Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Honeymoon part 2


__ADS_3

Cuaca terasa begitu sejuk di pagi hari, matahari tidak nampak terik di kota ini. kota Tokyo dengan segala kesibukan di pagi hari. Perekonomian juga tekhnologi berkembang pesat di kota ini. Lalu lalang manusia melangkah tergesa dengan segala aktivitas mereka berpapasan dengan Kristian yang menggenggam erat tangan Desi disana.


Matahari mulai meninggi, tetap teduh sebab berjalan kaki dibawah teduh nya bunga sakura.


Suasana semakin sepi, jarang sekali seseorang lewat di tempat itu kala siang hari.


"Itukah yang disebut bunga sakura?."


Mendekatkan tubuh nya menyandar pada Kristian.


"Hm. Aku tau kau akan menyukai tempat ini, itu sebab nya aku membawa mu."


Mengecup tangan Desi.


Merangkul nya kemudian



"Kau lapar? Kau belum mengisi perut mu sejak pagi."


"Entahlah, tempat ini membuatku tidak menginginkan apapun."


"Tunggu sebentar, aku belikan itu untuk mu."


Kristian menuju toko roti di pinggir jalan kecil itu, Desi berdiri menunggu nya sambil melihat Kristian berbicara dengan penjual roti.


Di sudut sana, seseorang yang telah mengintai sejak lama menatap awas Desi dan Kristian.


Kristian keluar dari toko membawa paper bag berisi dua potong roti.


"I love you,"


Desi meninggikan suara yang membuat Kristian tergelak dan mengulas senyum disana.


tiba tiba..


"Dorr!! Dorr!!"


"DESI...!!"


Kristian menjatuhkan paper bag berlari meraih istri nya menarik agar menunduk.


"Aaaa...!!"


Desi memekik mendekap erat Kristian. Dada nya berdebar ketakutan.


Wanita penjual roti pun memekik terjongkok ketakutan.


Kristian menatap awas pada sekeliling. Meraih Desi membawa nya berlari memasuki gang yang berada di samping toko.


"Ikut aku! "


Kristian menggenggam erat tangan Desi berlari sambil menatap awas pada sekeliling.


Tiga orang berstelan jas hitam mengejar mereka dengan revolver ditangan nya.


"Berpencar!!."


Mereka pun berpencar memasuki flat flat pemukiman padat penduduk.


"Ada apa ini, mengapa ada yang ingin mencelakai kita?!."


"Terus lah berlari, jangan banyak bertanya?!."


Kristian meninggikan suara.


Membuat Desi terdiam terus berlari melewati jalanan kecil yang menghubungkan dengan Flat flat hunian padat penduduk disana.

__ADS_1


"Genggam erat tangan ku. Jangan pernah kau lepaskan."


Kristian melembutkan suara nya.


Desi mengangguk dengan tangan yang terus di tarik Kristian untuk terus berlari. Nafas nya ngos ngosan, Desi benar benar kelelahan.


Desi menangis, entah sejak kapan air mata nya lolos begitu saja.


"Lengan mu berdarah. Kau terluka."


"Aku tau."


Meraih Desi mendekap nya bersembunyi di balik dinding di dalam gedung tua, seperti nya flat itu lama tidak berpenghuni.


Lengan Kristian terus mengeluarkan darah, wajahnya terlihat pucat, seperti nya dia sedang menahan diri.


"Lihat lengan mu, Kau harus mendapatkan pertolongan segera."


"Sssttt..Tenang lah, aku tidak apa apa."


Mengusap pipi Desi yang basah.


"Jangan menangis, aku benci air mata mu."


Kristian meraih ponselnya, mengetik pesan Ia tujukan pada Mr tsaichi.


"Watashi wa anata no tasuke ga hitsuyōdesu, watashi wa uta remashita"


(Aku membutuhkan bantuan mu, aku tertembak)


"Bantuan akan segera datang, ada aku disisi mu. jangan takut"


Meraih Desi mendekap nya erat.


"Kau terluka, aku tau ini pasti sakit. Kau berusaha menahan nya agar aku tidak mencemaskan mu kan?."


Mengusap lengan Kristian perlahan.


"Berhentilah menangis, aku tidak sanggup melihat nya."


Mengecup dahi Desi, mata nya memejam menahan rasa sakit.


Semakin lama pandangan nya berkunang-kunang dan perlahan kabur, Ia terlalu banyak mengeluarkan darah.


"Sayang?"


Dada Desi berdebar saat Kristian menjatuhkan dekapan tangan nya, mata nya memejam tubuh nya lemas wajah nya pucat pasi.


"Sayang bangun, jangan begini. Apa yang terjadi dengan mu?! hik..hik.."


Desi memeluk erat tubuh lemas yang tidak berdaya itu "Jangan tinggalkan aku, ku mohon bertahan lah sebentar lagi."


Seseorang datang,


"Kemana mereka! Seharus nya tidak jauh dari sini."


Seorang pria berkata pada rekan nya.


"Mereka pasti bersembunyi."


"Cari mereka, Hidup atau mati,!."


"Baik!"


Pria itu berpencar, Desi semakin berdebar ketakutan di balik dinding. Meski Ia sama sekali tidak mengerti yang mereka ucap kan, tapi Desi yakin mereka adalah orang orang yang menembak Kristian bukan bantuan dari Mr tsaichi yang Kristian kata kan.


Desi mendekap Kristian yang tidak sadarkan diri. Entah masih hidup atau sudah tidak bernyawa Desi pun tidak peduli."Kau begini karena aku. Mereka ingin menenb*k ku tapi kau jadi korbannya. Maaf, aku selalu menyusahkan mu"

__ADS_1


Desi mengecup rambut Kristian dan terus mendekap nya erat.


"Bertahan lah, Ku mohon..."


Desi terus menerus berdo'a dalam hati. Memohon pertolongan pada Tuhan nya, Air mata tidak henti henti nya mengalir, Dada nya berdebar begitu takut.


Bukan takut atas dirinya dalam bahaya namun lebih takut Kristian tidak mampu lagi bertahan. Semakin gusar karena pertolongan pun belum kunjung datang.


***


Mr tsaichi meraih ponsel nya yang asisten nya berikan. Terkesiap hingga bangkit dari duduknya membaca pesan dari Kristian.


"Kerahkan semua orang orang ku, Cari Mr Kristian sekarang."


Mr Tsaichi meninggikan suara memerintahkan pada asisten nya.


Mengusap wajah nya kasar gusar karena takut terjadi sesuatu pada Kristian.


"Oh, ****!! Apa yang harus aku katakan pada Mr Ramadhian jika terjadi sesuatu pada putra nya diluar pengawasan ku!!."


Semakin gusar karena Asisten nya tidak kunjung bergerak.


"Dimana kita mencari nya Tuan?"


"LACAK BODOH!!."


Pekik Mr Tsaichi.


"Ba-Baik tuan."


Asisten Mr Tsaichi membungkuk kemudian bergegas berlalu dengan gemetar.


Asisten Mr Tsaichi mengerahkan seluruh bodyguard nya bergerak menuju mobil masing masing dengan gerakan terkoordinasi melaju menuju gedung Flat tua tempat Kristian berada.


Seluruh bodyguard berpencar, dengan revolver ditangan mereka masing masing.


Dorr!! Dor!!


Baku tembak tak terelakan antara tiga orang itu dan beberapa bodyguard Mr Tsaichi.


"Menyerahlah, kalian telah dikepung!!"


pekik asisten Mr Tsaichi pada tiga orang bandit yang salah satu dari mereka telah menembak Kristian.


Dorr!! Dorr!!


Ahirnya dua pria itu berhasil dilumpuhkan, namun yang satu berhasil melarikan diri melesat jauh tanpa jejak.


"Mr Kristian, keluar lah. Kami datang untuk menolong mu."


Desi tidak mengerti apa yang mereka katakan, beruntung salah satu bodyguard bisa berbahasa Indonesia.


"Tuan Kristian, kami datang untuk menolong anda."


Salah satu bodyguard mendekati Desi yang telah melacak keberadaan nya, merendahkan tubuh nya memeriksa keadaan Kristian yang masih dalam dekapan Desi dengan air mata yang terus saja mengalir.


Desi mengangguk, para bodyguard mengangkat Kristian dengan tim medis telah disiapkan, memasang Nasal oxygen cannula kemudian memasuk kan Kristian kedalam ambulance.


Sirine ambulance dinyalakan ketika mobil ambulance itu terus melesat dengan kecepatan tinggi.


"Bertahan lah sayang. Kumohon"


Desi terus menangis menggenggam erat tangan Kristian.


"Jangan tinggalkan aku."


-

__ADS_1


-


Next


__ADS_2