Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
tujuh bulan.


__ADS_3

Di kediaman Faat Prana Djaya.


Oma yang sekarang duduk di kursi roda sedang mengawasi persiapan acara adat tujuh bulanan


di rumah itu. Tidak ingin terlewat sedikit dan tidak mempercayai siapapun pun Oma mengawasi persiapan secara langsung.


Mulai dari membuat tumpeng, yaitu nasi dibentuk dibuat tinggi seperti kerucut menggunakan kukusan.


Kukusan yaitu alat untuk Mengukus nasi terbuat dari bambu bentuk nya tinggi mengerucut.


"Dimana kalian mendapatkan nya?."


Tanya Oma menyelidiki. Sebab menurut adat belut belut itu harus menangkap sendiri bulan membeli


"Menangkap di sawah Oma."


Oma menelisik apakah ada kebohongan atau tidak.


"Kalian jujur."


tegas Oma.


Apasih Oma ini.


Faat memijat pelipisnya sedikit sakit kepala, mengingat pagi tadi Oma menyuruh nya bersama ayah Jaya pergi ke sawah mencari belut.


"Apa dulu Oma berlaku Ayah begini ketika Ibu mengandung?."


"Jauh lebih posesif, Kami lama menikah baru kau ada. Maklumi saja."


Ayah Jaya bergedik.


Oma menghitung ulang belut belut di dalam wadah. Sebab jumlah belut yang akan di lepas malam nanti tidak boleh dari kurang atau melebihi hitungan.


Mai sangat bosan berada di dalam kamar, Tubuh nya terlilit kain jarik yaitu kain persegi panjang bermotif batik. Terlihat dari luar perut Mai yang besar membuncit dan Mai merasakan tendangan kuat bayi yang berada di dalam sana.


Sangat bosan namun di larang Oma melakukan apapun.


Menurut adalah keputusan yang tepat jika telah menyangkut adat istiadat.


Faat mendorong kursi roda membawa Oma masuk ke kamar Mai. Beserta tiga nenek berkonde dengan mulut yang mengunyah sirih sesepuh di kampung ini.


"Kau sudah siap Mai, Nenek akan memandikan mu."


Maimunah mengangguk.


Dua Wadah besar berisi air bunga tujuh warna yang satu hangat dan wadah yang lain dingin.


Disiramkan dengan gayung terbuat dari tempurung kelapa mengguyur tubuh Mai bergantian. Mulut mereka berkomat Kamit entah mantra apa yang mereka baca. Namun hingga saat ini sedikit pun tidak ada yang berubah atas bacaan mantra tadi.


Seharusnya aku berubah menjadi burung atau ibu peri, seperti yang semalam Mai tonton di film serial anak Harry Potter.


Al hasil bunga bunga itu menempel di rambut dan tubuh Mai, Jujur Mai sangat kesal dalam hati sebab akan sangat susah menghilangkan nya yang tersangkut di rambut dan kepala.


Nenek itu berkomat Kamit lagi menyentuh perut Maimunah, Kemudian prrruuuttt...!!!


Nenek itu menyembur perut Mai yang semakin kesal memajukan bibirnya.


Oh Tuhan... Ini kan hasil kunyahan sirih dan kapur nya.


Mai mendengkus kesal.

__ADS_1


Faat sungguh ingin tertawa namun menahan nya.


Sedangkan Mai hanya menurut tanpa berani bertanya apapun hingga ketiga nenek itu keluar dari kamar mandi nya sedangkan yang satu mendorong kursi roda membawa Oma mengontrol menggunakan bahasa Jawa.


"Yang benar saja, lihat ini mas Aku harus mengulangi mandi ku."


Berbicara setelah Faat menutup pintu dan mengunci nya.


"Oma berpesan Kau tidak diperbolehkan untuk mandi lagi."


"Oma tidak akan tahu jika Mas Faat tidak mengatakan nya. Ini menggelikan, Aku kotor sekali."


Menunjuk perut yang baru saja di sembur.


"Baik lah. Aku akan membantumu menghilangkan bunga bunga yang ada di rambut mu."


Seketika Mai bangun dari duduknya menuju ke kamar mandi.


"Mas mau apa? Tunggu lah sebentar aku mau mandi."


"Aku harus membantumu membersihkan rambut mu kan?!."


Faat menunjukkan sisir


"Baiklah."


Mai masuk ke kamar mandi menanggalkan kain yang menutupi tubuh nya menyisakan dalaman nya disana.


Alih alih membantu malah Faat menempel kan bibir nya di bibir Mai dengan tangan memutar shower.


"Mas.."


Mai melepas ciumannya.


"Tidak masalah sayang, tidak akan melebihi satu jam."


Berkata dengan tangan me..re..mas dua bukit indah disana.


"Aa Mas?!."


Dan terjadilah di dalam kamar mandi, De..sa..Han keduanya memenuhi ruangan disambut gemericik air dari Shower membuat suatu sensasi.


Keduanya melakukan dengan penuh cinta dengan ritme yang perlahan.


Perut besar Mai sedikit mengganjal namun bukan lagi masalah untuk Faat.


Sesapan demi sesapan terjadi di sana hingga lenghkuhan tidak lagi tertahan.


Faat melepaskan milik nya setelah terlepas pula ha..s..rat keduanya.


Seseorang berkali kali mengetuk pintu kamar mereka pun tidak diindahkan hingga bosan dan berlalu pergi.


***


Tamu undangan mulai berdatangan, Mulai dari kerabat sanak saudara para tetangga juga Ustadz dan Ustadzah di desa itu saling beramah tamah dengan pemilik rumah. Tidak terkecuali Abah pun di undang dalam acara tersebut.


Abah mendekati Faat "Selamat Nak, Kau akan jadi seorang Ayah."


"Terimakasih Abah."


Faat mencium punggung tangan Abah.

__ADS_1


Ucapan selamat dan Do'a doa mereka yang hadir panjatkan sambil mengusap perut besar Maimunah.


Acara pun di mulai, pihak keluarga mengeluarkan tumpeng dengan di hias beraneka makanan di sekelilingnya.


Tidak lupa kukusan labu kuning yang didalam nya terdapat air gula entah dengan cara apa memasukan air gula itu kedalam labu. Yang pasti bukan menggunakan jarum suntik kemudian menyuntik nya kedalam.


Ustadz mulai melantunkan Ayat Ayat suci di ikuti tamu undangan yang hadir.


Faat pun mengambil kitab suci kemudian duduk bersila dengan kopyah di kepala nya pun mengikuti melantunkan ayat suci.


Acara di akhiri dengan membelah kelapa yang di percaya bisa menentukan apakah bayi yang di kandung laki laki atau perempuan.


"Ya Tuhan... Apa lagi ini?. Jika dengan membelah kelapa bisa menentukan jenis kelamin?. Yang benar saja, Apakah Tidak perlu lagi ada alat medis canggih yang disebut USG?!."


Pungkas Faat.


"Diam! Lakukan atau kalian akan sial?!. Bla...bla...bla


Oma terus menceramahi.


" Sangat tidak masuk akal!.Lalu untuk apa ada Dokter Oma...?!."


"Anak bandel!."


Oma menarik telinga Faat.


"Ampun Oma.."


Tatapan Faat memelas hingga di tertawa kan para tamu undangan.


Mai hanya menarik nafas nya manjang kemudian menghembuskan nya.


Dibalik ini semua hati nya menghangat karena semua anggota keluarga Prana Jaya mencintai nya sepenuh hati, apalagi Faat dan Oma.


Acara terakhir yaitu pelepasan belut yang akan di tangkap para tamu undangan.


Satu...dua...tiga...


Belut di lepas


"Itu itu tangkap!"


"Tidak kena licin sekali!"


"Aku dapat, Aduh lepas lagi!."


"Aku dapat satu! Ah..Sial!!.sarungku terlepas?!."


Menarik kembali sarung sambil berlari tidak tahu jika sarung nya belum menutup bo..ko..Ng yang hanya tertutup ce..la..na.. dalam.


Para tamu pun tertawa, menertawakan pria itu yang berlari sambil menarik sarung.


"Terimakasih Oma,"


Bisik Mai pada Oma yang berada di samping nya menggunakan kursi roda.


"Oma menyayangi mu "


Balas Oma bisik.


-

__ADS_1


-


Next


__ADS_2