Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Bertemu nya Kristian dan Roby


__ADS_3

Kristian menyandar pada kursi kebesaran nya.


Melihat arloji seperti nya sedang menunggu kehadiran seseorang.


Tok.. tok..


"Masuk"


Seorang membungkuk kemudian menyerahkan map seperti yang Kristian inginkan.


"Seberapa besar Dady berpengaruh pada perusahaan nya,?."


Membuka map dan tersenyum penuh arti.


"Hampir 70% tuan. Perusahaan yang hampir gulung tikar hingga tuan Ramadhian berbelas kasih pada mereka."


Kristian meraih gagang telepon nya. menghubungi sekretaris nya pengganti Klara sementara.


"Undur semua schedule hingga satu jam kedepan."


"Baik tuan."


Jawab sekertaris disana, tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh bos nya.


Menghela nafas panjang karena harus mengatur ulang semua nya.


Mengundurkan jadwal yang telah ditentukan bukan semudah membalik telapak tangan.


"Mau bagaimana lagi."


Tetap Ia lakukan meski harus menguji kesabaran.


Kristian bangun dari duduknya.


Melangkah lebar keluar dari ruangan nya diikuti Bodyguard setia dibelakang nya.


Sekertaris nya hanya membungkuk menghormati tidak berani bertanya apapun.


***


Mobil berdecit di depan gedung sebuah perusahaan.


Para Karyawan menunduk menghormati siapa yang melewati mereka masuk kedalam sana.


Siapa yang tidak mengenal Kristian. Putra pertama dari tuan Ramadhian yang sangat berpengaruh di perusahaan ini.


Begitu lah yang ada didalam fikirkan mereka.


"Ada apa tuan Kristian datang langsung kemari. Biasa nya hanya orang suruhan nya saja yang datang jika ada meeting atau urusan yang lain nya."


Bergumam salah satu staf karyawan wanita.


"Tapi sejujurnya aku tidak tertarik dengan apa yang akan tuan Kristian lakukan disini. Aku lebih tertarik melihat Tuan Kristian yang jauh lebih tampan dari yang aku lihat di stasiun TV."


Berkata dengan mata berbinar mengagumi Ketampanan Kristian.


"Dasar kau!."


"Kau lihat baik baik. Bersanding dengan nya adalah idaman wanita seluruh negeri."


Menyentuh kedua pipi dengan tangan nya.


"Tuan Kristian telah menikah. Acara itu live di siarkan di atas tv swasta."


berbicara berusaha menyadarkan kesadaran Rakan disamping nya.


"Jadi istri ke berapapun aku tidak masalah."


Berkacak pinggang terlihat menantang.


"Dasar kau memang sudah tidak waras."


Kedua karyawan itu saling tertawa bersama.


Brrraaakkk!!!


Kristian melempar Map yang berisi tentang bukti bukti dirinya berada di dalam mobil berbuat tidak senonoh dengan KLara di area perusahaan milik nya.


Roby terperangah gemetar setelah membuka apa yang Ia lihat saat ini.


Astaga! Bagaimana mana bisa dia tahu tentang ini?


Kristian melangkah mendekat.

__ADS_1


Wajah Roby pucat pasi. Karena hanya dengan sepatah kata dari pria di hadapannya, Roby bisa kehilangan semuanya.


Situasi ruangan seperti mencekik leher.


Keheningan yang menyelimuti membuat tubuh nya semakin bergetar.


Roby berlutut ketika tangan Kristian hampir mulai meraih Krah leher nya.


"Ampun tuan."


Berlutut memohon ampun dan menunduk di hadapan nya.


Mudah mudahan tuan Kristian akan luluh Dengan aku berlutut begini.


"Cih"


Kristian muak dengan Roby yang berlutut dihadapan nya.


"Penjilat! Menjijikkan."


"Saya benar benar khilaf dan memohon maaf."


Ampunilah saya tuan.


Roby mengusap wajahnya dengan kasar.


"Saya akan melakukan apapun yang anda inginkan tuan."


Semakin menunduk takut.


"Tapi saya mohon, berbelas kasihan lah pada perusahaan ini tuan.


Kristian tidak mengindahkan ucapan Roby.


Masih terus diam membuat Roby berdebar ketakutan.


Namun bodyguard yang malah mendekat. yang sedari tadi nampak geram, menghan*tam wajah Roby bertubi tubi.


Bugh Bugh Bugh Bugh..


Tidak apa, menahan rasa sakit lebih baik' asalkan perusahaan nya terselamatkan dari kehancuran.


Gumam Roby dalam hati.


Berbalik menuju pintu hendak pergi dari ruangan itu.


Selamat,


Roby menghela nafas.


"Jika kau laki laki. Maka bersikap lah layak nya kau di sebut lelaki."


Berbicara tanpa menoleh dan berlalu menghilang di balik pintu.


"Terimakasih tuan, atas belas kasih dari anda."


Ujar Roby sambil terus menunduk tanpa berani mendongakkan wajahnya.


Kristian kembali menuju parkiran dengan bodyguard membukakan pintu.


"Anda terlalu baik tuan."


Bodyguard berkata sambil menginjak pedal gas melakukan mobil nya.


"Anggap saja begitu."


Kristian menyandarkan kepalanya pada sandaran.


Roby bangkit setelah keheningan tidak lagi mencek*k nya. meraih hasil cetak USG.


Terdapat nama terang dan nama rumah sakit disana.


"Apa Tuan Kristian ingin aku datang ke rumah sakit ini,?.


Aaahhh


"Apa yang sebenarnya diinginkan nya saat ini."


Geram sendiri tidak lagi mengerti.


Roby bergegas menyambar ponsel dan kunci mobil keluar dari ruangan nya menuruni tiap tiap lantai dengan menggunakan lift khusus disana.


Mobil melesat jauh menembus teriknya matahari disiang ini.

__ADS_1


Roby terus melaju kan mobil nya menuju rumah sakit yang nama nya terdapat di lembar cetak USG.


Terngiang kembali kejadian ditempat parkir perusahaan Kristian.


Saat Klara tidak menginginkan nya dan dipaksa melakukan nya malam itu.


"Maafkan aku Klara"


Lirih Roby.


Roby memasuki area rumah sakit memarkirkan mobil nya disana.


Bergegas masuk kedalam dan bertanya.


"Apa pasien atas nama Klara masih dirawat di sini?"


Perawat itu menunjukan kamar dengan fasilitas VIP.


Roby pun menuju kesana. Berdiri cukup lama dibalik pintu. Masih menata kembali Fikirannya.


Kemudian masuk kedalam. punggung Klara yang tidak bergeming sedikitpun saat Roby datang.


Pandangan mata nya kosong.


Sekosong hati nya saat ini.


"Klara."


Ujar nya.


Klara tidak menjawab apapun. Roby datang mendekat. Ibu Klara yang mendekati Roby.


"Tuan Roby, seperti ini lah keadaan KLara sekarang.


Roby merasa terenyuh.


"Mengapa kau sampai seperti ini."


Roby Menyentuh kepala Desi kemudian meraih ujung rambutnya.


"Kau ingat aku?."


Robi menanyakan pada Klara.


Klara tetap saja tidak bergerak.


"Sudahlah nak Roby.'


Ibu Klara merubah panggilan nya pada Roby.


"Baik lah Bu, Saya tidak apa apa. Izinkan saya berkunjung di setiap waktu senggang."


Sedikit membungkuk sopan.


"Pintu selalu terbuka untuk nak Roby. Apa hubungan anda dengan Klara sebelum nya ibu bahkan tidak lagi perduli, tapi Ibu tau nak Roby yang sekarang.


Berkata sambil mengusap lengan Roby disana.


"Terimakasih Bu"


Ibu dan Roby menatap iba pada Klara yang hanya menatap jendela dengan tatapan kosong.


"Kalau begitu Saya pamit dulu , Lain waktu saya berkunjung kembali."


"Terimakasih Nak Roby. Hati hati dijalan."


Roby mengangguk kemudian menyentuh pipi Klara.


"Berjanjilah, kau pasti bisa sembuh."


Roby melambai pada Klara dan Ibu nya.


Keluar meninggalkan ruangan Klara hingga menuruni tangga. Tidak menggunakan lift sebab terlalu ramai dan banyak pengunjung.


Roby keluar dari rumah sakit. Menuju parkiran membentur kan kepala nya di atas kemudi.


"Jadi ini yang Kristian ingin ditunjukkan pada ku."


"Klara, mengapa semua bisa jadi begini.?"


Roby melajukan mobilnya menjauhi area rumah sakit. Terus melaju sambil menyentuh dada yang sesak tidak habis Fikir.


Next

__ADS_1


__ADS_2