraan membunyi kan klakson.
Terus melangkah melewati pinggiran jalan raya hingga memasuki area perumahan tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari Pesantren Al-Ikhsan.
"Bismillah."
-
-
Mohon maaf masih slow Up..
mohon dukungan nya kawan.. Terimakasih
__ADS_1