
Diamond Restaurant Slamet Riyadi Surakarta
Savitri tahu dia tidak punya hak ke Jani karena sudah bukan muridnya tapi melihat remaja itu bersama Oom-oom, hatinya kesal juga.
"Sav, kamu tidak ada hak, sayang. Jadi jangan macam-macam" bisik Anita yang duduk di hadapan gadis itu. "Aku tahu kamu akan bilang 'dia baru 16 tahun, masih under age' tapi disini bukan Amerika yang memiliki hukum pelecehan sek**ual karena berhubungan dengan anak di bawah umur. Hukumnya disini berbeda."
"Lagipula, dia sendiri tampak nyaman" sambung Dina.
"Dia sudah memilih, Savitri. Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan Jani sendiri yang meminta tolong pada kita. Mau lapor polisi juga tidak bisa karena pasti bilangnya suka sama suka atau ini keponakan saya atau alasan lainnya. Ada waktunya kamu tidak bisa menyelesaikan semuanya dan tidak semua itu hitam putih" nasehat Bu Titi. "Kita berdoa saja, Jani dan kakaknya bisa bebas dari ibunya yang durhaka itu."
Savitri hanya diam saja mendengar ucapan rekan-rekannya. Dirinya tahu tidak bisa berbuat apa-apa karena memang bukan haknya. Meskipun dongkol, dirinya mencoba untuk melepaskan beban itu.
***
Sabtu pagi, Neil dan Aurora sudah bersiap bersama dengan Savitri dan Jaehyun untuk memulai acara kulinernya. Mereka memulai dengan makan soto widuran, lalu melipir ke pasar gede untuk menikmati dawet. Aurora kalap membeli banyak oleh-oleh disana untuk dibawa pulang ke Jakarta, guna dibagi kepada para pegawai Neil dan Stephen.
Setelahnya menuju toko roti Orient memesan roti sisir dan berbagai oleh-oleh lainnya. Setelahnya mereka menuju serabi Notosuman, abon pak Mesran dan Karak. Neil hanya tertawa kecil melihat istrinya khilaf belanja.
"Habis ini kita mau makan siang dimana?" tanya Neil ke Savitri.
"Iga yuk!"
"Dimana?" tanya Aurora.
"Boyolali."
Jaehyun yang bergantian menyetir bersama dengan Savitri hanya menggelengkan kepalanya. "Cari iga sampai ke Boyolali?"
"Oppa belum kesana kan? Aku saja yang nyetir."
Savitri pun menyetir Mazda CX-5 nya menuju iga bakar Pak Wid dekat alun-alun kota Boyolali.
Sepanjang jalan Savitri bercerita soal muridnya yang dijual oleh ibunya sebagai juga mucikarinya.
"Kamu tidak bisa berbuat apa-apa Sav, apalagi itu ibunya sendiri. Kamu tidak ada hak" ujar Neil saat Savitri meminta pendapatnya.
"Kecuali jika Jani meminta pertolongan" sambung Aurora.
Jaehyun menoleh ke arah gadisnya yang tampak kesal. "Sav, just let it go even it's hard. ( lepaskanlah meskipun sulit )."
"Tapi Oppa..."
"You can't save everyone and sometimes not of them want to be saved ( kamu tidak bisa menyelamatkan setiap orang dan terkadang mereka tidak mau diselamatkan )." Jaehyun mengusap kepala Savitri lembut.
Neil dan Aurora yang melihat interaksi keduanya, tersenyum. Setidaknya kami bisa melihat bagaimana Jaehyun bisa ngemong ke guru bar-bar itu.
Mobil warna merah itu pun sampai di iga bakar pak Wid. Keempatnya langsung menuju tempat dan memesan makanan. Neil dan Aurora melongo ketika melihat harga dan porsinya yang tidak sesuai.
"Sebanyak ini harganya cuma segini?!" tanya Neil.
__ADS_1
"Murah kaaaann?" cengir Savitri.
"Ya masa kita pensiun besok pindah kesini Aurora?" goda Neil.
"Kalau tiap hari seperti ini makan murah, kenapa nggak?" gelak Aurora.
***
Hari Minggu ini Savitri dan Jaehyun sudah bersiap untuk berangkat kondangan Ekadanta. Hati Jaehyun super lega mendengar pria yang menstalking gadisnya, akhirnya memilih untuk melepaskan masa lajangnya sebelum Savitri.
Jaehyun berharap setelahnya, tidak ada drama di tempat kerja Savitri gara-gara satu orang itu.
"Sudah siap?" Savitri keluar dari kamarnya dan Jaehyun langsung melongo melihat dandanan gadisnya.
"Wow!"
"Hah? Berlebihan ya? Apa perlu aku ganti baju?" Savitri merasa tidak nyaman dilihat Jaehyun begitu rupa.
"No! Ini spektakuler." Jaehyun menyerahkan sikunya dan Savitri langsung memegangnya. "Naik mobilku ya Sav. Disupiri sama pak Harto biar kita nggak capek. Kan kemarin seharian pergi sama Neil dan Aurora."
"Okelah!"
"Kalian sudah mau... Whoah!" Neil yang baru saja selesai berenang, terkejut melihat pasangan itu. Putra Stephen Blair masih memakai kimono handuknya, tampak takjub melihat dandanan Jaehyun dan Savitri. "Kalian sengaja membuat si stalker kaget ya?"
"Iyalah! Mau gue kasih lihat. ini lho pasangan terbaik gue yang sesuai dengan keinginan gue. Yang kagak ributin soal kepriyayian!" omel Savitri gemas.
"Ah iya bener!" Savitri menepuk pahanya. "Dah yuk berangkat. Bang, pergi dulu ya. Aurora masih ikut mbok Mar ke pasar gede lagi?"
"Masih! Parah tuh anak kalau sudah khilaf" kekeh Neil. Tadi pagi Aurora meminta ijin meminjam mobil Savitri untuk ke pasar gede bersama dengan mbok Mar. Ditanya nggak takut nyasar, Aurora hanya mengatakan ada google map dan mbok Mar.
"Pergi dulu Neil" pamit Jaehyun.
"Have fun! Jangan gelut ya Sav!" goda Neil.
"Kagaaakkk!" balas Savitri judes.
***
Hotel Dana Solo
Mobil Mercedez Benz hitam milik Jaehyun yang dulu mau dibeli Savitri, tiba di parkiran hotel Dana. Keduanya pun turun dan membuat para tamu yang juga baru datang, menoleh ke pasangan itu. Savitri menyapa beberapa rekan kerjanya sembari memperkenalkan Jaehyun sebagai tunangannya.
"Savitriii!" panggil Anita yang datang bersama dengan Damar.
"Hai!" Savitri tersenyum melihat sahabatnya datang.
"Halo pak Jaehyun" sapa Anita. "Gak berani panggil 'mas' nggak enak" bisiknya yang membuat Jaehyun dan Savitri tertawa.
"Pak Damar" sapa Jaehyun ke Damar dan keduanya saling bersalaman.
__ADS_1
"Pak Jaehyun." Damar tersenyum kearah pasangan itu. "Bu Savitri."
"Jangan ngomongin kasus ya! Ini hari Minggu, acara kondangan! Aku tidak mau dengar!" ujar Anita sambil manyun.
"Nggak lah. Kita pending Senin ya Bu Savitri."
"Deal pak Damar" sahut Savitri ikut-ikutan Anita.
Keempatnya masuk sambil menuliskan nama di buku tamu dan memasukkan amplop ke tempat yang sudah disiapkan.
Anita dan Savitri berjalan di depan pasangan mereka karena hendak berghibah.
"Kira-kira seperti apa istrinya ya?" bisik Anita. "Soalnya kalau aku lihat, kok yang jadi panitianya wajahnya kurang meyakinkan kalau dari kalangan priyayi."
Savitri mengeplak bahu Anita yang sedang mode Julid maksimal. "Hush! Nggak boleh gitu!"
"Habis, mengingat bagaimana dulu emak nya begitu sama elu!"
"Ya nggak usah Julid pisan atuh euy! Sudah, kita salaman..." Savitri dan Anita melongo.
"Itu istrinya?" bisik Anita sambil menatap ke arah pelaminan tidak percaya.
"Kok tidak seperti mantan-mantannya yang diperlihatkan sama bang Joshua ya?" gumam Savitri.
"Sayang, itu istrinya ?" bisik Jaehyun ke sisi telinga Savitri.
"Kalau berdiri di pelaminan dan pakai gaun pengantin, ya pasti istrinya lah Oppa!" bisik Savitri.
"Istrinya gendut sekali" celetuk Damar yang membuat ketiga orang itu menoleh tajam ke letnan polisi itu.
Jangan jujur juga bambaaannggg!
Yang terkejut
Yang terbengong-bengong
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1