Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Episode terakhir


__ADS_3

Dua Minggu telah berlalu.


Kristian melangkah lebar diikuti asisten nya di belakang. Menuju ruang meeting di dalam gedung perusahaan nya.


"Selamat pagi tuan"


Semua yang ada di sana menyapa membungkuk menghormati.


"Langsung saja."


Lirik Kristian pada Asisten nya tidak ingin berbasa basi kemudian duduk di kursi kebesaran nya.


Meeting pun di mulai, ketegangan di ruang meeting tidak terbantahkan ketika mereka melaporkan hasil kerja keras nya namun Kristian sedikit terganggu dengan ponsel nya yang terus bergetar.


Panggilan masuk berkali kali dari orang kepercayaan nya.


"HM, Ada apa."


Seseorang disana melaporkan dan menceritakan yang terjadi.


Membuat Kristian terperangah mengusap kasar wajah nya bangkit dari duduknya kemudian.


"Meeting di tunda."


Kristian bergegas pergi begitu saja, membuat semua orang saling pandang namun tidak berani bertanya. kenapa atau ada apa.


Kristian menuju lift dengan tergesa


"Mengapa disaat begini lift pun bergerak begitu lambat!! Sial?!."


Kristian berlari setelah pintu lift terbuka menuju parkiran.


BIP..BIP..


Membanting pintu mobil menginjak pedal gas melesat kan mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


***


Sementara di dalam kediaman Ramadhian.


Desi menerima panggilan telepon dari Harli, terperangah hingga menjatuhkan ponsel nya.


Brraakk!!


Dada Desi bergetar hebat, tubuh nya lemas hingga terjongkok menangis di lantai.


"Ada Apa sayang?."


Nyonya Ramadhian berlari menghampiri.


Sedangkan Tuan Ramadhian meletakkan kopi nya bangkit dari duduk bergegas menuju Desi dan istri nya di sana.


"Apa yang terjadi?"


Nyonya Ramadhian merendahkan tubuh nya memeluk Desi.


"Kau kenapa sayang?."


"Abah, "


Lirih Desi sambil sesenggukan.


"Abah meninggal."


Tangis Desi semakin keras, berkali kali berucap istighfar masih dengan posisi jongkok sesenggukan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un."


Ucap Tuan dan Nyonya Ramadhian bersamaan.


Sedangkan Kristian yang baru saja sampai melangkah mendekati istri nya yang Limpung tidak sadarkan diri.


"Desi, Desi, Bangun sayang."


Nyonya Ramadhian menggerak gerakan tubuh Desi yang Limpung Lemas.


"Panggil Dokter cepat,!!."


Kristian memekik kemudian meraih tubuh Desi membawa nya menaiki tangga menuju ke kamar.


"Padahal aku berusaha agar tidak membuat mu kaget begini."


Meletakkan Desi di atas ranjang.


Sedangkan kepala asisten rumah tangga bergegas menghubungi dokter keluarga.


Tuan dan Nyonya Ramadhian mengikuti Kristian kedalam kamar.


Tidak membutuhkan waktu lama Dokter pun datang.

__ADS_1


"Permisi tuan, biar saya periksa nona Desi dulu."


Salah seorang Dokter wanita meminta izin kemudian memeriksa Desi.


Kristian menunggu dengan gelisah begitupun dengan tuan dan nyonya Ramadhian.


Tidak lama Dokter pun mundur dan mendekati Kristian.


"Nona Desi tidak apa apa, Sebentar lagi juga siuman. Nona hanya syok dan butuh waktu untuk menenangkan diri."


"Kalau begitu tunggu lah di bawah."


Balas Kristian.


"Baik tuan."


Mommy dan Daddy turut berbela sungkawa, Mudah mudahan Abah mendapatkan tempat terbaik di sisi Nya."


Daddy menepuk bahu Kristian.


"Daddy menunggu mu di bawah Kris, kau Tunggu lah sampai Desi sadarkan diri.,"


" Terimakasih Dad."


Tuan dan nyonya Ramadhian Keluar dari kamar sambil menutup pintu.


Sedangkan Kristian duduk di tepi ranjang disamping Desi yang masih terbaring dengan mata yang memejam.


"Sayang."


Lirih Desi sambil bangun dari tidur nya duduk di atas ranjang menyandar di sandaran bed itu.


Masih dengan kepala yang sedikit pusing.


"Kau sudah bangun. Berbaring saja jika masih Lemas"


"Abah.., Abah meninggal, Abah meninggal kan aku "


Desi memeluk Kristian kembali menangis.


"Abah maafkan Desi. Mengapa Abah pegi begitu cepat."


Desi mengusap perut nya." Cucu Abah bahkan belum lahir."


"Maaf... Maafkan Desi Abah..."


Desi sesenggukan.


Mengusap usap punggung Desi yang masih memeluk nya.


"Ternyata saat di bandara itu hari terakhir aku bertemu dengan Abah. Seharusnya aku peluk Abah saat itu."


Desi menangis lagi melepas pelukannya kemudian.


"Sayang."


Kristian mengusap air mata Desi.


"Maafkan aku tidak bisa membawa Almarhum Abah untuk di kebumikan di Indonesia, ada peraturan peraturan yang sudah di tentukan negara Arab Saudi. Sangat rumit meski memohon tetap saja bukan lah yang mudah.


Maaf itu semua diluar kendali ku."


"Kau tahu?! Abah pernah mengatakan jika beliau bercita cita meninggal dengan husnul khatimah di tanah suci. Artinya Abah memang ingin dimakamkan disana. Dan beliau benar benar meninggal disana, Hanya saja Aku belum siap. Aku belum siap Abah pergi."


Hik...hik...huuu.....


Desi menangis lagi dan lagi.


"ikhlaskan sayang, ikhlaskan."


Kristian memeluk Desi berusaha menenangkan.


"Antarkan aku ke solo sekarang."


"Sekarang?."


"Iya, sekarang. hari ini sekarang juga."


Kristian menghubungi seseorang.


"Siapkan penerbangan untuk ku sekarang juga."


"Sebaiknya gunakan helikopter jika kau menginginkan sekarang."


Balas asisten nya disana.


"Tapi istri ku sedang hamil."


" Tanya kan saja pada Dokter, jika Tidak akan ada masalah hubungi aku secepatnya."

__ADS_1


Kristian mematikan ponsel nya.


"Kita berangkat dengan helikopter, kau tunggu disini Aku konsultasi kan dengan Dokter. Secepatnya aku kembali."


Desi mengangguk.


Sedangkan Kristian melesat pergi menuruni anak tangga dengan berlari.


" Apa terjadi?!."


Mommy khawatir melihat putra nya.


Kristian menjelaskan pada Dokter dan Mommy tentang keinginan Desi pulang ke kampung halaman nya saat ini juga.


Berbicara panjang lebar mengenai perjalanan


menggunakan Helikopter apakah berbahaya atau tidak.


Kemudian Dokter menjelaskan yang inti nya selama kondisi Fisik Desi Sudah sehat tidak apa apa.


Kristian pun menghubungi asisten nya.


"Siapkan helikopter untuk ku sekarang."


Kristian mematikan panggilan nya berlari kecil


menuju ke kamar.


"Bagaimana, Aku bisa pergi sekarang kan?. "


Desi turun dari ranjang mendekati Kristian.


"Jika tidak bagaimana?."


Kristian meninggikan alis nya.


"Aku akan tetap memaksa, Tidak perduli lagi jika harus naik pesawat umum tidak masalah."


Membuka lemari meraih travel bag memasukkan beberapa helai pakaian nya.


"Aku ingin bertemu keluarga ku, Hengki dan Harli."


Desi mengusap air mata nya lagi.


" kita akan naik helikopter, Kita pergi bersama Aku menemani mu."


Desi menoleh pada Kristian, menghambur memeluk nya kemudian.


" Terimakasih Sayang, Terimakasih untuk semua hal."


"Sudah lah."


Terdengar suara helikopter yang mendarat di halaman samping kediaman tuan Ramadhian.


Kristian menyibak kan tirai kamar nya memastikan.


" Kita pergi sekarang."


Tangan Kristian menggenggam Desi membawa nya keluar dari kamar sedangkan travel bag Kristian tarik menggunakan tangan kiri nya melangkah lebar menggunakan lift menuju lantai bawah.


pintu lift terbuka.


"Kalian Siap?."Tanya tuan Ramadhian.


Kristian mengangguk.


"Kami pergi dulu Dad."


"hati hati."


Tuan Ramadhian menepuk bahu Kristian.


"Ikhlaskan Abah Nak, Mudah mudahan beliau di tempat kan di tempat terbaik di sisi Nya."


Ujar Nyonya Ramadhian sambil memeluk Desi


"Terimakasih mom, Desi pergi dulu."


Nyonya Ramadhian melambai bersama para pelayan yang baru saja mengucapkan bela sungkawa pada


Desi yang telah berada di atas helikopter.


Helicopter meninggi mengudara menciptakan angin bergemuruh efek dari putaran baling baling seperti hendak menerbangkan apa saja disana.


"Hati hati nona..?!."


Salah satu pelayan memekik ketika helicopter telah meninggi menjauh meninggalkan kediaman itu.


-

__ADS_1


-


Next


__ADS_2