
Pagi ini Abah tampak rapih dengan baju Koko warna putih, kopyah putih dan menggunakan sarung berwarna coklat bercorak.
"Ikut Abah Nak, Abah akan kenalkan kalian pada seseorang yang belum pernah Abah membawa Nak Kristian kesana."
Berlalu pergi setelah selesai bicara.
"Baik Abah."
Jawab Desi dan Kristian bersama.
Pun Akhirnya mengikuti Abah kemana membawa mereka pergi."
Abah melangkah sambil membawa buku kecil di saku baju Koko nya dan menenteng keranjang kecil yang terbuat dari rotan mirip dengan bekas parsel yang Desi kirimkan saat lebaran lalu.
Desi mengulas senyum, bahkan keranjang bekas parsel pemberian dari anak nya, Abah anggap istimewa. Tidak dibuang ke tong sampah saja.
Abah memetik bunga bunga yang terdapat di sisi jalan kanan dan kiri sebuah jalan yang Desi sudah tahu ini akan kemana.
Degh...
Hati Kristian bergetar.
Pemakaman.
Sebuah gerbang besar yang sudah jelas tempat apa ini membuat Desi menarik nafas nya panjang.
Di sepanjang jalan menuju pemakaman di tanami bunga bunga, itu adalah ide kepala Desa agar jika datang ke pemakaman tidak perlu membeli bunga. Yang mungkin bisa di ikuti Desa desa lain agar bisa lebih menghemat, ujar beliau.
Abah mengucapkan salam yang khusus untuk memasuki pemakaman.
Desi pun melakukan nya, sedangkan Kristian hanya berucap permisi karena tidak faham hal hal seperti ini.
Abah melepas Alas kaki diikuti Desi kemudian Kristian nampak bingung pun Ahir nya mengikuti melepas sepatu menyisakan kaus kaki mengikuti Abah menuju pusara yang tertera nama dan tanggal lahir disana.
Abah merendahkan tubuh nya, hening suasana di sana. Memang tidak ada pembicaraan sejak dari rumah hingga sampai di pemakaman.
Desi dan Kristian mengikuti Abah merendahkan tubuh nya, Desi menunduk menitik kan air matanya.
Abah mengeluarkan buku kecil dari saku kemudian membaca nya. Ternyata buku itu berisi lantunan Do'a Do,'a untuk orang yang telah tiada. Desi dan Kristian mengikuti Abah yang sedang membaca Do'a itu.
Setelah Do'a Selesai, Desi berucap Aamiin dan mengusap wajah nya. Kristian mengikuti.
Abah menunduk.
Air mata Abah jatuh ke tanah. Tubuh nya bergetar benar benar menangis tanpa bersuara.
Desi sesekali mengusap Air mata nya. Sedangkan Kristian menatap mereka kelu.
Aku bahkan tidak pernah tahu siapa dan dimana orang tua kandung ku dan entah masih atau telah tiada.
Batin Kristian.
"Nyai, ini Nak Kristian suami Desi anak mu.
Pria baik yang begitu mencintai dan melindungi anak mu. Sekarang Desi sudah bahagia dan Semoga Tuhan mengampuni Dosa dosa mu dan Kau di tempatkan di tempat terbaik di Alam sana."
(Nyai adalah panggilan sayang dari Abah untuk istri nya.)
Abah Mengusap mata yang basah, Seketika Kristian menyentuh bahu Abah berusaha menenangkan.
__ADS_1
Abah bangkit berdiri kemudian berlalu setelah mengucapkan salam dan kembali memakai alas kaki lalu pergi.
Kristian dan Desi pun melakukan hal yang sama. Saling menggenggam sambil keluar dari pemakaman.
***
Selalu saja ada air mata ketika wanita berpisah.
Desi memeluk Abah nya sambil menangis.
Abah pun mendekap Desi dengan mata yang berkaca kaca.
Entah kenapa Desi jadi cengeng sekali.Gumam Kristian.
"Desi pulang dulu ya Bah, Abah sehat sehat di rumah. Do'akan untuk Desi dan juga cucu Abah lahir dengan sehat."
"Tidak perlu kau meminta Abah selalu mendo'akan mu."
Usap Abah pada bahu Desi.
"Jadilah istri yang baik, Abah menitipkan mu kepada Allah yang akan senantiasa menjaga mu melalui lindungan suamimu Nak Kristian."
Desi diam sambil mengusap mata nya yang basah.
Kristian menyalami Abah kemudian mencium punggung tangan nya disana.
"Abah tidak akan berkata apapun lagi pada Nak Kristian, Terimakasih."
Abah Mengusap lengan Kristian.
"Terimakasih untuk semua nya."
Abah melambai pada mobil yang pergi menjauh di sana.
Sedangkan Hengki dan Harli telah pergi ke kampus sejak pagi tadi. Sempat berpamitan pada Desi sebelum berangkat.
***
Di perjalanan
Sejak pergi meninggalkan rumah Abah Desi hanya Diam sambil menatap jalanan.
Terasa ada sesuatu yang janggal namun tidak mengerti apa itu.
"Kau sedih?kalau begitu menangis lah."
Menepuk dada agar Desi menyandar.
"Tidak, hanya sedikit ada yang berbeda dari Abah biasanya. Abah berbicara pada ku namun menatap yang lain. Apa yang sedang Abah sembunyikan ya."
"Mungkin hanya pesaraan mu saja. Abah terlihat sehat dan sangat bersemangat."
Meraih Desi masuk kedalam dekapannya.
"Kau lihat saat Abah menyuapi lele lele nya? Bersemangat sekali bukan?."
Desi mengangguk.
" Semoga hanya perasaan ku saja."
__ADS_1
Desi menarik nafas nya panjang.
"Terimakasih sayang, kau perlakukan keluarga ku dengan sangat baik."
"Sudahlah, Aku hanya ingin berterima kasih kepada Abah telah membesarkan mu."
Mempererat Dekapannya.
"Terimakasih Tuhan Engkau menjadikan wanita ini ada."
Kristian mengecup pucuk kepala Desi.
"Dan menjodohkan dia untuk ku."
"Sayang.."
Tidak lama Desi pun memejam.
***
Mata Desi terbuka, seketika Ia bangun dari tidur nya mengucek ucek mata nya terkejut tidak percaya.
"Kita sudah di dalam pesawat? "
Desi mengedarkan pandangan.
Ia bahkan tidur di dalam dekapan Kristian menjadikan lengan nya sebagai bantal.
"Kau sudah bangun?."
"Bagaimana cara ku bisa kemari? Bukan kah tadi aku di dalam mobil?!."
Desi berkerut dahi.
"Bagaimana cara nya? Sungguh kau ingin tahu?.Aku memanggil Jin Ifrit untuk menghilangkan mu dan meletak kan mu di kamar dalam pesawat!."
Kristian mendengkus kesal.
"Jin Ifrit?! Sungguh??."
Mata Desi membola.
"AAAA ASTAGA.. Kenapa KAU BODOH SEKALI?!. Aku yang menggendong mu!! Kau tidur pulas sekali aku yang menggendong mu keluar dari mobil menaiki tangga memasuki pesawat dan meletak kan mu di kamar!!."
"Dan satu lagi?! Aku yang menarik tubuh mu untuk aku Dekap karena kau paling nyaman dengan dada bidang KU dan aroma tubuh ku yang maskulin! Bahkan saking tergila gila dengan ketampanan ku, kau membawa wajahku kedalam mimpi Mu!!."
"Kau men..de..sah sambil mengucap kan nama ku di dalam tidur mu berkali kali! Seperti mengucap mantra saat mengusir setan yang menghantui mu di malam hari!!."
" PUAS!! kali begitu jangan bertanya lagi!."
Pekik Kristian.
Desi bangkit dari tidur nya, Kepala nya menguap. Wajah nya merah padam karena marah, Mendengkus kesal bagaikan seorang banteng yang dihadapkan dengan kain merah.
"DDiiiiiiiiiiiiiiiiiiiAAAAAAAAAAAAAMMM....!!!!!!"
-
-
__ADS_1
Sekilas info...(Melepas alas kaki saat masuk ke area pemakaman adalah bentuk menghormati dari hati bukan aturan aturan yang memang harus di taati. Hanya saja, jika alas kaki di lepas, kita tidak akan membawa kotoran yang sebelum nya kita injak di perjalanan sehingga mengotori area pemakaman)
Terimakasih semoga bermanfaat...