Goodbye KRISTIAN

Goodbye KRISTIAN
Hengki


__ADS_3

Bangunan luas begitu ramai dipenuhi para pengunjung. Kelap kelip lampu hias menerangi setiap sudut taman. Disinilah Pusat perbelanjaan di kota solo berada.


Kuliner berjajar di setiap ruang ruang tampak dari luar terpampang Menu andalan setiap restoran.


Outlet dengan fashion brand lokal hingga impor dari mancanegara tidak luput dari pandangan mata.


Diseberang sana terdapat mini market yang juga cukup ramai orang berbelanja.


Disinilah Harli bekerja paruh waktu di sela sela kesibukan nya, serta menyempatkan waktu untuk membuat komik online tidak lain untuk biaya kuliah.


Tidak ingin membebani Abah dan juga Desi kakak nya. Hengki dan Harli menolak dengan sopan Kakak ipar nya Kristian yang ingin melunasi biaya kuliah mereka hingga Ahir.


Harli bekerja keras berangkat pagi hingga malam baru kembali.


Begitupun dengan Hengki yang bekerja sebagai dept collector, Tukang tagih hutang yang sangat di benci orang. Tubuh nya yang tinggi besar, wajahnya yang cukup tampan menyeramkan.


Namun masih belum setinggi Kristian si..hehe


Dept collector?! Bagaimana bisa?


Realita hidup memang terkadang tidak berjalan mulus seperti yang di harapkan.Bukan karena dia menyukai profesi ini tapi karena memang membutuhkan biaya kuliah apalagi mendekati Ahir dan sedang mempersiapkan skripsi.


Tak jarang Ia mendapatkan caci maki dan sumpah sarapah dari emak emak yang tidak terima kendaraan milik nya di ambil, tentu karena berbulan bulan menunggak tidak membayar angsuran.


Pernah juga kala itu wajah tampan khas pria lokal dengan kulit bersih exotic itu mendapat kan air bekas mengepel lantai di tubuh nya, lebih parah lagi rekan nya yang mendapat kan air siraman itu tepat di wajah nya.


"Sudah hampir satu tahun anda tidak membayar cicilan mobil itu nyonya, mohon kerja sama nya karena kami juga bekerja dan hanya menuruti perintah dari atasan."


Aldy berkata dengan masih dalam taraf sopan.


Tepat di depan teras rumah, seorang wanita sibuk dengan pekerjaan nya enggan untuk merespon dua pria yang berdiri tepat di belakang.


Wanita dengan pakaian longgar itu tidak mengidahkan, terus saja fokus mengepel lantai tanpa perduli orang di belakang nya berbicara dan sebelumnya mengucapkan salam dengan sopan Ia pun enggan menjawab nya.


"Apa anda mendengar saya nyonya?"


Ujar Aldy lagi.


Woi..!! Apa kau tuli???


Batin Aldy kesal.


"ANDA SUDAH HAMPIR SATU TAHUN MENUNGGAK NYONYA? KAMI HARUS MEMBAWA MOBIL anda ke KANTOR SEKARANG!!."


Aldy meninggikan suara kesal sebab diacuhkan sejak tadi.


"Dasar sialan?! Aku DENGAR dan Aku tidak TULI..!!!"


wanita itu ikut memekik sambil mengarahkan lap pel ke tubuh Aldy.


Sialan wanita ini?! Dia pura pura tidak dengar tadi padahal tidak tuli!!


"Ini sudah yang kedua kali nya kami datang kemari nyonya. Tapi anda,--"


"Aku tidak perduli, Pergi kalian dari rumahku!!".


Berkacak pinggang dengan amarah yang meledak ledak mengumpat dan memaki tidak membiarkan Aldy meneruskan ucapan nya malah seperti telah siap untuk menelan Aldy dan Hengki hidup hidup.

__ADS_1


Kepala nya menguap seperti muncul tanduk setan yang tidak kasap mata.


*Dasar emak emak racun dunia!


Aldy semakin kesal


Tahan Aldy....Sabar....Sabar* ..


Hengki sialan?! Kenapa kau diam saja sejak tadi?! Aldi melirik dengan ekor matanya ke arah Hengki, mengisyarat kan.


"Nyonya jika anda tidak bisa diajak bicara baik


baik, Jangan sa---"


Belum sempat Aldy selesai bicara tiba tiba.


"Byyyuuuuuuuuurrrrrrr"


Wanita itu secepat kilat menyiramkan air yang ada di dalam ember bekas nya mengepel,


Tepat di wajah Aldy, beruntung Hengki hanya terkena baju nya saja.


"Rasakan itu! Sudah ku katakan kalian pergi dari rumah ku!!."


Hengki kenapa kau diam saja!!


Aldy memekik dalam hati dengan mata yang melotot ke arah Hengki.


" Anda benar benar ---"


Belum selesai Aldy bicara Hengki sudah mengangkat tangan agar Aldy diam.


"Apa?! kau Fikir aku takut? "


Wanita itu memukul Hengki dengan lap pel kemudian Hengki menangkap nya.


Mematahkan lap pel itu dan melempar nya.


Nyali emak emak itu seketika menciut, kakinya gemetar saat tangan Hengki mendekat pada nya. "Itu... Itu tuan silahkan di ambil."


Menunjuk kunci mobil yang ada di meja.


****


"Semoga kalian nanti masuk ke jurang mati membusuk tidak ada yang menolong!! Atau mati di tabrak kontainer!! Atau..."


Wanita itu terus menyumpahi hingga mobil menjauh dari pekarangan rumah sampai tidak terlihat.


"Kau hebat sekali Hengki, pantas saja bos selalu memuji kinerja mu."


Aldy duduk di belakang kemudi sambil melajukan mobil nya."Gaji ku bisa dipotong jika tidak membawa mobil ini ke kantor. Terimakasih, Aku senang menjadi partner mu."


"Emak Emak sialan?! Aku jadi harus numpang mandi di POM bensin kan, Nasib baik karena kau membawa pakaian ganti, Anyway terimakasih untuk baju nya." Ujar Aldy lagi


"Kau tidak dengar tadi Ibu itu menyumpahi mu."


"Itu sumpah sarapah untuk mu Hengki. Aku belum mau mati, aku bahkan belum menikah."

__ADS_1


Menoleh pada Hengki kemudian menatap jalanan lagi." Kalau di lihat lihat, wajahmu memang menyeramkan.hahaha,"


Obrolan receh dari mulut Aldy terdengar hingga sampai di parkiran kantor.


"Hengki kita sudah sampai, ini sudah malam kau bisa pulang. Sampai jumpa lagi besok."


BIP..BIP..


Aldy menekan tombol mengunci mobil, sementara Hengki menuju parkiran motor mengambil motor matic nya disana.


"Andi kau cerewet seperti wanita."


Mengenakan helm dan jaket nya keluar dari parkiran kantor menuju mini market tempat Harli bekerja.


Sudah setengah jam Hengki menunggu di depan mini market duduk tenang sambil memainkan gawai nya tidak mengindahkan orang yang hilir mudik keluar masuk mini market disana.


"Maaf mas nunggu lama."


Harli keluar dari mini market dengan wajah ceria dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajah nya pula


"Ayo, ini sudah malam."


Hengki bangun dari duduk nya mendekati motor sambil memasuk kan kulit kacang yang baru Ia makan ke tempat sampah.


"Mas, dari raut wajah mu kau pasti habis menakuti orang lagi."


Berkata sambil nangkring di atas motor Hengki.


Hengki tidak menjawab, mengenakan helm melajukan motor nya.


"Mas, Apa ada yang menyumpahi mu lagi???"


Harli meninggikan suara di perjalanan yang ramai kendaraan.


Hengki mengangguk. "Itu sudah biasa, apa itu aneh?!."


"Awas lho, sumpah orang teraniaya bisa jadi kenyataan?!!."


Harli memekik lagi.


"Cari saja pekerjaan lain, kalau tidak ingin disumpahi seseorang!!."


Hengki diam tampak berfikir.


"Apa mas memukul nya???."


Membuyarkan konsentrasi.


"Kau bicara apa?? Aku tidak memukuli nya!. Aku hanya mematahkan lap pel dan sudah meminta maaf tadi, bahkan dia menyiram ku dengan Air bekas nya mengepel?!."


"Hahaha Itu sama saja, mas."


"Diam, ini di jalan. Nanti aku bisa menabrak."


-


-

__ADS_1


Next


__ADS_2