Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Nasehat Abah


__ADS_3

Desi memasuki area pesantren disambut para siswi yang telah berkumpul untuk mengucapkan salam perpisahan pada Desi, ustadzah disana.


" Kami akan merindukan ustadzah."


Beberapa santri putri memberikan hadiah kenang kenangan sebagai tanda terimakasih untuk nya.


"Saya juga akan merindukan kalian.Terimakasih."


Ustadzah Mariska juga Ustadzah yang lain saling memeluk Desi melepas kepergian nya. Hadiah kenang kenangan dari murid murid nya Desi terima dengan rasa haru.


"Semoga Allah Meridhoi setiap langkah mu,nak"


Usap Ustadzah Mariska pada pucuk kepala Desi.


"Semoga kau nyaman di tempat mu yang baru."


ujar Ustadzah yang lain.


"Aamiin"


Berbekal nasehat menghantarkan Desi keluar dari gerbang pesantren menuju mobil yang telah menunggu nya. Desi melambai pada mereka kemudian mengucapkan salam.


"Silahkan ustadzah." ujar sopir taxi membukakan pintu.


"Terimakasih."


Sopir taxi menutup pintu mobil kudian kembali ke tempat nya.


"Kita kerumah Abah sebentar."


"Baik Ustadzah."


Mobil melaju melesat keluar dari kota solo menuju jalanan desa tempat tinggal Desi yang telah menunggu Abah serta adik adik nya didepan pintu.


Sebelum nya Desi telah mengabari jika Ia dipindah tugaskan ke pusat.


"Assalamu'alaikum Abah."Desi mendatangi Abah yang berdiri di depan rumah sederhana itu kemudiam mencium punggung tangan Abah disana.


" Wa'alaikumsalam. "


Abah meletak kan tangan kiri nya diatas kepala Desi.


"Semoga Allah merahmati setiap langkah mu."


Gumam Abah dalam hati.


"Masuk lah sebentar."


"Baik Abah."


Abah masuk kedalam rumah diikuti Desi yang melepas alas kaki berjalan dibelakang nya disertai adik adik nya.


"Duduk lah,Abah ingin bicara."


"Silahkan Abah, Desi mendengarkan." tutur lembut Desi.


"Secara Agama, Fa'at telah menceraikan mu. Dan mungkin secepatnya kau akan mendapatkan surat cerai secara resmi. Mau tidak mau kau itu adalah seorang janda. Maka Ingat pesan Abah."


Abah berbicara serius membuat Desi mendengarkan setiap kata yang Abah katakan berusaha menulis di dalam memori.


" INGAT..Selalu jaga martabatmu sebagai wanita.


Ingat masa iddah mu, Lakukan adab adab nya sesuai syariat Agama ."


Abah menasehati dengan menekan kalimat terahir.


"Insya Allah, Desi akan berusaha mengingat nasehat dari Abah."


Berbicara lembut dan sangat sopan

__ADS_1


"Pergi lah, Nduk.Do'a Abah menyertai mu."


"Baik abah, Selalu jaga kesehatan dan jaga diri Abah.Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Abah menyentuh pucuk kepala Desi, Dengan tatapan sendu disana.


Diikuti adik adik nya yang menyalami dan melambai kemudian.


Mobil melaju melesat menuju bandara melangkah lebar menarik travel bag masuk kedalam sana.


Armada besi menerbangkan Desi menuju kota Jakarta.


Desi keluar dari bandara dengan orang yang telah menunggu nya mempersilahkan masuk kedalam mobil.


Mobil melaju melaju meninggalkan bandara.


Gedung gedung tinggi yang terdapat di kota itu nampak sepanjang perjalanan menuju rumah dinas yang tidak jauh dari pesantren.


Desi sampai di rumah dinas yang telah disambut oleh beberapa orang berhijab sar'i disana.


"Silahkan Nona."


sopir taxi membukakan pintu.


"Terimakasih."


Desi menarik travel bag menuju mereka yang telah menunggu nya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Selamat datang ustadzah, Perkenalkan saya Nurmala. ini rumah dinas anda dan ini kunci nya."


"Terimakasih ustadzah. Nama saya Desi. Mohon bimbingan nya. Dan panggil saja saya sesuai nama." Senyum khas Desi yang seperti menghipnotis semua orang.


"Tidak usah sungkan Nak Desi, Anggap kami semua keluarga mu."


Ucapan yang familiar tanpa formal sama sekali membuat hati Desi senang karena sepertinya Ia diterima dengan baik.


Semua yang disana saling sapa beramah tamah memperkenalkan diri.


"Mari kita masuk."


Ajak Desi pada para ustadzah yang juga mengajar di Al- Ikhsan.


Mereka pun masuk dengan salah satu ustadzah menuju dapur membuat minum diikuti Dedi yang mengeluarkan oleh oleh dan beberapa cemilan untuk teman mengobrol.


"Silahkan ustadzah."


Desi membawa nampan dengan minuman dingin dan beberapa cwmilan di piring dan toples.


"Besok datang lah lebih awal, kami akan mengenalkan mu dengan para santri juga akan hadir para donatur disana."


ujar ustadzah Nurmala.


"Baik ustadzah."


"Oh ya.. Besok akan hadir donatur yaitu pengusaha tampan mana tau dia berjodoh dengan mu."


Ujar Ustadzah yang lain.


"Hus.. tidak baik berbicara begitu."


pungkas ustadzah Nurmala.


"Astaghfirullah.. Maaf Ustadzah, saya kelepasan. Mana tau cocok dengan mu Dek Desi. Hehehe"

__ADS_1


"Nak Desi sudah menikah. Bukan begitu?"


Tanya ustadzah Nurmala.


"Benar ustadzah."


Desi bergumam dalam hati."Aku baru saja diceraikan satu minggu yang lalu."


"Ada apa Nak Desi, Apa kami menyinggung mu?"


tanya ustadzah Nurmala melihat raut wajah Desi yang tiba tiba berubah.


"Tidak ada ustadzah."


Secepat itu Desi menggelengkan kepala.


"Tidak apa.. Jika belum siap bercerita, maka jangan lakukan."


Ustadzah Nurmala menepuk bahu Desi yang duduk disamping nya.


Mereka bercengkrama mengobrol kesana kemari juga saling bertukar fikiran tentang cara mengajar juga bertanya tentang ilmu agama ysng belum difahami.Tidak terasa waktu terus berlalu hingga adzan maghrib berkumandang.


Mereka berpamitan untuk melaksanakan shalat maghrib berjama'ah di masjid pesantren.


Desi mengikuti mereka.


"Mari ustadzah"


Ajak Desi pada para ustadzah disana.


Rumah dinas tidak jauh dari pesantren, letak nya masih di area pesantren tepat nya di bagian belakang, namun ada jalan sendiri jika ingin masuk ke area rumah dinas yang tembus dengan jalan raya.


Mereka menuju masjid dengan berjalan bersama. Sudah terlihat para santri yang berbondong bondong menuju masjid untuk Shalat Maghrib berjama'ah.


Desi dan para jama'ah selesai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Para santri putri memandang Desi dan berkata "mungkin itu ustadzah Desi Kumala Marwan yang akan datang mengajar disini."


"Benar, Pengumuman nya sih begitu. Ustadzah Desi lulusan Al- Azhar Kairo."


"Aku lihat profile nya di internet tempo hari ketika aku pulang kerumah."


"Oo....."


santri yang lain menimpali.


"Assalamu'alaikum Ustadzah."


sapa para santri dengsn ramah.


"Wa'alaikumsalam." jawab Desi sambil mengulas senyum dan mengusap pucuk kepala santri nya yang tertutup hijab.


"Kita tadarus dulu yuk.. Ssttt dari pada mengobrol."


Bisik Desi pada kalimat terahir, Kemudian meletak kan telunjuk nya di bibir.


Mereka mengangguk dan salah satu tertegun menyentuk kepala nya karena baru saja di usap oleh Guru nya."Anda cantik ustadzah. Apa anda sudah menikah?"


"Ssstttt..." Desi kembali meletak kan jari telunjuk nya di bibir seperti tadi Ia lakukan.


Mereka pun mengangguk tanda mengerti.


Desi meraih Al- Qur'an membaca nya kemudian diikuti para santri yang baru saja berbicara pada nya. Melantunkan ayat ayat suci hingga menunggu adzan Isya berkumandang.


-


-


Terimakasih sudah membaca.. maf masih banyak kekurangan dan tempo bertebaran... like.. like.. like..

__ADS_1


__ADS_2