
Hari ini Desi libur mengajar memilih bersiap untuk pergi berbelanja setelah habis masa iddah nya. Selama pindah kemari, Desi tidak pernah pergi kemanapun hanya lingkungan antara pesantren dan rumah dinas.
Desi menunggu taxi online yang Ia pesan sebelum nya sambil menyandarkan diri di tembok membuka layar ponsel nya.
"Maaf lama menunggu ustadzah."
ujar sopir yang turun dari taxi. Membukakan pintu mobil untuk Desi.
Sopir taxi faham jika dia memasuki area rumah dinas ustadzah di Al-Ikhsan.
"Tidak apa apa."
Desi masuk kedalam mobil kemudian berkata"Terimakasih."Dengan ramah nya.
Mobil melaju meninggalkan area pesantren dengan sebelum nya berpapasan dengan mobil Kristian yang hendak memasuki pesantren.
"Desi? Mau kemana dia?"
Gumam Kristian.
"Ah.. untuk apa aku perduli."ujar nya.
Namun bibir nya berkata berlawanan dengan hati nya. Kristian putar arah mengikuti taxi yang membawa Desi disana.
" Sial kenapa aku mengikuti nya?"
Kris membentur kan kepala nya pada kemudi mengutuki kebodohan nya sambil menunggu lampu lalu lintas yang masih berwarna merah memberhentikan mobil mobil dan sepeda motor disana.
Taxi terus melaju hingga sampai di area parkir pusat perbelanjaan.
"Mana Dia?"
Kris mengedarkan pandangan mencari sosok wanita yang Ia cari.
Mata Kris menangkap sosok wanita yang Ia kenal sedang memilih outlet pernak pernik disana.
Desi kembali berpindah memasuki toko Bag and shoes ternama memilih beberapa barang disana.
Sesekali Ia melihat bandrol yang harga nya Fantastis dan tidak jadi membeli tas cantik itu.
"Ini terlalu mahal, Gaji ku selama dua bulan tidak akan cukup untuk membeli nya."
Gumam Desi dalam hati memajukan bibir nya.
Kris yang berdiri dibelakang Desi tanpa Ia sadari mengulas senyum disana.
"Kau terlihat masih seperti dulu sangat menggemaskan, Tidak pernah berubah."
Desi menuju kasir hanya membeli sepasang sepatu terbuat dari kulit warna hitam mengkilap untuk nya bekerja mengajar di pesantren.
"Hanya ini nona?"
tanya mba yang berdiri di depan kasir.
"Iya.""
"Lagi pula harganya terlalu mahal." Bisik Desi pada pegawai kasir seketika mereka tertawa bersama kemudian saling mengobrol mengakrabkan diri.
Itu lah Desi, gaya khas nya yang unik bisa cepat mengakrabkan diri dengan orang orang disekitar nya.
"Da.. sampai bertemu lagi. Oh ya.. panggil aku Desi." Ujar nya melambai pada mba yang baru dikenal nya.
Kris berjalan mendekati kasir bertanya pada wanita yang baru saja berbicara dengan Desi.
"Apa saya yang wanita tadi ingin kan."
Wanita itu menatap Kristian tertegun.
"Eh.. Emm.. anu itu tuan."
wanita itu menjawab gugup menunjuk pada tas yang berada di ujung sana.
"Priksa Cctv."
"Eh..iya, APA???"
__ADS_1
Wanita itu terkesiap dengan kata yang baru saja didengar nya.
"CCTV? yang benar saja tuan?!" Gumam gumam dalam hati.
Artinya Kris akan memeriksa Cctv untuk melihat apa saja yang Desi sukai di toko itu.
"Astaga!! Mana ada pria seperti anda tuan?!."
Gumam gumam lagi.
"Cepat...!"
Kris terlihat tidak suka menunggu.
"Ba..Baik tuan."
Cctv di periksa, Semua barang yang disentuh Desi terlihat di layar.
Kris mengeluarkan kartu kredit disana.
Pegawai kasir menerima itu sambil bergumam"Seandainya ada pria yang mencintaiku seperti anda tuan."
"Terimakasih tuan, telah berkunjung ke toko kami"
Sang pemilik toko sedikit membungkuk menghormati Kris yang usai membayar semua yang Desi inginkan keluar dari sana dengan beberapa paper bag di tangan nya.
Kris terus melangkah mengedarkan pandangan mencari Desi di dalam Mall.
Rasa penasaran menyelimuti Kris ingin terus mengikuti Desi.
"Kemana dia?"
Gumam Kris kemudian menuju parkiran meletak kan beberapa paper bag didalam bagasi.
"Apa yang aku lakukan, Mengapa datang ke tempat seperti ini dan membeli ini semua."
gumam Kris mengutuki kebodohan nya.
Beberapa pasang mata wanita menatap kagum pada Kristian yang memasuki pusat perbelanjaan disana. Kris menghela merasa tidak nyaman Karena tempat itu begitu ramai.
Mata Kris menangkap sosok yang Ia cari menuju gedung bioskop yang tidak jauh dari tempat itu.
Kris mengikuti Desi yang sedang mengantri untuk membeli tiket kemudian terlihat membeli pop corn disana.
Kris terus mengikuti Desi hingga membeli tiket untuk menonton film yang sama.
Desi duduk menatap layar menonton film horor dengan pop corn ditangan nya.
Kris memperhatikan Desi yang sesekali menutup mata nya dengan kedua telapak tangan disana.
Terkadang mengintip dari sela sela jari nya penasaran dengan adegan berikut nya.
" Kalau takut kenapa memilih film horor?"
Gumam Kristian.
Adegan film itu semakin menyeramkan hingga Desi tersentak menutup mata dengan menoleh kearah sisi sebelah kanan.
Desi membuka mata seketika membelalak lebih terkejut dari pada menonton adegan film horor di layar.
"Tuan?."
Kris mengulas senyum samar kembali melihat layar dihadapan nya.
"Mengapa anda berada disini?."
Tatapan penuh selidik dari mata Desi.
Tidak mungkin kan seorang Kristian tiba tiba berada di dalan gedung bioskop menonton film horor?!.
"Mungkin didalam rumah anda, juga terdapat tempat seperti ini. Bahkan m ungkin jauh lebih mewah." Gumam Desi dalam hati membayangkan gedung bioskop pribadi yang biasa dimiliki orang orang tertentu.
Kris tidak menghiraukan ucapan Desi. Ia memilih menatap layar dihadapan nya meraih pop corn ditangan Desi kemudian memasukan satu per satu ke mulut nya.
"Tuan, itu milik ku?!."
__ADS_1
Kris tetap diam tidak merespon Desi sedikitpun.
"Tuan, sebenarnya apa yang anda lakukan disini?."
Desi mengedarkan pandangan.
"Tempat seperti ini tidak cocok untuk anda."
"Lalu?"
Ahirnya Kristian merespon.
"Ya, Orang seperti anda tidak cocok berada di sini."
"Tidak cocok?. Baik lah aku pergi."
Kris bangun dari duduk nya berlalu dari sana.
"Tuan, tunggu..?!. Bukan begitu maksud ku!."
"Ya Tuhan, Kenapa jadi salah faham begini sih?!."
Desi mengejar Kristian keluar dari dalam gedung.
"Kemana dia?"
Gumam Desi mengedarkan pandangan menatap sekeliling mencari Kristian.
Tidak ada."Kemana Kristian hujan hujan begini?."
gumam nya sedikit khawatir.
"Eh.. tapi mungkin dia sudah pulang dijemput sopir nya"gumam nya lagi menepis kekhawatiran.
Hujan deras mengguyur kota Jakarta dengan petir menggelegar terdengar ditempat itu.
Desi membuka tas slempang nya mengambil ponsel nya untuk memesan taxi online disana.
"Ponsel ku lowbat."
Desi menghela sambil mengulurkan tangan nya menyentuh air hujan membasahi tangan nya disana.
"Jangan main hujan, bagaimana jika nanti kau sakit."
"Tuan?"
Desi tersentak menoleh pada sumber suara.
Kris melepaskan Jas nya menyisakan kemeja disana.
"Pakailah."
Kris melingkarkan Jas nya di punggung Desi. "
Desi tertegun dengan sikap Kristian membuat nya mematung disana.
"Aku akan mengantar mu."
Kristian membuka payung, meraih paper bag ditangan Desi.
Tidak ada alasan bagi Desi untuk menolak, Desi berada di bawah satu payung dengan Kristian.
Menghirup aroma Kristian yang melekat pada Jas yang sedang Ia gunakan.Seketika Desi pun menghangat.
Rasanya ingin sekali menangis, berjalan dengan Kristian dibawah guyuran hujan dengan satu payung digunakan bersama.
Seketika itu Desi menyadarkan diri nya."Aku itu seorang janda tuan, sangat tidak pantas untuk berada di sisi mu. Jangan bersikap terlalu baik pada ku, tuan. Karena aku takut akan serakah dan berharap terus bersama dengan mu." Gumam Desi sambil menatap wajah tampan disamping nya.
-
-
Terimakasih sudah mendukung Goodbye Kristian.
Mohon maaf jika masih banyak tempo bertebaran..
__ADS_1
Aku tidak ada apa apa nya tanpa kalian..