
Soto Tri Windu Solo
Savitri, Imelda dan Erik melongo melihat Jaehyun memakan mangkuk soto ketiga dengan lahapnya. Meskipun Erik belum terlalu lama mengenal pria Korea - Indonesia itu tapi dia tahu Jaehyun bukan tipe tukang makan banyak seperti halnya Savitri.
"Seriously Jae, ini bukan porsi mangkok kecil lho!" celetuk Erik yang auto kenyang melihat suami sahabat kekasih nya seperti makan tanpa kenyang.
"Beneran deh, yang ngidam si Oppa" gumam Imelda.
"Oppa, apa masih belum kenyang?" tanya Savitri bingung melihat suaminya berubah macam dia saja kalau sedang kalap dan khilaf.
"Ini terakhir kok..." jawab Jaehyun sambil mengunyah makanannya.
"Kalau kamu seperti ini, Oppa, lama-lama six pack kamu hilang deh!"
Jaehyun menatap judes ke Savitri. "Nanti aku bakalan nge gym dan berenang!"
Savitri melongo. "Kenapa dia berubah menjadi Bezita ya? Biasanya jadi Songoku yang manis sedangkan aku menjadi Chi-Chi. Apakah aku harus berubah menjadi Bulma yang bakalan melahirkan Trunks?"
Erik dan Imelda melengos mendengar ucapan absurd guru cantik itu.
"Kamu habis baca Dragon Ball marathon?" tanya Imelda yang hanya bisa mengikuti alur keabsurdan Savitri.
"Begitulah..."
Erik hanya menggelengkan kepalanya. "Aku jadi tahu kenapa kalian berdua itu bisa bersahabat baik, ya karena kalian sama saja absurd nya."
"Eh mas Erik, tapi di kandungan Savitri ada kistanya. Apa tidak berbahaya?" tanya Imelda ke kekasihnya.
"Selama kistanya bukan yang agresif, aku rasa aman-aman saja. Tadi kata dokter Ratna apa?"
"Kata dokter Ratna nanti Savitri harus melahirkan secara Caesar karena hendak sekalian mengangkat kistanya kalau menjadi besar. Dan tadi Savitri diberikan hormon progesterone karena selain mendukung kehamilan juga membantu menghilangkan kistanya mumpung kecil ukurannya." Imelda menerangkan pada Erik apa yang terjadi saat di dalam kamar periksa.
( Sumber Kompas Health ).
"Kalau masih kecil sekali, bisa hilang kok dengan terapi itu. Aku rasa kamu nggak papa. Kandungannya Bagaimana? Termasuk kuat kan?" Erik bertanya pada Savitri.
"Alhamdulillah kuat. Insyaallah kistaku hilang ya supaya aku nggak ada masalah selama kehamilan."
"Kalau tidak membesar, aman kok Sav." Erik memberikan senyum menenangkan.
"Sayang, aku kok kepingin dawet selasih Bu Darmi di pasar gede ya?" Jaehyun memotong pembicaraan ketiganya yang menatap pria itu dengan tatapan horor.
"Astaghfirullah! Itu perut! Oppa itu sebenarnya ngidam apa rakus sih?" celetuk Savitri.
__ADS_1
"Entah..."
Imelda menepuk bahu Savitri. "Semoga saja ngidamnya masih yang normal begini, gampang dicari dan kagak usah nyusahin!"
"Iya Mel. Tapi tetap saja aku takjub!"
"Jae, kayaknya selama fase ngidam, dan kamu yang mengalaminya, bakalan hilang tuh six pack kamu!" gelak Erik durjana.
"Gaswat!" keluh Jaehyun.
***
Sabtu ini dihabiskan keempat sahabat itu untuk berjalan-jalan ke pasar gede mencari dawet disana, lalu Jaehyun minta ke orient untuk membeli roti semir, dan setelahnya ke mall the park Solo Baru.
Keempatnya memilih untuk nonton bioskop yang entah kenapa, Savitri dan Jaehyun kompak ingin nonton horor Indonesia. Erik dan Imelda hanya mengikuti pasangan absurd ini sembari berdoa agar saat mereka menikah dan Imelda hamil, tidak seperti pasangan itu.
***
Pagi ini Savitri dan Jaehyun sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Mengingat istrinya sedang hamil muda, Jaehyun mewanti-wanti untuk tidak ke kantor naik Kawasaki atau Vespanya. Akhirnya Savitri pun menyetir Mazda CX-5 nya setiap hari ke kantor karena bumil itu tidak suka disopiri meskipun Jaehyun sudah meminta pak Dewo jadi sopirnya selama dia hamil.
"Nggak enak Oppa. Kan mobilku juga canggih, kakiku tidak harus menekan gas dan rem terlalu dalam" eyel Savitri.
"Kalau capek, pakai sopir ya" ucap Jaehyun tajam.
"Iya iya." Suara notifikasi ponsel Savitri berbunyi membuat wanita itu menoleh dan membaca pesan yang masuk. "Rain sudah masuk rumah sakit, Oppa. Katanya mau lahiran."
"Iya, ini lagi aku ketik di grup chat keluarga." Savitri memainkan jarinya di layar pipih itu. Sebenarnya Savitri dan Jaehyun punya aturan untuk tidak bermain handphone saat sedang makan tapi karena ini situasinya berbeda, mereka pun memberikan dispensasi. Biasanya jika ada notifikasi, hanya dilihat saja tanpa ada niatan membalas kecuali jika memang urgent.
"Sudah sarapannya? Susu hamilnya jangan lupa diminum. Kamu bareng aku saja deh!" pinta Jaehyun.
"Oppa nggak kejauhan nanti? Ada meeting penting nggak pagi ini?"
"Nggak ada, makanya bisa santai."
Savitri tersenyum. "Boleh deh! Diantar paksu... Pak Suami." Savitri menghabiskan susu hamilnya lalu mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan Mbok Mar termasuk sebotol jamu beras kencur yang rutin diminum Savitri seminggu tiga kali.
Minum beras kencur untuk ibu hamil sangat bagus karena mengandung antioksidan berupa flavonoid yang bermanfaat mengatasi kerusakan sel. Antioksidan juga bermanfaat untuk membantu mencegah terjadinya peradangan yang berdampak pada perkembangan janin. ( Sumber Alodokter )
"Yuk berangkat."
Jaehyun menggandeng tangan istrinya. "Mbok Mar, kita berangkat dulu."
"Njih mas Jaehyun. Hati-hati mas, mbak." Pembantu paruh baya itu memang masih memanggil Jaehyun dan Savitri layaknya saat lajang dan keduanya juga tidak mempermasalahkan.
Saat di dalam mobil, Jaehyun bertanya menu bekal apa yang diminta Savitri.
__ADS_1
"Aku minta dibuatkan tumis tauge ikan teri, tempe goreng, potongan bandeng presto oleh-oleh dari Semarang yang dikasih sama Anita, nasi terus potongan buah. Oh ini ada susu uht, beras kencur dan air mineral" ucap Savitri sambil memeriksa isi tas bekalnya.
"Ya sudah. Nanti dimakan ya." Jaehyun mencium pelipis Savitri.
"Kalau masih lapar, aku boleh kan makan di warung Bu Midi?"
"Boleh tapi jangan mie instan ya!"
"Oke."
***
Setengah jam kemudian mobil hitam milik Jaehyun pun tiba di gerbang sekolah tempat Savitri bekerja. Setelah rutinitas cipika cipiki cibibir dan citangan, Savitri pun turun bersamaan dengan datangnya Anita yang diboncengkan oleh Damar.
Jaehyun dan Damar saling menyapa satu sama lain setelah itu keduanya berpamitan ke pasangan masing-masing. Anita pun langsung menggamit lengan Savitri untuk berjalan menuju ruang bimbingan konseling.
"Bawa bekal lagi dari rumah?" tanya Anita melihat tas bekal Savitri.
"Hu um. Aku tadi minta dibawain daripada nanti aku dan si baby kelaparan. Lagian kan ada yang kasih aku bandeng presto Semarang" cengir Savitri.
"Eh iya aku yang kasih malah lupa. Itu mas Damar yang belikan pas dinas ke Semarang kemarin."
"Pas aku juga lagi pengen bandeng presto."
Anita tertawa kecil. "Alhamdulillah nek ngepasi."
Keduanya pun masuk ke ruangan mereka sembari menyapa Dian dan Bu Titi. Savitri langsung meletakkan semua bawaannya diatas mejanya. Setelahnya mereka berempat pun mulai bekerja sesuai rutinitas sehari-hari.
Menjelang makan siang, Savitri sudah kebingungan karena bekalnya sudah dimakan saat brunch tadi.
"Ke Bu Midi yuk. Ta temani" ajak Anita yang tahu sahabatnya kelaparan.
"Ayo. Aku kangen oseng kikilnya..." Tiba-tiba suara ponsel Savitri berbunyi dan bumil itu tampak mengerenyitkan dahinya. "Sebentar Nit. Assalamualaikum mas Panji. Ada apa... " Wajah Savitri memucat dan Anita langsung memegang tangan dan tubuh sahabatnya itu lalu membawanya duduk di kursinya. "Astaghfirullah..." Savitri langsung menangis.
"Sav, kamu kenapa?" tanya Anita bingung. Dian yang baru saja selesai sholat dhuhur di ruang meeting, terkejut melihat rekannya seperti itu.
"Sav? Ono Opo?" tanya Dian panik.
Savitri tidak menjawab hanya memeluk Anita sambil menangis.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️