Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Nikahi Klara


__ADS_3

Masih di dalam mobil, di area parkir perusahaan.


Roby tidak mampu menahan diri. kesal karena menolakan Klara dan berusaha menikmati tubuh nya.


"Roby hentikan!"


Berusaha mendorong Roby saat telah menind*ih nya di jok belakang.


"Ada apa dengan mu."


Menurunkan nada bicara nya sedikit melemah.


"Aku hamil."


Air mata Klara mengalir.


Roby bangkit dari atas Klara dan duduk menyandar disana.


"Kalau begitu kita menikah."


"Tapi.."


Klara menggantung kan kalimat nya.


Ragu jika mengatakan yang sejujurnya.


"Apa? Kau masih mengharap cinta dari pemilik tempat ini?."


Menoleh pada gedung perusahaan yang berdiri kokoh disana.


Klara menggeleng kan kepala.


"Lalu?."


Roby berkerut dahi.


Klara memunduk.


"Jangan katakan itu bukan anak ku!."


Roby meninggikan suara.


"Maaf."


"Maaf?Kau berani selingkuh dari ku?!."


Roby menyentuh dagu Klara.


Klara hanya diam dengan air mata yang menetes.


Roby menghempas dagu yang Ia disentuh.


"Kau kasar Roby! Karena itu lah aku membenci mu."


Plak..!


Tamparan mendarat di pipi Klara.


"Kau itu sakit jiwa!."


Klara mendorong Robi hingga membentur pintu.


"Dasar Ja*Lang!."


Roby menarik tubuh Klara, ******* bibir nya kasar. Bibir itu menjelajah ke leher dengan kasar dan menggebu. Denan tangan mencengkram bahu Klara.


Roby menarik paksa KLara. Menghempas hingga tubuh mungil itu tertind*ih sempurna.


"Hentikan Roby, Kau sudah gila!."


Klara terus meronta.


Seperti yang biasa Ia lakukan, Roby menarik ikat pinggan memukul Klara kemudian mengikat tangan Klara dengan ikat pinggang nya ditangan nya.


Menjelajahi tu*buh Klara dengan menggebu.


Ada pe..PU..Asan tersendiri bagi Roby jika pasangan nya merasa sakit dalam berhubungan itu. Pergulatan kedua nya terjadi cukup lama. Hingga terjadilah penyatuan kedua nya di dalam mobil.


Beruntung De..sa..han Roby tidak terdengar Security disana.


Pelepasan Roby pun terjadi dalam sana


Klara menitik kan air mata. Sesaat setelah Roby bangkit dari atas tubuh nya. Merapikan kemeja nya dan mengenakan kembali celana panjang nya.


Aku sudah seperti ja*Lang. Tidak, Aku memang ja*Lang.


"Kau tidak pernah berubah Roby. Kau selalu saja menyakiti ku. Kau sakit jiwa!."


Klara bangkit dari tidur nya.


"Pergilah Roby, Dan jangan pernah lagi kau datang pada ku."


Klara membuka pintu mobil setelah merapikan pakaian nya.


"Satu lagi. Ini bukan anak mu. Kau benar, itu karena aku memang ja*Lang."


Klara keluar dari mobil.


"Klara aku.."


Roby menoleh pada pintu.


"Pergilah."


Klara menutup pintu mobil.

__ADS_1


"Sial!."


Robi memukul kemudi Kemudian Ia pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Klara terjongkok menangis disana. Memeluk lutut dan menyentuh pergelangan tangan yang masih terasa nyeri.


Lengan Klara memar dan bagian baju nya robek. Leher dan bahu nya pun terasa perih.


Klara terus menangis hingga Limpung tidak sadarkan diri di parkiran...


FLASH BACK OFF


Hujan masih belum berhenti sejak semalam tadi. Kristian keluar dari mobil nya setelah sampai di dalam rumah dinas Desi.


Menggenggam map dan masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kau sarapan tanpa menungguku?."


Desi terkesiap melihat Kristian telah berada di samping nya.


"Eh maaf, Saya kira anda sudah pergi."


"Bersikap lah seperti biasa, Jangan terlalu formal begitu."


Kristian menarik kursi kemudian duduk dihadapan Desi.


"Kau,"


Kristian menunjuk dahi Desi.


"dan aku."Menunjuk kearah dirinya.


"Mmm..Baik lah, tapi rasanya kurang sopan."


Desi pun tersenyum manis disana.


"Biar aku ambilkan sarapan."


Desi bangun dari duduknya mengambil kan piring, mengisi nya dengan beberapa potong cake dan segelas susu hangat Ia letakkan di atas meja didepan Kristian.


"Silahkan."


"Terimakasih."


Kristian menarik Desi duduk di pangkuan nya.


"Kalau kau begini, bagaimana aku bisa sarapan."


"Kau yang menarik ku tadi"


Bangkit dari pangkuan Kristian dan kembali ke tempat nya semula.


Kristian terkekeh.


Desi terpaku melihat Kristian memasuk kan cake kedalam mulut nya menggunakan garpu.


Kau tampan


"Kenapa melihat ku begitu."


Memasukkan potongan cake lagi kedalam mulutnya.


"Tidak ada."


Desi menggeleng kepala.


"Tadi dari mana?"


"Aku pergi sebentar karena ini. Ambillah"


Kristian menyodorkan map yang terletak di atas meja.


Desi meraih itu, membuka melihat isi nya.


"Astaghfirullah."


Desi menutup mulut nya.


Klara,


Terenyuh dan malah Ia semakin merasa Iba.


"Kita akan menyelamatkan anak nya, agar tidak salah melangkah seperti ibu nya."


Menunjuk foto foto Klara.


"Bagaimana kau mendapatkan ini semua. Foto ini sebelum kejadian malam itu kan?."


Desi menatap Kristian.


"Seseorang membantu ku."


Bayi itu akan lahir tanpa seorang ayah.


Desi mengangguk, tampak berfikir sejenak.


"Ada apa?."


"Kau bisa menjadi Ayah dari anak itu."


Meraih tangan Kristian dan menggenggam nya.


"Kita akan mengadopsi nya, Mendidik anak itu bersama."


Mengusap pipi Desi.

__ADS_1


Desi menggeleng kan kepala.


"Nikahi Klara."


Sendok itu refleks terjatuh membentur piring.


"Apa,!"


Kristian terkejut dengan ucapan Desi.


Desi mempererat genggaman nya.


"Nikahi Klara, Dan selamatkan mereka."


"Kau itu bicara apa."


Melepas tangan Desi, Bangun dari duduk kemudian berlalu meninggalkan meja makan.


Kemarahannya terlihat dari hembusan nafas Kristian.


Dia marah.


"Sayang, tunggu."


Desi bangkit mengikuti Kristian.


Berlari kemudian memeluk Kristian dari belakang.


"Kau marah?Apa aku menyinggung perasaan mu?"


"Kau Fikir aku sudah tidak waras hingga menikahi wanita itu."


Suara nya datar, tapi masih dengan hembusan nafas yang kesal.


"Apa kau fikir menikah dengan ku adalah permainan."


Kristian melepas tangan Desi perlahan.


"Tidak, maafkan aku."


Desi mempererat pelukannya.


Kristian melepas kan tangan Desi perlahan.


Berbalik dan meraih Desi masuk kedalam dekapan nya.


"Jangan pernah lagi berfikir yang tidak tidak. Aku hanya ingin kan kaulsh yang selalu bersama ku. Menemani ku hingga tutup usia."


Kecupan hangat mendarat di dahi.


"Aku sudah pernah kehilangan mu. Tidak akan terulang untuk yang kedua kali nya."


Kristian mengusap air mata Desi yang mengalir karena rasa haru yang tidak mampu lagi Ia tahan.


"Maaf.."


Kristian mengangguk.


Kembali mendekap Desi kedalam pelukan nya lagi.


"Aku tidak bisa marah pada mu"


"Maaf"


Desi mempererat pelukannya, mulai memahami sebesar apa dirinya memenuhi hati Kristian.


Sepenting apa dirinya untuk Kristian.


***


"Kau mau kemana?."


Kristian berkerut dahi saat melihat Desi mengenakan pakaian formal.


"Aku harus segera masuk ke kelas."


Desi terpaku saat Kristian mendekat, meraih pinggang nya kemudian melepas kancing pakaian nya dingga dibagian dada.


Apa yang akan kau lakukan.


"Aku harus mengajar."


Menggeliat saat Kristian menyentuh area sensitif disana.


"Kau akan meninggalkan ku sendirian disini, HM?."


Berkata sambil terus membuka kancing baju satu persatu.


Lalu aku harus apa


"Kau sudah mendapatkan izin dari Ustadzah Mariska."


"Apa?."


Terpaku mencerna setiap kata dari Kristian.


"Aku telah menghubungi nya."


Berkata dengan tangan yang merajalela.


Aaaaaa


Menjerit dalam hati saat pakaian nya tertanggal sempurna. Dengan bibir yang menjelajahi setiap lekuk nya disana. Hingga terjadilah..


Suara suara laknat di dalam kamar dan guyuran air hujan yang semakin menambah sensasi di dalam kamar itu..

__ADS_1


__ADS_2