
Di kamar Utama.
Kristian tampak sibuk dengan ponsel nya menghubungi seseorang, sambil duduk menyandar di sofa menyilangkan kaki dan terus bicara via telepon menggunakan bahasa yang bagi Desi asing di telinga.
Sepertinya Kristian sedang membicarakan perihal bisnis dengan orang itu, Fikir Desi. Karena nampak dari keseriusan Kristian berbicara dengan seseorang yang jauh disana.
Desi memilih meninggalkan Kristian tidak ingin mengganggu.
Melangkah menuruni anak tangga menuju dapur, Membuka lemari pendingin mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk membuat makan malam.
"Kau sedang apa?."
Kristian tiba tiba sudah berdiri di belakang Desi.
"Memasak untuk mu, Jangan melarang. Aku hanya ingin membuat kan makan malam untuk suami ku sendiri. "
Menoleh pada Kristian kemudian kembali ke posisi semula.
Kristian terkekeh,"Kau mulai pintar ya?."
Kristian meraih pisau yang di tangan Desi
"Biar aku yang memotong, akan sakit jika pisau ini melukai jari tangan mu "
"Kau mengizin kan?"
Antusias Desi.
"Masakan ku enak, kau bahkan dulu sering memuji. Maka izinkan aku melakukan nya setiap hari untuk mu."
"Sepi sekali malam ini."
Alih alih menanggapi malah mengalihkan pembicaraan.
"Abah menghadiri undangan mas Faat, untuk acara tujuh bulan istri nya. Sedangkan Hengki dan Harli pulang larut malam ini."
"Mas?!."
Kristian seperti nya fokus dengan kata mas pada kalimat yang Desi ucapkan, Jika yang lain ia tidak perduli.
"Ya mas Faat."
Desi mengangguk.
"Mas, Panggilan yang bagus."
Meletakkan pisau kemudian pergi begitu saja.
"Ada Apa?."
Desi bingung tidak mengerti.
Kristian berhenti sejenak.
"Berhenti memanggil nya dengan sebutan istimewa, karena aku bisa cemburu"
Kemudian melangkah lagi Keluar dari dapur.
"Apa?."
Semakin bingung dengan ucapan Kristian.
"Sayang, Tunggu!."
"Aku tidak mengerti maksudnya?!."
Desi memekik ketika Kristian keluar dari rumah.
Berfikir berfikir berfikir
Desi terus mencerna ucapan Kristian tadi. Sambil terus melangkah mengikuti Kristian.
"Kenapa bertingkah seperti sedang menstruasi!!."
"Sayang, apa kau marah?."
Mendekat pada Kristian yang duduk di kursi taman di depan rumah.
Desi pun ikut duduk di samping nya.
Meraih tangan Kristian menyentuh perut nya.
"Baby, lihat Daddy mu sedang merajuk. Kau akan tertawa karena Daddy mu sangat menggemaskan "
Entahlah, kekesalan Kristian menguap begitu saja setelah tangan nya menyentuh perut Desi.
"Aku berjanji tidak akan memanggil nya dengan sebutan Mas."
Desi merebahkan diri, meletakkan kepala Desi di paha Kristian.
__ADS_1
"Tapi memanggil dengan sebutan apa ya?"
Masih berfikir.
"Terserah,"
Kristian mengherdikan bahu.
"Apa sih istimewanya panggilan itu, Aku saja sering memanggil tukang ojek atau penjual baso dengan sebutan Mas,"
"Nada nya berbeda?! "
"Beda apa nya?!, menggunakan tangga nada mayor atau minor tidak juga. Dimulai dari do dan sol pun tidak!."
Melengos memajukan bibir nya.
"Kau banyak sekali bicara. Jangan beralasan karena hamil kau malah jadi cerewet."
"Apa! Kau bilang Aku cerewet?!."
Mendengkus kesal.
"Marah lagi?."
"Diam Kau Krithoper!."
Kristian tergelak.
Kau menggemaskan.
"Eh?."
Desi menghangat ketika Kristian Mengusap kepala Desi dengan tangan nya. "Kau lapar?."
Terdengar bunyi Perut Desi.
"Kau yang menghancurkan rencana ku memasak."
Meringsut menggerutu.
"Kita pesan lewat online saja"
Kristian mengeluarkan ponsel nya, memilih beberapa menu.
"Disini dingin, kau bisa masuk angin, Ayo kedalam."
"Turunkan Aku, Ini berlebihan aku bisa jalan sendiri?!."
Desi meronta.
"Diam."
Kristian tidak mengidahkan terus membawa tubuh mungil Desi masuk ke dalam rumah.
Pasrah lagi lagi itu yang bisa dilakukan.
***
Tidak butuh waktu lama untuk nya menunggu pesanan datang.
"Banyak sekali, Aku bingung bagaimana cara menghabiskan nya."
"Makan saja."
Berkata kemudian memasukkan sayuran kedalam mulut nya sendiri.
Desi menatap itu menelan silva.
Glek!
"Seperti nya milik mu enak."
"Coba lah jika kau mau"
Menyodorkan piring pada Desi.
"Aku mau semua nya. Kau makan yang lain ya."
"Baik lah, makan yang banyak. Jangan lupa minum vitamin mu."
Menyentuh kepala Desi Kemudian bangkit dari duduknya.
"Sayang kau mau kemana?"
"Selesaikan makan mu, Aku harus menghubungi seseorang, ada pekerjaan yang belum diselesaikan."
Menoleh kebelakang kemudian berlalu dari sana.
"Cari uang yang banyak ya untuk biaya melahirkan?!"
__ADS_1
Desi memekik kemudian tertawa.
" Memang kau mau melahirkan dimana? Di planet Mars??
Jangan bilang kau ingin melahirkan di bulan?! Tidak ada Dokter disana. Kau mau Alien yang membantumu bersalin?"
Desi malah tertawa mendengar ucapan dari Kristian.
Bodoh
Desi tidak lagi bicara memilih melanjutkan makan malam sendiri, membiarkan Kristian sibuk dengan ponsel nya duduk di kursi samping kolam renang terus menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum"
Suara Hengki memberi salam kemudian mendekat pada Desi
"Wa'alaikumsalam"
Jawab Desi.
Hengki mendekat meraih tangan Desi kemudian mencium punggung tangan nya.
"Kau pulang sendiri? Mana Harli,?."
"Harli mampir di rumah mas Faat menjemput Abah "
Hengki duduk di hadapan Desi, melihat banyak makanan di atas meja
"Banyak sekali, Mba Aku boleh ambil satu?."
Desi mengangguk"Ini semua Mas mu yang membeli nya."
Menoleh pada Kristian yang belum juga selesai dengan urusan nya.
"Mas Kristian sangat sibuk ya mba."
Berkata sambil terus mengunyah.
"Kau benar,"
Terimakasih disela sela kesibukan mu kau selalu ada untuk kami. Batin Desi sambil mengusap perut nya.
"Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Mba harap kau bisa mencontoh."
Hengki mengangguk.
"Satu kata yang pas untuk mu Mba, Kau sangat beruntung."
"Hengki kau sudah datang?."
Hengki tertegun sebab Kristian menyapa nya.
"Eh, Iya Mas"
Bangun dari duduk meraih tangan Kristian dam mencium punggung tangan nya.
Itu selalu di lakukan Hengki dan Harli untuk menghormati orang yang lebih tua.
"Bagaimana kuliah mu?"
Berkata sambil menarik kursi Kemudian duduk disana.
Hengki malah berdebar, Ia Fikir Kristian tidak akan perduli dengan hal hal sekecil itu. Kristian mau menyapa saja sudah kebahagiaan tersendiri bagi Hengki.
"Em, Itu Lancar seperti biasa."
Menjawab gugup
"Belajar yang rajin, Aku akan merekomendasikan bea siswa untuk mu melanjutkan Megister jika kau mau. Tapi tentunya harus melalui serangkaian ujian yang aku pun tidak akan membantu jika prestasi mu tidak membanggakan."
Ujar Kristian.
Kata kata Kristian membuat semangat Hengki berkobar kobar.
"Baik Mas, Terimakasih. Aku akan berusaha.."
Merekapun bercengkrama sambil menghabiskan makan malam nya. Meskipun Kristian hanya menimpali dan lebih sering diam seperti mengacuh kan, namun Hengki sangatlah senang.
Dibalik sikap diam Kristian ada kehangatan yang disana, Kepedulian nya terhadap keluarga hingga hal hal kecil yang bahkan tidak terfikir oleh orang lain.
" Bersyukurlah Mba, Kau memiliki suami seperti mas Kristian. Aku selalu mendo'akan kalian agar selalu bahagia."
lirih Hengki kemudian pergi menuju kamar nya.
-
-
Next
__ADS_1