
Armada besi menerbangkan Kristian menuju jakarta,mendarat disana.Dengan gagah Kristian menuruni tangga,dengan kaca mata hitam menutupi mata yang tidak lagi sembab.
Kristian keluar dari airport menarik travel bag menuju orang yang sudah menunggu nya.
"Selamat datang tuan." sapa nya sambil sedikit membungkuk tanda Ia menghormati.
Kristian mengangguk.
Kris melangkah lebar dengan bodyguard berjalan di belakang nya.
"Silahkan tuan." Seorang sopir membukakan pintu mobil untuk Kristian.
Kristian masuk ke dalam mobil,kemudian sopir itu menutup nya.Di ikuti bodyguard duduk di sebelah pengemudi.
"Kemana ini bos?" tanya bodyguard.
"Kerumah,aku akan mengunjungi tuan besar." balas nya.
"Perintahkan kami untuk menjemput paksa gadis itu,tuan.Kami akan bertindak tanpa jejak." ucap bodyguard.
"Tidak perlu." balas nya.
"Gadis itu mencintai anda,begitu juga sebalik nya. Tidak kah anda khawatir jika gadis itu menderita?"
ujar bodyguard itu.Ia sangat mengenali Kristian,
yang juga berfikir sama.Namun Kristian tau jika Desi menghawatirkan abah.
"Biarkan saja,mungkin memang dia bukan jodoh ku." ucap Kris kelu.
Bodyguard itu diam menarik nafas nya dalam.Seolah mengerti yang bos nya rasakan.
"Semoga Tuhan memberi kebahagiaan untuk mu tuan..." lirih nya tanpa menoleh kearah pria yang duduk di belakang kemudi.
Mobil terus melaju menuju kediaman Tuan Ramadhian.
"Sudah sampai tuan." Sopir itu turun membukakan pintu.
"Terimakasih." ujar Kristian datar sambil berlalu meninggalkan mereka.
Sopir dan bodyguard saling bertatapan.Aura dingin muncul lagi dari seorang Kristian.
Pria yang mulai menghangat dan lembut ketika hadir nya wanita bernama Desi tiba tiba muncul dan mengisi hati nya.Namun setelah semua berakhir,Kristian kembali kosong.Hanya nama Desi lah yang pernah adadan selalu di sana.
"Melupakan mu?!"
"Itu MUSTAHIL!!." Gumam Kristian dalam hati.
"Assalamu'alaikum" ucap nya.
"Wa'alaikumsalam." Balas pelayan wanita paruh baya yang dekat dengan Kristian,memperlakukan dirinya seperti anak kandung sendiri.
__ADS_1
Kristian memasuki kediaman tuan Ramadhian tanpa menyapa pelayan wanita itu.
"Ada apa dengan mu tuan?" ucap pelayan dalam hati."Tidak biasa nya anda seperti ini."Ia pun menghela.
"Kris kau sudah kembali?" Nyonya Ramadhian menghampiri Kris.
"Iya mom." Kristian menyalami nyonya Ramadhian kemudian mencium punggung tangan nya.
"Kris kekamar dulu mom,permisi." Kris berlalu dari sana menaiki tangga menuju kamar nya.
Nyonya Ramadhian menatap Kris yang berlalu disana."Nak,seperti nya kau tidak berhasil."gumam nya.
"Nyonya,ada apa dengan tuan Kris? tidak biasa nya dia begitu.?'tanya Pelayan memberanikan diri.
" Ia sedang sangat terluka.Entahlah jangan mengganggu nya dulu."ujar nya.
"Baik nyonya." ujarnya sambil berlalu menuju dapur.
Kristian masih berada di dalam bath up merendam tubuh nya.Menikmati aroma teraphi yang mungkin mampu menetralisir fikiran nya yang sedang kacau.Memejam membayangkan senyum dan wajah menggemaskan disana.
Kristian menyelesaikan aktifitas mandi nya.mengambil air wudhu melaksanakan shalat maghrib.Kristian belum bisa membaca Al-Qur'An
Ia lebih memilih berdzikir sambil menunggu waktu isya datang.
\*\*\*
Disisi lain,Desi tidak keluar dari kamar sejak kepergian Kristian, terus menangis disana hingga terlelap.
"Sudah malam?" Desi terbangun.Membersihkan diri kemudian melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Pagi hari udara sangat sejuk khas pedesaan.
Desi membuka jendela,menghirup udara disana.
"Melupakan mu?!"
"Sangat tidak mudah tuan!" ujar Desi.
tok..tok..
"Sudah bangun nduk" ujar Abah sambil membawa nampan berisi satu piring nasi lengkap dengan lauk juga sayur disana juga terdapat gelas berisi air putih untuk diberikan pada Desi.
"Sudah,Abah" tutur Desi dengan lembut sambil membuka handle pintu disana.
Abah memasuki kamar Desi,meletak kan nampan di meja sebelah ranjang.Abah duduk di tepi menghela mendapati tisu yang begitu banyak di dalam kranjang sampah itu.Desi mengikuti Abah duduk di sana.
"Makan lah nduk,tidak ada apa apa yang masuk dalam perut mu sejak kemarin." ujar abah nya.
"Desi tidak lapar Abah." tolak nya sopan.
"Tidak baik seperti itu,apapun takdir dari Allah itu pasti yang terbaik." balas nya,menyentuh pundak Desi.Bangun dari duduk kemudian keluar meninggalkan Desi yang masih mencerna ucapan Abahnya.
__ADS_1
"Huuh.." Desi menarik nafas panjang.
"Abah benar,mungkin ini takdir." gumam Desi mengusap mata yang kembali basah.
Desi meraih piring di meja.Perlahan memasukan sendok berisi nasi pada mulut nya.
Suapan demi suapan menenangkan perut agar tidak keroncongan.
Desi meraih benda pipih di meja,membuka pesan berharap ada sebuah pesan dari orang yang ingin Ia hubungi.Kosong..Tidak ada pesan apapun dari Kristian.
"Maafkan aku"lagi lagi kata kata itu keluar dari mulut nya.
Abah yang sedari tadi berdiri di luar pintu semakin merasa bersalah atas dirinya yang merasa mendzolimi anak nya sendiri.Menerima lamaran Fa'at tanpa bertanya pada Desi lebih dahulu. Karena waktu itu usia Desi sudah dua puluh sembilan tahun,usia yang sangat dewasa untuk gadis di desa nya.Abah merasa khawatir akan hal itu.Mungkin jika Abah tidak melakukan nya,Desi akan bahagia bersama Kristian.
" Astaghfirullohal'adzim"Abah menghela meninggalkan tempat itu.
Hengki dan harli tampak sedang membersihkan rumah.Ya..karena mereka terbiasa melakukan nya sebelum berangkat ke kampus.Tidak ada seorang wanita disini
Jika Desi tidak ada,Hengki dan harli lah yang akan melakukan nya menyelesaikan pekerjaan rumah.
Desi keluar dari kamar membawa sisa makanan di nampan menuju wastafel mencuci itu disana.
"Pagi mba Desi?" sapa harli,pria yang paling mengerti dirinya selain Kristian.
"Pagi,kau rajin sekali.Gimana kuliah mu?" tanya Desi.
"Semua nya baik.Tidak ada wanita disini,kalau bukan kami,siapa lagi." Harli melanjutkan membersihkan lantai.
"Ku dengar kalian bekerja?" ujar nya sambil membersihkan piring di sana.
"Em..Kami bekerja paruh waktu mbak." Jawab nya.
"Asalkan tidak mengganggu kuliah mu,itu tidak masalah." jawab Desi sambil berlalu telah menyelesaikan pekerjaan nya.
Berjalan keluar rumah menghirup udara segar di pagi hari."Kau sedang apa tuan?"gumam Desi.
"Berbahagialah kau disana tuan,Aku mencintai mu
Sangat mencintai mu.Aku akan menikah lusa,kau tidak perlu datang tuan,itu akan melukai mu sendiri.Tidak usah kau menunggu ku tuan,
Berbahagia lah walau dengan orang lain.
Semoga kau dipertemukan dengan wanita yang baik,yang tulus mencintai mu." lirih Desi menatap langit mencegah air yang menggenang di pelupuk mata nya,agar tidak tumpah.
Desi merentangkan tangan di halaman rumah menikmati hangat nya sinar matahari yang mulai memasuki halaman nya.
-
-
"Nduk" Itu nama panggilan orang jawa untuk ansk gadis nya.
__ADS_1
Vote vote vote..
mohon dukungan nya ya kawan...