
Pagi hari seperti biasa, Mai membersihkan seluruh rumah. Memasak untuk seluruh anggota keluarga. Tidak lupa membuat ramuan tradisional untuk Faat diminum setiap pagi nya.
Mai menuju kamar Oma, membawa nampan berisi sarapan pagi untuk Oma.
"Oma sarapan dulu ya, Biar Mai yang suapi.
"Kau masak apa Mai, harum sekali."
Ujar oma bangun dari tidur nya kemudian duduk di ranjang bersandar disana.
"Semoga rasa nya sesuai dengan aroma nya Oma."
Berbicara sambil menyuapi Oma.
Sejak kepergian Ibu Faat, Oma sering murung dan lebih suka diam menyendiri di kamar.
Mai lah yang selalu datang menghibur dan menyiapkan makan untuk Oma. Entah itu sarapan pagi atau makan malam.
"Terimakasih sayang."
Oma mengusap kepala Maimunah yang tertutup hijab.
Faat yang memperhatikan itu dari pintu mengulas senyum. Hati nya menghangat. Faat kemudian keluar tidak ingin mengganggu Oma.
"Oma, Mai keluar dulu ya."
Mai mencium dahi Oma kemudian berlalu dari kamar Oma dan menutup pintu.
Mai kembali ke dapur, Mencuci bekas makan Oma tadi.
"Badan ku gerah sekali."
Mai menuju kamar, meraih handuk masuk kedalam kamar mandi.
Faat menuju dapur menarik kursi di depan meja makan dan meminum ramuan yang Mai buat setiap pagi nya.
"Kemana Mai, Bukan kah tadi dia disini?."
Faat bangkit dari duduk mencari Maimunah istri nya.
Faat membuka pintu kamar yang tidak terkunci.
Terdengar gemericik air di dalam kamar mandi.
"Kebiasaan buruk, Mandi tanpa mengunci pintu."
Berkata sambil membuka pintu kamar mandi.
"Aaaaa...."
Mai memekik, berbalik dan menghadap dinding menutupi tubuh nya yang hanya mengenakan pakaian dalam.
"Sssssttttt."
"Kau bisa membuat orang seisi rumah datang kemari.
Faat mendekati Mai kemudian memeluk Mai dari belakang.
" Maafkan aku."
Faat mengecup bahu Mai yang basah.
Mai tersentak. Seketika Dada Mai berdebar debar.
"Mas Faat."
"Maaf aku terlambat menyadari tulus nya cinta mu."
Menenggelamkan kepala nya di bahu Mai.
Untuk pertama kali nya yang dibawah sana bereaksi dan menegang sempurna.
Faat menitik kan air mata.
Berucap syukur dalam hati.
"Mas Faat."
Dada Mai semakin berdebar hebat disana.
"Mai, Aku mencintai mu."
Faat berbisik di telinga Mai, membuat desiran listrik menjalar diseluruh tubuh.
Perlahan Faat membalikkan tu...buh Mai.
Mai menunduk. Antara malu dan terharu.
Faat meraih tu...buh Mai kemudian mendekap nya.
__ADS_1
Airmata Mai tumpah seketika.
"Maaf sayang, Mengabaikan mu sekian lama."
Faat mengecup dahi Mai, istrinya.
"Aku mencintai mu."
Mengecup pipi kanan dan kiri.
Tangan kanan Faat memutar shower hingga mengguyur tubuh mereka.
Cup...
Faat menautkan bibir nya dan Mai disana.
Meresapi rasa cinta kedua nya. Tautan semakin dalam dengan tangan kanan beralih pada da..da Mai disana.
Faat me..re..mas bukit keny..al disana. Membuat Mai meremang.
Bi..bir terus bertaut sempurna kemudian tangan Faat membuka cup yang menutup bukit disana.
Hingga da..da Mai terekspose sempur na.
Faat menurunkan ke..cupan nya menuju leher benciptakan tanda tanda disana.
Dengan tangan meraih sabun cair dan terus me..re..mas diatas bukit keny..al disana hingga di setiap lekuk Mai.
"Mas.."
Faat mulai me..nyesap bukit itu. memainkan li..dah nya disana.
"A..hhh"
De..sa..han terdengar mendayu di telinga.
Faat semakin melancarkan aksi nya.
terus menyesap dengan tangan kanan Mai menyen..tuh inti di bawah sana.
Faat memainkan dengan jari nya.
"Mas..."
Faat me..le..pas pakaian yang telah basah.
"Aku sudah sembuh. Kita akan melakukan nya."
Menyentuhkan dahi nya pada dahi Mai.
"Mas Faat."
Mai mengalungkan tangan nya pada leher Faat.
Faat keluar dari kamar mandi membaringkan tu..buh Mai di atas ranjang.
Faat berdo'a sebelum memasuk kan mi..lik nya yang menegang sempurna kedalam inti dari Mai.
"Aa..hhh."
Ri..ti..han terdengar ketika Faat mulai membelah disana.
Mai menyengkram sprey. Terasa penuh di bawah sana.
Rasa sakit, perih bercampur efek tagih yang semakin menggila.
De..sa..han terdengar ketika milik Faat telah memenuhi inti Mai dan berhasil mene..ro .bos masuk kedalam sana.
Untuk pertama kali bagi kedua nya. Faat mulai me..mom..pa perlahan.
"Aaa...hhh."
Rasa sakit perlahan berganti ni..k..mat hingga Faat mulai mempercepat rit me nya me..mom..pa disana. hingga kedua nya meledak bersama.
Faat menautkan bibir nya, me..ne..kan dibawah sana.
"aku mencintai mu."
Mengecup dahi Mai Kemudian.
Faat melepaskan milik nya. Dengan nafas yang masih terengah engah.
"Mengapa wajahmu memerah?."
Faat meraih Mai masuk dalam dekapan nya.
"Saya malu."
Menenggelamkan wajah nya di dalam dada Faat.
__ADS_1
Faat terkekeh.
"Terimakasih sayang."
Mencium pucuk kepala Maimunah disana.
"Untuk apa berterimakasih. Saya tidak melakukan apapun."
"Terimakasih untuk semua nya."
Faat mempererat dekapan nya.
"Mas.."
"Apa perih sekali di bawah sana?."
Desi mengangguk.
"Maaf aku menyakiti mu."
Mengusap pipi Mai.
"Tapi aku ikhlas melakukan nya. Lagi pula aku juga menginginkan nya."
Menenggelamkan wajah nya di dalam dada Faat lagi menutupi rasa malu nya.
"Mulai besok kita cari saja asisten rumah tangga. Kau itu istri ku, Nyonya dirumah ini."
Mengusap rambut Mai yang masih basah.
"Mai."
"Mai."
Pekik Oma.
"Oma memanggil mas"
Mai perlahan bangkit.
"Mau kemana?.Biarkan saja Oma. Kau sangat tidak nyaman jika keluar sekarang."
Faat meringsut meraih handuk keluar dari kamar.
"Mas mau kemana?."
"Menemui Oma."
"Hanya dengan seperti itu?."
Mai berkerut dahi.
"Tentu saja, dengan begini Oma akan tahu jika aku sudah sembuh."
Faat meraih handle pintu.
"Mas, Aku malu."
Faat tidak meng idah kan Mai. Faat keluar menemui Oma.
"Ada apa Oma?."
"Mana istri mu. Oma akan mengajak nya berbelanja."
"Maaf ya Oma, Hari ini Mai tidak akan keluar kamar."
"Tidak keluar kamar, Apa Mai sakit?."
Oma terlihat khawatir.
Faat mengerlingkan sebelah mata nya kemudian berlalu dari sana.
Oma menutup mulut nya. Sangat faham apa yang Faat maksud.
"Anak nakal!!. Bisa bisa nya keluar kamar hanya memakai handuk dan pagi pagi begini melakukan itu."
Oma menggerutu kemudian berfikir sejenak.
"Apa itu artinya Faat sudah sembuh? Ya, Faat sudah sembuh."
"Alhamdulillah."
Oma merasa sangat bersyukur dan terharu.
"Mudah mudahan Faat segera memberiku Cicit."
Bergumam sambil tersenyum bahagia disana.
"Sebaik nya aku beri tahu saja Jaya, Biar dia buat syukuran untuk putra nya."
__ADS_1